Sabrang Dan Mentari

Sabrang Dan Mentari
Pertemuan di Toko Buku


__ADS_3

Handphone Sabrang berdering berkali-kali. Sehingga membuat cowok itu terbangun dari tidurnya, dengan malas dia meraih benda berbentuk persegi itu yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Samar-samar ia melihat layar ponsel itu, tertera nama Clara di sana.


"Halo Clar." Sabrang kembali merebahkan tubuh di kasur empuk favoritnya.


"Mank, gua udah jalan ke kost'an lo, buruan mandi ada kelas pak Bambang pagi ini." Terdengar suara Clara dari seberang telepon.


Sabrang menepuk jidat, dia baru ingat jika pagi ini ada kelas Perpajakan. Cowok itu menatap jam butut yang menempel di dinding, sudah menunjukan pukul 7.30 pagi. Tetapi rasa kantuk masih menghinggapi matanya.


"Gua titip absen aja Clar, masih ngantuk gua." Sabrang menjawab dengan malas.


"Enggak, Mandi sana! awas lo kalo gua sampe kostan belum apa- apa," ancam Clara.


"Iya bawel!" Sabrang mematikan ponsel kemudian beranjak ke kamar mandi.


Clara memang selalu menjemput Sabrang dengan mobilnya jika ada kuliah pagi. Gadis itu merasa sahabatnya itu tidak akan bisa bangun pagi kalau dia tidak mengancamnya.


***


Pagi itu di kelas perpajakan, dilalui Sabrang dengan ceramah pak Bambang. Tentang kehidupan umat manusia dalam mencari pekerjaan. Pak bambang merasa kebiasaan Sabrang yang selalu lupa mengerjakan tugas bisa berdampak pada masa depannya kelak.


Setelah cukup lama mendengarkan celotehan dosennya itu, Sabrang tampak gembira setelah melirik jam di layar ponselnya.


"Kelas hari ini cukup, kita ketemu minggu depan," ucap pak Bambang yang disambut riuh para mahasiswa dan mahasiswi.


Wajah Sabrang tampak cerah seolah baru saja lepas dari kamp kerja paksa ala film Holywood. Kata penutup pak Bambang di akhir kelas adalah satu-satunya perkataan yang terdengar merdu di telinganya. Dia selalu menantikan perkataan itu keluar sejak awal masuk kelas.


Sabrang menatap Clara yang duduk tak jauh darinya, yang kemudian dibalas anggukan Clara beberapa saat kemudian.


Clara seolah mengerti tatapan Sabrang setelah kelas perkuliahan selesai, jika di terjemahkan dalam bahasa manusia adalah "Clar kantin yuk tapi gua gak punya duit."


***


"Nunduk Clar, ada orang gila." Sabrang menghentikan aktifitas ngopinya saat melihat seorang pria berjalan masuk kantin. Cowok itu membenamkan kepala pada kertas menu yang ada di meja.


Clara tersenyum melihat tingkah Sabrang, dia sudah bisa menebak siapa "Orang Gila" yang dimaksud Sabrang.


"Halo Sahabat terbaikku ...." sapa seorang pria berambut ikal. Pria yang dilihat dari struktur wajah sebenarnya lebih pantas menjadi dosen dari pada mahasiswa itu menyapa Sabrang dan Clara dengan ceria.


"Clara, kamu selalu terlihat paling cantik di kampus ini, bagai bunga yang sedang mekar di antara rerumputan liar." Pria tersebut tersenyum pada Clara lalu menatap Sabrang sinis seolah Sabranglah rumput liar yang dia maksud.


Dengan semena-mena dia duduk di sebelah Clara dan langsung meminum kopi milik Sabrang.


"Makasih Sep, pujiannya ... tapi kalo hari ini lo mau ngutang duit gua lagi, bayar dulu yang kemarin." Clara berkata pelan namun mampu membuat Asep surasep terdiam sesaat.


Asep menatap Sabrang yang sudah mulai melanjutkan aktifitas ngopinya.


"Ginjal gua belum laku, percuma lo minjam duit gua."


Mata Sabrang kemudian tertuju pada salah satu meja tak jauh dari tempat duduknya. Seorang wanita yang dia liat kemarin terlihat memesan sesuatu sambil membuka Laptop.


Mata Asep mengikuti arah pandangan Sabrang kemudian tersenyum kecil. "Oh ... itu anak baru yang namanya Mentari? Dia tetangga komplek gua, temen main gua dulu."


Asep mulai menyombongkan diri. Sabrang dan Clara saling menatap kemudian menggelengkan kepalanya.


Mahluk keriting gagal yang berada di hadapan Sabrang ini memang merasa menjadi pusat perhatian seluruh wanita di kampus.


"Bentar ya gua nyamperin doi dulu." Asep berjalan mendekati Mentari.


"Mati kita Clar, dia mau bikin malu kita lagi." Sabrang menatap Clara yang tetap cuek bermain dengan ponselnya.


"Mentari ya? Masih inget sama gua?" Asep menyuguhkan senyum termanisnya di depan Mentari.

__ADS_1


Mentari menghentikan aktivitasnya di depan laptop, kemudian menatap Asep dengan bingung. "Maaf siapa ya?" tanyanya menaikkan sebelah alis.


Sabrang kembali membenamkan wajahnya sambil berbisik pada Clara. "Tuh, apa kata gua, spesies langka kayak Asep emang seneng banget bikin kita malu, Clar. Pokoknya kalau orang gila itu balik ke meja ini lagi kita pura pura mati ya."


Sabrang menatap Asep dengan iba, yang masih berusaha meyakinkan bahkan menjurus memaksa gadis di hadapannya itu bahwa mereka kenal dan teman bermain dahulu.


***


Langit sore di kota Bandar lampung tampak cerah, secerah pakaian yang dikenakan Sabrang. Dia berjalan memasuki sebuah toko buku seorang diri. Kali ini Clara tak ikut bersamanya karena harus menjemput ayahnya di bandara.


Clara memang anak seorang pebisnis sukses, ayahnya bekerja sebagai kontraktor besar sedangkan ibunya memiliki usaha Hotel di beberapa daerah.


Sabrang menyusuri rak buku yang berjajar rapih, matanya tertarik pada sebuah buku yang berada ditumpukkan paling atas. "Pedang Naga Api" judul yang tertulis cukup besar di Cover buku tersebut, membuat Sabrang mengernyitkan dahi.


"Ini kalo gak salah novel paling fenomenal kayaknya, gak nyangka sekarang udah cetak dalam bentuk buku."


Sabrang kemudian berpose sambil memegang buku tersebut seolah berkata, "Jangan minta Crazy up terus dong kalo ngasih vote aja masih alergi kayak liat mantan jalan sama pacar barunya."


Tanpa Sabrang sadari, aktivitas anehnya itu menarik perhatian salah satu pelayan toko buku tersebut. Dia berdiri tak jauh dari tempat Sabrang berdiri sambil menatap cowok itu iba.


Setelah sukses mempermalukan dirinya sendiri. Sabrang melangkah ke arah rak buku bertuliskan Ilmu Ekonomi. Dia memang sedang mencari buku Perpajakan untuk mata kuliah Pak Bambang. Tiba-tiba langkahnya terhenti sesaat, setelah melihat seseorang yang dikenalnya sedang sibuk mencari buku.


Perlahan Sabrang melangkah mendekati gadis tersebut, dia kemudian menyambar buku yang ada di rak untuk memperlihatkan jika dia "tidak sengaja" menyapa gadis tersebut.


"Kamu anak Ekonomi Bakti luhur ya?" Sabrang memberanikan diri menyapa Mentari.


Mentari menoleh kearah suara yang menyapanya dan terlihat berpikir sejenak. "iya kak, kakak temennya mbak Clara ya?"


Sabrang tersenyum manis kemudian mengangguk pelan. Dia merasa lega tidak di "Asep" kan oleh wanita manis yang ada di hadapannya.


"Gua Sabrang, angkatan 97." Sabrang mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.


"Mentari kak."


"Iya kak, ada tugas pengantar Ekonomi."


Mentari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kecil saat memandang buku yang ada di tangan Sabrang.


"Kakak seneng baca buku juga ya?"


"Oh iya dong ... kita sebagai calon pemimpin bangsa, dimasa depan harus rajin membaca buku. Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia." Sabrang sedikit menyombongkan diri, dia ingin terlihat sedikit pintar di hadapan Mentari.


"Tapi kak bukunya." tangan Mentari menunjuk buku yang ada di genggaman Sabrang.


"Oh ini salah satu buku favorit gu ...." Sabrang tidak melanjutkan perkataannya, dia terdiam memandang Cover buku bertuliskan "CARA CEPAT BELAJAR ILMU SANTET"


Mentari tersenyum melihat tingkah kakak tingkatnya itu.


"Jadi begini." Sabrang mencoba mencari pembelaan diri jika dia bukan pengikut aliran sesat, "Maksud gua kita sebagai generasi penerus bangsa juga harus mengetahui akan bahaya dari ilmu santet." Cowok itu mencoba menutupi rasa malunya.


Mentari mengernyitkan dahinya sambil terus menatap Sabrang.


"Tetangga gua kemarin abis makan tiba-tiba mati." Sabrang memberi contoh.


"Kena santet?" tanya Mentari kembali mengernyitkan dahinya.


"Bukan tapi keselek tulang ayam."


Kali ini Mentari tidak dapat menahan tawanya.


Sabrang menatap Mentari sambil tersenyum. "Lo manis banget kalo lagi ketawa tar," gumam Sabrang dalam hati.

__ADS_1


Gadis Penjaga toko makin menatap iba padanya.


Setelah berkeliling mencari buku, mereka memutuskan untuk singgah di sebuah rumah makan tak jauh dari toko buku tersebut.


Sabrang memesan satu Porsi nasi ayam untuk mentari dan satu porsi nasi kuah untuknya.


"Kok Cuma nasi kuah, kak?" Mentari menatap piring yang ada di hadapan Sabrang. Nasi setengah porsi plus kuah santan yang menggenang hampir memenuhi piring menarik perhatian gadis itu.


"Oh, menurut buku yang gua baca tadi ... salah satu cara menangkal santet adalah makan nasi kuah."


Mentari kembali tertawa namun kali ini dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut karena perutnya sudah memberi tanda untuk diisi.


Sendok Mentari perlahan memotong ayam bakar di piring kemudian memakannya.


Sabrang nyeruput kuah santan di hadapannya penuh penghayatan.


Tak lama setelah adegan makan penuh drama tersebut selesai, seorang pria yang tadi terlihat menunggangi motor sport terlihat mendekati Mentari.


"Udah cari bukunya? Balik yuk! udah sore," ajak pemuda tersebut.


Mentari mengangguk pelan kemudian memperkenalkan pria tersebut pada Sabrang


"Kak ini Rendi temenku, Ren ini Kak Sabrang temen kampusku."


Sabrang dan Rendi saling bersalaman dengan tatapan curiga.


"Aku duluan ya, kak. Makasih udah nememin aku." Mentari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti Rendi.


Sabrang menatap kepergian Mentari diiringi alunan Lagu Payung Teduh "Untuk Perempuan dalam pelukan"


***


Tak Terasa Gelap pun Jatuh


Di ujung malam


Menuju Pagi Yang dingin


Hanya Sedikit


Bintang malam ini


Mungkin karena kau


Sedang Cantik Cantiknya


Dimalam hari


Menuju EMPAT PULUH RIBU


Sedikit Cemas


Banyak HUTANGNYA


***


Sabrang mengernyitkan dahinya, dia merasa lirik lagunya salah kali ini.


"Empat Puluh Ribu? Banyak Hutangnya? Sejak Kapan Payung Teduh Banyak utang."


"Mas Semuanya EMPAT PULUH RIBU." suara pemilik warung membuyarkan lamunan Sabrang kemudian menyodorkan sebuah bon makan.

__ADS_1


Sabrang menoleh ke arah kertas bon yang di ada ditangan pemilik warung makan tersebut. Dia menghela napas panjang dan merasa kali ini akan kembali terlilit hutang.


"Bang ada yang harus kita diskusikan dulu tentang bon itu." Sabrang menatap pemilik warung dengan wajah memelas.


__ADS_2