Sabrang Dan Mentari

Sabrang Dan Mentari
Di Kantin Siang itu


__ADS_3

Clara melangkah ke kantin dengan wajah lesu ketika Sabrang sedang berdebat ilmiah dengan kedua temannya Asep dan Tomi.


"Jadi menurut pengamatan gua, anak anak jaman sekarang sudah kehilangan kreatifitasnya kalo lagi ngebucin," Sabrang memulai analisisnya yang dibarengi dengan anggukan dua sahabatnya.


"Emang lo pernah ngebucin mang?" Tomi sedikit mempermasalahkan latar belakang Sabrang untuk menjelaskan "Bucin".


Status Jomblo yang disandang Sabrang menurut Tomi tidak relevan dengan pembahasan kali ini.


"Lu bayangin aja mereka pagi ketemu, siang ketemu, malem ketemu dan saat mereka pisah baru beberapa menit udah ngechat "Lagi ngapain? Jangan lupa makan ya.


Pertanyaannya Basic banget, emang ada tah berita selama ini yang pernah ngeliput seorang gadis ditemukan meninggal karena pacarnya lupa mengingatkan makan? kan konyol kalo laper mah ya makan aja" ucap Sabrang berapi api.


"Meta, es tehnya satu ya gak pake lama," ucap Clara sambil duduk disebelah Sabrang yang sedang menjelaskan bucin pada dua sahabatnya.


"Dua gelas ta, pamali kalo kata orang tua kalo ganjil," sambar Sabrang, dia memotong pembicaraannya sebentar setelah mendengar ada kesempatan minum es teh gratis.


Clara tidak menanggapi, dia memainkan ponselnya masih dengan wajah tak bersemangat.


"Kan bisa sih cari bahasan yang lebih ilmiah misalnya, hai sayang kamu tau gak siapa penemu kaca spion?" Sabrang kembali melanjutkan pemaparannya ilmiahnya.


Clara mulai tersenyum mendengar celotehan Sabrang.


"Emang kaca spion ilmiah mang?" Asep kali ini bertanya


"Yah minimal mending daripada jangan lupa makan, emang lu pernah lupa makan?"


Kedua sahabatnya mengangguk pelan seolah mengerti dengan apa yang dijelaskan Sabrang.


Sabrang menyudahi perdebatannya karena sadar Clara sepertinya ada masalah.


"Lu kenapa Clar muka ditekuk gitu? lagi ada masalah ya?"


Clara menggeleng pelan, dan tetap memainkan jari jarinya pada layar ponsel.


"Nyokap minta temenin gua ke Singapure lusa, males gw mang,"


"Wah jangan gtu lo Clar, kasian tante Yanti kalo sendirian," balas Sabrang pelan.


Sabrang sudah sangat paham sifat Clara, dia selalu menolak jika di ajak orang tuanya keluar negeri. Pernah beberapa kali Clara cerita selama seminggu pergi ke jepang hanya tidur dihotel tanpa bisa jalan jalan karena orang tuanya sibuk mengurus bisnis.


"Bete gua mang, pasti ujung ujungnya di hotel terus," jawab Clara malas.

__ADS_1


"Nih ya gua kasih tau, orang tua pasti pengen anaknya suatu saat meneruskan bisnisnya apalagi lo anak tunggal. Kasian tante Yanti, lagian kan cuma seminggu doang," Sabrang menasehati sahabatnya itu.


Clara mengangguk pelan, Sebenarnya bukan itu yang menjadi masalahnya kali ini, sejak Clara menyadari perasaannya pada Sabrang entah kenapa dia selalu ingin ada didekatnya.


"Teh manisnya kak," Meta membawa teh manis yang dipesan Clara.


"Makasih Meta," Mata genit Sabrang beraksi.


Meta hanya memonyongkan bibirnya menanggapi tingkah jahil Sabrang.


****


Bunyi Pesan di handpon membangunkan Sabrang dari tidurnya. Sebuah pesan dari Clara muncul di notif layar.


"Bangun mang, pagi ini ada kelas pak Bambang jangan sampe telat lagi lo."


Sabrang tersenyum membaca pesan sahabatnya itu, sudah dua hari Clara ke Singapure dan dua hari itu pula dia selalu membangunkannya dipagi hari.


"Iya Clar gua inget dosen kiler itu pasti nyeramahin gua klo sampe telat lagi 🤣. Lu sehat kan disana? salam sama tante jangan lupa oleh olehnya hehehehe."


Tak lama hpnya berbunyi kembali.


"Iya mang, bt gua disini ditinggal dikamar terus."


Tanpa disadarinya seorang gadis yang berada jauh ratusan kilometer tersenyum bahagia membaca chat balasannya.


***


"Kak Sabrang," Suara perempuan mengagetkan Sabrang saat duduk dikantin menikmati kopi yang kali ini terpaksa ngutang tanpa kehadiran Clara.


"Eh Mentari, duduk yuk," Sabrang tersenyum manis memandang Mentari.


"Biasanya sama kak Clara? kok beberapa hari ini gak keliatan ya kak?" Mentari duduk dan mulai memesan makanan.


"Dia lagi di singapure ada urusan bisnis keluarga," Sabrang nyeruput kopinya dengan "ahhh" di akhir seruputan menandakan kenikmatan kopi bikinan Meta itu.


"Aku mau nasi pecel aja ya mbak sama teh manisnya, Kak Sabrang gak pesen makan?".


"Gua masih kenyang tar" Sabrang menjawab pelan sambil matanya memperhatikan suasana kantin yang sedang ramai.


"Jangan bilang kakak lagi menangkal ilmu santet lagi kayak kemaren ya hahahaha".

__ADS_1


Sabrang tersenyum kecut mengingat kejadian saat itu. Butuh waktu menyakinkan bapak penjual ayam bakar untuk memberinya kelonggaran dengan membayar setengah dulu sisanya dicicil.


"Lo masih inget aja tar," Sabrang tertawa malu.


"Kak masih punya buku Pengantar Akutansi gak? tari pinjem sih," ucap Mentari pelan.


"Pengantar Akutansi ya? kayaknya ada ntar gw cari dulu ya."


"Iya kak cariin ya, mau beli belum ada duit hehehe."


Sabrang mengangguk sambil mencoba mengingat dimana buku pengantar akutansi miliknya dulu, dia melihat peluang untuk mulai mendekati Mentari melalui buku itu.


"Semoga buku itu gak bernasip sama kayak buku lainnya yang berakhir di tukang loak demi sebungkus mie instan," Sabrang bergumam dalam hati.


"Ah iya sama ini kak," Mentari mengambil buku dalam tasnya dan meletakannya di meja. "Tari ada tugas Pengantar akutansi, ajarin sih kak," ucap Mentari bersemangat.


Sabrang mengangguk pelan, tanpa sepengetahuan Mentari Sabrang memperhatikan setiap senyuman yang menghiasi wajah Mentari.


"Lu memang beda tar, senyuman lu kayak di iklan tipi gue, ada manis manisnya gtu."


"Kak?" Suara Mentari mengagetkan Sabrang dari lamunannya.


"Ah iya tar," Sabrang gelagapan.


"Kakak ngelamunin kak Clara ya? cie cie yang di tinggal istrinya bentar aja udah galau," Mentari tertawa mengejek.


"Ah lu bisa aja."


"Terus ini gimana kak? Tari kurang paham," Tari menunjuk salah satu soal dibuku itu.


Sabrang terlihat berfikir sejenak, dia memejamkan matanya.


"Gimana gw mau jelasin, sampe sekarang aja gw masih remedi," gumamnya dalam hati.


***


Tawa Mentari pecah saat Sabrang berusaha menjelaskan tentang tugas yang sudah dua kali membuat Sabrang terpaksa mengambil Semester Pendek itu.


Canda tawa mereka seolah mengisi suasana kantin siang itu sampai Sabrang tak menyadari di ponselnya terdapat 9 kali panggilan tak terjawab dari Sahabatnya Clara.


"Kemana sih cangkokan tapir ini tumben banget gua telp gak diangkat," Clara terlihat mengetik sesuatu sebelum meletakan ponselnya di kasur dan beranjak mandi.

__ADS_1


Terlihat di layar Ponselnya sebuah pesan untuk Sabrang


"Mang gua besok pulang sama mama, jemput di bandara ya minta kunci mobil gua sama bokap hehehehe tolong ya mang 🙏."


__ADS_2