
Suasana gedung Wisma graha pagi itu ramai sekali, ditambah ucapan selamat dari karangan bunga berjejer rapih di halaman gedung membuat suasana makin ramai.
"Bagaimana saksi? Sah?," seorang penghulu bertanya pada rombongan yang ikut menyaksikan akad nikah tersebut.
Sabrang tampak gagah dengan balutan Jas hitam sedangkan mempelai wanitanya berbalut kebaya modern.
"Sah," para saksi dan rombongan yang hadir menjawab serentak.
"Alhamdulilah."
Terpancar senyum bahagia di wajah Sabrang, dia menoleh ke arah mempelai wanita yang menunduk malu malu.
"Sayang aku sudah menepati janjiku untuk menikahimu, ku harap kau memegang janji suci kita hari ini."
Mempelai wanita tersebut mengangguk seraya tersenyum manis, dia memberanikan diri menatap Sabrang yang kini telah sah menjadi pendamping hidupnya.
"Sayang apa yang kau minta sebagai hadiah pernikahan kita?" Sabrang memegang tangan wanita yang telah sah jadi istrinya tersebut.
"Dongkrak mas," mempelai wanita berkata pelan.
"Hah? Dongkrak?," Sabrang tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, bagaimana istrinya bisa meminta dongkrak dihari bahagia mereka.
Sabrang cukup yakin istrinya lulusan sarjana Ekonomi bukan tehnik mesin.
"Kamu jangan bercanda sayang, aku bisa memberikan apapun yang kau minta tapi kenapa harus alat itu?" Sabrang masih mencoba tenang ditengah kerumunan keluarganya.
"Dongkrak nya cepet udah telat ni," suara mempelai wanita mulai meninggi.
"Hah telat? berapa bulan?" Sabrang makin bingung dengan permintaan istrinya tersebut.
"Dongkraknya buruan Monyong," Sabrang tersentak kaget dan terbangun dari mimpinya setelah mendengar sebuah suara yang paling dia ingin hindari seumur hidupnya.
"Rese lo ngagetin gw aja," Sabrang mengucek matanya perlahan sambil menatap manusia keriting yang selalu mengganggu hidupnya.
Terlihat Asep berjalan dengan wajah kesal sambil memegang dongkrak.
"lo liat tu Clar, tales Arab bukannya bantuin gua malah tidur," Asep protes pada Clara yang sedang duduk dipinggir jalan.
Pagi ini Asep memang nebeng mobil Clara, walaupun dengan sedikit memaksa. Keuangan yang menipis di akhir bulan membuatnya berpikir bagaimana caranya menekan pengeluaran harian.
Namun malang nasibnya kali ini, mobil Clara pecah ban dan dia terpaksa mengganti dengan ban serep.
__ADS_1
"Ya maaf sep gua kan ketiduran, lagian dosa lo melakukan sesuatu sambil ngeluh itu namanya gak ikhlas," Sabrang melangkah mendekati Clara dan duduk di sampingnya.
Asep hanya memandang sinis kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Clar, gw kemaren ketemu Mentari di toko buku, beh cakep banget tu anak kalo gak pake baju item putih."
Clara menoleh kearah Sabrang, dia tertarik dengan perkataan sahabatnya itu. Clara sangat mengenal pria yang ada didekatnya itu. Sifat cueknya kadang mengabaikan beberapa wanita yang mencoba mendekatinya namun kali ini dia tertarik pada seorang wanita yang bahkan belum dikenalnya.
"Lo serius naksir anak itu mang?"
"Kayaknya begitu Clar, dia itu beda dari cewek yang selama ini gw kenal," jawab Sabrang.
"Beda apanya?" Clara menjawab cepat.
"Dia itu baik, kalem, keibuan tapi bukan ibu ibu kayak bi Ijah ya," Sabrang merasa harus memproteksi Mentari karena akibat dari salah penerjemahan Clara kemarin dia selalu di ejek naksir bi Ijah.
"Sering ngutangin lo?" Clara nyeletuk seenaknya. Dia merasa definisi "Baik" menurut Sabrang adalah gampang memberi hutang padanya.
"Ramah maksudnya monyong, pokoknya beda orangnya," Sabrang tersenyum kecut mendengar celetukan Clara.
"Mentari itu anak baru di kampus kita," Sifat sok kenal asep mulai muncul.
"Makasih sep udah tau," Sabrang mendelik kearah Asep.
"Dulu Pak Bambang pernah menghukum mahasiswanya karena telat, buruan sep udah siang."
Clara tertawa melihat perdebatan dua manusia aneh yang ada dihadapannya.
Sabrang kembali menatap Clara serius, "Tapi kayaknya dia udah punya pacar, kemaren dia di jemput cowok naek motor," Sabrang menghela nafas panjang.
"Oh itu temennya, gua juga kenal," Asep kembali mencoba bergabung dalam diskusi dua temannya itu.
"Sep ntar lama lama lu yang gua dongkrak," Sabrang menatap tajam spesies langka yang ada dihadapannya.
"Mang gua heran deh sama lo, selama gua kenal sama lo banyak banget cewek yang lebih cantik dari dia ngasih sinyal tapi lo cuek. Kalo dia emang udah ada yang punya lupain deh mang. Ada hampir ribuan cewek di kampus ini," Clara menasehati sahabatnya itu.
"Gua juga gak tau Clar mungkin bener kata lo, ini cuma perasaan sesaat gua aja."
Clara menggeleng pelan melihat Sahabatnya, dia sangat jarang melihat Sabrang terobsesi akan sesuatu yang baru ditemuinya.
Sifat cuek Sabrang selama ini membuatnya tidak mengaggap masalah apapun dengan serius, dia bisa berkata sesuatu namun beberapa saat kemudian dia sudah melupakannya termasuk masalah percintaan.
__ADS_1
Clara masih mengingat jelas saat Sabrang menggoda mahasiswi hukum beberapa saat yang lalu. namun dikemudian hari dia sudah melupakannya. Bahkan dia tidak dapat mengingat saat mahasiswi tersebut menyapanya dikemudian hari.
Namun kali ini sikap Sabrang berbeda, dia seperti menjadi terobsesi terhadap mahasiswa baru yang dilihatnya di kantin.
"Emang menurut lo Cinta itu apa?" Clara bertanya tiba tiba.
"Cinta itu pantulan atau pertemuan antara dua sel anak manusia yang berbeda menjadi satu," Asep nyeletuk tidak tahan untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya adalah keahliannya sebagai penyair cinta.
Beberapa saat kemudian Clara terpaksa bersusah payah menahan Sabrang untuk tidak memasukan Tiang dongkrak ke mulut Asep.
"Tutup mata lo Clar," Sabrang meminta sahabatnya menutup mata setelah dirinya dapat menguasai emosi dan tidak berniat menganiaya Asep lagi.
Clara menatap Sabrang bingung namun menuruti permintaan sahabatnya itu.
"Apa lo merasakan sesuatu masuk ke saluran pernafasan lo? Ya, cinta itu kayak oksigen lo sangat memerlukannya dalam hidup , lo akan bergantung padanya di setiap aktifitas lo. bahkan saat lo bangun pagi hal pertama yang lo inget selain bantal yang penuh dengan air liur adalah cinta."
Sabrang berjalan ke arah Asep yang kali ini sedikit kesulitan memasang ban serep tanpa menunggu reaksi dari Clara. sepertinya dia memang sudah melupakan bidadari kantinnya.
Jantung Clara berdegup kencang mendengar perkataan Sabrang. apa yang disampaikan Sabrang menggambarkan kehidupannya selama ini yang sangat bergantung pada pria yang ada dihadapannya.
Clara selalu menyempatkan menelepon Sabrang bahkan saat dia bangun tidur hanya untuk mendengar celetukan khasnya yang lagi lagi sukses membuatnya tertawa.
"Jadi itu yang namanya cinta ya?" Clara mematung melihat tingkah dua pria dewasa yang sampai detik ini belum berhasil memasang ban serep mobilnya.
Lantunan lagu Andra And the Backbone "Sempurna" mengisi pikirannya.
"""
Kau adalah darahkuu
Kau adalah jantungkuu
Kau adalah hidupkuu
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna...
"""
__ADS_1
Senyum merekah dibibir gadis manis tersebut.