Sabrang Dan Mentari

Sabrang Dan Mentari
Cemburu


__ADS_3

Sebuah mobil sedan mewah berwarna merah terlihat memasuki parkiran bandara Raden Inten Bandar Lampung.


Sabrang tampak keluar dari mobil dan berjalan menuju terminal kedatangan sambil memainkan ponselnya.


Dari arah pintu kedatangan, terlihat Clara sedang sibuk mencari keberadaan Sabrang. Ia melihat ke segala arah mencoba menemukan keberadaan Sabrang.


Wajah Clara berubah seketika saat melihat Sabrang memanggilnya, kali ini pria kurus itu memutuskan memanggil dengan gaya balet.


Sabrang memang selalu sukses mempermalukan Clara setiap kali menjemputnya.


"Apa sih sebenernya yang ada di kepalanya?," umpat Clara kesal.


"Jangan su'uzon kamu Clar, di tempat rame gini sulit lo nyari orang, dia mungkin pengen kita langsung liat makanya dia nari nari gitu," jawab Bu Yanti menggoda anaknya.


"Tapi gak harus nari balet kan ma? mama liat deh, dia udah kayak orang orangan sawah kena angin beliung," balas Clara.


"Orang orangan sawah? kok kamu suka sama orang orangan sawah itu?" balas bu Yanti.


"Mama!" wajah Clara kembali memerah.


Clara berjalan cepat menghampiri pemuda yang kini selalu mengisi hati dan kepalanya.


"Mang, bisa gak lain kali kalo jemput gue dengan cara manusia?" Tanya Clara kesal saat sudah berada di hadapan Sabrang.


"Dih, dikira gw bukan manusia kali," balas Sabrang sambil menoleh kearah bu Yanti.


"Sehat tante?" sapa Sabrang ramah.


"Alhamdulilah mang, kamu sendiri gimana?"


"Sehat tan, cuma kantong yang gak sehat," jawab Sabrang sambil cengengesan.


"Itu mah dari dulu," sambar Clara masih kesal.


Sabrang terkekeh mendengar jawaban Clara, dia bukan tidak sadar jika telah mempermalukan Clara namun dia sengaja melakukan itu untuk membuat sahabatnya itu cemberut.


"Silahkan ikut saya nona Clara," goda Sabrang sambil melangkah pergi.


Sabrang kembali memacu mobilnya sedikit lambat, suasana kota Bandar Lampung sore itu memang terlihat padat.


Clara yang duduk disampingnya tampak mulai memejamkan mata, alunan musik Sheila on 7 membuat matanya mulai mengantuk. Namun saat dia hampir terlelap dalam tidurnya, tiba tiba handphone Sabrang yang diletakkan di dashboard mobil berbunyi.


Clara langsung melirik layar handphone butut itu dan menemukan nama Mentari yang sedang memanggil.


"Mentari?" gumam Clara dalam hati.


Saat Sabrang hendak menyambar handphonenya, Clara melarangnya.


"Kalo lagi nyetir gak usah maenan hp, banyak kasus kecelakaan terjadi karena nerima telfon di mobil," ucap Clara ketus.


Sabrang meletakkan kembali handphonenya sambil tersenyum.


"Iya bawel!" balas Sabrang pelan.

__ADS_1


Clara kembali memejamkan matanya, namun kali ini timbul banyak pertanyaan di kepalanya.


"Sejak kapan cangkokan tapir punya nomor hp Mentari? apa mereka udah deket?" gumamnya dalam hati.


"Siapa yang telpon?" tanya Clara tiba tiba.


"Mentari," jawab Sabrang pelan.


"Oh." Clara mencoba memberi tanda jika dia tidak suka dengan kedekatan yang mulai terjalin antara mereka, namun bukan Sabrang namanya jika ia bisa peka akan arti dari dua huruf "O" dan "H" yang menurut kamus besar bahasa indonesia adalah kata untuk menggambarkan rasa kecewa.


Sabrang masih saja asik menyetir dengan wajah yang terlihat selalu tersenyum.


Clara melirik kaca spion dalam mobil dan melihat bu Yanti sudah terlelap dalam tidurnya.


"Mang," panggil Clara.


"Iya?"


"Menurut lo cewek kalo nembak duluan pantes gak?" tanya Clara pelan.


"Gak masalah, selama enggak nembak suami orang," jawab Sabrang.


"Kok gitu?" tanya Clara heran.


"Ya iyalah Clar, masa lo mau nembak suami orang? pelakor dong," jawab Sabrang.


"Bukan itu maksud gua, kenapa lo bilang gak masalah cewek nembak duluan? cewek kan nanti bakal melayani suaminya, wajar dong kalo laki laki yang harus usaha deketin," protes Clara.


Eh nak Sabrang, kerja dimana? emang yakin bisa membahagiakan anak ibu? pertanyaan menjebak disertai tatapan sinis akan kami terima saat datang dengan motor butut yang ban nya udah halus kayak muka Luna Maya karena gak mampu ganti. Harusnya kalian ikut meringankan beban kami dong," balas Sabrang.


"Tapi kalo menurut gua gak gak pantes mang, cewek tu harusnya dideketin, tugas mereka kan cuma ngasih kode aja kalo dia juga suka sama tu cowok."


"Kalo cowoknya gak peka? apa lo mau ngasih kode seumur hidup lo?"


Clara terdiam, dia menatap sinis Sabrang.


"Iya kayak lu pinggiran koreng, coba ya lo tu nyadar jangan utang aja lu gedein," ucap Clara dalam hati.


"Lu lagi suka sama cowok ya Clar?" tanya Sabrang tiba tiba.


Wajah Clara berubah seketika, dia merasa Sabrang mulai menyadari kode yang diberikannya.


"Iya mang, sama elo," gumamnya dalam hati.


"Kok lo bisa ngomong gitu?" pancing Clara.


"Feeling aja Clar, Asep ya?" jawab Sabrang polos.


"Astaga Naga ni anak dulu bayinya dikasih makan apa sih? kenapa bisa Asep coba, nyadar woy nyadar!!" umpatnya Dalam hati.


"Kalo menurut gua mah suka ya tembak aja, gak ada undang undangnya cewek bakal dihukum mati kalo nembak duluan, rugi dimakan gengsi lu," Sabrang melanjutkan.


"Sabar Clara, jangan jadi TOLOL, elu tuh cewek jangan sampai merendahkan harga diri dengan nembak duluan. Terus kasih kode siapa tau ni anak dapet hidayah," ucap Clara dalam hati, dia memejamkan kembali matanya dan tak menghiraukan panggilan Sabrang.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Clara kembali masuk kuliah seperti biasa, dia menjemput Sabrang di tempat kostnya. Namun hari itu ada yang terlihat berbeda dari seorang Clara, jika biasanya dia berdandan sedikit tomboy kali ini ia terlihat sedikit feminim. Sejak menyadari perasaannya pada Sabrang, Clara selalu ingin terlihat cantik dimata pemuda itu.


Selesai mata kuliah pagi, mereka berdua seperti biasa berjalan beriringan kearah kantin untuk sekedar mengisi perut yang lapar karena semua kalori mereka seolah habis terhisap oleh mata kuliah tadi pagi.


"Cie cie, suami istri udah mesra aja pagi pagi," sapa Meta ramah.


"Apa sih lo ta! biasa ya ta, soto satu pedes," balas Clara.


"Siap mbak," jawab Meta pelan.


"Gua kopi aja Met, seperti biasa," ucap Sabrang menimpali.


"Gak ngutang lagi kan mas?" goda Meta sambil terkekeh, tatapan sinis hampir seluruh penghuni kantin tertuju padanya saat mendengar suara Meta.


"Sekalian met, pinjem toa kampus bilangin kalo utang kopi gua ditotal, bisa bikin kolam ikan dua hektar," balas Sabrang kesal.


Clara yang sedang fokus bermain game di ponselnya langsung tertawa terbahak bahak, hal inilah yang selalu dia rindukan saat jauh dari Sabrang.


"Aku boleh ikut gabung nggak?" suara Mentari mengagetkan mereka berdua.


"Eh Tari, ya boleh dong, masak nggak boleh?" Sabrang menjawab pertanyaan Mentari sambil menepuk kursi di sebelahnya menandakan agar Mentari duduk disampingnya.


Clara mulai gelisah, dia mencoba tersenyum ramah pada Mentari untuk menutupi perasaannya.


"Hai kak Clara," sapa Mentari sopan.


"Hai Tari, gak ada jam kuliah?" tanya Clara basa basi.


"Baru aja selesai kak, Kak Clara kemarin kemana aja? Kak Sabrang kayak orang ilang loh gak ada Kak Clara," kata Mentari sambil tersenyum geli.


Clara yang mendengar hal itu merasa sedikit berbunga dalam hatinya. Ia melirik Sabrang yang terlihat cuek dan sibuk memperhatikan Mentari di sampingnya.


"Ohya?" Clara mencoba menutupi rasa berbunga-bunga dalam hatinya.


"Beneran kak, dia aku aja ngobrol aja gak fokus gitu sering bengong sendiri," kata Mentari sambil tertawa.


Clara yang awalnya sedikit berbunga, kini merasa cemburu karena ternyata selama kepergiannya Sabrang sibuk bersama Mentari.


"Wah kalian kayaknya udah deket banget nih selama gue nggak ada," pancing Clara.


"Nggak kok Kak, kemarin kita cuma diskusi masalah tugas pengantar ekonomi." Jawab Mentari.


"Pengantar Ekonomi?" Clara melirik Sabrang yang sampai detik ini belum lulus mata kuliah itu.


Belum sempat Clara melanjutkan interogasinya pada Mentari, pesanan mereka sudah datang.


"Tar bagi no hp lo sih?" Clara menyodorkan hpnya, dia bertekad untuk mencari lebih banyak informasi tentang Mentari.


Setidaknya ia harus tau beberapa hal yang membuat pemuda yang dicintainya begitu tertarik pada Mentari.


"Boleh kak, japri ya," Mentari mengetik nomornya di ponsel Clara dan memberikannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2