Sadistic Consort Of The Future

Sadistic Consort Of The Future
11


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Mayleen berada di istana kerajaan Xiao. Dia sangat bosan jadi dia mengajak Li wei untuk berkeliling.


"Mei mei ayo jalan jalan aku bosan".


"Ya udah ayo jie jie aku juga sama".


Mayleen dan Li wei keluar dari kediaman. mereka berkeliling di area istana. Hingga Mereka berada di sebuah taman yang di penuhi bunga dan terdapat sebuah pohon apel.


"Mei mei ayo kita ke bawah pohon itu".


"Ayo".


Mereka berjalan kearah pohon dapat mereka cium bahu harum bunga bunga yang ada disana. Mereka duduk sambil bersandar ke batang pohon.


"Jie jie sepertinya buah apel nya sangat lebat".Kata Li wei sambil mendongak ke atas.


"Kamu mau? ".Tanya Mayleen ke Li wei yang dibalas anggukan olehnya.


"Tunggu sini aku ambilin".


Mayleen memanjat pohon apel itu pohonnya tidak terlalu tinggi jadi tidak menyulitkan Mayleen. Mayleen memetik beberapa buah apel dan menjatuhkannya ke Li wei. Li wei dengan sigap menangkap apel apel tersebut. Setelah dirasa cukup Li wei melompat dari atas pohon apel.


Bersamaan dengan itu muncul Putra mahkota Xie Lan dan pangeran Xie Han yang sedang menuju ketempat latihan. Mereka berhenti. sejenak dan melihat Mayleen yang melompat dari atas pohon kemudian memakan apel sambil bercanda dengan Li wei meskipun memakai cadar tapi tak menutupi raut kebahagiaan Mayleen. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati mereka mereka merasa sedih tapi hal itu dikalahkan oleh ego dan kebencian. Mereka memutuskan untuk kembali berjalan menuju tempat latihan.

__ADS_1


Sementara Mayleen sakit perut karena terus tertawa bersama Li wei begitu juga Li wei.


"Hahahahaa hahh hahhh.Perutku sakit ya sudah ayo kita keliling lagi".Ajak Mayleen kepada Li wei. Dan Li wei mengiyakan.


Mereka menulusuri jalan jalan diistana sampai mereka melihat tempat latihan.Di sana terdapat putra mahkota Xie Lan dan pangeran Han yang sedang berlatih. Mayleen berhenti sejenak. dan memperhatikan mereka.


"Mei mei melihat mereka latihan aku juga ingin latihan. Tapi dimana? ".


"Emm aku juga tidak tahu jie jie tidak mungkin kita kesana".


Putra mahkota dan pangeran yang merasa di perhatikan menoleh kearah orang yang memperhatikannya. Mereka melihat Mayleen bersandar pada pilar sambil melamun sementara Li wei memperhatikan Mayleen yang melamun.


"Sedang apa mereka? ".Tanya pangeran Xie Han.


"Hei. sedang apa kalian disana? ".Teriak pangeran Xie Han refleks membuat Mayleen tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah teriakan itu bersama Li wei.


"Hanya jalan jalan".Jawab Mayleen acuh.


"Bagaimana bisa orang sepertimu memperhatikan kita yang sedang latihan".Hina pangeran Xie Han kepada Mayleen. Hal itu sontak membuat emosi Mayleen naik ke ubun ubun.


"Memangnya kenapa aku hanya melihat ".


"Oh sekarang kau sudah berani menjawab ya".Tutur pangeran Xie Han meremehkan Mayleen.

__ADS_1


"Tentu saja aku menjawab karena aku punya mulut".Jawab Mayleen sengit.


"Berani sekali kau".Geram pangeran Xie Han marah.


"Apa kau ingin bertarung denganku? ".


"Cih sampah sepertimu mengajakku bertarung".


"Tidak usah basa basi jika mau bertarung maka ayo".


Pangeran Xie Han semakin geram Putra mahkota dan Li wei hanya diam memperhatikan.


"Ayo hanya melawan sampah sepertimu aku tidak akan kalah".


Mayleen segera memilih pedang yang menurutnya cocok. Sementara pangeran Xie Han hanya memandang Mayleen meremehkan.


"Ayo".Ucap Mayleen dingin.


Pangeran Xie Han langsung menyerang menyerang Mayleen sementara Mayleen tidak kaget dia menangkis serangannya hingga beberapa saat dan tibalah gilirannya dia menyerang pangeran Xie Han dengan gesit sampai membuat pangeran Xie Han kewalahan.Hingga akhirnya Mayleen menjulurkan pedangnya kearah leher pangeran Xie Han sementara pangeran Xie Han sudah tidak dapat berbuat apa apa dia sungguh kewalahan. Mayleen menarik kembali pedangnya dan melangkah meninggalkan pangeran Xie Han yang nafasnya masih terengah engah.


"Menurutku Sampah itu adalah orang yang membuat saudaranya sendiri menderita tanpa tahu apa salah saudaranya".Ucap Mayleen sinis kemudian melangkah meninggalkan Putra mahkota dan pengeran yang diikuti Li wei.


Sementara dalam lubuk hati pengeran terdapat sedikit rasa penyesalan setelah mendengar ucapan Mayleen.

__ADS_1


__ADS_2