Sakinah Yang Tersembunyi

Sakinah Yang Tersembunyi
Part 1 Diam-Diam Cinta


__ADS_3

Kurasa 'ku sedang jatuh cinta


Karena rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Selalu berbeda saat menatapnya (hu)


Mengapa aku begini?


Hilang berani dekat denganmu


Ingin 'ku memilikimu


Tapi aku tak tahu


Bagaimana caranya?


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Ucap maukah denganku


Kurasa 'ku sedang jatuh cinta

__ADS_1


Karna rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Selalu berbeda saat menatapnya hu


Di sini aku berdiri


Menanti waktu yang tepat


Hingga akhirnya kumampu


Katakan padamu oh


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Ucap maukah…


Budi Doremi \= Tolong


************************************


Suara denting gitarku mengalun ke penjuru kamar. Nadanya sayup lembut merasuk ke dalam hati. Syair single lagu “Tolong” yang dibawakan penyanyi Budi Doremi seakan menyatu dengan apa yang aku rasakan. Kisah asmaraku tergambar sangat jelas dalam tiap baitnya.

__ADS_1


Jatuh cinta, tetapi tak mampu mengungkapkan, mengagumi walau hanya dalam angan. Bibir ini terlalu keluh mengutarakan isi hati, wajahnya yang anggun kerap membuatku terpaku. Senyum yang menghiasi bibirnya mengalihkan duniaku yang terlajur suram.


Sungguh, bukan tanpa alasan kusebut hidupku suram. Sejak kecil hingga dewasa aku tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Dia pergi meninggalkan aku dan ayah, lari bersama lelaki simpanannya. Hari itu, tepat ulang tahunku yang ke-10, menjadi hari terburuk dalam sejarah kehidupanku.


Wanita yang tak pantas kupanggil ibu itu pergi meninggalkan rumah dengan koper tanpa menoleh padaku yang berteriak memanggilnya, memasuki sedan hitam yang membawanya pergi entah kemana, sampai hari ini tak kudengar kabar beritanya. Yah, aku juga tak perduli tentang itu. Bagiku, dia telah mati tujuh tahun silam.


Satu tahun berselang, ayahku pun menikah dengan wanita yang kini menjadi ibu pengganti bagiku. Wanita yang tak pernah menunjukkan sikap baiknya, seaklipun itu di depan ayah. Masa bodoh. Aku hidup atas keinginanku, tentunya tak ada yang berhak mengatur kehidupanku. Tak perduli mereka meneriaki atau memberiku label berandal, bodoh, dan arogan. Toh, pada dasarnya aku sudah kebal dengan itu.


Semua itu berubah, ketidakperdulianku  seketika sirna saat pertemuanku dengan  Sakinah. Gadis cantik, lembut, dan santun yang kukenal semenjak aku duduk di bangku SMP, tepatnya kelas dua semester  dua, tiga tahun lalu. Aku siswa pindahan dari Gorontalo.


Ayahku seoarang TNI Angkatan Darat yang kerap mendapat tugas keluar daerah, tentunya itu membuatku harus ikut pula berpindah dari satu daerah ke daerah lain, tergantung posisi tugas yang diemban olehnya. Terhitung sudah dua kali aku pindah sekolah semenjak aku kelas dua ini, belum lagi masalah-masalah yang kubuat ketika dalam kelas.


Aku memang anak yang jahil, hingga tak satu pun yang menganggap keberadaanku. Semua itu, kulakukan agar ayahku memberi sedikit perhatiannya. Kenyataanya, memang tak ada yang menarik tetang sekolah, rutinitas yang membuatku bosan. Belajar, mengerjakan tugas, harus datang tepat waktu.


Sungguh kegiatan yang tak pernah aku sukai, hingga semua itu berubah ketika pertama kali aku melihat Sakinah yang duduk di bangku baris kedua di kelas baruku. Mataku langsung tertuju padanya. Wajahnya sungguh ayu, ditambah lesung pipi saat dia tersenyum membuat raut itu kian berbinar.


Hah ... aku tak mampu melukiskan keindahan dari makhluk di hadapanku. Suaranya  juga terdengar  merdu melebihi merdunya dentingan gitar yang selalu aku petik kala kebosanan menghampiri.


Aku terpaku layaknya orang bodoh yang menatap Sakinah dengan lekat, hingga tepukan tangan Bu guru yang mendarat di bahuku menyadarkanku.


“Arya, kamu tidak apa-apa?” ucap bu Rinjani pelan menatapku. “Ayo, perkenalkan dirimu pada teman-teman,” imbuhnya lagi.


Aku mengangguk. Mataku mulai kualihkan pada sekeliling, menatap teman-teman yang terlihat antusias menungguku memperkenalkan diri.


“Namaku Arya Setyo Negara. Kalian bisa panggil aku dengan Arya atau Setyo asal jangan panggil aku Negara saja. Soalnya aku belum memiliki penduduk dan pemerintahan,” ujarku bergurau. Serentak mereka terbahak mendengar ucapanku. Sakinah pun terlihat tertawa lebar.


“Kamu ada-ada saja, Arya.” Bu Rinjani tersenyum padaku.

__ADS_1


“Duduklah di belakang sana, samping Rudi.” Bu Rinjani kembali berkata dan menyuruhku memposisikan diri untuk duduk. Lalu, pelajaran dimulai seperti biasanya.


#Bersambung


__ADS_2