
Waktu begitu cepat bergulir, walau demikian hari yang kutunggu tak juga kunjung datang. Keberanian menyapa Sakinah seperti tercekat antara laring dan kerongkonganku yang kering.
Di saat, bertemu dengannya pun aku hanya mampu mengatup mulutku. Pernah suatu ketika aku berpikir untuk menulis surat saja dan kutaruh di dalam laci meja Sakinah. Ah ... tidak rasanya itu kuno sekali.
Zamanku yang saat itu telah mengenal ponsel, tentu tak lagi pantas mengirim untaian kata cinta dengan sepenggal surat yang kertasnya berwarna-warni dan lagi menulis surat hanya cara jadul yang dipakai orang tempo dulu bukan? Aku begidik membayangkan Sakinah membaca tulisanku yang tentunya kala itu bagaikan sayatan kaki ayam. Miris.
Aku mengasihani diriku yang pengecut ini, yang bahkan tak bisa berkata apapun di hadapan gadis yang kusukai. Namun, kejadian tak terduga membuatku akhirnya mampu menarik perhatian Sakinah. Waktu itu, Sakinah berdiri di depan kelas menghadap papan tulis, dia petugas piket yang mendapat bagian menghapus tulisan di papan tulis.
Aku mengamatinya dari kejauhan. Sungguh, seperti ada sinar pada tubunya yang membuatku terpaku, hingga salah seorang siswi berdiri dan menghalangi pandanganku. Sontak saja dengan spontan mulutku berteriak,
__ADS_1
“Woi, Jelek minggir!. Kau menghalangi pandanganku, tahu...” Aku berdiri, lalu kembali bercakap lantang, “Dasar tak tahu malu.” Mataku melotot padanya. Akan tetapi, keadaan tidak seperti yang kuduga.
Sakinah yang semula asik dengan kegiatannya sekejab menoleh kepadaku lalu tertunduk ada sedih di raut wajahnya. Dia kemudian berpaling pergi ke tempat duduknya. Keadaan itu membuatku benar-benar canggung. Aku bahkan tak bermaksud mengatainya. Hari itu, ingin kupukul mulutku sampai mengeluarkan darah.
“Matamu buta hingga mengakatakan Sakinah jelek?” tukasnya lagi.
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Kau bahkan tak bisa membedakan gadis cantik dan jelek.” Dia mencemooh. Darahku mulai mendidih, ejekan yang dia berikan seperti menusuk dan menghujam jantungku. Namun, sebelum kupukul kepalanya dengan bogem mentahku, dia kembali berujar, “Siswa satu sekolah bahkan mengidolakannya, tapi kau malah menghinanya. Dasar aneh!” Rudy memalingkan wajahnya dariku.
Kini, aku mengerti mengapa tatapan mereka begitu mengerikan saat aku salah menyebut Sakinah gadis jelek. Ya, Sakinah memang cantik, tetapi rupanya kecantikannya banyak yang mengagumi hingga aku sedikit ciut dibuatnya.
Eit ... nanti dulu, jangan panggil aku jagoan kalau tidak bisa memanfaatkan situasi. Seketika, otak encerku mulai bereaksi. Kejadian yang menimpaku siang itu, menarik ide ekstrim untuk mendapatkan perhatian Sakinah, akan kubuat gadis itu tetap memandangku tanpa membelokkan matanya pada pemuda lain. Kalian, jangan berpikir aku akan meminta maaf pada Sakinah atas kesalahpahaman ini.
Situasi itu, aku manfaatkan untuk semakin mengejek Sakinah di waktu lain. Aku melakukannya agar dia tidak menganggapku sama dengan para jomblo-jomblo yang mengidolakan dirinya. Aku tentu berbeda. Aku adalah pencinta yang akan berusaha selalu berada di dekatnya, mencintainya dalam diam. Menjadikannya ratu dalam kehidupanku. Sakinah adalah kebahagiaan simbol dari segala isi dunia. Aku mencintainya akan selalu begitu selamanya.
Bersambung
__ADS_1