Sakinah Yang Tersembunyi

Sakinah Yang Tersembunyi
Part 4 Dia Ibu Tiriku


__ADS_3

Kakiku berjalan pelan menuruni anak tangga, pikiranku sedikit ragu, tetapi tak ada pilihan lain. Cara tercepat medapatkan uang bagi anak bau kencur yang tengah dilanda cinta monyet adalah meminta uang itu pada orang tuanya.


Rumahku dua lantai. Warisan dari mendiang kakekku seorang pemilik toko kelontong yang kini dikelolah paman. Beliau cukup kaya, hingga mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, itulah cerita yang pernah kudengar dari mulut ayahku ketika aku berusia lima tahun. Dia kerap mengisahkan betapa kakek adalah panutannya.


Lelaki yang gagah, hemat, pekerja keras, optimis, ceria dan penuh semangat, tak ada kata mengeluh dari bibirnya walaupun kala itu Indonesia mengalami krisis keuangan dan usaha kakek harus gulung tikar, dia tak pernah sedikitpun menyerah. Perlahan bangkit dari keterpurukan dan membenahi diri.


Dia selalu berkata bahwa anak-anaknya harus meraih apa yang mereka cita-citakan dan kakek akan menjadi orang pertama yang berusaha keras mewujudkannya. Setiap kali, ayah menceritakan tentang kakek, sosok yang muncul dibenakku ialah seorang yang memiliki kekuatan super, selalu membuat orang lain tersenyum, melindungi keluarganya, dan memberikan kebahagiaan.


Rupanya, sifat itu tidak menurun pada ayah. Dia cenderung mengutamakan egonya, memaksakan kehendak, dan tak pernah bertanya apa diinginan anak-anaknya. Ayah adalah sosok monster bagiku, yang siap mengeluarkan api nerakanya saat aku tak menuruti perkataannya. Bagiku, setiap kata yang dia keluarkan hanyalah racun yang menggerogoti hati dan pikiran, memupuk kebencian yang mendalam pada diriku. Sedikitpun aku tak pernah merasa bahagia, terutama semenjak kepergian ibu.


Dia seolah memalingkan wajahnya dariku. Suara lembutnya juga tak pernah kudengar lagi, yang tersisa hanya kemarahan serta sikapnya dingin. Aku sempat berpikir, andai dulu aku tahu ayah akan bersikap seperti itu, mungkin aku lebih memilih pergi bersama ibu. Lari dan meninggalkan dia dalam kesendirian.


Buruk bukan? Mungkin kalian berpikir aku anak yang tak tahu terima kasih, hidup berkecukupan, tetapi kerap mengeluh dengan keadaan. Sebenarnya, apa yang paling diinginkan seorang anak, selain cinta dari orang tuanya. Aku tak mendapatkan itu, yang kuterima hanya rasa benci, kesedihan, dan kekecewaan.

__ADS_1


Rasa kecewaku memuncak, saat dia memilih menikah lagi tanpa memberitahuku, hingga hari ini aku hanya menaruh kebencian pada ayah dan ibu tiriku.


Kakiku masih pelan melaju, kulihat ibu tiriku tengah duduk di meja makan sembari menyuapi adik kecilku Daffa yang baru berusia genap tiga tahun. Aku memiliki dua adik, yang pertama Sarah, anak dari hasil pernikahan pertama ibu tiriku, bisa disebut dia adik tiriku, dan yang terakhir Daffa, anak dari pernikahan ayah dengannya. Usiaku dan Sarah terpaut tiga tahun, aku lebih tua darinya. Walaupun demikian aku tak pernah menganggap mereka keluarga.


Tentunya hal itu karena bagiku mereka adalah perebut kebahagiaan yang aku miliki selama sepuluh tahun. Aku menganggap kehadiran tante Rania dalam hidup kami merusak dan merenggut segalanya. dia telah merampas cinta dari ayah untukku. Rasanya, setiap aku melihat tante Rania yang timbul dalam hatiku hanya kemarahan terpendam yang tak tahu kapan akan meledak.


Emosi itu yang terpupuk sedari kecil hingga aku sendiri tidak tahu bagimana cara membunuhnya. Rasa itu kerap menyiksa, terlebih ketika tante Rania mulai bersikap seolah dia ibuku. Aku merasa bersalah, karena sering kali berbuat kasar padanya, tetapi lagi-lagi tingkahnya yang seperti itu mengingatkanku pada ibu yang pergi meninggalkanku kala itu. duka itu terlalu perih.


Aku tak pernah melupakannya barang sedetik pun, saat tangan ibu mulai melepas genggamanya. Kakinya yang melaju cepat dan bayangannya yang hilang ditelan kegelapan malam. Aku meraung di ambang pintu, memanggil namanya dengan keras, tetapi dia tak sedikit menoleh padaku. Dia pun kini menjelma menjadi mimpi buruk ketika mataku terpejam dan menjadi trauma yang menghantuiku.


“Aku ke sini tidak untuk makan ....” tukasku dingin. “Aku butuh uang.” Mataku menatap tajam tante Rania.


Sarah yang semula sibuk dengan buku bacaannya mengalihkan pandanganya padaku. Tante Rania malah tersenyum. “Aku butuh lima puluh ribu.” Suaraku tertahan.

__ADS_1


Samar telingaku menangkap, tante Rania menghela napas, melangkah meninggalkan meja makan menuju kamar. Tak lama kemudian, dia kembali dengan selembar uang lima puluh ribu di tangannya.


“Ini, tapi makan dulu, ya!” Dia mengulurkan lebaran uang itu padaku. “Mama ambilkan nasi, mau?” ucapnya lagi mencoba meyakinkanku untuk makan.


Aku berpaling pergi tanpa sepatah kata pun, membawa keinginan dan egoku menuju kamar. Kupandang lekat uang yang tergeletak di ranjang. Pikiranku hampa, yang kurasa hanya kosong. Ada lubang luka yang tak bisa kujelaskan hanya dengan kata. Setengah jam berlalu, aku yang telah merebahkan tubuh, dihenyakkan dengan ketukan dipintu kamar.


“Mas, ini makanannya.” Suara sarah terdengar dari balik pintu.


Seperti biasanya, Sarah mengantar makanan ke kamar, hanya karena aku tak pernah mau makan bersama dengan mereka. Akhirnya, tante Rania berinisiatif mengantarkan makanan ke kamarku. Sarah manjadi kurir semua itu, setiap pagi, siang, dan malam dia akan mengatar makanan dan meletakkannya di atas meja yang sengaja ditaruh tante Rania di samping pintu kamar.


Selesai makan aku akan meletakkan piring itu kembali di atas meja. Melanjutkan rutinitas di kamar atau pergi berlatih bela diri sesuai jadwal yang ditentukan ayah.


Aku menjalani kehidupan bagaikan robot yang tak memiliki perasaan. Tidak bergaul, tak pernah merasakan partemanan. Aku terlanjur larut dalam derita yang kutahan bertahun-tahun lamanya. Aku terlalu asik dengan kesedihan, hingga aku menemukan sosok Sakinah yang berubah segalanya.

__ADS_1


Hidupku yang semula hampa menjadi berarti karenanya, keinginan untuk memilikinya menjadi semangat tersediri. Rasa suka pada dirinya memberiku jati diri sebagai manusia sesungguhnya.


#bersambung


__ADS_2