
Pukul 06.15 biasanya Sakinah telah tiba di sekolah, tetapi tidak dengan hari itu hingga pukul tujuh tepat dia masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Tanda-tanda Sakinah akan datang juga seperti raib. Persensi kelas dimulai, tiba nama Sakinah dipanggil oleh guru yang mengajar hari itu.
“Sakinah Al-Karimah ...!” panggil Bu Niken sembari memutar bola matanya mengelilingi kelas mencari-cari keberadaan Sakinah. Suasana kelas hening.
Mata penghuni kelas saling menatap, tak biasanya gadis serajin Sakinah akan masuk sekolah tanpa alasan.
“Ada yang tahu Sakinah, kemana? ujar Bu Niken lagi. Tiba-tiba, suara ketukan dari arah pintu terdengar pelan.
Sakinah berdiri di depan pintu dengan baju lusuh penuh lumpur. Wajahnya tambak lebam. Beberapa goresan luka terlihat masih segar di keningnya. Seluruh penghuni kelas menatapnya menelisik. Bu Niken berlari menghampirinya. Raut wanita paruh baya itu menampakkan kekhawatiran pada kondisi peserta didiknya.
“Sakinah, apa yang terjadi, Nak?” Bu Niken memegang kedua pundak Sakinah. “Ayo, kita ke UKS, obati dulu luka-lukamu!” ucapnya lagi. Melihat Sakinah datang dengan kondisi memprihatinkan hatiku saat itu hancur.
Aku ingin menghampirinya dan bertanya, gerangan apa yang menimpa gadisku hingga begitu memprihatinkan. Sekali lagi, langkah kakiku seperti terpaku tak berani menghampirinya, apalagi untuk menolongnya. Hatiku cemas, tetapi bibirku tak mampu mengungkapkan. Aku menjadi manusia tak berguna bagi gadis yang aku sukai.
Namun, suara langkah kaki menghampiri kelas. Bu Niken telah berdiri di hadpan kami.memberitahukan perihal yang menimpa Sakinah. Ingin aku menghampirinya dan bertanya tentang kondisi Sakinah. Tidak ... aku bahkan tak bisa meyapanya, bagaimana mungkin aku menanyakan hal yang seperti itu. Sungguh pecundang. Aku memekik dalam hati.
“Teman kalian, Sakinah baru saja mendapat musibah, dia terjatuh dari sepedanya. Namun, dia sudah diantar pulang oleh pak Kasim kalian tidak perlu khawatir, tetapi ibu minta tolong, apakah ada yang bisa membantu mengantar sepedanya? ... kira-kira siapa di kelas ini yang rumahnya berdekatan atau satu arah dengan Sakinah?” Bu Niken menatap kami. Suasana kembali hening tak ada satu pun yang mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Aku mencoba memberanikan diri mengacungkan tanganku dan menawarkan jasa, setidaknya dengan mengatar sepedanya aku tahu kondisi Sakinah saat itu. Rumahku dan Sakinah memang tidak terlalu jauh hanya terpaut gang saja. jika diukur jaraknya hanya sekitar tiga ratus meter.
Jalan kaki mungkin hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja.
Pelajaran dimulai, otaku tak sedikitpun menangkap penjelasan yang disampaikan Bu Niken di depan. Pikiranku melambung mengkhawatirkan kondisi Sakinah, hingga akhirnya bel berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba.
Kuraih ransel, bergegas kakiku melangkah meninggalkan kelas. Tak ada yang kupikirkan selain secepat mungkin tiba di rumah Sakinah dan mengatahui kondisinya. “Arya, kamu tahu ‘kan sepeda Sakinah, yang mana?” Bu Niken menghentikan langkahku. Kepalaku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
Tak perlu waktu lama aku sudah berdiri di parkiran sekolah yang luasnya kurang lebih dua puluh meter persegi. Mataku tertuju pada sepeda berwarna merah yang tergeletak di bawah pohon beringin kecil di sudut parkiran, rantainya tampak lepas, sepertinya Sakinah terjatuh cukup keras, stang sepedanya juga terlihat bengkok. Kuraih sepeda yang tak lagi berbentuk itu, mendorongnya.
Di perjalanan pikiranku berubah, aku tak ingin ke rumah Sakinah, melainkan membelokkan langkahku menuju bengkel dekat rumah. aku berniat memperbaiki sepeda itu terlebih dahulu barulah mengantarnya pada Sakinah. Kubulatkan tekatku, menekan setiap kekawatiran akan kondisi Sakinah dan membayangkan wajahnya yang tersenyum menatap sepeda kesayanganya telahaku perbaiki.
“Bang, kalau benerin sepeda ini habis berapa duit?” tanyaku.
“Wah, parah ini, Tong ...” ucapnya menatap sepeda yang ringsek di tanganku. “Cepeklah, ini.” Pria itu mengalihkan pandanganya padaku.
“Nggak bisa kurang, Bang?” tawarku.
__ADS_1
“Emang segitu, Tong.”
“berapa lama beresnya?”
“Satu hari. Paling baru bisa diambil besok” tukasnya memberitahu.
“oke, deh, Bang. Tinggal dulu, ya. Besok kuambil, sekalian duitnya.” Aku berlalu dari bengkel. Langkahku gontai memikirkan darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Tabunganku sepertinya juga tidak cukup.
Setibanya di rumah aku langsung menuju kamar. Merebahkan tubuhku yang letih. Otakku berpikir keras cara untuk mendapatkan uang. Kuraih celengan mungil yang terbuat dari tanah berbentuk gajah pemberian ayah tahun lalu sebagai kado ulang tahunku. Kuputar celengan itu. Seingatku, aku menabung baru beberapa bulan lalu, dan itu juga hanya sedikit dari sisa uang jajan.
“Maaf, ya, Bani. Hari ini aku menyakitimu, tapi aku janji akan pelan-pelan, kok” gumamku setengah berbisik.
Kubangkitkan tubuhku dengan malas, berjalan pelan menuju gudang, mencari satu benda yang bisa membuka celenganku. Aku mengacak-acak tempat itu, hingga menemukan benda yang kucari, sebuah palu kecil yang tergeletak di atas rak usang tempat menyimpan barang-barang rusak kami. Setelah menemukannya, aku bergegas menuju kamar. Kuambil celengan yang masih tergeletak di atas kasur.
Aku meringkuk di lantai dan tanganku yang memegang palu mulai kuayunkan pelan pada bawah celengan di tanganku. Seketika,
Prang ... suaranya terdengar nyaring memenuhi ruangan kamar. Isi perut Bani keluar bertebaran. Beberapa koin berbunyi berisik menyentuh lantai. Kukumpulkan uangan yang berserakan menghitungnya pelan. Seribu ... dua ribu ... hingga sampai hitungan terakhir, menunjuk angka lima puluh ribu.
__ADS_1
“Ah ... payah, cuma lima puluh ribu” gumamku kesal. “masih kurang banyak, dari mana sisanya, ya?” tukasku lagi. Tidak ada cara lain satu-satunya hal mudah untuk mendapatkan uang adalah memintanya pada ibu tiriku.
bersambung