
Pagi menyingsing, suara kokok ayam tetangga membangunkan tidurku yang nyenyak setelah salat subuh, tidak seperti biasanya, aku bangun sangat pagi untuk mempersiapkan diri beranjak menuju sekolah.
Hari itu, aku bersemangat menyambut senyum Sakinah yang masih melekat dalam benakku. Senyum itu laksana sarapan yang membuat tubuhku bergairah untuk beraktivitas. Kuraih ransel milikku, sedikit bercermin agar elok rupa ini ketika gadisku menatapnya. Bibirku menyungging, sesaat mengagumi wajah yang diciptakan Tuhan untukku. Langkahku bergegas meninggalkan kamar.
Kulihat tante Rania membawa nampan berisi segelas susu dan roti bakar selai coklat kegemaranku. Wajahnya heran menatapku, mungkin dia berpikir apa yang terjadi denganku hari itu karena tak biasanya aku berangkat sekolah pagi-pagi sekali. waktu juga baru menunjukkan pukul enam pagi.
“Aku buru-buru, Tante bawa saja lagi sarapannya,” tukasku menatap tante Rania yang telah berada di hadapanku.
“Tapi ... ini masih sangat pagi, Arya. Sarapan dulu, ya,” ujar tante Rania membujuk. Aku diam tanpa menoleh kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita itu dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu. Namun, sikapku yang dingin pasti menyakiti hatinya.
Kuputar kunci garasi, mengeluarkan sepeda kesayanganku. Pedalnya kukayuh dengan cepat menuju gang kediaman Sakinah, menunggu gadis itu di ujung aspal. Mataku sesekali melirik ke arah gerbang, memastikan Sakinah keluar untuk pergi ke sekolah. Samar-samar kulihat Sakinah keluar dari pagar rumahnya dengan sepeda. Aku menggeleng,
“Padahal masih sakit, sudah memaksa naik sepeda,” gumamku. Kulihat Sakinah hampir sampai di depan gerbang, dengan cepat kukayuh sepadaku sedikit menjauh lalu berpura-pura berpapasan dengannya. Hal itu kulakukan agar aku tidak terlihat menunggu kehadirannya.
“Sakinah!” tegurku sembari mengentikan laju sepeda.
“Ar-ya, assalamu alaikum”
__ADS_1
“Eh, wa-wa alaikumsalam. Kamu baru mau berangkat?” ucapku canggung, lalu kembali melanjutkan perkataan dengan nada meninggi, “Rupanya julukan gadis bodoh itu cocok sekali, ya, untukmu.” Aku menatap lekat Sakinah.
Keningnya berkerut tak mengerti dengan apa yang barusaja aku ucapkan. “Lihatlah, tubuh yang masih sempoyongan begitu tapi bersikeras mengayuh sepeda.” Aku tekekeh sinis. Sakinah masih diam dan menunduk.
“Sini ...” kutarik sepeda Sakinah, mengambil alih posisinya untuk mengendarai. “Biar aku yang meboncengmu, naiklah!”
“Ti-ti-tidak, aku ti-tidak mau. Akan jadi fitnah nantinya.” Sakinah semakin tertunduk.
“Fitnah?” ujarku heran.
“I-i-iya, le-laki dan wanita ‘kan tidak boleh jalan berduaan,” ujar Sakinah dengan suara terbata.
“Oh, begitu. Maaf ... aku tidak tahu itu. Ngomong-ngomong, kau ‘kan masih sakit Sakinah, mana bisa bawa sepeda. Kau bisa terluka lagi nanti. Eh mak-sudku, A-ku sebenarnya tidak perduli kau ja-tuh atau terluka, tapi jika sepedamu rusak lagi, aku yang repot nantinya ‘kan?” Kubulatkan mataku menatap Sakinah, kedua alisku terangkat seolah mencoba menyakinkan argumenku.
Sakinah semakin canggung dan sebelum situasinya semakin tak terkendali, aku kembali berujar, “Kita naik metromini.” Aku meraih kedua sepeda menuntunya ke rumah Sakinah, tanpa mendengar persetujuannya kakiku telah lebih dulu melangkah menjauhinya yang masih mematung.
Aku telah berdiri di depan pagar meletakkan sepeda milik kami, lalu beranjak pergi. Sesampainya di ujung jalan, kuhentikan angkutan yang tampak penuh dengan anak-anak berangkat sekolah. “Hey ... Sakinah!” teriakku.
__ADS_1
“I-iya,” ucapnya berlari ke arah mobil. Sakinah masuk terlebih dahulu. Aku berjalan di belakangnya. Suasana sesak, anak-anak yang akan pergi bersekolah berdesakkan. Fenomena yang lazim setiap paginya. Namun, ini keadaan yang mungkin pertama kali Sakinah alami. Kurentangkan kedua tangan, melindunginya dari dempetan penumpang. Dia berpegang di penyanggah pintu mobil.
Mataku masih menatapnya lekat, hingga kulihat satu kursi kosong tepat di depan kami.
Beberapa orang berebut untuk duduk, tetapi tak kubiarkan itu terjadi, dengan sigap kulingkarkan tangan pada kursi. Mataku menatap tajam pada mereka yang ingin mendudukinya seolah tatapan itu mengisyaratkan, “Berani menduduki kursi itu kalian mati”
“Duduklah, Sakinah!” ujarku pelan. Sakinah tak bergeming, hal itu membuatku kesal.
“Duduklah, Sakinah!” bentakku dengan suara meninggi, membuat gadis itu terperanjat dan menuruti keinganku. Serentak mata para penumpang tertuju padaku yang mengeluarkan suara sekencang itu.
Aku sendiri tak berani menatap Sakinah, perkataanku tadi pasti membuatnya takut. Lebih kurang delapan menit berlalu, kami tiba di pintu gerbang sekolah.
“Kiri, Bang!” ujarku pada pengemudi mobil.
Mobil pun berhenti, aku keluar lebih dahulu, berlari meninggalkan Sakinah. Saat itu, aku hanya berpikir tidak ingin siapapun tahu bahwa aku pergi ke sekolah bersama denganya. Akan canggung bila anak-anak mengolok kedekatan kami.
Bersambung
__ADS_1
Maaf, lama poatingnya. Kesibukan skripsi benar-benar menyita waktu. Semoga kelanjutan cerita Sakinah dan Arya bisa menghibur kalian😍