Sakinah Yang Tersembunyi

Sakinah Yang Tersembunyi
Part 6 Lanjutan "Apel ke Rumah Sakinah"


__ADS_3

Setengah jam berlalu, aku sudah sampai di kediaman Sakinah. Rumah sederhana dengan aneka bunga berwarna-warni di tamannya. Harum semerbak menyentuh hidungku. Suasananya tampak damai.


Pagar hitam dengan cat dindingnya berwarna hijau telur asin membuat rumah itu terlihat elok. Aku mengetuk pintu pagar. Mengucapkan salam beberapa kali, hingga suara penghuni rumah keluar. Kulihat wanita setengah baya menghampiriku.


“Permisi, assalamu alaikum, Tante!” sapaku pada wanita yang berdiri di hadapanku.


“Wa alaikumsalam.” Dia tersenyum sembari membalas salam yang aku berikan. Matanya menatap sepeda yang aku bawa dengan pandangan heran.


“Sakinah bilang sepadanya rusak parah, kemarin?” Wanita itu mengeryitkan dahi, menatapku menelisik. Aku terkejut. Sekejap tubuhku bergetar.


“Su-sudah saya perbaiki, Tante.” Aku menelan ludah takut wanita yang kupastikan ibunda Sakinah itu akan memarahiku.


“Seharusnya, kamu tak usah repot, tapi terima kasih.” Dia kembali tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya, “Ya, sudah duduk dulu. Tante panggilkan Sakinah.” Ibu Sakinah berlalu dari hadapanku.


Tidak berselang lama, Sakinah datang menghampiriku. Berjalan tertatih. Dengan kakinya yang terlihat pincang dan luka memar masih sangat jelas di sekujur wajahnya.


“Arya, maaf menunggu lama.” Sakinah memposisikan diri duduk tepat di hadapanku.


“Lihatlah dirimu! Bagaimana kau bisa menjadi seorang dokter, sedangkan menjaga diri saja tidak bisa,” ujarku meemandang Sakinah dengan iba. Dia menatap wajahku lekat, lalu berujar, “Bagaimana kau tahu semua itu?”

__ADS_1


“Sudah ... lupakan saja, tidak penting,” tukasku lagi. Sakinah tertunduk. Menyaksikan hal itu, aku benar-benar merasa canggung. Mulutku kembali membisu tak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Sakinah yang berada di dekatku sungguh menjadikan suaraku seperti terhenti untuk keluar. Kami diam. Bukan situasi ini yang aku mau. Namun, kemudian Sakinah berujar dengan terbata.


“U-mi tadi bilang kalau kau memperbaiki sepedaku, a-pa itu benar?” Sakinah membuka percakapan. Aku menatap wajahnya dengan kikuk.


“Iya,” ujarku singkat.


“Tapi, kenapa kau melakukannya?” aku menghela napas mendengar pertanyaannya.


“Selain jelek dan bodoh! Kau bahkan tidak bisa mengucapkan kata terima kasih rupanya. Malah bertanya sesuatu yang tidak penting.” Kutatap tajam wajah sakinah, membuatnya kembali tertunduk.


“M-maaf.”


“Maaf.”


“Kau ini menyebalkan sekali, tidak bisakah kau mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantumu.” Aku masih lekat menatap Sakinah, tak kupalingkan wajahku barang sedikitpun.


“M-maaf." Sakinah kembali mengulangi ucapannya. Hal itu membuatku kesal bukan kepalang.


“Sudahlah, aku pergi saja!” Aku bangkit dari dudukku, hendak berpaling pergi meninggalkannya. Namun, suara skinah menghentikan langkahku.

__ADS_1


“T-terima kasih,” ujar Sakinah. Aku mengalihkan pandanganku yang semula menatap ke luar rumah. Kulihat Sakinah tersenyum.


Degh .... jantungku berdegup kencang dan darah seolah mengalir cepat dari nadiku. Diriku mematung melihat senyum itu. Aku seperti tidak menginjak bumi, Sakinah benar-benar mengalihkan duniaku. Kali pertama aku merasa begitu bahagia dalam hidup.


Inikah kebahagiaan yang telah lama aku lupakan? Kebahagiaan yang sulit dituangkan dalam bentuk apapun. Namun, sesaat kemudian aku terperanjat dan kembali pada dimensi dunia yang aku tinggali. Suara ibu Sakinah membuyarkan lamunanku.


“Sudah mau pulang?” ucapnya membangunkan aku dari mimpi indah yang baru saja terjadi.


Aku mengangguk canggung. Ibunya kembali berkata, “Padahal baru saja tante bikin minum untukmu.”


“Saya ada urusan mendadak, Tante. Maaf,” tukasku.


“Ya, sudah. Hati-hati di jalan!”


“Terima kasih, Tante. Assalamu alaikum.”


“Wa alaikum salam,” ucap Sakinah dan ibunya kompak menjawab salam. Aku berlalu pergi dengan perasaan tak menentu. Bayangan wajah Sakinah yang tersenyum senang melekat indah dalam ingatanku. Suaranya yang merdu akan selalu terngiang dalam gendang telingaku. Hari itu akan menjadi kenangan berharga yang tak mungkin terlupakan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2