Sakinah Yang Tersembunyi

Sakinah Yang Tersembunyi
Part 5 Apel ke Rumah Sakinah


__ADS_3

(Cinta mampu mengubah segalanya, yang pengecut menjadi berani, yang pintar menjadi bodoh, yang jelek menjadi cantik, yang pemarah menjadi penyabar, dan yang pendiam menjadi periang. Inilah cinta pesonanya tiada akan pernah berakhir.)


Hari telah berganti, mentari tak terlalu gagah menyinari, dia menyembunyikan senyumnya di antara celah awan yang sedikit menghitam. Cuaca menjadi lebih sejuk dari biasanya, menambah semangatku melangkahkan kaki menuju bengkel tempat aku memperbaiki sepeda Sakinah, dari kejauhan kulihat ramai pengunjung yang memperbaiki kendaraan mereka.


Langkah kupacu dengan lebih cepat, hingga tak butuh waktu lama aku telah sampai di bengkel yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit pada kendaraan tersebut. Rongsokan ban-ban bekas terlihat mengelilingi dan menggantung di sekitar bengkel.


Plang nama bertuliskan “Bengkel Abadi” terpampang besar di sudut pintu masuk simbol identitas usaha yang tengah digeluti si empunya. Kuterobos kumpulan orang-orang yang berdesakan. Suara mereka memenuhi gendang telinga, terdengar sangat berisik. Aku tak bisa membuang-buang waktu di sini saja, Sakinah pasti telah menanti sepeda kesayangannya.


Selepas istirahat pun, Bu Niken juga menanyakan sepeda yang aku bawa kemarin, hal ini disebabkan sepeda itu tidak langsung sampai ke kediaman Sakinah tepat waktu. Aku menculiknya. Mendengar pertanyaan tentang sepeda Sakinah aku menjadi gugup, dengan suara tertahan dan malu aku mengatakan bahwa sepeda gadis itu kutaruh di bengkel untuk diperbaiki. Bu Niken tersenyum saat itu.

__ADS_1


Aku tak tahu makna di balik seutas senyumnya, lagipula ini sudah terlanjur. Mungkin saja Beliau tahu tentang perasaanku pada Sakinah, tetapi melihat usiaku yang masih sangat belia Bu Niken tak banyak berkomentar, dia tak ingin menunjukkan ketahuannya akan cinta perjaka kecil yang mungkin hanya tengah bermain-main dengan perasaan.


Sesampainya di bengkel, selekasnya kupanggil montir yang mengerjakan sepeda Sakinah tempo hari.


“Bang!” teriakku pada orang yang tengah duduk menjongkok memperbaiki sepeda motor di sudut depan bengkel.


"Ini uangnya, Bang." Aku mengulurkan uang seratus ribu sebagai upah pekerjaannya.


"Hati-hati, jangan nabrak lagi, Tong! teriaknya.

__ADS_1


“Terima kasih, Bang!” Aku berkata sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Kutatap sepeda Sakinah dengan senyum sumringah. kuputuskan untuk pulang terlebih dahulu, mengganti seragam lusuhku dengan pakaian yang pantas dikenakan seorang bujang yang akan berkunjung ke rumah kekasihnya.


Kunaiki anak tangga dengan cepat, memasuki kamar, dan membuka lemari untuk berganti pakaian. Kupandang diriku sedikit lama di depan cermin besar yang tergantung di dinding dekat lemari dengan sesekali tersenyum dan bergumam dalam hati, “Aku tampan juga.” Kupilih baju yang diberikan ayah sebagai oleh-oleh ketika pulang dari dinas di luar kota.


Kemeja berwarna cokelat dengan kaos putih polos di dalamnya. Sengaja tak kututup kancing bajunya agar telihat lebih elegan. Tak lupa sneakers putih polos sebagai penghias kaki jenjangku. Lengkap sudah busanaku siang itu.


Aku bak model remaja yang siap menebarkan pesonanya. Pemuda yang menjebak dengan daya tarik yang sempurna. Pemuda yang akan merantai Sakinah pada cinta dan kasih sayang. Semuanya selesai. Diri ini sudah siap apel kekediaman Sakinah. Aku hanya berharap keberuntungan menyertaiku hari itu. Doaku hanya satu, melihat senyum Sakinah untukku hari itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2