
"Apa yang harus kulakukan!" Gumam Hing Zen ketakutan
Dirinya berada di tengah hutan asing, bersembunyi dibalik sebatang pohon karena tidak jauh dihadapan lokasi Hing Zen bersembunyi
Dua Siluman tingkat rendah sedang saling membunuh memperebutkan Wilayah dengan nyawa mereka
...[<><><><>]...
Siluman tingkat Paling Rendah setara dengan Kultivator Perunggu 1 - 9
Siluman tingkat Rendah setara dengan Kultivator Perak 1 - 9
Siluman tingkat Menengah setara dengan Kultivator Emas 1 - 9
Siluman tingkat tinggi setara dengan Kultivator Berlian 1 - 9
...[<><><><><>]...
"B-bagaimana ini"
"L-Lari?, t-tapi ini cukup menarik untuk ditonton"
"Walau kalau ketahuan nyawaku akan melayang" Gumam Hing Zen
Hing Zen hanya mengintip dari belakang Batang Pohon menyaksikan pertarungan siluman Belalang Daun Raksasa melawan Siluman Serigala Berekor 2
Walau keduanya sama-sama Siluman tingkat rendah namun Siluman Belalang Daun Raksasa terlihat lebih tertekan akibat Kuku yang tajam dari siluman Serigala Berekor 2 yang mempunyai kecepatan tinggi
"Sepertinya akan berakhir"
Siluman Serigala berekor 2 mengeluarkan Raungan mematikan sebelum melompat ke arah Siluman Belalang Daun Raksasa
Namun tiba-tiba, Siluman Daun Raksasa mengayunkan Kedua lengannya yang berbentuk Sabit secepat mungkin dihadapan Siluman Serigala berekor 2
Karena sedang diudara, Siluman Serigala Berekor 2 tidak dapat menghindari Sabitan Siluman Belalang Daun Raksasa dan harus mengalami kematian dengan tubuh yang terbelah beberapa bagian
"Ha... ha... Siluman saja kalau berbuat kesalahan bisa mati seketika yah walau unggul" Hing Zen berniat meninggalkan Siluman Belalang Daun Raksasa namun tidak sengaja menginjak Ranting Pohon yang tiba-tiba muncul dengan kekuasaan author
Akibatnya Hing Zen membuat suara yang terdengar oleh siluman belalang daun raksasa yang sedang menikmati santapannya
"Habis aku" Tanpa memikirkan hal lain lagi, Hing Zen segera berlari secepat mungkin menjauh dari sana
__ADS_1
Namun sayangnya Siluman Belalang Daun Raksasa tidak akan melepaskan mangsanya kecuali terluka parah, ia mengejar Hing Zen dan meninggalkan Mayat Siluman Serigala berekor 2
"Hei berhentilah mengejarku Belalang, tidak bisakah kau berpikir dengan otak, tubuhku jauh lebih kecil dari Siluman yang kau bunuh tapi kau dengan bodohnya meninggalkan Santapan yang lebih mengenyangkan demi diriku yang kurus ini" Teriak Hing Zen
Dikarenakan Siluman Belalang Daun Raksasa yang mengejar Hing Zen hanya Siluman tingkat rendah yang bertindak berdasar insting
Ia tidak memahami ucapan Hing Zen dan terus melompati pepohonan layaknya Belalang normal yang melompati antar tempat
"Mati aku, Mati aku"
Ketika Siluman Belalang Daun Raksasa semakin dekat, Hing Zen terus berlari hingga tanpa sadar karena panik bahwa dirinya berlari ke arah Tebing
Sayangnya semua terlambat, Hing Zen telah terjatuh bersama Siluman Belalang Daun Raksasa
"Mati jatuh tidak buruk juga" Hing Zen menatap ke belakang dimana Siluman Belalang Daun Raksasa yang bergerak-gerak diudara layaknya orang bodoh
"Sayang sekali sobat kau akan mati lebih dulu" Ucap Hing Zen tersenyum mengejek
Akibat berat badan Siluman Belalang Daun Raksasa yang begitu berat membuatnya jatuh lebih cepat dibanding Hing Zen
Ketika Siluman Belalang Daun Raksasa telah menghilang dari pandagan Hing Zen, dirinya menutup mata bersiap untuk mati
"Rasakan itu Kawan karena mencoba membunuhku, siapa suruh lebih memilih diriku dari pada Santapanmu yang sebelumnya" Hing Zen menginjak mayat Siluman Belalang Daun Raksasa beberapa kali sebelum turun dari sana
"Baiklah, karena aku masih hidup maka jalani saja, tapi ini dimana" Ucap Hing Zen dengan wajah datarnya
Tempat yang sepi, tidak ada makhluk hidup juga gelap dan juga terasa misterius namun mengerikan
"Berteriak minta tolong percuma juga, Selama di hutan aku bahkan hanya bertemu Siluman Siluman saja"
"Ah sudahlah, berpikir tidak ada gunanya, coba saja aku mempunyai Qi Api disaat-saat seperti ini mungkin akan aman saja"
"Maju saja" Tanpa ragu Hing Zen berjalan maju walau gelap
Tak peduli dengan suasana horor nan mematikan, Hing Zen terus berjalan maju hingga secerca cahaya terlihat
"Jalan keluar!" Dengan cepat ia berlari mendekati sumber cahaya dan semakin mendekat cahayanya pun semakin terang
Ketika Hing Zen telah keluar dari tempat yang begitu gelap, dirinya berada di sebuah tempat yang tidak diketahui
"Diriku ini memang rajanya kesialan" Gumam Hing Zen
__ADS_1
Tempat yang begitu asing karena Hing Zen dapat merasakan Udara di tempat tersebut begitu berbeda
"Tunggu... Tidak salah lagi itu?" Hing Zen berlari ke depan dan mencabut sebuah Rumput berwarna hijau dengan pola bulat berwarna merah di daunnya
"Rumput Pola Merah... Tanaman Ajaib tingkat menengah, khasit tanaman itu begitu kuat karena dapat membuat kecepatan Kultivasi Kultivator Perak bertambah 3x lipat"
"Tapi ketika berumur 1000 tahun Rumput Pola Merah akan mendapatkan 1 Pola Bulat merah lagi di daunnya dan khasiat tanaman juga akan meningkat 2x lipat"
"Tapi Pola Bulat Merah di sini ada 12, artinya Tanaman Ajaib ini berumur 12.000 tahun" Gumam Hing Zen terkagum-kagum
"Artinya kecepatan kultivasi kultivator Perak akan meningkat 36x lipat" Seketika lengan Hing Zen yang menyentuh Rumput Pola Merah bergetar antara kagum juga takut
"Tanaman Ajaib ini begitu berharga, khasiatnya melebihi Tanaman Ajaib tingkat tinggi, Pembunuhan bisa saja terjadi jika Tanaman Ajaib ini diketahui publik"
Hing Zen memutuskan meletakkan Rumput Pola Merah di tanah saja walau tidak akan membusuk namun setidaknya itu lebih baik dari pada dibawa dan diketahui orang-orang
"Emm, kurasa akan berbahaya jika ada orang asing mengetahui tempat ini dan mengambil Rumput Pola Merah tadi"
Hing Zen kembali mengambil Tanaman Ajaib yang dirinya letakkan sambil memandang sekeliling dengan pandangan tajam
"Akan lebih baik jika Tanaman Ajaib ini kugunakan saja dari pada ada yang menemukannya... Benar ini demi tidak ada yang menemukannya bukan demi memenuhi hasratku"
Hing Zen tersenyum tipis sebelum duduk bersila dan mengosumsi Rumput Pola Merah kemudian menyerap khasiatnya
"Ah aku lupa, aku Kultivator Perunggu Abadi" Ucap Hing Zen dengan wajah datarnya
Namun sayangnya disaat Hing Zen mengingat bahwa dirinya hanya Kultivator Perunggu disaat itu juga seluruh Khasiat Rumput Pola Merah telah selesai diserap
Tiba-tiba saja tubuh Hing Zen merasakan kesakitan yang luar biasa seolah akan meledak namun Hing Zen dengan pikiran dingin berusaha menenangkan Tubuhnya yang tidak dapat mencerna Khasiat tersebut
Sedikit demi sedikit Hing Zen mencerna Khasiat dari Rumput Pola Merah hingga tanpa disadari waktu telah berlalu 1 bulan penuh namun Khasiat yang terserap baru 25%
Hing Zen terus melanjutkan dengan santai hingga 3 Bulan berlalu dan seluruh Khasiat Rumput Pola merah telah terserap habis tanpa sisa
"Selesai juga, tidak ada yang lebih melelahkan dari pada menjadi Pelupa" Hing Zen meregangkan tubuhnya yang telah sangat lama tidak bergerak
"Tunggu... Perasaan ini, mungkinkah?" Hing Zen berkonsentrasi dan sebuah Bola kecil berwarna biru muda melayang diatas telapak tangannya
"Qi... Artinya aku sudah menembus Ranah Perunggu dan resmi menjadi Kultivator Perak 1" Air mata kebahagian menetes dari mata Hing Zen yang berwarna Biru Saphire
Angin berhembus menggoyangkan rambut hitam pekat Hing Zen seolah memberikan ucapan selamat karena telah mencapai Ranah Perak
__ADS_1