Sang Kultivator Petualang

Sang Kultivator Petualang
Chapter 4 Ujian yang mustahil


__ADS_3

"Kalahkan aku, Tunjukkan keberanianmu" Ucap siluman Ular Persik Biru dengan entengnya


Seketika semangat Hing Zen menurun hingga ke titik 0, Tidak ada sedikitpun harapan di matanya yang kosong


"Baiklah aku menyerah, Lebih baik menjadi Kultivator Perak tahap kesembilan seumur hidup dari pada harus melawanmu" Tolak Hing Zen tanpa berpikir panjang


"Heh Lemah, sama sekali tidak ada keberanian dalam dirimu, dengan sifat seperti itu kau akan mati karena tidak akan mampu bertahan di dunia yang keras ini" Siluman Ular Persik Biru mendengus kesal sambil menghina keberanian Hing Zen yang begitu rendah


"Sialan jangan asal omong, Melawanmu itu sama saja seperti mendatangi Dewa Kematian, Aku masih waras jadi aku lebih memilih dipermalukan dari pada mati konyol"


"Heh Lemah, Lemah Lemah saja jangan banyak alasan, Keberanian juga menjadi faktor penting dalam Bertarung" Ejek Siluman Ular Persik Biru


"K-KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU KARENA KEKUATANMU JAUH DIATASKU, APANYA KEBERANIAN MENJADI FAKTOR PENTING DALAM BERTARUNG-


JIKA MEMANG SEBEGITUNYA COBALAH KAU MELAWAN SILUMAN RAJA NAGA YANG TINGGAL DIPEGUNUNGAN TIRUS... RUMOR BERKATA DI TELAH MENCAPAI TINGKATAN KEKUATAN TERTINGGI... COBA KAU YANG HEBAT ITU LAWAN DIA YANG JAUH LEBIH KUAT DARIMU" Ungkap Hing Zen yang tidak mampu menahan Emosi lagi


"Tentu saja aku akan kalah, aku pernah melawannya dan aku kalah hanya dalam beberapa serangan karena kekuatan kami berbeda jauh" Ucap Siluman Ular Persik Biru dengan santai


"POSISIKU INI SAMA SEPERTI KETIKA DIRIMU MELAWAN SILUMAN RAJA NAGA ITU SIALAN, PERBEDAAN KEKUATAN BEGITU JAUH, KEBERANIANKU MEMANG KECIL TAPI OTAKKU INI TIDAK, AKU BUKAN MANUSIA YANG TERLAHIR DENGAN KEKUATAN BESAR, KEBERANIAN BESAR, BANTUAN BESAR, ORANG-ORANG YANG DEKAT DENGANKU"


"A-AKU HANYA PEMUDA MENYEDIHKAN BIASA YANG DITINGGALKAN OLEH KELUARGA, KLAN, TEMAN... TIDAK ADA YANG MENERIMAKU, AKU LEMAH, KEBERANIANKU SEKECIL SEMUT, NYALIKU HAMPIR TIDAK ADA DAN MENTALKU SETIPIS KERTAS"


"TAPI AKU TIDAK AKAN PERNAH MELAKUKAN HAL YANG MUSTAHIL HANYA DENGAN MODAL KEBERANIAN"


Setelah puas mengucapkan seluruh kata-kata dihatinya, Hing Zen dengan mudah berdiri karena Siluman Ular Persik Biru telah menghilangkan Tekanannya


"Ayo Pergi Teman" Hing Zen berjalan dan menaiki Punggung Pemimpin Siluman Serigala


*AuUuu*


Serentak para Siluman Serigala beserta Hing Zen meninggalkan Siluman Ular Persik Biru yang terbengong dan melupakan Pir Emas karena bagi Hing Zen nyawa dirinya sendiri lebih penting dari apapun


...[<><><><><>]...


Setelah kembali dengan tangan kosong, Hing Zen tidak terlalu merasa sedih karena memang dirinya tidak terlalu memiliki Keinginan untuk Menjadi Kultivator Emas


"Hah... Lama-lama bosan juga di Hutan ini, Hari-hari makan Daging bersama Bawahan-Bawahan Serigalaku" Gumam Hing Zen


ia tidak melakukan apa-apa dan tidak berniat melakukan apapun, Hing Zen hanya sedang menikmati Hembusan Angin yang menyegarkan di Padang Rumput bersama para Siluman Serigala disekitarnya


Tanpa pemberitahuan lebih lanjut, Para Siluman Serigala tiba-tiba menggeram dan menatap ke arah jauh di Depan


"Ada apa?" Hing Zen yang penasaran mengalihkan pandangannya dan memfokuskan titip lihatnya ke arah depan

__ADS_1


"Oh... Manusia" Tanpa merasa senang karena mengetahui ada Manusia yang ditemuinya, Hing Zen lebih memutuskan untuk bersantai kembali


Namun para Siluman Serigala disekitarnya seolah tidak membiarkan Hing Zen bersantai karena terus mengeluarkan suara menggeram


'Kudengar Siluman memiliki Indra yang lebih sensitif dari manusia jadi harusnya ada alasan tertentu mereka mewaspadai manusia-manusia disana'


'Kalau memfokuskan Qi di lengan akan memperkuatnya maka Jika ku fokuskan Qi di penglihatanku seharusnya'


Hing Zen tanpa ragu memfokuskan Qi miliknya pada Penglihatan dan ketika membuka mata pandangan Hing Zen terasa lebih tajam


Jangkauan area yang dapat dilihatnya pun bertambah bahkan seekor semut pun saat ini dapat dirinya lihat walau jaraknya begitu jauh


"Manusia Manusia itu, Mereka berdarah tapi itu bukan luka, itu Darah manusia atau tidak Siluman tapi kemungkinan besar Darah Siluman karena para Serigala menggeram ke arah mereka"


Karena merasa tertarik Hing Zen memutuskan untuk melihat lebih lanjut dan meneliti para Manusia itu dari kejauhan


"Tunggu... Logo Api Merah... Mereka pasukan Api Merah milik Ketua Klan, kenapa mereka ada disini, Apa mungkin... Mereka mencariku?"


Berbagai pemikiran dipikirkan oleh Hing Zen dan hanya satu kemungkinan terbesarnya yang sangat mungkin terjadi


"Mereka datang untuk membunuhku" Gumam Hing Zen


Dirinya sangat mengingat jelas masa lalu ketika berada di Klan Hing begitu menyenangkan sebelum dirinya disebut sebagai Kultivator Perunggu Abadi karena terjebak di Ranah Perunggu tahap kesembilan bertahun-tahun


Tidak sedikit yang membenci keberadaan Hing Zen termasuk kedua orang tuanya, Ketua Klan Hing, Para Tetua Sekte atau lebih tepatnya hampir 90% orang Sekte Hing membenci dirinya


"Yah tidak heran mereka sampai mengirim Pasukan Api Merah hanya untuk membunuhku, tapi karena aku kebetulan sedang jengkel karena Siluman Ular Persik Biru maka kalian akan kuhancurkan" Hing Zen tersenyum tipis merencanakan rencana-rencana licik di kepalanya


'Kelihatannya mereka sedang beristirahat, kalau begitu ini sempurna'


Hing Zen menunggu hingga malam hari dan ketika malam harinya ia telah siap untuk menjalankan rencana


Hing Zen mengendap-endap mendekati tempat Kemah Pasukan Api Merah sambil menekan Hawa Keberadaan setipis mungkin agar tidak disadari


Ketika semakin dekat Hing Zen mencari titik buta yang tidak akan terlihat oleh Prajurit Api Merah lainnya dan titik buta itu ada di Belakang Kemah karena disana terlihat hanya 1 orang Prajurit yang berjaga


Hing Zen dengan perlahan memutari dari luar dan ketika sudah dibelakang Kemah tanpa diketahui, ia dengan kecepatan penuh mendekati Prajurit Api yang sendirian lalu menusuk Jantungnya dengan Ranting Kayu yang dilapisi Qi


Setelah itu Hing Zen juga menyumbat mulut Prajurit Api tersebut dengan Sendal Kayunya agar tidak mengeluarkan suara, Ketika telah tewas Hing Zen menyeretnya menjauhi Kemah lalu mengenakan Seragam juga Armor Prajurit Api Merah untuk menyamar


"Rencana Penipuan... dimulai"


Hing Zen berlari secepat mungkin dengan ekpresi panik buatan dan menerobos masuk ke dalam Kemah

__ADS_1


"La-Lapor, Komandan Saya Menemukan Mayat Prajurit Api Merah yang ditemukan dalam Kondisi Tewas mengenaskan dengan Ranting Kayu menancap Di Jantungnya" Lapor Hing Zen dengan suara tinggi agar terdengar seperti orang dewasa juga seorang Prajurit


"APAAA... KUMPULKAN SELURUH PRAJURIT API MERAH SEKARANG, SEPERTINYA ADA PENGHIANAT DIANTARA KITA" Komandan Api Merah menghancurkan Gelas disampingnya dan memerintahkan Hing Zen tanpa ragu


"Baik Komandan, Segera Laksanakan" Sesuai yang diperintahkan Hing Zen benar-benar mengumpulkan Seluruh Prajurit Api Merah dengan aman karena penyamarannya begitu sempurna


'Untung saja Para Prajurit Api Merah dilarang menunjukkan Wajah aslinya kecuali Komandan dan Jenderal Api Merah, jika tidak mungkin aku akan kesusahan' Batin Hing Zen senang


...[<><><><><>]...


"HMM, AKU YAKIN KALIAN BERTANYA-TANYA ALASAN KENAPA AKU MENGUMPULKAN SELURUH PRAJURIT API MERAH, TADI BARU SAJA PRAJURIT API MERAH YANG BERJAGA DIBELAKANG MENEMUKAN MAYAT REKAN KITA YANG TEWAS MENGENASKAN"


"AKU TADI TELAH MENGECEK REKAN KITA YANG TERBUNUH DAN RANTING POHON MENUSUK JANTUNGNYA... SALAH SATU DIANTARA KALIAN SUDAH DIPASTIKAN MERUPAKAN PENGHIANAT, CEPATLAH MENGAKU SEBELUM AKU YANG MENCARI SENDIRI" Teriak Komandan Api Merah dengan nada yang begitu terdengar marah


"Lapor Komandan, Saya Penjaga Depan Kemah tidak menemukan ataupun melihat adanya Keanehan"


"Lapor Komandan, Saya Penjaga Sisi Kanan Kemah tidak menemukan keanehan"


"Lapor Komandan, Saya Penjaga Sisi Kiri kemah tidak menemukan kejanggalan"


"Baiklah tapi menurutku Rekan kita yang tewas dibunuh oleh Prajurit Api Merah yang kultivasinya lebih tinggi dari dirinya" Ucap Komandan Api Merah menunjukkan salah satu dugaannya


"Prajurit Api Merah yang tewas merupakan Kultivator Emas tahap kedua karena aku telah memeriksanya, Karena itu siapapun yang kekuatannya berada diatas itu cepat angkat tangan atau mengangkat lengan kalian hingga lepas" Ucap Komandan Api Merah santai namun penuh tekanan


Tanpa menunggu lebih lama, 15 orang mengangkat lengannya dari 34 Prajurit Api Merah yang ada


"Bagus seluruhnya, Bagi 2 barisan... 15 orang yang angkat tangan pindah barisan"


Para Prajurit Api Merah yang mengangkat lengannya dengan gesit membentuk barisan baru dengan cepat namun rapi


"Kalau begitu, Kalian 15 carilah Penghianat itu... Salah satu aturan Prajurit Api Merah adalah apabila ada Penghianat di dalam Pasukan maka Komandan ataupun Jenderal yang memimpin berhak mengeksekusi Tersangka" Ungkap Komandan Api Merah


Seketika 15 orang yang mengangkat Tangan mereka mulai saling tuduh menuduh tanpa bukti karena panik, Hingga akhirnya suatu keputusan dibuat


'Tumbal...'


Begitu lah, Prajurit yang tidak bersalah atau pun yang lebih banyak dipilih akan dijadikan Tumbal sebagai Kambing hitam dengan tuduhan Penghianat agar yang lain aman


"Apa benar, Dia penghianatnya?" Tanya Komandan Api merah


"Benar Komandan" Jawab seluruh Prajurit Api merah yang mengangkat tangannya


"Baiklah kalau begitu, Penghianat matilah" Dengan Kapak raksasanya, Komandan Api Merah menebas Prajurit tidak bersalah sementara sang pembunuhnya hanya tertawa geli di dalam hati

__ADS_1


__ADS_2