
Rila pun keluar dari bangunan tua itu, bergegas menjauh dari sana. Rila berjalan dengan santai agar tidak ada yang mencurigainya. Namun, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Korban pembunuhan bernama Rulan menggunakan jas berwarna biru tua dan jeans abu-abu, ia ditusuk menggunakan pisau tepat di bagian hatinya, ditemukan juga potongan kukunya, itu berarti ia sempat melawan si pelaku. Apa jangan-jangan dia yang melakukannya?" Begitu yang dipikirkan Rila
Kemudian....
"Tiinnn!!" Suara klakson dari sebuah mobil yang dihalangi jalannya oleh Rila, suara mobil itu membuat Rila terkejut.
"Ahhh!! Maaf-maaf" Ujar Rila sambil mengatupkan kedua tangannya lantas pergi.
"Gua ngk boleh mikir begituan lahh" Ujar Rila sambil menampar kedua pipinya pelan.
Rila fokus pada tujuannya, yaitu pulang ke rumahnya yang sederhana. Jam 09.00 Rila sudan sampai di rmh, ia begitu terkejut, melihat pintu rumah sedikit terbuka. Rila pun dengan sigap menggambil sapu ijuk yang ada di dekat pintu rumahnya.
"Jangan-jangan ada maling di rumah gua, ngk bener nih, apa gua lapor polisi? Ahhh ngk usah lah mereka ngk bisa diandalkan, orang-orang payah itu, lebih baik gua hajar aja itu maling sendirian" Pikir Rila yang tengah bimbang
Rila kemudian masuk pelan-pelan ke dalam rumah. Saat ia sampai di ruang tamu, ia mendengar ada suara tangisan perempuan yang ia kenali.
"Lah knp ada suara orang nangis dari kamar gua? Gua kenal suara itu, apa itu...." Ujar Rila yang setelahnya bergegas menuju ke kamar tidur. Di sana Rila melihat seseorang yang ia kenali. Rila menghampiri orang yang tengah duduk di kasurnya.
"Rila......" Ujar perempuan itu yang seketika menengok ke arah Rila dengan air mata yang tengah berlinang.
"Sina... Lo knp nangis nih? Apa yang terjadi sama lo?" Ujar Rila dengan wajah yang bingung kemudian duduk di sebelah perempuan itu.
Dia bernama Sina Marika yang merupakan teman dekat Rila, umur 20 tahun, kuliah di tempat yang sama dengan Rila, seseorang yang selalu periang, namun berbeda dengan hari ini.
"Gua ta ta di......" Ujar Sina tersedu-sedu.
"Jangan blng....." Pikir Rila yang cemas.
"Nilai gua jelek Ril" Ujar Sina sambil memasang ekspresi cemberut.
"Dasar ya ini anak satu kurang ajar, gua kira apaan sampe-sampe lo nangis" Ujar Rila setelahnya mencubit pipi Sina, seketika Sina tersenyum.
"Nah gitu dong senyum kyk biasanya, jelek bnget muka lo klau nangis, hahahaha" Ujar Rila meledek Sina.
"Ihh bukannya dihibur malah diledek, nyebelin lu emang jadi temen gini amat" Ujar Sina menggerutu.
"Gua kan jujur dari pada gua boong ya ngk?" Tanya Rila.
"Boong aja dah biar gua seneng" Jawab Sina kesal.
"Lu cantik kalau senyum tau, lu sadar kan?" Tanya Rila.
"Sadar lah!" Jawab Sina dengan nada sedang.
__ADS_1
"Baguslah lo sadar kalau gua boong, hahaha" Ungkap Rila membohongi Sina.
"Bkin sebel jak aneh emang awalnya dah dibikin senyum skrg malah dibkin sebel" Ungkap Sina membuang muka dengan wajahnya yang kesel.
Rila menggelitik Sina hingga Sina tertawa terbahak-bahak. Rila pun ikut tertawa karena melihat temannya yang ia jahili tertawa.
"Hahahaha" Tawa Rila
"Hahaha, dah wooii stop lama-lama pipis juga gua di sini, bakal ogah gua bersihin" Ungkap Sina yang berusaha menahan ketawa.
Rila menjulurkan lidah kemudian menyudahi kejahilannya. Rila membuka lemari untuk mengambil satu set pakaian baru.
"Ini bukan, ini juga bukan, ahhh yg ini aja dahh" Ujar Rila memilih milih pakaian.
"Ganti napa baju lu gitu-gitu mulu, celana jeans baju kaos cwok, suka heran gua dahh sama lu" Ujar Sina menggerutu, Rila menghirup ketiaknya dan memasang muka masam.
"Biarin lah suka-suka gua dong, kan gua yang make, dah lah gua mau mandi badan gua dah bau" Ujar Rila bersiap untuk mandi.
Setelahnya Rila menatap ke arah Sina dengan senyuman yang aneh.
"Lu ngapa senyum dahh? ngk beres nihh" Ujar Sina yang heran.
"Sini lu jangan ngejauh dari gua" Ujar Rila yang langsung memeluk Sina.
"hmmm bauk woiii!, lepasin!" Ujar Sina dengan nada sedang berusaha melepaskan pelukan Rila.
"Enak mata lu, sono mandi, bau lu busuk bngett" Ujar Sina memasang wajah yang masam.
"Kamar mandi dulu gua, awas lu kabur!" Ujar Rila dengan nada sedang menunjuk ke arah Sina.
"Ngk bakal mahh, dah kebal gua, sama orang aneh kyk lu!" Ujar Sina seketika menaikan nada suara setelah itu menjulurkan lidahnya.
"Bodo amatt" Ujar Rila dengan wajah yang menjengkelkan.
Rila lantas pergi ke kamar mandi untuk mandi sementara Sina duduk sendirian di kasur Rila.
"Dia selalu bkin gua seneng dah saat gua sedih, seneng banget punya orang temen gila kek dia, tapi gua masih takut" Pikir Sina yang tengah duduk termenung.
Sina kemudian bangun dari kasur membuka lemari pakaian Rila.
"Padahal dia punya baju yang lain, dress panjang ini misalkan, baju crop top sebahu ini, banyak baju yang lebih feminim lagi. Gaya pakaian nya balik lagi kyk pas dulu dah dia selalu pake setelan kyk cwok" Ujar Sina yang mengambil lalu meletakkan beberapa pakaian Rila.
"Sejak saat itu terjadi, Rila berubah dan kembali ke sikap nya waktu dulu bnget, gua jujur sih ngk ada masalah sama perubahannya tapi gua takut banyak yang ngk suka sama dia gara-gara dia kembali ke sifatnya dulu" Pikir Sina yang merasa cemas terhadap Rila.
Setelah beberapa lama mengambil dan meletakkan baju Rila, Sina pun duduk kembali di kasur dan seketika melamun.
__ADS_1
"Apa gua mesti jujur ama dia ya? Jujur gua takut banget kalau dia tau dia bisa ngk percaya lagi sama gua sampe kapanpun gua ngk mau itu terjadi, serba salah gua dahh asli"
Begitu pikir Sina.
Kemudian.....
Rila keluar dari kamar mandi dan melihat ke arah Sina.
"Lo kgk mau mandi? Woiii!" Ujar Rila seketika menaikan nada suaranya.
Rila menggoyangkan tubuh Sina ke kanan dan kiri sampe ia tersadar dari lamunannya.
"Ehh iya napa Ril? Lah kok cpet amat selesai mandi" Ujar Sina dengan wajah yang bingung.
"Gua lama mandi *****, lu aja bengong dari tadi, bengongin apaan sih?" Ujar Rila dengan wajah yang bingung juga.
"Ngk ada kok, gua ngk bengong" Ujar Sina mengelak.
"Boong lu ya?! Jujur aja udah, jngan bikin gua nething" Ujar Rila perlahan-lahan mendekati tangan Sina, kemudian memegang nya.
"Jngan ketawa ya?! Awas aja lu!" Ungkap Sina dengan nada sedang.
"Bilang aja jngan bacot...." Ungkap Rila dengan tegas.
"Pengen liat baju polisi lu, yang pas dulu lu pake buat ngibur gua, jujur kangen asli" Ungkap Sina dengan perasaan yang malu.
"Dasar yaa, dah hilang tu baju, ngk tau kemana dahh" Ujar Rila dengan wajah yang sedikit kesal.
"Gitu ya, biarin lahh" Ungkap Sina kemudian berdiri dari kasur pergi kluar kamar.
"Mau kemana lu woii?" Tanya Rila.
"Mau makan gua laper, mau puasin makan" Jwab Sina dengan sedikit kesal.
Rila kemudian melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.15.
"Astaga gua harus pergi kesana?" Ujar Rila yang seketika panik.
Rila mengambil tas besarnya kemudian memakai jaket, topi dan bersiap-siap untuk pergi. Setelah siap, Rila keluar dari kamar dan menghampiri Sina.
"Gua keluar dulu dah mau telat nih" Ungkap Rila yang tengah panik
"Jangan lama-lama disana yak, gua kesepian nih disini ngk ada lu" Ungkap Sina dengan mulut penuh.
"Makan yang bener napa, jngan pergi selagi gua blum balik" Ungkap Rila yang seketika meninggalkan Sina sendirian di rumahnya.
__ADS_1
"Iya bawel, hati-hati juga lu disana ya" Ujar Sina dengan wajah yang seketika sedih.
*Sampe situ dulu buat episode 2. Bagi para pembaca yang punya kritik atau saran, silahkan ditulis di komentar ya, author akan membaca masukan kalian untuk kedepannya bisa membuat pengalaman membaca kalian menjadi memuaskan, maklum namanya juga baru buat beginian, wkwkwkwk, salam hangat and have a nice day*