Sang Topeng

Sang Topeng
Alasan


__ADS_3

Rila berdiri di depan meja Sina dengan wajah yang serius.


"Pagi Rila, tumben lu baru dateng, gua tebak lu ngebo lagi dah yahh? Dasar kebo-kebo, hahahaha" Ujar Sina lantas tertawa.


Muka Rila tidak berubah sama sekali dan ia hanya terdiam membisu.


"Muka lu knp serius kali, masih pagi oiii jngan serius-serius bodo, hahaha" Ujar Sina terus meledek Rila lantas tertawa.


"Udah selesai kan? blh gua ngomong?" Ujar Rila tak peduli dengan ledekan Sina.


"Lu knp sih Rila? Coba cerita ke gua?" Ujar Sina yang khawatir lantas memegang kedua bahu Rila.


"Oke-oke, gua sebenarnya mau nanya sama lu, dengerin baik-baik gua bakal kesel kalau sampe nanya dua kali" Ujar Rila dengan perasaan yang campur aduk.


"Iya bawel lu, ngomong aja napa sih" Ujar Sina mengoceh pada temannya itu yang berbicara bertele-tele.


"Huhh..... Gini...." Ujar Rila sebelumnya menarik nafas panjang untuk bersiap bertanya kepada temannya itu.


Namun.......


Seketika ada dosen yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas mereka.


"Ril, dosen tuh, balik cuy" Ujar Sina berbicara pelan-pelan.


Rila seketika menghentikan pembicaraan dan melihat ke arah belakang. Ia melihat dosen yang di maksud Sina. Rila lantas dengan sigap kembali ke tempat duduknya sendiri. Rila kaget begitu melihat dosen yang datang ke kelasnya hari itu.


"Loh... Itu bukan Pak Redi, itu kan Bu Sani, Pak Redi kemana dah?" Pikir Rila yang bingung dengan situasi yang terjadi.


Dosen itu berdiri di depan kelas.


"Pagi semua, kalian pasti bingung knp saya yang mengajar di sni, bukan? Jadi saya akan beritahu jawabannya" Ujar Bu Sani dengan tegas.


"Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal saya dan sebagian mungkin belum, saya lebih baik memperkenalkan diri, saya Sani Wisli, saya sebenarnya mengajar di kelas B yaitu kelas sebelah" Ujar Bu Sani.


"Ibu skrg di sni karena Pak Redi tidak hadir, jadi saya diminta untuk mengajar di sni, jadi apa ada yg bertanya?" Ujar Ibu Sani bertanya kepada mahasiswanya.


Tidak ada satupun yg mengangkat tangan untuk bertanya.


"Okelah, karena tidak ada yg bertanya, saya bisa mulai" Ujar Ibu Sina.


Mereka berdua kemudian belajar seperti biasa. Mereka akhirnya selesai belajar pada pukul 09.40. Pada saat sudah selesai belajar, Rila bangun dari tempat duduknya lantas berdiri di depan meja Sina.


"Gua tau nih, pasti lu laper ya kan? Kuy lah makan" Ujar Sina lantas bngun lalu memegang tangan Rila.


Namun Rila menahan tangannya sendiri.


"Bisa ngomong sebentar ngk Sina?" Ujar Rila dengan pikiran yg tidak tenang.


"Ngomong aja sih, knp sih lu? dari baru dateng lu aneh, lu ada masalah ya?" Ujar Sina penasaran apa yg terjadi kepada temannya.


"Jwab dengan jujur" Ujar Rila menyuruh Sina untuk jujur.


"Iya ih, nanya apaan dah?" Ujar Sina bingung dengan Rila.


"Lu kemarin habis belanja pergi kemana?" Tanya Rila dengan wajah yg tegang.


"Gua belanja aja kok" Ujar Sina dengan santai.


"Jwab jujur!" Ujar Rila sedikit menaikan nada suaranya.


"Gua udh jujur, gua ngk ada kemana-mana selain belanja" Jwab Sina dengan penuh keyakinan.


"Trus knp kantong kresek belanja lu bisa kotor?" Tanya Rila lagi.

__ADS_1


"Gua pikir karena gua ayun-ayunin kereseknya, trus kepental, jatuh deh" Jwab Sina dengan santai.


"Lu knp kyk ngk yakin gitu?" Tanya Rila bingung dengan jwaban Sina.


"Karena..... Gua lupa, hehe" Jwab Sina lantas tersenyum.


Rila hanya diam mendengar jwaban dari Sina.


"Ayuk lah laper gua, gua jg ada pernyataan, tapi nanti aja lah dah laper, gara-gara lu jadi makin laper gue" Ujar Sina sambil menggosok perutnya.


Tanpa pikir panjang, Sina menarik tangan Rila untuk mengajak mereka makan bersama di kantin.


"Ahh.... Kenyangg.... pulang dah yuk?" Tanya Sina dengan perasaan yg lega sambil mengusap perutnya lagi.


"Ayuk dah, tapi lu ke rumah gua dlu ya?" Tanya balik Rila.


"Mau ngpain emng?" Tanya Sina dengan bingung.


"Dah lah ikut aja, nanti jg lu paham" Jwab Rila lantas menarik tangan Sina.


Mereka menaiki bis yg kebetulan berhenti di depan halte kampus. Setelahnya Rila menarik tangan Sina hingga mereka sampai ke rumah Rila. Mereka tiba di rumah Rila, pukul 10.20. Setelahnya mereka berdua masuk ke dalam lantas Rila mengunci pintu rumahnya.


"Huh.... capek asli, lu knp dah?" Tanya Sina kebingungan sebelumnya membuang nafas karena kelelahan.


"Gua mau tanya sekali lagi, lu habis pergi belanja, lu pergi kemana?" Tanya Rila dengan serius.


"Gua habis belanja itu pulang, gua ngk ada kemana-mana lagi" Jwab Sina dengan tidak yakin.


"Lu knp sih? sebenarnya apa yg terjadi?" Tanya Sina dengan rasa penasaran yg tinggi.


Rila mengambil remot tvnya lalu menghidupkan TV.


"Ditemukan mayat seorang pria, di sebuah bangunan kosong yg terletak di Jalan Rostin No. 233. Mayat ditemukan dengan kondisi wajah yg hancur, siapakah orang yg tega melakukan hal sekejam ini? Semoga pelakunya bisa segera tertangkap" Ujar seorang reporter wanita di siaran Live TV.


Kemudian.....


"Arghhhh!!" Sina tiba-tiba berteriak dengan keras sambil menutup kedua telinganya.


Rila seketika mendekati Sina. Rila kelihatan khawatir dan panik dengan apa yg terjadi.


"Sina....Lu knp?" Tanya Rila sambil memegang pundak Sina.


"Tinggalin gua....!!" Jwab Sina sambil berteriak dan menepis tangan Sina.


Sina seketika keluar dari rumah Rila. Sina membanting pintu keluar dengan begitu keras. Rila terdiam, ia bingung sebenarnya apa yg terjadi.


"Apa dia tau siapa pelakunya? Apa dia melihatnya?" Pikir Rila dengan penuh pertanyaan.


Rila seketika berlari untuk mengejar Sina. Rila melihat Sina berlari ke arah toko dimana Sina pernah membeli cemilan. Rila tanpa pikir panjang lantas berlari secepatnya di tengah kerumunan pejalan kaki. Rila terhadang sebentar oleh banyaknya pejalan kaki yg lalu lalang. Kemudian ia trus berlari mengejar ke mana larinya Sina. Namun, ternyata ia sudah terlambat. Sina sudah tidak terlihat lagi dimanapun. Rila sudah kehilangan jejak temannya. Rila berdiri di depan bangunan tua dimana dirinya menemukan mayat seseorang.


"Ya Tuhan, apa yg terjadi sama Sina? Apa hubungannya sama tempat ini? Tanya Rila dengan rasa takut sambil melihat ke arah bangunan tua yg penuh dengan para polisi.


*POV: Radi*


Radi tengah berada di dalam mobil polisi. Ia sedang menuju ke arah penemuan mayat.


"Hmm.... apakah ini ulah dari psikopat itu?" Pikir Radi penuh pertanyaan.


"Sepertinya dia orang yg sulit di tebak, gua harus hati-hati" Pikir Radi dengan cemas.


Tiba-tiba mobil polisi berhenti. Ternyata Radi sudah sampai di TKP. Ia sampai disana pukul 09.57.


"Pak..... Pak kepala....." Ujar polisi yg menyupiri mobil polisi yg di tumpangi Radi.

__ADS_1


Radi hanya terdiam membisu.


"Pak kepala.... Pak Radi...." Ujar polisi itu trus memanggil Radi.


Akhirnya Radi tersadar dari lamunannya.


"Maaf pak kepala klau saya menggangu, kita sudah sampai di TKP" Ujar Polisi itu memberitahu Radi klau sudah sampai.


"Tidak apa-apa, saya yg harusnya minta maaf" Ujar Radi dengan sopan.


"Sepertinya bapak sedang memikirkan sesuatu, jangan sampai pikiran bapak menggangu semuanya, eh maaf pak bukan bermaksud menceramahi" Ujar polisi itu meminta maaf kepada Radi.


"Santai saja, saran yg bagus, saya akan coba mengikutinya" Ujar Radi dengan senyuman.


Radi pun keluar dari mobil polisi yg ia tumpangi, tanpa pikir panjang ia naik ke lantai atas, ketempat penemuan mayat.


Ia melihat dari kejauhan ada pak Bari di lantai dimana mayat ditemukan. Radi kemudian menghampiri Bari.


"Siang, polisi favoritku, kabarmu baik bukan?" Ujar Bari dengan senyuman yg ramah.


"Siang pak Bari, kabar saya baik, klau bapak?" Tanya balik Radi.


"Tentu saja baik, tapi sepertinya mayat ini tersiksa" Ujar Bari sambil menunjuk ke arah mayat.


"Wajahnya sudah tak berbentuk, apa tujuan dengan melakukan hal ini?" Pikir Radi.


"Kamu pasti bertanya-tanya bukan, mengapa wajah korban harus dihancurkan sampai tak berbentuk" Ujar Bari yg melihat ke arah Radi.


Radi terkejut karena Bari bisa mengetahui apa yg ia pikirkan.


"Melihat wajahmu itu, sepertinya tebakan saya benar, kita tidak menemukan identitas diri atau semacamnya. Kita tidak bisa mengenalinya secara langsung karena ya....Itu wajahnya sudah tak karuan" Ujar Bari dengan gaya bicaranya yg santai namun sebenarnya ia kini sedang serius.


"Yg bisa kita temukan bahwa terdapat luka pada bagian hatinya dan tentunya jg pada bagian wajahnya, penemu mayat yg sekaligus si pemilik tanah ini, mengatakan bahwa dirinya sebenarnya sudah berada di sini dari jam 18.00 - 18.55 dengan mengajak calon pembeli tanah berkeliling di sekitar sini" Ujar Bari menjelaskan dengan sedetail-detailnya.


"Diliat dari kondisi korban yg sudah benar-benar pucat dan jg tubuhnya benar-benar kaku, bisa disimpulkan dari kondisi fisiknya bahwa korban sudah meninggal sekitar 15 - 12 jam yg lalu. Itu berarti korban sudah meregang nyawa pada pukul 19.00 - 22.00" Ujar Bari.


"Beberapa meter dari mayat jg ditemukan, sebongkah kayu berukuran sedang, dengan satu sisi yg runcing dan sisi lain yg tumpul namun sudah retak. Di kayu itu juga terdapat noda darah, jadi bisa diasumsikan klau kayu itu jadi alat pembunuhannya" Ujar Bari.


Radi kemudian jongkok dan melihat mayatnya lebih dekat. Ia seketika merasa ada sesuatu yg aneh, dimana tangan kanan mayat seperti masuk ke sela-sela antara bagian belakang tubuh korban dengan tembok bangunan. Radi lantas memakai sarung tangan dan memegang tangan kanan korban lantas menariknya dari sela-sela itu. Radi kemudian berdiri dan berkata.


"Sebenarnya mayat sudah meninggal pada jam 19.35, karena bisa diliat di jam tangan rusak di tangan kanan korban yg menunjuk pukul 19.35 dan jam itu sudah tidak bergerak lagi. Mungkin saja pada saat memukul kepala korban, pelaku tak sengaja mengenai sedikit bagian jamnya sehingga jam tersebut bisa rusak" Ujar Radi dengan menyanggah atas pendapat seniornya.


"Sepertinya saya kurang teliti, hehe" Ujar Bari lantas tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


Tiba-tiba disaat mereka melihat-lihat di sekitar mayat kembali.


"Greng... Greng...." Hp Radi bergetar yang mengartikan bahwa ada yang menelponnya.


"Permisi pak" Ujar Radi memohon ijin mengangkat telpon.


"Silahkan" Ujar Bari dengan santai.


Radi sedikit menjauh dari Bari termasuk polisi lainnya. Radi kemudian mengangkat telponnya.


"Halo, Rena ada apa?" Tanya Radi.


"Lagi liat-liat mayat ya?" Tanya Rena.


"Iya, sempet-sempetnya lu ganggu, knp sih lu nelpon?" Tanya Radi lantas Rena menjawab.


"Tim forensik udh selesai mengotopsi mayat dari pak Rulan, dan udh diperiksa jg sidik jari yg ada di pisau pembunuh. Ditemukan klau ada dua sidik jari di sana, salah satu sidik jarinya berasal dari korban. Lalu satu lagi dari seorang wanita yg bernama Sina Marika"


*Itu dia dari episode 6. Bagi para pembaca yang punya kritik atau saran, silahkan ditulis di komentar ya jngan ragu-ragu. Jika kalian suka episode ini, silahkan dilike dan jg tinggalin jejak di kolom komentar. Sekian dari Author, salam hangat dan semoga hari kalian menyenangkan*

__ADS_1


__ADS_2