
Rila keluar dari rumah dengan terburu-buru.
"Gua harus cepetan" Pikir Rila dengan gelisah.
Rila terus berlari dengan cepat sebab ia takut akan dimarahi karena keterlambatannya. Namun seketika ia berhenti di sebuah gedung tinggi.
"Sudah lama banget dahh, mungkin udah bertahun-tahun gua ngk kesono" Pikir Rila sambil tersenyum
"Ehh iya, gua harus cepet, knp gua malah diem disini dahh" Pikir Rila yang lupa bahwa ia sedang terburu-buru.
Rila kembali berlari menjauhi gedung tinggi itu. Sampai seketika pukul 11.05 ia tiba di suatu tempat yang sepi. Tempat itu adalah Pemakaman Eduria. Rila masih berlari di sana. Namun pada akhirnya ia sampai ke tujuan yang ia inginkan. Rila bersimpuh di tanah.
"Maaf kan aku, ayah, ibu, maaf karena Rila terlambat, Rila jujur ada masalah di rumah itulah kenapa Rila sampai terlambat, sekali lagi maafin Rila ya, ayah, ibu" Ujar Rila berkaca-kaca.
Rila mengeluarkan sesuatu yang ia simpan di tas besarnya. Sesuatu itu adalah sebuah botol yang berisi air dan sekantung kresek bunga tabur.
"Ini Rila bawa bunga sama air buat ibu sama ayah" Ujar Rila lantas tersenyum.
Rila membuka tutup botol berisi air dan membuka kantung kresek yang berisi bunga tabur. Rila kemudian menabur bunga tersebut.
"Ayah, ibu Rila rindu kalian, tawa kalian, bercandaan kalian, meskipun ibu pemarah dan ayah nyebelin, Rila tetep sayang sama kalian kok" Ujar Rila yang perlahan meneteskan air mata.
Rila segera mengusap air matanya lalu tersenyum ke makan kedua orang tuanya. Rila melanjutkannya dengan menyirami air pada makam mereka.
"Maafin Rila pake nangis lagi, berulang kali Rila kyk gini dahh, maaf" Ujar Rila lantas tersenyum.
"Huhhhhh" Rila menahan nafas panjang sambil terus menyirami air.
Setelahnya Rila memegang kedua batu nisan dari kedua orang tuanya.
"Maafin Rila, Rila masih aja mikir buat barengan sama ayah dan ibu, jujur Rila ngk bisa ikhlas sampe sekarang tapi kalau Rila pergi kasihan Sina" Ujar Rila seketika meneteskan air mata.
Rila menangis dengan keras karena rasa sakit kehilangan mereka berdua. Ibu Rila adalah seorang suster sedangkan ayahnya adalah seorang polisi. Gedung tinggi yang ia liat sebelumnya adalah tempat ayahnya bekerja. Di sana Rila pernah diajak oleh ayahnya untuk melihat area gedung itu. Rila dulu orang yang periang namun semuanya berubah saat ia perlahan kehilangan orang yang ia sayang. Mulai dari ayahnya yang meninggal saat bertugas dan itu lah penyebab mengapa ia membenci polisi. Ibuknya yang meninggal karena sakit akibat stress kehilangan suaminya. Rila menyimpan baju ibu dan ayahnya sebagai sebuah kenangan yang tersisa.
"Maaf ayah baju ayah Rila tinggalin di luar, harusnya Rila bawa tapi karena Rila mikirin kebencian Rila sama polisi ngk berguna disana" Ujar Rila seketika memasang wajah yang kesal.
"Besok Rila akan ambil bajunya ke sana lagi kok ayah, semoga bajunya ada disana" Ujar Rila yang seketika tersenyum kemudian berdiri.
"Ayah, ibu, Rila mau balik dulu ya, kasihan Sina di rumah sendirian pasti dia kesepian, Rila balik dulu ya" Ujar Rila berkaca-kaca kemudian melambaikan kedua tangannya kepada makan ibu dan ayahnya.
Rila keluar dari pemakaman menuju ke rumahnya kembali. Rila biasanya sebulan sekali datang untuk melayat ke makam kedua orangtuanya, itu sudah menjadi rutinitas baginya. Pukul 12.30 Rila sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
"Tok.. Tok.. Tok.. Bukain oiii gua dah balik nih" Ujar Rila mengetok pintu dengan tidak sabar.
Sina membuka pintunya dengan wajah yang sedih.
"Akhirnya lu pulang, gua khawatir tau ngk" Ujar Sina dengan wajah yang berkaca-kaca seketika memeluk Rila.
"Udh lah lu kenapa sedih dah, gua bakal baik-baik aja kok, gua bisa jaga diri" Ujar Rila yang menepuk pundak Sina.
"Ayuk masuk" Ujar Rila.
Sina melepaskan pelukannya.
"Ayuk dah lu makan dulu, pasti lu capek" Ujar Sina.
"Udh lahh lu jangan nangis gua ngk seneng
liat lu nangis" Ujar Rila menepuk pundak Sina.
"Senyum dulu udahan nangisnya klau masih gua ngk mau makan" Ujar Rila dengan wajah yang serius.
"Iya bawel" Ujar Sina seketika tersenyum.
"Iya bawel" Ujar Rila lantas menjulurkan lidahnya.
"Yeh ngikut aja lu, dasar ngk punya ide" Ujar Sina lantas ikut menjulurkan lidahnya sama seperti Rila.
"Lu juga sama bodoh" Ujar Rila dengan wajah yang menyebalkan.
"Terserah gua, makan sono biar ngk nyebelinn lu" Ujar Sina lantas pergi ke dalam kamar Rila.
"Iya ribut aja lu, skrg gua makan" Ujar Rila lantas mencuci tangannya.
Rila duduk di kursi dan mulai makan makanan yang telah disiapkan Sina. Setelah makan dan mencuci piring serta tangan, ia pergi ke ruang tamu, ia melihat Sina sedang menonton film yang ada di tv. Rila perlahan-lahan mendekati Sina yang tengah fokus menonton.
"Boomm!!" Ujar Rila mengagetkan Sina.
"Hahhh!! gila lu yaa!!" Ujar Sina yang kaget dengan ekspresi lucu lantas ia memukul Rila.
"Hahaha" Rila ketawa akibat melihat ekspresi lucu kawannya yang sedang kaget lantas ia duduk di sebelah Sina.
"Nonton apaan sih lu sampe gitu doang kaget?" Ujar Rila sambil melihat ke arah tv.
__ADS_1
"Liat napa, tu film horror jelas lah gua kaget, emng kyk lu, nonton film romantis aja suka kaget" Ujar Sina sambil fokus menonton tv.
Rila perlahan-lahan mendekati remot tv sambil sesekali melirik ke arah Sina agar ia tidak ketauan jika ingin mengambil remot. Setelah ia mendapatkan remot tv, seketika mengganti film yang ditonton Sina.
"Heyy!! ngapa lu ganti? ngk tau lagi seru napa" Ujar Sina dengan nada tinggi dan wajah yang kesal lantas ia mengambil remot tv yang dipegang Rila.
"Apaan tuh film jelek ngk seru *****" Ujar Rila mengejek film itu dengan wajah yang menyebalkan.
"Bilang aja lu takut, emng cemen lu pake ngehina lagi, kalau lu berani nonton sini" Ujar Sina menggerutu.
"Oke fine gua nonton ama lu, gua buktiin gua ngk takut" Ujar Rila dengan serius.
Sina fokus ke film yang ia tonton. Rila memutar bola matanya karena tidak dihiraukan oleh Sina. Rila pun ikut menonton film untuk membuktikan bahwa dirinya tidak takut. Mereka berdua fokus nonton, terkadang mereka kaget karena jumpscare dari film horor tersebut. Pukul 15.00 mereka masih fokus menonton film. Sudah 2 jam mereka menonton film dan skrg mereka menonton film kedua yang juga merupakan film horror.
"Liat gua ngk takut kan, hahaha" Ujar Rila lantas tertawa karena ia bisa melewati tantangan Sina.
"Iye lu menang dehh, gua mau fokus nonton dah, diem lu!" Ujar Sina dengan nada sedang sambil fokus matanya ke arah tv.
"Tenang aja gua juga ngikut nonton dahh, kyknya lebih seru yang ini ketimbang yang barusan" Ujar Rila seketika ikut fokus menonton sama seperti Sina.
Setelah 30 menit berlalu, mereka ternyata sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala. Beberapa jam kemudian, tiba-tiba ada suara petir yang menyambar dengan suara yang begitu keras hingga Sina terbangun dari tidurnya.
"Hmmm gua ketiduran ya Ril" Ujar Sina yang seketika menoleh ke arah Rila yang juga sedang tertidur.
"Hadehh, lu juga ketiduran, mana ngorok lu lagii" Ujar Sina kemudian menggeserkan kepala Rila yang bersender di bahunya.
"Kruekkk..." Suara perut Sina yang berbunyi.
"Hadehhh, mana gua laper lagi" Ujar Sina dengan muka yang masam sambil memegang perutnya.
Sina melihat ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 yang artinya sudah 3 jam 30 menit Sina tertidur.
"Alamak dah malem aja dah, gua mau keluar dulu ahhh cari jajan" Ujar Sina kemudian bangun berdiri dari sofa.
"Gua keluar dulu ye, mau beli jajan" Ujar Sina sambil menggoyangkan badan Rila.
"Dasar kebo betina, mana Iler lu tumpah-tumpah lagi" Ujar Sina dengan mata yang terbuka sedikit dan rambut yang masih berantakan.
Sina lantas pergi ke toilet untuk mencuci muka. Setelahnya ia memakai jas hujan hitam bersiap siap untuk keluar rumah sekaligus mengambil uang. Sina keluar dari rumah Rila dan berjalan sedang dimana tidak terkait cepat atau tidak terlalu lambat menuju toko terdekat, toko tersebut cukup jauh dari rumah Rila. Sesampainya disana, ia segera membeli banyak cemilan untuk dirinya dan juga Rila. Sina keluar dari toko tersebut berjalan pulang ke rumah Rila. Di saat ia ingin melewati sebuah bangunan tua, ia samar-samar melihat ada bayangan seseorang yang berada di lantai atas bangunan tua tersebut. Sina terus melihat ke arah bayangan itu kemudian tersenyum lebar.
*Segitu dulu buat episode 3. Jangan lupa tinggalkan like dan juga komentar gimana menurut kalian mengenai episode ini. Kalau ada kritik atau saran yang ingin kalian sampaikan, jangan sungkan-sungkan ya wahai pembaca. Gua bakal denger masukan kalian agar kedepannya dapat memuaskan pengalaman kalian dalam membaca. Gua masih perlu banyak belajar ini buat gua yang pemula wkwkwkwk. Salam hangat dari gua dan have a nice day*
__ADS_1