Sang Topeng

Sang Topeng
Pertanyaan


__ADS_3

Disatu sisi Rila yang tengah tidur di rumahnya. Ia kemudian terbangun dari tidurnya. Rila mengusap matanya lantas melihat ke arah jam yang menunjuk pukul 20.00.


"Hmmm astagaaa 4 jam 30 menit gua tidur, ngebo parah gua dah *****" Ujar Rila seperti setengah sadar.


"Sina!! woiii kemana lu sihh? Sina!!" Ujarnya berteriak memanggil temannya.


"Ini anak ilang apa pulang dah? Nyebelin kali" Ujar Rila menggerutu.


"Udahlah tidur lagi aja males gua" Ujar Rila karena kesal memutuskan untuk kembali tidur.


Kemudian........


"Glederrr!!" Terdengar suara pintu yang terbanting dengan suara keras dari petir yang menyertainya. Suara itu membuat Rila yang baru saja ingin tidur menjadi bangun dan terkejut.


"Wooiii!! siapa tuhh!!" Ujar Rila yang terkejut dan dia melihat temannya yaitu Sina dari pintu yang terbuka.


"Aelahhh gua kira siapa dah, lu habis dari mana?" Ujar Rila lega ternyata itu Sina.


Sina hanya berdiri di pintu dan tidak menjawab apa yang ditanyakan Rila. Merasa ada yang aneh, Rila kemudian mendekati Sina lantas bertanya padanya kembali.


"Lu habis dari mana dahh? Woii... Sina...." Ujarnya namun Sina hanya terdiam tidak menjawab satu patah kata pun.


Melihat keanehan temannya itu, Rila menggelitik badan Sina agar dia tersadar sekaligus juga memastikan apa ada sesuatu yang aneh terjadi pada Sina.


"Hahaha.... diem ***** gelii..." Ujar Sina berusaha menghentikan tindakan jail Rila.


"Lu sih diem gua jadi takut *****, lu knp dah diem doang?" Ujar Rila yang lega karena temannya tidak knp knp.


"Sorry, gua tadi beli cemilan dari luar, nihh ambil" Ujar Sina sambil memberikan cemilan yang ia beli dari luar.


"Lahh lu ngelantur ya, gua nanya apa lu jawab apaan" Ujar Rila lantas mengambil cemilan yang di bawa Sina.


"Sorry, gua tadi cuma bengong kok" Ujar Sina lantas tersenyum ke arah Rila.


"Ada apa sampe lu bengong depan pintu gitu? Coba cerita, apa karena...... ehem ehem" Ujar Rila sambil pura-pura batuk yang sebenarnya sedang meledek Sina.


"Sotoy lu bukan masalah cowok lah *****, dah lah gua kedinginan mau mandi aja dah gua pake air anget, numpang ya Rila manis" Ujar Sina memuji Rila agar diperbolehkan mandi di rumahnya.


"Halahh kalau dah lu muji pasti ada maunya, sana dah lu mandi kalau lu sakit gua yang ribet" Ujar Rila lantas duduk di sofa membuka cemilannya.


"Sipp, jangan di habisin, nanti lu sisain bungkus nya doang kyk pas itu" Ujar Sina menggerutu.


"Santuy, gua sisain tenang aja, sono mandi dah lu ganggu gua makan aja" Ujar Rila menyuruh Sina pergi mandi.


"Baik bu bos" Ujar Sina meledek Rila lantas pergi ke kamar mandi.


Rila segera membuka cemilan yang di bungkus oleh kantong plastik. Saat memegang kantong tersebut.


"Bentar ini knp basah kantong plastiknya? Itu makanan di lempar-lemparin ama dia sampe jatuh apa gimana dah? Jangan-jangan ngambil dari tempat sampah tu plastik? Jorok amat dah parah" Ujar Rila heran lantas tak jadi memakan cemilannya.


Rila memutuskan untuk menonton tv sambil menunggu Sina. Seketika Sina keluar dari kamar mandi, ia heran knp cemilannya tidak dimakan sama sekali.


"Lu knp dah gua bawa cemilan tapi ngk lu makan?" Ujar Sina.


"Gua ragu sama satu hal nih ya, knp kantongnya bisa kotor gitu lu apain dah?" Ujar Rila heran terhadap Sina.


"Ahhh itu gua lupa, keknya ngk sengaja jatuhin plastiknya" Ujar Sina.


"Udh lahh makan aja sih cuma kantong nya doang yang kotor, cemilannya kgk" Ujar Sina menggerutu.

__ADS_1


"Ishh lu tau kan gua paling males klau mau makan tapi bungkusannya kotor" Ujar Rila.


"Gua tau *****, tapi ini kan yg kotor cuma kantongnya bukan cemilannya" Ujar Sina yang merasa heran.


"Ngk lah gua ogah makan" Ujar Rila malas.


Sina berdiri membawa cemilannya lantas membuang kantong plastik yang kotor kemudian mencuci cemilan tersebut. Setelahnya membawanya ke ruang tamu.


"Ini tangkep, dah bersih tu bebas kuman, dasar cwek aneh lu begitu doang lu ribetin" Ujar Sina sambil melempar satu cemilan ke arah Rila dan meletakkan sisa cemilannya di meja.


"Nahh gini dong, gua jadi mood lagi buat makan, gua ngk suka klau bungkusnya kotor gitu" Ujar Rila menegaskan hal itu ke Sina.


"Iya iya bawel lu! Dasar aneh" Ujar Sina dengan nada sedang.


"bodo amattt" Ujar Rila seketika mengambil semua cemilan yang diletakkan di meja.


"Wooiii!! bagi gua satu napa kan gua yang beli, tau diri wooii!!" Ujar Sina dengan nada tinggi.


"Iye-iye, nih ambil" Ujar Rila sambil memberikan satu cemilan.


Sina mengambilnya dengan cepat lantas ia segera membuka dan memakan cemilan dari Rila. Mereka berdua menonton acara di tv bersama-sama.


*POV: Radi*


Jam 20.00 Markas pusat polisi Eduria. Para polisi tengah lalu lalang di tempat tersebut. Mereka sibuk mengurus pekerjaannya masing-masing. Di tengah keramaian itu ada Radi yang tengah berjalan ke suatu tempat.


"Gua harus cepet kesana" Ujar Radi dengan yang wajah serius.


Semua polisi yang melihat Radi, menunduk menghormati dirinya. Malam itu Radi terlihat tergesa-gesa tidak seperti biasanya. Radi kemudian masuk ke ruangan, yang ternyata itu adalah ruang kerja para polisi disana. Radi melewati beberapa meja, sampai akhirnya berhenti di salah satu meja. Di meja tersebut ada seseorang yang sedang duduk di kursi dengan menghadap ke arah yang berlawanan dengan Radi. Radi menunduk kepada orang sambil berkata.


"Malam pak, maaf atas keterlambatan saya"


"Malam juga Radi, sudahlah santai saya tidak usah terburu-buru" Ujar orang itu lantas tersenyum ke Radi.


Orang itu ternyata adalah Bari Galim, polisi senior yang lebih tinggi pangkatnya dari Radi, umur 34 tahun. Seseorang yang baik dan juga disegani di kepolisian Eduria karena semua skill yang ia miliki.


"Tegakkan kepalamu nak, santai saja" Ujar Bari sambil memegang pundak Radi.


"Saya benar-benar minta maaf" Ujar Radi dengan penuh penyesalan.


"Baiklah, saya maaf, jangan lakuin hal tersebut lagi" Ujar Bari.


"Baik pak" Ujar Radi dengan tegas.


"Ahhhh, sudahlah nak Radi, santai saja nanti saja kita seriusnya, bapak tidak masalah atas keterlambatan mu, banyak hal yang sudah kamu lakukan pada kepolisian, jadi hal semacam ini bukan lah yang perlu dipermasalahkan, tegakkan kepala mu" Ujar Bari dengan nada tenang.


Radi menegakkan kepalanya sesuai yang Bari mau.


"Jadi pak, apakah sudah diajukan pernyataan pada saksi kunci?" Ujar Radi.


"Belum, saya menunggu kamu untuk memulai dengan adanya kamu dari awal, mungkin kasus ini akan cepat terpecahkan" Ujar Bari.


Bari berdiri dari kursinya, kemudian menepuk pundak Radi sambil berkata.


"Kami semua mempercayai mu Radi, kamu bisa jadi lebih baik dari guru mu" Ujar Bari dengan penuh keyakinan.


"Ayuk lahh kita ke ruang interogasi" Ujar Bari lantas merangkul punggung Radi.


Mereka berdua berjalan menuju ruang interogasi, melewati para polisi lainnya. Mereka pun segera masuk ke ruang interogasi dan disana ada seorang pria yang merupakan pelapor dari kasus gang berdarah.

__ADS_1


Bari seketika duduk di kursi yang ada di hadapan sang saksi dan berkata.


"Selamat malam pak, terimakasih sudah datang, senang bertemu dengan bapak, nama saya Bari dan di sebelah saya bernama Radi" Ujar Bari sambil berjabat tangan dengan saksi setelah memperkenalkan namanya lantas Radi juga ikut menjabat tangan sang saksi.


"Saya Meni Bilan, senang bertemu dengan bapak bapak yang terhormat" Ujar Meni sambil berjabat tangan kepada kedua polisi tersebut.


"Kami berdua ingin menanyakan apa yang anda lakukan pada hari itu?" Ujar Bari dengan wajah serius.


"Saya malam itu habis dari sewa komputer di toko yang ada di deket sana, setelahnya saya ingin balik ke rumah" Ujar Meni.


"Jadi bisakah anda cerita kan semua yang anda ketahui pada malam itu?" Ujar Radi dengan wajah serius.


"Saat itu saya ingin balik ke rumah, saya meninggalkan toko tempat saya sewa komputer sekitar jam 22.50, jarak toko sama lokasi saya nemuin ngk jauh juga ngk deket, saya ngk liat jam brp saya sampe sana tapi saya rasa saya tiba disana jam 23.00 tepat, pas saya berada dekat dengan gang itu saya mendengar teriakan laki-laki, saya juga mendengar suara wanita tertawa dengan senang tapi nadanya menyeramkan seperti psikopat" Ujar Meni tengah menjelaskan kejadian hari itu.


"Psikopat ya, menarik, apa anda melihat wajah wanita tersebut?" Ujar Bari.


"Tidak, karena ia menutupi wajahnya dengan tutup kepala dari jas hujan berwarna hitam" Ujar Meni.


"Tapi apakah anda jujur kepada kami? Jika anda boong anda bisa kena kurungan juga" Ujar Bari.


"Saya jujur demi Tuhan" Ujar Meni dengan yakin disertai dengan menunjuk ke atas seperti bersumpah.


"Ada satu hal yang mengganggu saya, knp anda baru melaporkannya keesokan harinya?" Ujar Bari.


"Saya sebenarnya ingin seolah-olah saya tidak tau apa-apa soal kejadian itu, tapi itu membuat pikiran saya tidak tenang karena saya tidak kuat menahannya, saya langsung bergegas melapor ke kantor polisi" Ujar Meni dengan penyesalan.


"Hmm jadi seperti itu" Ujar Bari.


2 jam setelah interogasi tepat jam 22.00, akhirnya mereka berdua menghentikan interogasi kepada saksi.


"Baiklah pak Meni terimakasih atas kerjasama nya, skrg pak Meni blh pulang" Ujar Bari sambil menjabat tangan Meni.


"Sama-sama pak" Ujar Meni menjabat balik tangan Bari.


"Terimakasih atas informasinya pak Meni" Ujar Radi sambil juga menjabat tangan Meni.


"Sama-sama juga pak" Ujar Meni menjabat balik tangan Radi.


Meni segera keluar dari ruangan itu, pergi meninggalkan dua polisi yang menginterogasinya.


"Apa motifnya pelaku? Sepertinya kasus ini tidaklah sederhana, betul tidak Radi?" Ujar Bari melihat ke arah Radi.


"Benar sekali pak, ini bukan kasus yang mudah" Ujar Radi dengan wajah yang serius.


"Apakah saya ijinin pulang pak?" Ujar Radi.


"Tentu saja blh jugaan kerjaan kamu sudah beres, aku tau kamu pasti memikirkan sesuatu mengenai kasus ini, bapak mohon kamu hati-hati" Ujar Bari dengan khawatir.


"Tentu saja saya akan berhati-hati" Ujar Radi.


"Saya permisi dulu pak" Ujar Radi sambil menundukkan kepalanya.


"Silahkan" Ujar Bari.


Radi meninggalkan Bari sendirian.


"Wanita yang seperti seorang psikopat, siapa dia?" Begitu pikir Radi sambil berjalan menuju ke luar gedung markas polisi.


*Segitu dulu buat episode 4, maaf baru bisa lanjutin cerita karena lagi fokus sama satu urusan yang lebih penting, sekali lagi maaf bagi yang nunggu kelanjutannya. Jangan lupa tinggalkan like dan juga komentar gimana menurut kalian mengenai episode ini. Kalau ada kritik atau saran yang ingin kalian sampaikan, jangan sungkan-sungkan ya wahai pembaca. Gua bakal denger masukan kalian agar kedepannya dapat memuaskan pengalaman kalian dalam membaca. Gua masih perlu banyak belajar ini buat gua yang pemula wkwkwkwk. Salam hangat dari gua dan have a nice day*

__ADS_1


__ADS_2