
"Oke tahan dulu ada baiknya kita ketemuan" Ujar Radi memotong pembicaraan Rena.
"Iya iya, di rumah gua gimana?" Tanya Rena.
"Knp harus di rumah lu?" Ujar Radi tanpa menjawab pertanyaan Rena.
"Sekali aja napa sih, mau ya?" Ujar Rena dengan suara yg memelas.
"Ngk perlu, kita ketemuan di markas polisi aja skrg, tunggu di meja gua, oke?" Tanya Radi dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Tapi..." Rena ingin mengucapkan sesuatu tapi perkataan dipotong Radi.
"Sesuai rencana ya ngk ada kata telat" Ujar Radi dengan tegas.
"Tapi Radi.... Tut...tut..tut" Ujar Rena dengan seketika telponnya mati.
Mengetahui telponnya dimatikan, Rena lantas kesal dengan mengepal tangan lainnya.
"Dasar! Emng kurang ajar jadi cwok" Ujar Rena dengan perasaan yang jengkel.
Radi lantas mendekati Bari dan berkata.
"Maaf pak saya mohon permisi, saya harus bertemu seseorang di markas" Ungkap Radi dengan berat hati.
"Hmm.... Pasti itu Rena, sudahlah kamu langsung aja kesana, biar di sini bapak yang ngurus" Ujar Bari sambil menepuk dadanya dengan bangga.
"Terimakasih pak, saya minta maaf atas kepergian saya dari penyelidikan" Ujar Radi sambil menunduk.
"Udah buruan sana, tenang aja semua akan aman" Ujar Bari dengan tenang lantas tersenyum ke arah Radi.
Radi kemudian pergi menjauh dari TKP dan kembali ke mobil yang ia tumpangi. Ia masuk ke mobil dan berkata.
"Pergi ke kantor ya pak" Ujar Radi dengan sikap yang seperti terburu-buru.
Saat Radi berada di mobil polisi yang melaju pelan, ia terlihat diam seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Jadi dia Sina Marika sang psikopat, kenapa ia bisa sebodoh itu dalam melakukan kejahatan?" Pikir Radi berusaha mencari jawabannya sendiri.
Radi sampai di markas pusat pukul 11.16, pintu mobil dibukakan oleh polisi yang mengemudikan mobil yang Radi pakai. Radi keluar dan menunduk ke polisi baik itu. Kemudian Radi masuk ke dalam kantor lantas segera masuk ke ruang kerja para polisi yang tengah ramai dengan polisi lainnya.
Radi masuk dan segera menuju meja kerjanya. Saat ia tiba di meja kerjanya, ada seseorang dengan pakaiann berwarna merah yang tengah duduk. Orang itu tengah mengotak ngatik komputer di mejanya. Ternyata itu Rena, orang yang Radi ingin temui. Rena menoleh ke arah Radi dan berkata.
"Lama lu, banyak bercandanya pasti di jalan" Ujar Rena yang meledek Radi.
Rena Nirida, wanita cantik dan juga seksi berumur 22 tahun. Teman Radi sejak masuk ke kepolisian, ia mempesona namun hanya Radi yang tidak terpukau.
"Terserah mau bilang apa, cepet kasi tau hasil dari otopsi dan hasil dari tim forensik juga" Ujar Radi dengan rasa penasaran yang sudah memuncak.
"Sabar dulu apa sih, liat gua dulu, baju gua gimana menurut lu?" Ujar Rena dibarengi tatapan yang menggoda.
"Biasa saja, oke langsung ke intinya saja tanpa basa basi dan jangan buang waktu lagi"
Ujar Radi dengan wajah datar seperti tidak peduli meminta Rena untuk segera bercerita.
"Iya iya dasar ngk asik lu" Ungkap Rena dengan rasa jengkel.
__ADS_1
"Dari otopsi pak Rulan mayat di Jalan Rostin, hasilnya mengatakan bahwa ia meninggal disebabkan oleh tusukan di bagian hatinya, mayat sudah meninggal sekitar jam 23.30 - 23.45, dari hasil forensik ditemukan dua sidik jari dari senjata pembunuhan. Salah satunya dari korban dan satu lagi dari seorang wanita bernama Sina Marika" Ujar Rena menjelaskan sedetailnya lantas ia mengambil sesuatu dari tas kecilnya.
"Waktu kematiannya sesuai dengan apa yang gua pikirkan" Pikir Radi dengan serius.
Rena mengeluarkan sebuah photo. Rena lantas memperlihatkannya kepada Radi.
"Ini photo Sina Marika, alamat rumahnya Jalan Rennet No.102" Ujar Rena mulai serius seperti halnya Radi.
Radi mengambil photo yang diberikan Rena.
"Hmm.... seperti mengenalnya" Ungkap Radi yang berusaha mengingat.
Rena terkejut dengan apa yang dikatakan Radi mengenai perempuan itu.
"Radi lu bener-bener ya apa hubungannya lu sama cwek ini?" Tanya Rena dengan seketika mengerutkan dahinya.
"Lupa...... Ngk inget, sudahlah lebih baik kita ke rumahnya saja tanya keterangan dari dia" Ujar Radi yang tidak ingin membuang waktu.
"Oke lah, ayuk dah" Ujar Rena lantas berdiri dari tempat duduk di meja Radi.
Radi lantas berjalan menuju keluar markas polisi dengan Rena yang berada di sampingnya. Saat berada di parkiran, Rena berkata.
"Masuk ke mobil gua aja biar ngk lama" Ujar Rena menawarkan tumpangan.
"Oke lahh" Ujar Radi lantas segera masuk ke dalam mobil sedan merah milik Rena.
Mobil itu lantas pergi dengan kencang dari markas polisi menuju rumah Sina yang jauh.
Mereka akhirnya sampai di rumah Sina pukul 11.47, kemudian Radi berkata.
"Begitu orangnya keluar jangan langsung main tangkep, klau dia berusaha kabur atau nyerang baru lu boleh bertindak, ngerti lu?" Ujar Radi dengan wajah penuh keseriusan.
"Oke, sekarang waktunya" Ujar Radi lantas ia membuka pintu mobil Rena.
Rena juga ikut keluar dari mobil. Mereka saling bertatapan seolah-olah memberi isyarat. Mereka berjalan beriringan lantas Radi mengetuk pintu rumah Sina.
"Tok.... Tok..... Tok..." Radi terus mengetuknya
Sampai tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintunya, terlihat seperti wanita tua.
"Siang bu, maaf mengganggu waktunya, apakah di sini ada wanita bernama Sina Marika?" Tanya Radi dengan halus.
"Siang nak, Iya ada tapi orangnya lagi ngk ada di rumah, Sina lagi di rumah temennya, kalian ada keperluan apa ya? Nanti ibu sampaikan" Ujar Ibu Sina dengan senyum sumringah.
"Tidak usah bu, lebih baik kami berdua pergi ke rumah temennya, soalnya saya mau bicara sebentar saja" Ujar Radi menolak dengan halus.
"Tapi ngomong-ngomong kalian siapanya anak saya?" Tanya Ibu Sina dengan sedikit rasa curiga.
"Maaf bu, atas ketidaksopanan kami, kami berdua teman kampus Sina sama-sama di kelas acting, kebetulan kami mau membicarakan sesuatu tentang tugas kuliah" Ungkap Rena yang terpaksa berbohong.
"Klau boleh kami tau rumah temannya di mana ya bu?" Tanya Radi.
"Alamat temannya di Jalan Rostin No.13, apa ibu boleh satu permintaan?" Ungkap Ibu Sina dengan wajah yang seketika mendadak berubah menjadi khawatir.
"Tentu saja boleh bu" Ujar Rena sambil menggenggam tangan Ibu Sina.
__ADS_1
"Nanti klau kalian ketemu Sina, suruh dia supaya jangan pulang lewat dari aturannya" Ujar Ibu Sina dengan suara yang pelan.
"Baik bu tenang saja, kami akan beritahu" Ujar Rena lantas tersenyum.
"Terima kasih atas informasinya bu, kami mohon pamit" Ujar Radi lantas tersenyum lebar, begitupun juga dengan Rena.
"Sama-sama nak" Ujar Ibu Sina lantas menutup pintu rumah.
Tanpa berpikir panjang, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Rena lantas menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi dan segera menuju ke alamat yang diberitahukan oleh Ibu Sina.
Saat di mobil, Rena berkata.
"Apa temannya ikut ambil bagian dalam kasus pembunuhan? Atau dia berusaha melindungi Sina yang diduga jadi pelaku? Ujar Rena berpendapat sambil mengendarai mobil.
Radi hanya terdiam, tak bergeming sedikitpun. Rena sedikit melambatkan mobilnya dan melihat ke arah Radi yang tengah menatap ke arah luar melalui jendela mobil dengan wajah menahan sedih.
"Wooii!! Lu denger gua kgk?" Tanya Rena sedikit menaikkan nada suaranya karena Radi seperti tidak memperhatikan.
"Maaf gua ngk fokus denger lu ngomong" Jawab Radi sambil tetap menatap ke luar mobil.
"Lu kenapa sih? Jarang banget lu kyk gini" Tanya Rena yang mulai khawatir dengan Radi.
"Fokus aja sama kemudi mobil, kita ada kasus yang harus dipecahkan, gua ngk apa-apa, tenang aja" Ungkap Radi berusaha menahan perasaannya.
Rena menaikkan kecepatan mobil seperti di awal. Radi sepanjang jalan ke rumah teman Sina hanya melihat ke arah luar seperti memikirkan sesuatu yang mengguncang perasaannya.
*POV: Rila*
Sudah pukul 12.40, sudah 2 jam 20 menit Rila mencari keberadaannya di daerah sekitar rumahnya. Rila tidak menemukan petunjuk sama sekali. Rila dengan lemah melangkah perlahan menuju rumahnya yang tidak jauh lagi.
"Lu kemana sih Sina? Gua takut tau ngk" Pikir Rila begitu khawatir dengan teman terbaiknya.
"Apa hubungannya lu sama kasus di bangunan tua itu? Kenapa lu ngk jelasin ke temen baik lu ini?" Pikir Rila dengan perasaan yang campur aduk antara sedih atau kesal.
Rila terus berjalan perlahan hingga sampai ke rumahnya. Ia sampai di rumah pukul 13.00.
Rila lantas duduk di sofa dan berpikir.
"Gua harus bilang apa sama ibunya Sina? Ya Tuhan gua harus apa? Ujar Rila begitu kebingungan dan juga ketakutan.
Rila bernafas tersengal-sengal lantaran ia panik dan pikirannya kacau. Rila lantas mencekik dirinya sendiri dengan kuat, lantas ia melepaskannya. Setelah itu Rila menjadi lebih tenang lalu ia merebahkan dirinya di sofa. Rila bersantai sambil memejamkan kedua matanya selama beberapa menit.
Kemudian.....
"Tok....Tok.....Tok..." Terdengar suara ketukan pintu.
Rila mendengar suara ketukan itu lantas membuka kedua bola matanya. Rila melihat ke belakang ke arah jam dindingnya, ternyata sudah pukul 13.10.
"Itu pasti Sina, Iya pasti Sina, Tunggu dulu Sina" Ujar Rila dengan senyuman dan perasaan yang senang karena Sina berada di depan rumahnya.
Rila segera berdiri dari sofanya kemudian bergegas menuju pintu depan. Rila tanpa pikir panjang membuka pintunya sambil tersenyum. Seketika raut wajah Rila berubah dari senang menjadi kebingungan.
"Lu ngapain di sini!!?" Tanya Rila dengan menaikkan nada suaranya.
Orang yang berada di depan pintu lantas berusaha menangkap Rila.
__ADS_1
"Arghh!!" Teriak Rila secara spontan karena perbuatan yang dilakukan oleh orang itu.
*Sekian dulu dari episode 7. Author minta maaf sebelumnya karena ada keperluan yang harus diselesaikan terlebih dahulu, jadi ceritanya terpaksa ketunda selama seminggu lebih. Bagi para pembaca yang punya kritik atau saran, silahkan ditulis di komentar ya jngan ragu-ragu, Author juga masih perlu banyak belajar soalnya. Jika kalian suka episode ini, silahkan dilike dan jg tinggalin jejak di kolom komentar. Sekian dari Author, salam hangat dan semoga hari kalian menyenangkan*