Sang Topeng

Sang Topeng
Kebetulan


__ADS_3

*POV: Rila*


Pukul jam 22.00 di rumah Rila, di Jalan Rostin No.13. Rila dan Sina sudah dua jam menonton film dari satu episode ke episode lain sambil memakan cemilan yang hanya tersisa sedikit.


"Gua orangnya itu" Ujar Sina.


"Yang bner?" Ujar Rila seakan tak percaya.


"Iya, perhatiin aja muka sama suaranya mirip gua kan?" Ujar Sina seakan menyombongkan diri.


"Bener sih, bener-bener halu lu" Ujar Rila mengejek Sina.


"Ishh klau lu iri bilang aja, ngk guna kali nutupin" Ujar Sina membela diri.


"Iya gua iri, knp gua ngk punya temen normal kyk yang laen" Ujar Rila tetap meledek Sina.


"Gua juga sama, knp gua punya temen aneh kyk lu" Ujar Sina membalas meledek Rila.


"Oiya ngomong-ngomong, gua lupa nanya, jam brp dah lu kluar?" Ujar Rila.


"Jam 19.00, gua dah bngun, ngk kek lu masih ngebo" Ujar Sina meledek Rila.


"Biarin lah, suka-suka gua mau ngpain, lu juga sih ngk bngunin gua" Ujar Rila menyalahkan Sina.


"Bodo amat...." Ujar Sina


Sina melihat ke arah jam, ia baru sadar klau sudah pukul 22.03.


"Alamak..... Bisa kena marah gua nih, gua dah langgar aturan, Rila gua pulang dulu dah, udah jam segini" Ujar Sina panik.


"Ngk mau nginep aja lu?" Ujar Rila dengan mata yang tetap mengarah ke TV.


"Ngk bisa, gua dah janji hari ini bakal balik ke rumah, dah ya gua pulang dulu" Ujar Sina.


"Yaudah hati-hati sampe ketemu di kampus bsk" Ujar Rila masih melihat ke arah TV.


Sina kemudian mengambil cemilan yang dimakan oleh Rila.


"Heyy! punya gua itu, rakus amat lu" Ujar Rila dengan kesal.


"Yaudah sih, bsk gua ganti, bye Rila" Ujar Sina dengan santainya.


"Ya, hati-hati di jalan" Ujar Rila tepat disaat Sina membuka pintu keluar.


Sina seketika pergi meninggalkan Rila sendirian.


"Semoga ngk ada hal-hal buruk yang terjadi sama tu orang" Ujar Rila berharap untuk kebaikan Sina.


"Dah lah, ngk seru udh pulang tu anak, entah knp klau itu orang pulang pasti apa-apa ngk asik, gua rasa gua kena hipnotis ama Sina" Ujar Rila menggerutu.


"Mending gua tidur, bsk gua harus kuliah pagi jam 08.00, sekalian mau ngambil baju ayah, moga-moga ngk di malingin" Ujar Rila dengan harapan tinggi.


Rila mematikan TV nya lantas pergi ke kamarnya. Setelahnya ia tidur dengan pulas.


Keesokan harinya Jumat, 16 Oktober, pukul 07.00. Rila terbangun dari tidurnya.


"Ahhhh, jam brp ya?" Ujar Rila sambil merenggangkan badannya dengan mata yang masih tertutup.

__ADS_1


Rila membuka matanya lantas melihat ke arah jam.


"Ohhh masih jam 07.00" Ujar Rila dengan tenang.


"Hahh!! Jam 07.00, gua harus siap-siap" Ujar Rila yang kaget lantas panik karena takut akan kesiangan


Rila lantas segera mandi, setelahnya ia


bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


Disaat dirasa semuanya sudah siap, Rila berkata di depan cermin.


"Semua udh siap, buku udh, gua juga udh siap, huhh...." Ujar Rila lantas menghela nafas panjang.


"Oke.... Gua dah bener-bener siap" Ujar Rila lantas tersenyum lebar.


"Astaga..... Gua harusnya kesana ngambil baju ayah, gua harusnya cepet-cepet ini malah ngomong sendiri" Ujar Rila yang baru sadar sedang terburu-buru.


Rila keluar dari rumahnya dengan memakai


T-shirt berwarna putih polos dipadukan celana panjang jeans abu-abu. Rila diem di halaman depan menghadap ke motornya.


"Pake apa kgk ya....?" Pikir Rila bimbang.


"Hmm ngk deh, keknya ini motor bakal terus jadi pajangan kek gini, dah lah gua berangkat aja" Pikir Rila tidak peduli klau ia memiliki kendaraan.


Rila berlari agar ia tetap bisa menjalankan rencana yang dia pikirkan kemarin. Rencana untuk mengambil baju polisi ayahnya baru pergi ke kampus. Akhirnya ia berada tepat di depan bangunan tua yang waktu itu dia pakai itu melepaskan baju polisi milik ayahnya.


Ia melepaskannya di lantai 4 gedung tua itu. Saat tiba di lantai 4, ia


Melihat.....


"Huhh...." Rila menghela nafas dengan lega.


"Syukurlah, baju ayah masih ada meskipun udh kotor, tenang aja ayah Rila akan cuci untuk ayah" Ujar Rila seperti berkata kepada ayahnya sendiri.


Rila lantas turun ke lantai 3, disana ia melihat sesuatu dari kejauhan yang samar-samar. Hal itu menarik perhatian dari Rila. Rila perlahan-lahan mendekatinya, semakin lama semakin jelas.


Kemudian.....


Ia begitu terkejut melihat ada sebuah tubuh seorang pria bersimbah di kepalanya, dimana wajahnya hancur tak berbentuk.


"Hah!! Apa-apaan ini?" Pikir Rila terkejut seketika membungkam mulutnya dengan tangan.


Melihat kondisi mayat tersebut membuat dirinya mual-mual. Namun, ia tetap melihat mayat itu, ia melihat ada luka yang berada di jantungnya. Ia melihat ke sekeliling dan melihat ada sebilah kayu berukuran sedang dengan satu sisi yang tajam dan sisi lain yang tumpul. Kedua sisi itu sama-sama terdapat darah.


"Kayu itu pasti yang menyebabkan dirinya meninggal" pikir Rila dengan wajah yang tegang.


Rila melihat ke badan sang mayat sambil menutup mulutnya. Ia melihat ada sebuah jam tangan yang rusak pada tangan kanan korban, dimana menunjukkan pukul 19.35. Rila begitu terkejut akan waktu yang ditunjukkan di jam itu. Rila berhenti menutup mulutnya.


"Tidak.... Tidak mungkin" Ujar Rila yang seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Rila dengan perasaan yang tengah shock, pergi dari bangunan itu secepat yang ia bisa. Ia lantas berlari sekuat tenaga agar sampai ke kampus secepatnya. Rila biasanya pergi ke sklh menaiki bis umum. Rila melihat dari kejauhan ke arah halte bis, terdapat bis yang masih membuka pintunya dan bnyk penumpang yang ingin masuk ke dalam bis tersebut. Rila kemudian berlari untuk masuk ke dalam agar ia tidak ditinggal oleh bis tersebut. Rila berhasil masuk tepat disaat pintu bis ingin menutup.


"Hebatnya gua, bisa pas gitu kek di film-film" Pikir Rila melihat ke arah pintu bis yang sudah tertutup sambil menyombongkan diri.


Rila melangkah lebih dalam namun matanya masih melirik ke pintu bis. Baru beberapa langkah kaki, ia tiba-tiba tersandung kaki penumpang disana.

__ADS_1


Kemudian......


Rila jatuh ke pelukan seseorang. Ia pun terkejut dengan apa yang terjadi. Rila melirik ke arah orang itu yang tangan kanannya memegang pegangan bis, ternyata orang itu adalah Radi. Mereka bertatapan sebentar, setelahnya Rila berdiri tegak dan berkata.


"Maafin gua, tadi gua ngk sengaja, sekali lagi maaf" Ujar Rila dengan perasaan malu.


"Iya tidak masalah, lain kali kamu harus memperhatikan langkahmu" Ujar Radi dengan santai.


"Iya, nasehat yang membantu" Ujar Rila lantas pura-pura tersenyum.


"Sangat tidak berguna" Pikir Rila dengan wajah yang masih tersenyum.


"Seperti kita pernah bertemu sebelumnya" Ujar Radi sambil berusaha mengingat waktu yang sudah berlalu.


Rila terkejut lantas memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Jangan bilang dia tau klau gua nyamar jadi petugas ngk guna pas itu, jngan sampe lahh, gua harus bilang apa" Pikir Rila dengan cemas.


"Keknya lu salah orang dah, gua ngk pernah ketemu sama lu sama sekali" Ujar Rila mengelak atas pernyataan Radi.


"Hmm.... Aku pernah melihatmu tapi lupa dimana?" Ujar Radi berusaha mengingat lagi.


"Sepertinya itu orang lain yang mirip kek gua doang, yang pastinya gua ngk pernah ketemu atau bahkan liat lu lewat" Ujar Rila berbohong.


"Seperti kamu benar, mungkin itu orang yang seperti kamu saja" Ujar Radi dengan lega.


Rila menaikkan tangan kanannya untuk memegang pegangan yang ada di atas bis itu.


"Sepertinya kamu bukan wanita yang biasa" Ujar Radi.


"Kamu berbeda dari yang lain namun itu jadi nilai lebih buat kamu sendiri" Ujar Radi memuji Rila.


Rila spontan menoleh ke arah Radi namun kemudian memalingkan wajahnya lagi.


"Ngk usah sok kenal deh, kita bahkan blum kenalan" Ujar Rila berusaha untuk tidak larut dalam perasaan.


"Aku tau itu tapi aku yakin kamu pasti wanita yang menarik" Ujar Radi yang tetap memuji Rila.


"Jangan ngomong kek gitu napa" Ujar Rila tersipu malu.


"Perkenalkan namaku Radi, namamu siapa?" Ujar Radi sambil mengangkat satu tangannya untuk mengajak berkenalan.


Rila menoleh dan menatap mata Radi. Rila hanya terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata. Rila mulai mengangkat tangannya perlahan


Namun.....


Bisnya tiba-tiba mengerem mendadak, hal itu membuat Rila terdorong dan jatuh ke arah Radi lagi. Kemudian Rila bergegas berdiri dan berkata.


"Nama gua Rila" Ujar Rila lantas pergi keluar dari bis itu.


Rila keluar karena perasaan malu atas apa yang terjadi di bis tadi. Syukurlah ia turun tepat di depan kampusnya.


"Ahhhh!! Knp sih ada aja kejadian memalukan kek gitu, baru juga hari pertama ngampus lagi" Ujar Rila dengan kesal.


"Sudahlah, lebih baik gua masuk sebelum telat, gua juga harus ketemu dia" Ujar Rila lantas lari tergesa-gesa menuju ke kelasnya.


Saat Rila sampai di kelas, semua orang sudah datang dan menempati tempat duduk masing-masing. Itu berarti Rila yang paling akhir datang ke kelas. Rila melihat jam dinding yg ada di kelas, jam itu menunjuk pukul 08.00. Melihat hal itu, Rila merasa sedikit lega karena tidak terlambat. Rila langsung berjalan menuju bangku belakang melewati tempat duduknya sendiri. Ia ternyata berhenti di depan bangku Sina.

__ADS_1


*Itulah episode 5, jangan lupa tinggalkan like jika kalian suka dan juga komentar gimana menurut kalian mengenai episode ini. Kalau ada kritik atau saran yang ingin kalian sampaikan, jangan sungkan-sungkan ya ditulis. Author bakal baca masukan kalian agar kedepannya dapat memuaskan pengalaman kalian dalam membaca. Salam hangat dari Author dan semoga hari kalian menyenangkan*


__ADS_2