SAYANGI AKU, MAMA

SAYANGI AKU, MAMA
Bagian Empat | Tak terduga


__ADS_3

☔︎︎


Pagi dengan segurat keindahan dan keistimewaanya,embun sudah hilang dari dedaunan..


Mentari bersinar dengan teriknya, menyongsong,menebar sinar diantara celah celah yg mampu diterobos


Aku masih meringkel di balik selimut tebal, suara sering alarm tidak mampu membangunkan diriku , padahal ini hari aku kerja.


"Astaga, aku telattt!! aku telaatt!!"


Aku kalang kabut sendiri, begitu membuka mata, ku dapati jam menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit.


Bingung harus apa lebih dulu, aku buru-buru masuk ke kamar mandi, mandi seperlunya tanpa ritual apapaun, waktunya mepet!!.


"Bagaimana mungkin aku Lupa, aku harus kerja ,dasar bodoh"


Aku berjalan seraya memakai celana panjangku, meneteng tas slempang di antara ketiak ku.


Iya!.


Setiap hari aku memang pergi keluar rumah, pulang malam,tapi bukan karena keluyuran, aku bekerja di sebuah restoran untuk biaya kuliah serta biayanya hidupku.


Tak ada yang tau memang . Karna aku sengaja tak ingin terus terusan bergantung pada mama.


Kau pasti tau bagaimana rasanya selalu di anak tirikan, di bedakan dalam segi apapun.


Bukan apa apa, aku hanya ingin membutikkan pada Mama bahwa aku juga bisa seperti kak Sera, hanya saja prosesnya yang berbeda


Jika kau tanya kenapa perlakuan mama berbeda terhadapku?, aku tidak tau, dari aku mampu melihat dunia ini, yang ada dalam penglihatan ku hanyalah kasih sayang mama ke Sera, sedang aku hampir dari kecil sampai masuk SMA selalu di urus oleh mbok Imah - Asisten rumah tangga mama dulu.


Sesak? sudah pasti.


Bahkan entah sudah berapa kali dulu aku bertanya, apakah aku anak tiri?. kak Sera yang selalu mengatakan bahwa dia menemani mama untuk melahirkan diriku ;(


☔︎︎


_


Aku turun dari kamar ku. kulihat Mama tengah menyuapi kak Sera penuh sayang, pemandangan yang hampir dua puluh lima tahun ini selalu aku saksikan tanpa bisa aku rasakan,


Ada rasa iri di hatiku, tapi dengan segera aku tepis, kau bayangkan saja sendiri bagaimana rasanya..?


Ada rasa sedikit sakit di ulu hatiku, tanpa aku sadari air mengalir dari sudut mataku, dengan cepat aku lekas menyusutnya.


Hampir setiap hari, aku selalu membayangkan mama menganggap keberadaanku layaknya kak Sera, namun untuk saat ini, tidak mendapat tatapan tajam dan nyinyiran pedas darinya sudah lebih dari cukup.


Aku menyusut air mata ku yg mulai jatuh.. merasakan sesak di dadaku, aku menarik nafas- sesak rasanya.


Ah Selalu seperti itu ;( ...


"Udah terbiasa lyra, nggak papa!, kamu kuat, kamu hebat! "


Aku menyemangati diriku sendiri, ku usap berulang kali pucuk kepalaku, kuramal kan kata itu sampai aku merasa perasaan ku membaik.


Aku melirik jam tanganku, kemudian berlari menuju pintu utama , hanya dengan cara itu aku bisa menyembunyikan luka yang aku tahan, itulah sebabnya aku jarang makan dirumah.


"Lyra,apa kau tidak ingin sarapan dulu,aku buatkan nasi goreng kesukaanmu... "


Aku mendengar suara Sera menginterupsi diriku, namun aku tetep berjalan enggan menoleh


.


"Tidak kak, aku harus pergi !!"


Jawabku sekenanya.


"Tapi?? Sarapan saja dulu, lima menit?" Cecar kak Sera.


"Sudahlah Sera, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan, habiskan sarapanmu, kau kan ada rapat penting hari ini !!?"


Hatiku tersentak, bagaikan di terpa ombak besar secara langsung,.


Aku menghela nafas berat, - sesak rasanya.


"Aku pergi,kau.. kau makan saja sarapanmu, toh ibu lebih menginginkanmu dari pada aku"


_


☔︎︎


|Author Pov |


Sera kembali duduk disamping ibu nya. Memperhatikan ibu nya perlahan..


"Apa yang ingin kau katakan, bicaralah?? Mama hanya punya sedikit waktu??"


Ucap Arti seraya menyendok makanan nya.


"Ma dari Sera lahir, kenapa mama selalu bersikap sedemikian rupa? , apa mama tidak bisa memberi Swara sedikit kasih sayang?"


Kelontang..


Suara sendok dan garpu di jatuhkan dengan kasar di piring marmer itu, suara bising membuat jantung Sera hampir copot karena kaget.


"Sudah berapa kali mama bilang,jangan Sangkut pautkan Swara dalam hidup mama!! "


Untuk kesekian kali Sera melihat kemarahan mama nya setiap kali membahas Swara.


"Tapi ini tdk benar ma, Swara juga putrimu,, kita sedarah??apa yg membuat mama tak bisa sedikit memberi sayang padanya.. ?? Swara sudah berkorban banyak untuk aku ma.. Swara... "

__ADS_1


"CUKUP SERA!!"


Arti memotong perkataan Sera dengan cepat.


"Mama, tidak mau membahas ini lagi, dan yha ? Jangan merasa berhutang pasa Swara, itu sudah jadi hak dan kewajibannya sebagai seorang adik!"


Arti beranjak dari kursi nya, meninggalkan Sera sendirian


Jauh dari itu Arti menyusut air mata nya perlahan, dia juga tak tega melakukan ini pada swara, tapi apalah daya?


"Tuhan aku tau aku gagal menjadi seorang ibu,maafkan aku,"


Arti Memegang dadanya yang terasa sesak "Kau lihat mas, rasa sakit yang kau tinggalkan untukku masih membuatku sakit sampai detik ini"


_


☔︎︎


Aku memarkir motorku di tempat khusus pegawai, seperti biasa jika di luar rumah aku lebih di kenal dengan nama Swara, gadis bebal yang tidak tau aturan.


"Huh akhirnya sampai juga,kalo aku telat bisa bisa si boss ngamuk lagi,mending kalo cuman ngomell kalo di pecat? bisa mati aku !!"


Aku berjalan memasuki ruang ganti, menganti pakaian ku dengan seragam pelayan restoran ini.


Seragam cantik dengan kemeja putih sebahu, dengan dipadukan rok pink selutut menjadi ciri khas restoran ini.


"Baru hari pertama kerja sudah telat!"


Tiba tiba suara itu mengagetkanku,aku menoleh ke asal suara.


Kudapati laki-laki dengan kaos hitam dengan bawahan celana bahan serba hitam menatapku dengan tajam


''Hehe,boss., sejak kapan berdiri di situ?"


Aku nyengir, menampilkan rentetan gigi putihku pada nya


"Telaatt terossss!!"


Dia menggelengkan kepalanya, masih karyawan baru tapi sudah telat hampir lima kali, itulah aku :D


"Macet boss!!" Kataku memberi alasan


"Sudah tau macet, harusnya kau datang lebih awal,"


Aku tidak terlalu ambil pusing dengan omelan boss satu ini, dia Veer kakak kelasku dulu.


"Tadinya mau gitu boss, cuma mata nggak bisa di ajak kompromi" Aku membantah nya lagi.


"Menjawab terus!!, aku ini boss kamu!"


Veer hampir menjewer telinga ku, namun dengan cepat aku menghindar.


"Harus nya kau datang jam berapa??"


Tanya Veer pada ku


"Setengah 8" Jawabku santai


" Sekarang jam berapa?" Tanya Veer kian judes saja,.


"Baru juga lima belas menit boss, ini yang terakhir"


Aku mencoba bernegosiasi sebelum terjadi adanya potongan gaji.


"Kau ini , sebenarnya yang jadi boss aku atau kamu, melawan terus kerjaannya!" Omelnya sebelum kemudian pergi ke ruangannya


"Huh,Untung Boss Veer baik,coba kalo nggk,mau kerja dimana aku"


_


☔︎︎


Bekerja di restoran memang sangat melelahkan, tiada detik untuk sekedar duduk dan main ponsel kalau bukan di jam istirahat.


Di ujung meja sana tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pemuda melambaikan tangannya pertanda ingin memesan sesuatu.


"Ya Tuan, ada yg ingin anda pesan..??" Tanyaku seramah mungkin.


Pemuda itu tetap asyik dg ponselnya, tak sedikitpun buku menu itu dia sentuh,bahkan meliriknya pun tidak.


"Maaf tuan ada yang ingin anda pesan atau tidak , kalau tidak saya permisi!"


"Duduk lah dulu , nanti aku bayarr ..??"


Aku mencoba mencerna perkataannya, namun tidak aku temukan sisi positif dari kata tersebut.


"Apa dia bilang?? Duduk ,, di bayar,, dia kira aku ini apa!!" Aku menahan emosiku yang hampir meledak karena kata-kata itu


Plaaaaakkkk.....


Satu tamparan mendarat tepat dipipi manis pemuda itu, dia melayangkan tatapan tajamnya pada ku.


"APA KAU GILA, HAH?, KENAPA KAU TIBA-TIBA MENAMPARKU!!"


Respon yang sudah aku duga, emosinya langsung meluap, dengan tangan kanannya memegangi pipi nya yang merah karena tamparan ku.


"KAU YANG GILA, MEMANGNYA KAU FIKIR AKU GADIS APA HAH?"


Emosiku pun tak kalah meledak, sudah tau aku bebal malah di pancing dengan kata-kata yang menurutku ambigu

__ADS_1


"Se enaknya saja, mentang-mentang kau orang kaya jadi kau bisa bersikap se mau mu ? begitu? Dasar gila ? kau pantas dapat tamparan itu ..?"


Ucapku semakin emosi, masa bodih dengan tatapan orang-orang saat ini,


"Memangnya aku bilang apa pada mu hah?"


Wahhh, nantangin nih orang- pikirku saat itu.


"Berani-berani nya kau menamparku "


Dia terus memberikan tatapan tajam, seakan siap menguliti ku hidup-hidup


"Apa kau lupa ?? Kau baru mengatakannya satu menit yg lalu,, "


"APA??! " Dia meninggikan nada suaranya.


"Kau lupa . Kau bilang, duduk saja dulu , nanti aku akan membayarmu!" Ulan ku mengingatkan.


"Apa maksut kata-katamu itu?? jangan mentang-mentang aku pelayanan di sini terus anda bisa ngomong gitu?"


Darahku sudah mendidih, namun dia malah tertawa mendengar jawaban ku


"Apa yg kau tertawakan,nkau pikir itu lucu hah!!"


Aku melotot tajam


"Kau yg lucu, kau menamparku hanya untuk kata itu,?"


$Dengar nona, maksut dari kata-kata ku tadi adalah, kau duduk saja dulu,aku masih ada pekerjaan, setelah memesan makanan aku akan membayarmu," Jelasnya


"Apa kau masih mau menamparku sekarang hah"


Aku diam, ada rasa sedikit malu sebenarnya, tapi ini tidak murni kesalahan aku sendiri dong?!.


"Kenapa kau diam?? Apa kau merasa malu karna sudah menamparku hah ??"


"Wajar saja jika aku berpikir demikian, kalau gitu maaf" kataku mencoba mengakhiri ketegangan


"Maaf kau bilang..?"


"Kau pikir dengan kata maaf , bekas tamparan ini bisa hilang?, tidak bisa!!."


"Tamparan juga harus dibalas dengan tamparan"


"Oh Tuhan bagaimana ini?? Pasti aku akan sangat malu nanti, belum lagi tamparan itu, aduuh sakit sekali pasti"


Aku mencoba mencari cara lain,


"Eehh tunggu tunggu, kau bercanda kan, aku seorang gadis,kau yakin akan menampar gadis seperti ku? tidak kan? " Aku mencoba memastikan


"Tidak. aku tidak perduli, yang jelas tamparan harus di balas dengan tamparan"


Ah, tidak. semakin dekat saja dia dengan diriku,


"Kau laki laki, jahat sekali kau mau menyakiti perempuan, dimana nalurimu"


Ingat ya, cewek tidak pernah salah, jadi tamparan itu bukan kesalahan ku tapi konsekuensi dia karena berkata demikian.


"Apa kau tadi menampar ku dengan naluri??, lalu kenapa aku harus mendengarkan ocehan mu!!"


Kulihat pemuda itu bersiap mengangkat tangannya.


Aku memejamkan mata, bersiap pipiku memanas karena sebuah tamparan.


"Okey. jika itu membuatmu lega, tampar saja,ayo tampar., ayo ..., aku sudah siap..!! ttampar!! " Aku mem3jamkan mataku rapat-rapat.


Pemuda itu bersiap menampar,mengangkat tangannya, bersiap mendaratkan pukulan perlahan,ditatap nya wajah ayu yang tengah terpejam didepannya dengan seraut bibir mungil berkomat kamit membaca mantraa.


Ada rasa tdk tega di hatinya, dikepalkannya tangannya itu kemudian di turunkan perlahan.


"Apa kau sudah menamparku?.lalu knp aku tdk merasakan apapun?"(..)


"Apa kau mendengarkanku? "


Tidak ada jawaban, aku memutuskan membuka mataku perlahan.


"Heh.kemana pemuda tadi, jadi dia tidak jadi menamparku,Oh God thankyou Somuch ... Oh selamat kau pipi.. Untung saja..coba kalo dia menamparku, bisa merah ini pipi, Dasar Ceroboh" Aku menepuk kepalaku sendiri..


"LYRAAAAAAA.....


Aku tersentak, menoleh pada ruangan yang baru beberapa saat di huni oleh Veer itu


Aku berlari ke ruangan nya.


" Ada apa, boss??"


"Berani berani nya kau menghilangkan uangku??"


"Aduh boss ini bagaimana,aku saja belum menerima uang gaji, bagaimana mungkin aku menghilangkan uang bosx aneh aneh saja"


"Kapan kau akan berhenti membantah Lyra"


"Kau lihat itu, pemuda yang baru saja pergi..itu uang" Katanya seraya menunjuk pemuda itu


"Biarkan saja memang dia ingin pergi masa iya aku harus mencegahnya,"


"Boss memaksakan kehendak itu tidak baik, sangat tidak baik"


Lah, memangnya pemuda itu siapa? sampai seorang Veer blingsatan melihat nya pergi

__ADS_1


...


__ADS_2