
Malam menampakan suasana yang mencekam, bintang boleh bertebaran di langit, rembulan boleh memancarkan sinarnya seterang apapun itu aku tak perduli,
Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang merah muda milikku, rasanya aku sangat lelah hari ini,
ku pandangi setiap foto yang ada di atas meja kamarku, pandanganku terpaku pada satu foto, seorang laki-laki tampan dengan pakaian perlente
"Ayahh,kemana kau?"
Setiap kali melihat fotonya hatiku sesak, Ayah adalah alasan Mama membenci diri ku.
Mbok imah bilang, Mama dulu sempat mencoba ingin menggugurkan aku saat dalam kandungan, namun usaha nya tidak ada satupun yang berhasil.
Sampai kemudian Ayah mengetahui semua upaya Mama, mbok Imah juga bilang, Mama melakukan semua itu karena mama mengetahui Ayah berselingkuh,.
Lantas apakah semua itu salahku?.
Kenapa aku yang harus menanggung semua luka nya?.
Tidak berhak kah, aku bahagia?
situ kata yang selalu memenuhi otakku, setiap kali aku sakit hati.
Aku masih ingat kejadian yang menurutku sangat tidak adil dalam kisah hidupku ini.
Cerita itu bermula, beberapa tahun yang lalu,
Beberapa taun silam, saat dimana aku dan Sera kecil, aku sering kali mendengar pertengkaran antara Mama dan Ayah, mama yang selalu membela Sera sedang Ayah yang selalu membela ku.
Sejak saat itu aku sudah bertanya berulang kali ke Ayah, apa Mama sangat tidak menginginkan ku
Sampai di mana, Mama mengatakan bahwa Sera di diagnosa sakit samsung tulang belakang,
Aku sedih, namun ternyata itu adalah awal aku mengerti bahwa aku dan Kak Sera berada dalam pusaran kehidupan yang berbeda.
Aku yang semakin memahami akan terjadi nya perbedaan yang terjadi antara aku dan kak Sera,. layaknya anak kecil saat itu, aku marah dan tidak terima di beda-beda kan.
Naluri dalam diri ku memberontak, sering kali aku melempar gelas, memecahkan piring, bahkan mengotori lantai, aku benar-benar menjelma menjadi gadis yang sangat nakal
Perhatian dan kasih sayang Mama sepenuhnya untuk Sera, sedangkan aku?.
Aku hanya menjadi nyawa cadangan untuk seorang Sera Anindya.
__ADS_1
Mama akan berbaik hati padaku setiap kali Sera membutuhkan aku untuk menjadi pendonor darahnya, .
Sering kali aku menolak, mengeluh capek, mengeluh sakit, namun tidak mama hiraukan.
Puncaknya ada pada saat usia ku tujuh tahun, mama membawa ku ke rumah sakit untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang buat Sera tanpa sepengetahuan ku ataupun Ayah.
Seminggu berlalu, Ayah mengetahui semua nya, Ayah marah besar, sedang mama tanpa rasa bersalah mengatakan "KALAU BUKAN KARENA SERA, AKU SUDAH MEMBUNUH SWARA DARI DULU!!"
Bayangkan saja, di usia yang ke tujuh tahun aku mendengar kata itu dari mulut mama ku sendiri,!!
" BERANINYA KAU,!!"
Aku melihat dengan jelas, Ayah bersiap melayangkan pukulan pada mama namun ia tahan.
"AYO PUKUL!!"
Mama semakin maju menantang,
"Yang kau benci itu AKU bukan SWARA!!"
Ayah meninggikan suara nya.
Aku semakin ketakutan di balik tembok pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga, air mata ku terus mengalir setiap kali mendengar perdebatan antara mama dan ayah,
Aku terkejut, rasa takut ku kian membesar, aku menyesal turun kebawah dan melihat semua kejadian ini,
Selepas pertengkaran hebat itu aku tidak lagi melihat ayah ataupun berani bertanya pada mama,
Meski kala itu aku sangat ingin ikut pergi dengannya, jujur saat itupun aku kecewa karena Ayah memilih pergi tanpa mengatakan apapun pada ku,
Sejak kejadian itu aku menjadi terbiasa dengan sikap dan perlakuan mama pada ku, hambar tanpa kasih sayang.
Bahkan meskipun aku telah memberikan satu ginjalku untuk Sera, mama tetap tidak berubah.
Apakah aku se menjadi beban itu?
Air mataku menetes dengan sendirinya mengingat kejadian beberapa belasan taun silam, Itulah sebabnya aku menjadi bebal seperti ini, karena bagiku cukup aku yang tau seberapa terlukanya aku, orang-orang hanya perlu tau tentang bahagiaku saja.
"Ayah apa kau tidak merindukan ku, sudah berapa taun kau pergi, aku merindukanmu ayah,"
Kenangan masa lalu seakan menjadi bayang bayang bagi ku, bagaimana tidak masa remaja yang harusnya penuh kisah bahagia kini tak ubahnya awan biru yg menjadi kelabu,
__ADS_1
"Swara!!"
Aku dengan cepat menyusut air mataku sebelum kemudian di lihat oleh Sera.
"Jangan bilang, kalau kau baru saja menangis?" Katanya begitu masuk ke kamarku
"Tidak, kata siapa?" Elakku berusaha se biasa mungkin,
"Ohh,"
"Kau, dari mana saja tadi?" Tanya nya seraya ikut tiduran di ranjang ku
"Biasa keluyuran, cari angin, siapa tau aku ketemu pangeran berkuda putih ku" Ucap ku ngasal, Sera tertawa
"Kalau ketemu bagi dua ya"
"Mengayalmu kejauhan Lyra, yang ada bukan pangeran berkuda putih, tapi pemuda naik gerobak ..."
Aku dan ra Sera tertawa bersamaan, membayangkan pemuda naik gerobak benar-benar menggelikan
"Ketawa aja terus,Dasar" Ucap ku akhirnya
Aku memperhatikan tawa lepas kakaknya, dia ikut senyum senyum sendiri.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat tawa mu itu kak, aku hampir lupa dengan cara mu tertawa,"
"Sssttt, jangan keras-keras kak, nanti kedengaran mama, aku yang di marahin" Kataku, Sera langsung menutup mulutnya, takut-takut mama mendengar tawa kami
Baru saja aku mengatakannya, Mama sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak suka mengarah pada ku.
"SERA ,BALIK KE KAMAR KAMU !" Perintahnya, aku terdiam, sedang Sera memandangku cemas.
"Memangnya kenapa ma?" Tanya Sera tak Terima
"Kau?" Mama menunjuk ku dengan jare telunjuk nya.
"Kalau kau ingin membuat ke gaduhan jangan di dalam rumah, berisiikk!!"
"MAA" Sera meninggikan nada suaranya.
"Apa??, kamu nggak setuju sama mama?"
__ADS_1
"Mama nggak suka kamu banyak main sama dia, kamu harus belajar, kerjakan skripsi kamu!!" Perintah mama pada Sera,
"Mama nggak mau kamu jadi kayak dia, nggak berguna!!"