
Ah.. Baltazhar. Sebuah negeri yang indah dan asri. Tempat bersemayamnya makhluk makhluk yang kalian anggap hanya ada dalam dongeng yang kalian dengarkan sebelum tidur. Di sini sudah hal wajar bila seseorang memiliki naga atau unicorn. Sudah wajar bila terjadi kerusuhan karena makhluk makhluk tersebut. Jujur saja, aku juga kerepotan.
Namaku Scarlett Mareena Gildegard, putri dari Kaisar Agung Baltazhar. Saat ini umurku hampir 17 tahun. Tak seperti perempuan lain di negeriku, aku bisa dibilang... lebih unggul. Kupikir mungkin karena darah keluarga bangsawan Gildegard memang unggul. Nyatanya, laki-laki Gildegard banyak yang menjadi kesatria. Perempuan Gildegard sendiri memiliki fisik yang hampir sempurna dan memiliki otak yang cerdas, sehingga banyak dari mereka yang menjadi ahli hukum dan sejarawan. Sedangkan aku? Aku belum menjadi apa apa.
Di Baltazhar, kau bisa melihat makhluk makhluk mitologi berkeliaran dengan bebas. Tentu saja makhluk makhluk itu harus bukan berasal dari dunia kegelapan. Ada banyak naga, unicorn, pegasus, golem, centaur, phoenix dan griffin. Di sini naga bisa dipelihara tergantung jenis naganya. Biasanya yang dipelihara adalah naga jenis Devilhorns, Stronglegs, dan Longnecks. Ada pula naga yang khusus dilatih untuk berperang. Contohnya Firetail, Bodysnakes, dan Firebolt. Sayangnya, Firebolt terakhir terlihat sekitar 5 tahun yang lalu.Semua naga bisa menyemburkan api. Hanya Firebolt saja yang meledakkan, bukan menyembur. Nagaku sendiri berjenis Stronglegs, mungkin. Aku sendiri tak yakin, naga ini bahkan tak menyemburkan api. Aku mendapatkannya saat umurku 12 tahun, kunamai Zora. Naga pada umumnya berwarnya tergantung dimana mereka hidup. Tapi Zora, dia hampir transparan. Tak masalah, Zora masih kecil, mungkin kalau sudah besar dia akan menjadi naga yang hebat dan setia. Baiklah, cukup tentang naganya.
__ADS_1
Di Baltazhar ada unicorn dan Pegasus. Keluargaku sendiri memiliki unipegasus bernama Milli. Milli adalah warisan turun temurun yang sangat setia pada keluarga kerajaan. Milli, unicorn bersayap ini berwarna hitam legam, sehingga mencolok dan dapat dikenali. Milli biasanya ikut bertempur. Dia juga tidak menghasilkan keturunan. Milli tak bisa mati kecuali pemiliknya juga mati. Saat ini Milli masih milik ayahku. Selain Unicorn dan Pegasus, ada juga Griffin. Griffin setia melindungi Baltazhar. Dia tidak milik siapapun. Griffin hanya muncul untuk melindungi negri saat makhluk kegelapan juga muncul. Setelah Griffin ada juga Phoenix. Phoenix biasanya ada bersama Griffin sebagai pengawas. Saat tiba waktunya, burung ini membakar dirinya sendiri lalu dari abunya dia bisa lahir kembali. Setelah Griffin dan Phoenix, ada Golem dan Centaur. Mereka penjaga perbatasan. Centaur hidup berkelompok dan pandai berperang. Di Baltazhar, ada juga para elf. Para elf ahli dengan logam dan bebatuan sehingga banyak dari mereka yang menjadi pandai besi dan ahli perhiasan. Nah Cukup tentang negriku. Hari ini aku akan berlatih pedang. Aku tak seperti perempuan kebanyakan yang menyulam, mengoleksi pakaian atau perhiasan, memasak, dan lain lain. Di umurku yang ke 13, aku sudah pernah ikut bertempur bersama ayah. Tapi aku bukan kesatria termuda. Kesatria termuda jatuh pada Rey, adikku. Dia sudah menjadi kesatria sejak umur 9 tahun. Kulihat Rey sedang berlatih sendiri. Aku mengajaknya berlatih bersama.
Biasanya aku selalu berlatih ditemani Zora, naga kecilku yang masih berumur 4 tahun.
"Ha, Zora mengekorimu seperti biasa ya." ejek Rey. Zora mendengus kesal.
"Apa kau sedang mengalami masa puber Zora?" tanya Rey. Zora Melihat Rey malas.
__ADS_1
"Sudahlah, aku akan mencari akar cemara hari ini. Apa kau mau ikut?" tanyaku pada Rey.
"Pergilah sendiri kak, aku lelah." ucap Rey sambil berlalu pergi.
"Jadi, kita akan pergi ke hutan berdua saja Zo." Ucapku pada Zora. Zora terlihat terkejuta dan ketakutan. Hutan tempatku akan mencari Cemara ini terkenal dengan keangkerannya. Katanya, banyak orang yang mendengar suara aneh dan misterius dari dalam hutan. Tentu saja aku tak percaya, tapi Zora percaya dengan naifnya.
"Aku akan melindungimu Zo. Lagipula, kau ini kan seekor naga, apa yang kau takutkan." Ucapku. Zora mengangguk angguk lemas. Dia juga sedih setiap kali mengingat bahwa dia tak bisa menyemburkan api. Beberapa kali aku membantunya menyemburkan api, tapi tak berhasil. Bahkan kali terakhir percobaan, Zora sampai batuk dan panas dalam hingga 5 hari. Hey, bukankah memalukan memiliki naga seperti itu. Memang aku malu, tapi aku tetap suka, sangat sangat suka Zora. Dia selalu ada saat aku butuh seorang teman. Bagaimana tidak, dia tidak mau tidur di kandang naga. Kamar tidurku yang jadi korbannya. Aku bahkan rela tidur di sofa karena Zora suka sekali tidur di kasurku. Huh, seleranya tinggi sekali. Yah, kalau bukan Zora, kurasa aku tak akan memiliki pengalaman konyol dan memalukan semasa hidupku.
__ADS_1
~Bersambung