
Aku akhirnya pergi berdua saja dengan Zora. Ayahku pasti akan memarahiku kalau tahu aku pergi ke hutan hanya berdua dengan Zora. Apalagi Zora kan belum dewasa. Dia masih kubilang anak anak. Meskipun naga lain seumurannya sudah bisa terbang tinggi dan menyemburkan api, Zora-ku ini kan masih kecil dan polos. Jadi aku yang biasa melindunginya, bukan dia yang melindungiku. Hutan yang kukunjungi ini bernama Hutan Kabut. Sebenarnya hutan ini termasuk tempat yang bersejarah. Katanya disini adalah tempat dimana Pedang Hantu terlihat. Tentu saja aku tidak percaya. Ibuku dulu sering menceritakan dongeng padaku sebelum tidur.
Ada sebuah kisah seorang kesatria pemberani yang seumur hidupnya ia habiskan untuk berperang. Baginya, pergi ke medan pertempuran itu hal yang membanggakan. Membunuh para musuh sudah menjadi sarapannya sehari hari. Hingga diumurnya yang ke 100 tahun, ia ingin mengabdikan dirinya untuk pedangnya. Ia memenggal kepalanya sendiri dan sampai saat ini pedang itu belum ditemukan oleh siapapun. Konon katanya, pedang itu memerangkap jiwa jiwa musuh yang pernah dibunuh oleh sang kesatria. Sang kesatria sendiri mungkin bahkan jiwanya terserap oleh pedang itu. Bagi yang bisa menemukan pedang itu, ia akan menjadi tak terkalahkan dan dapat mengatur semua makhluk, bahkan makhluk kegelapan sekalipun. Di tangan yang tepat, pedang itu akan membawa ketertiban di dunia ini. Sebaliknya, di tangan yang salah, dunia akan mengalami kehancuran.
Itu adalah dongeng lama yang banyak diceritakan orang orang. Mana ada pedang seperti itu. Bahkan pedang yang dibuat para elf juga tak kalah bagusnya. Aku belum pernah kalah di pertempuran sampai saat ini. Kalau pedang itu tak pernah ditemukan, lalu bagaimana pedang itu bisa terlihat di hutan ini. Bukankah orang orang itu hanya mengada ada.
Setelah mendapat cukup banyak akar cemara, aku dan Zora segera pergi dari tempat kami berada. Kami sudah cukup jauh masuk kedalam hutan. Aku pun bahkan sedikit takut. Banyak kabut menghalangi pandangan mata.
"Hei, tak apa Zo, aku akan melindungimu." Ucapku pada Zora. Dia mengangguk dan merapatkan tubuhnya padaku. Lalu, tiba tiba dari belakang kudengar seseorang meminta tolong.
"Zo, kau dengar itu?" tanyaku. Zora sepertinya tak mendengar apapun karena sibuk merapat padaku.
"Aku jelas jelas mendengar seseorang meminta pertolongan Zo." ucapku lagi. Zora melihat sekelilingnya. Kurasa dia ingin berkata bahwa mana ada orang lain selain kita disini sekarang. Saat aku akan melanjutkan perjalanan, kudengar lagi suara itu. Kini suaranya lebih jelas
__ADS_1
"Toloongg... Tolong aku, siapapun.. Kumohon.."
Kulihat Zora juga terkejut, aku dan Zora memtaung seperti orang bodoh, tak berani menoleh ke belakang. Kami berdua sama sama mendengarnya. Zora membuat ekspresi seakan ingin berkata kalau kau masuk kedalam hutan lagi aku akan membunuhmu. Tapi bagaimana aku akan meninggalkan seseorang yang sedang kesulitan di dalam hutan, mana mungkin aku seperti itu.
"Ayolah Zo, bagaimana kalau dia terluka? Kumohon.." rayuku. Akhirnya setelah membuat wajah memelas dan sok imut, Zora setuju untuk membantu. Kuperjelas pendengaranku. Suaranya datang tepat dari arahku mencari akar cemara tadi. Aku dan Zora berjalan berhati hati. Aku memegang pedangku rapat rapat. Samar samar kulihat seorang wanita tua yang kakinya terlilit akar pohon. Aku segera berlari menghampirinya.
"Nyonya, apa kau tak apa?" tanyaku.
"Ya, begitulah pohon Dilow. Semakin kau bergerak, ia akan semakin melilitmu. Tenang Nyonya, jangan bergerak. Aku akan menebasnya." Ucapku lalu segera menebas akar pohon itu. Satu tebasan dan wanita itu berhasil keluar. Zora membantunya berdiri.
"Terimakasih nak, kau dan naga hebatmu ini baru saja menyelamatkan nyawaku." Ucap wanita itu. Kulihat mata Zora berbinar binar ketika dipuji.
__ADS_1
"Tak masalah nyonya, lain kali berhati hatilah." ucapku dan hendap pergi. Wanita itu mencegahku.
"Tunggu nak. Aku punya sesuatu untukmu." ucap wanita itu sambil mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam tasnya. Gulungan yang terlihat begitu kuno.
"Aku tahu kau layak mendapat ini Scarlett." ucapnya. Hei, dia tahu namaku. Sepopuler apa aku ini sampai privasiku sudah tak berharga lagi.
"Bagaimana kau kenal aku?" tanyaku.
"Kau sudah ditakdirkan untuk ini Scar." ucapnya sambil menunjuk gulungan itu.
"Kalau kau masig tak yakin, Jiwa Peri akan menuntunmu ke takdirmu yang sebenarnya." Ucapnya lalu kulihat cahaya hijau di balik pepeohonan. Itu adalah jiwa peri. Peri yang mati, jiwanya akan berada dalam tubuh suatu pohon dan membuat pohon itu tetap hidup. Saat aku hendak mengatakan terimakasih, wanita itu sudah menghilang dari hadapanku. Aku memberi tatapan ke Zora bagaimana wanita itu menghilang. Dia sama tak tahunya, bahkan kulihat tadi dia terpana pada jiwa peri itu hingga mulutnya terbuka lebar. Aku tak tahu kemana jiwa peri akan menuntunku. Perasaanku tercampur antara takut, ragu, dan penasaran.
~Bersambung
__ADS_1