Scarlett : The Legend Of Phantom Sword

Scarlett : The Legend Of Phantom Sword
Armed Girl


__ADS_3

Sebelum aku dan Nic kembali ke istana, aku mengajaknya ke pasar untuk membeli kue kesukaan Zora. Sebenarnya alasan utamaku ke pasar adalah ingin mampir ke bengkel milik Lilo, teman elfku bekerja. Penjual kue kesukaan Zora memang biasanya dipadati pembeli, maka dari itu Nic akan mengantri membeli kue sedangkan aku pergi ke bengkel Lilo. Di bengkel Lilo, kulihat Lilo sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Hei Lil!" Sapaku


"Oh tuan putri." Ucap Lilo dan segera menyudahi pekerjaanya untuk menghampiriku


"Hei tak perlu terlalu formal. Jadi, bagaimana?" Tanyaku. Aku menyuruh Lilo membuatkan beberapa senjata untukku.


"Ini tuan putri, aku membuatkannya khusus untukmu." Ucap Lilo sambil menyerahkan crossbow* padaku.



"Cantik sekali Lil. Apa aku boleh mencobanya?" Tanyaku. Lilo pun mengangguk. Aku segera mencobanya. Kuarahkan pada botol minum di atas lemari penyimpanan dan kulepas mata panahnya.


PYARR.. Botol itu pecah. Lilo terkejut akan skill memanahku. Aku tersenyum padanya.


"Itu keren sekali tuan putri. Oh ya, masih ada yang belum saya tunjukkan." Ucap Lilo. Dia pun pergi ke meja kerjanya dan mengambil benda yang terbungkus kain hitam.

__ADS_1


"Ini untuk anda tuan putri." Lilo menyerahkan belati kembar padaku.



"Terimakasih Lil. Kau penyelamatku. Tolong simpan semua ini dan buatlah mata panah yang banyak. Aku akan mengambilnya besok. Ini uang muka, sisanya kuberikan besok." Ucapku. Aku memberi Lilo 5 keping emas. Lilo berterima kasih padaku. Aku segera keluar dari bengkel Lilo untuk melihat keadaan Nic yang mengantri. Ternyata antrian masih panjang. Aku berdiri di pinggir jalan menanti Nic. Saat itu jalanan lumayan ramai. Aku ingin menghampiri Nic, tetapi tak sengaja menabrak seseorang.


"Uh, maaf. Aku terdorong. Kau tak apa?" tanyaku pada pria yang kutabrak. Pria itu menatapku. Rambutnya yang hitam legam seperti langit malam, matanya yang berwarna merah darah menarik perhatianku. Aku tidak ingat ada orang seperti ini di Baltazhar.


"Menarik. Harusnya aku yang bertanya seperti itu nona." Ucap pria itu. Ia tersenyum.


"Aku tidak apa apa." Ucapku sambil mengalihkan pandangan.


"Wah, kedai itu sangat ramai Scar. Apa kau lelah menungguku?" Tanya Nic. Harusnya aku yang bertanya apa kau lelah. Aku segera mengajaknya kembali ke istana. Keringat Nic bercucuran. Kasihan sekali. Aku mengambil sapu tanganku dan mengelapnya pelan. Aku tersenyum. Nic tersenyum sambil masih membawa kue kesukaan Zora. Sampai di istana, aku disambut oleh wajah kusut Zora. Rupanya dia kesal karena tak kuajak jalan jalan. Karena itulah aku berniat menyogoknya dengan kue. Begitu kuberikan, Zora kegirangan.


Nic berpamitan pulang karena ayahnya baru saja selesai menemui ayahku. Aku berniat menemui ayah untuk menjelaskan bahwa aku akan pergi. Aku sangat gelisah karena ayah pasti tak menyetujui dan memarahiku. Kusiapkan mentalku dan bersiap memasuki ruangan ayah. Ayah menatapku dengan tatapan garang. Ugh, kurasa aku akan kembali saja besok. Aku tak siap untuk ini. Aku mundur perlahan, tapi ayah memanggilku.


"Kemarilah Scar." Ucap ayah.

__ADS_1


Mati aku mati aku mati aku. Aku lebih baik mencari pedang kegelapan daripada menatap mata ayah. Aku menghampirinya dengan takut. Ayah berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Aku mematung. Tolong jangan pukul aku ayah, aku sudah melewati banyak hal hari ini. Ayah mengulurkan tangannya. Kukira ayah akan memukulku. Tak kusangka beliau memelukku dengan hangat. Baru kali ini aku merasakan pelukan ayahku. Aku dan ayah sangat jarang berbicara apalagi bertemu. Kami bertemu saja biasanya hanya untuk memarahiku. Aku tersentuh karena ayah tiba tiba memelukku. Tak terasa aku menangis di pelukan ayahku.


"Ayah paham Scar. Maafkan ayah. Ayah keras kepadamu selama ini karena hanya ingin kau terhindar dari bahaya Scar. Tapi kerasnya ayah malah membawamu selangkah lebih dekat dengan bahaya." Ucap ayah sambil mengelus kepalaku. Aku melepas pelukan ayah.


"Tidak ayah. Maafkan Scarlett. Scarlett putri yang buruk. Maaf." Ya, aku memang putri yang buruk.


"Tidak Scar. Ayah tahu kau akan pergi demi negerimu. Tapi ayah malah tak memperhatikanmu dan sibuk sendiri dengan urusan kerajaan." Ucap ayah pelan. Kaisar juga manusia. Dan aku tetap putrinya. Putri yang dimatanya masih seorang gadis kecil yang kemarin baru bisa berjalan. Baru bisa makan sendiri, tapi sekarang sudah ingin pergi entah untuk berapa lama.


"Sebentar lagi ulang tahunmu Scar. Ayah ingin memberikan hadiah untukmu lebih awal." Ucapnya. Lalu memberikanku sebuah kalung berwarna hitam dengan batu ruby sebagai hiasannya dan sebuah botol kecil berisi cairan.


"Ini milik kakek buyut ayah. Beliau memakai ini saat berperang dengan musuh. Sekarang ayah memberikannya kepadamu dengan harapan kau bisa kembali Scar. Lalu, ini adalah cairan air mata dewa. Saat kau terluka, minumlah ini dan lukamu perlahan akan sembuh. Gunakan dengan baik." Ucap ayah panjang lebar. Ayah lalu mencium pucuk kepalaku. Ayah menatapku seakan tak percaya gadis kecilnya sudah tumbuh sebesar ini.


"Terimakasih ayah. Scarlett berjanji akan kembali pulang. Scarlett berangkat besok." Ujarku.


"Kalau begitu bawalah Milli." Ucap ayah. Yah meskipun Milli adalah unipegasus, tetap saja Milli adalah seekor kuda, bukan. Kuda bisa meninggalkan jejak kapan saja.


"Tidak ayah, kuda meninggalkan jejak. Aku akan berjalan terus ke arah barat. Tujuanku adalah Pulau Ulecia." Ucapku. Ayah mengangguk dan memberitahuku untuk berhati hati. Dan besok mungkin adalah terakhir kalinya aku melihat Baltazhar yang indah dan damai.

__ADS_1


~Bersambung


*Crossbow \= busur salib


__ADS_2