Scarlett : The Legend Of Phantom Sword

Scarlett : The Legend Of Phantom Sword
Prince Charming


__ADS_3

Hari berganti hari. Setelah kemarin aku banyak membaca dan mencari tahu, sekarang persiapanku lumayan matang. Katakanlah aku hanya gadis bodoh yang tak tahu bahaya apa yang menanti, tapi aku tak bisa berdiam diri di balik tembok istana dan menunggu kehancuran datang. Aku berencana untuk menceritakan pada ibu dulu tentang kepergianku. Aku takut reaksi yang ayah berikan kepadaku. Beliau pasti marah besar. Aku menemui ibu yang biasanya minum teh di taman.


"Anakmu memberi salam ke ibunda. Semoga matahari Baltazhar senantiasa menyinari anda." Ucapku sambil membungkuk.


"Bangunlah Scar, tak perlu terlalu formal." ucap ibu. Bagaimana aku tidak formal, anakmu ini dalam wakru dekat akan pergi buu..


"Ada perlu apa Scar? Apa Zora sakit lagi?" tanya ibu.


"Ah, tidak ibu. Aku hanya ingin bercerita. Tapi berjanjilah, jangan bereaksi berlebihan dulu sebelum aku selesai bercerita." tuturku. Aku merasa bersalah pada ibu.


"Baiklah baiklah. Ibu berjanji. Nah sekarang ayo ceritalah." ucap ibu lembut. Aku kemudian bercerita bahwa aku tahu kalau orang yang memiliki tanda salib bisa menjadi pemilik pedang kegelapan. Aku melanjutkan bagaimana tahun ini akan berakhir sama seperti 200 tahun lalu bila pedang itu tak ditemukan. Setelah bercerita, ekspresi ibu menjadi sedih.


"Maafkan Scarlett, ibu. Ibu boleh menbenci Scarlett, tapi Scarlett tetap akan pergi."


Ibu menitikkan air mata lalu memelukku lama.


"Scar, maafkan ibu. Ibu sudah tahu dan menyembunyikan semuanya padamu. Maafkan ibu Scar." ibu menangis sambil memelukku seperti akan mengantar anaknya pada kematian.


"Jangan meminta maaf ibu. Harusnya Scarlett yang minta maaf." ucapku.

__ADS_1


"Tidak! Ibu yang salah Scar. Ramalan tentang seseorang bertanda salib setiap 200 tahun sekali. Tapi, ibu bersikeras ingin melahirkanmu. Ibu seperti akan menyerahkanmu pada kematian." ucap ibu sambil memelukku.


"Berjanjilah kau akan menjaga dirimu Scar. Ibu tak akan bisa memaafkan diri ibu sendiri karena hal bodoh yang ibu lakukan." ucapnya. Aku memeluk dan mencium tangan ibuku. Kemudian aku izin untuk undur diri. Ingin kembali ke kamar dan mengoceh dengan Zora. Saat melewati taman, aku melihat seseorang berdiri mengagumi mawar mawar. Aku memandangnya dalam diam. Rambut coklatnya yang indah, tubuhnya yang tinggi tegap. Lalu mata birunya yang indah bagai lautan itu memandangku.


"Tuan putri." Ucapnya sambil mencium punggung tanganku. Dia adalah Nicholas Oliver Reagan. Putra mahkota Trenson. Aku dibuatnya terpana melihat senyumannya itu. Sebenarnya kami sudah saling mengenal sejak lama. Ini adalah pertemuan ke-3 kami. Selalu mengejutkan setiap pertemuan.


"Putra mahkota." Ucapku. Aku sangat menjaga sikap di depannya. Padahal sebenarnya dalam hatiku sudah berteriak kegirangan.


"Apabila tuan putri sedang ada waktu luang, izinkan saya mengajak tuan putri berjalan jalan di Baltazhar. Kebetulan saya juga sudah mendapat izin baginda kaisar." ucap Nic sopan.


"Baiklah, aku akan memberi tahu pelayan tentang kepergianku." Aku lalu memanggil Maya, kepala dayangku dan berpesan padanya untuk merawat dan menemani Zora bermain.


"Baik tuan putri." ucap Maya. Kemudian aku berjalan jalan dengan Nic. Pergi ke pasar dan menyapa rakyat. Makan mie super pedas hingga meneteskan air mata. Terakhir, aku mengajaknya pergi ke tempat favoritku, yaitu di tebing pinggir laut.



"Bagaimana putra mahk..." Sebelum aku bisa melanjutkan kalimatku, Nic menyela


"Nic! Panggil aku dengan namaku Scar." Ucapnya. Tentu saja itu membuat jantungku berdetak lebih kencang.

__ADS_1


"Baiklah Nic... Apakah Nic senang berada di Baltazhar hari ini?" Tanyaku.


"Aku tak pernah tidak merasa senang saat bersamamu Scar. Hari ini aku datang dengan ayahku. Beliau menghadap baginda kaisar dan sedang mendiskusikan banyak hal." Tutur Nic.


"Jadi Yang Mulia juga datang." Ucapku.


"Baginda kaisar dengan ayah sedang membahas tentang mempererat hubungan antar wilayah. Ayah dan baginda kaisar berniat menikahkanku denganmu Scar." Nic melanjutkan


"Scarlett selalu cantik, baik, dan pandai dalam segala hal. Bahkan hari ini Scarlett tetap cantik. Apakah... Scarlett mau menikah dengan Nic?" Tanyanya. Suara ombak laut yang menabrak Karang, Angin yang lembut meniup rambutku, sinar matahari yang hangat. Aku terpaku selama beberapa saat. Aku memikirkan, bagaimana kalau aku mati saat mencari pedang kegelapan sedangkan aku sudah bertunangan.


"Nic, dalam waktu dekat Scarlett akan pergi entah untuk berapa lama." Ucapku sedih


"Scarlett akan kemana? Bukankah ulang tahun Scarlett tinggal 2 minggu lagi? Saat itu Scarlett akan berumur 17 tahun dan Nic akan melamar Scarlett." Ucap Nic. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku akan pergi menantang kematian untuk mencari pedang padanya. Aku bahkan tidak tahu, aku bisa melihatnya lagi saat umur 17 atau tidak.


"Tunggu Scarlett pulang ya Nic. Scarlett tidak ingin mengecewakan Nic." Ucapku padanya.


"Baiklah Scar. Nic akan menunggu." Ucap Nic yang kemudian mencium keningku. Hei, kita bahkan belum bertunangan. Pipiku memerah dan perutku terasa aneh. Nic tersenyum, lalu menggenggam tanganku erat. Sudah kubilang kan Nic ini orang yang penuh kejutan. Yah, setidaknya untuk beberapa saat aku merasa tenang.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2