
Hari ini aku akan pergi dari Baltazhar. Hari masih terlalu pagi dan aku sudah siap. Senjataku yang dibuatkan Lilo juga sudah kuambil. Aku memakai baju tebal yang akan menghambat mata panah atau benda tajam lain menusukku. Zora juga sudah memakai sepatu pelindung supaya kakinya tidak terluka. Huh, dia sangat merawat semua bagian tubuhnya seperti anak gadis saja. Tak lupa aku membawa persediaan makanan. Zora mungkin tak bisa terbang, tapi Zora pandai memanjat pohon dan berenang. Aku mengajarinya untuk bertahan hidup di segala medan. Xidthar dikelilingi perairan, jadi pasti berenang akan menjadi alternatif. Aku sekarang masih berada di kamarku, mempersiapkan semua yang kubutuhkan. Ray masuk ke kamarku.
"Kau benar benar akan pergi Scar?" tanyanya
"Aku harus pergi Ray." jawabku. Bisa kulihat Ray begitu sedih ketika mendengar aku akan pergi. Ray adalah orang terdekatku selain Zora dan ibu, tentu saja dia akan sedih.
"Aku tak akan memaafkanmu bila kau tidak kembali untuk selamanya Scar." Ray menangis. Ray masih berumur 10 tahun. Aku juga berat meninggalkan keluargaku.
"Kalau begitu selagi menungguku pulang, tolong rawatlah bunga kehidupanku. Dengan begitu kau akan tahu aku baik baik saja atau tidak." Ucapku. Di Baltazhar memang ada satu tanaman yang bisa terhubung ke pemiliknya. Misalnya ketika pemiliknya sedang sakit, tanaman itu juga akan terlihat sakit. Bila sedang sedih, tanaman itu akan terlihat layu dan sebagainya. Punyaku sendiri adalah bunga mawar berwarna hitam. Huh padahal aku mengharapkan bunga yang lebih feminim seperti lili.
"Tentu saja aku akan merawatnya Scar." Ucap Ray seraya berdiri hendak meninggalkan ruanganku.
"Ray..." Panggilku
"Ya Scar?" Jawab Ray.
"Selagi aku pergi... Tolong rawatlah ibu dan ayah. Juga, jagalah Baltazhar dengan nyawamu. Aku percaya denganmu Ray. Kau tidak akan mengecewakanku kan?" Ucapku menahan air mata.
__ADS_1
"Tentu aku akan menjaga ayah, ibu serta Baltazhar dengan segenap nyawaku sepertimu Scar. Kau panutanku. Sebagai gantinya setelah misimu selesai, pulanglah dengan selamat dan bawakan aku sebotol kecil air laut ketika kau pergi ke Xidthar." Ucap Ray sambil memelukku. Aku mencium kening adik laki lakiku itu.
"Tentu. Berlaku baiklah ketika aku tak ada. Jangan mengganggu tukang kebun lagi, oke?" Aku tersenyum. Ray mengangguk. Matahari sebentar lagi akan terlihat jadi aku harus segera pergi.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, aku pun benar benar meninggalkan Baltazhar. Bagian barat Baltazhar adalah hutan belantara dengan banyak air terjun. Melewati perbatasan Barat Baltazhar, aku dan Zora bertemu sekelompok Centaur. Mereka menghampiriku
"Tuan putri? Ingin kemana anda?" tanya salah satu centaur.
"Siapa namamu?" tanyaku
"Nama saya Mok tuan putri. Saya pemimpin kelompok barat." Jawab centaur bernama Mok itu.
"Lindungi perbatasan dengan baik Mok. Aku tak tahu aku bisa segera pulang atau tidak, jadi lakukan tugasmu dengan baik." Pesanku padanya. Mok menunduk dengan hormat padaku
"Tentu saja tuan putri. Kalau boleh tahu, kemana tuan putri akan pergi?" tanya Mok
__ADS_1
"Xidthar." Jawabku
"Kalau begitu, lewatlah Semenanjung Demea tuan putri. Ada seorang duyung bernama Midia yang akan meringankan perjalanan tuan putri." Ucap Mok. Aku berterimakasih padanya dan segera pergi. Aku melalui hutan lebat. Zora terlihat diam dan gugup daritadi. Jadi aku berniat menghiburnya.
"Apa kau ingin pergi buang air Zo?" tanyaku. Zora menatapku dengan sedih, lalu menggeleng. Tak biasanya dia seperti ini. Waktu berlalu begitu cepat, sebentar lagi matahari segera tenggelam. Aku mengajak Zora beristirahat di sebuah gua. Aku menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuhku dan Zora. Aku memberi Zora roti kesukaannya untuk mengganjal perutnya. Setelah makan, Zora bermain main di pasir. Hujan turun dengan lebat disertai petir. Zora menatap hujan petir itu lama. Karena khawatir aku pun bertanya
"Ada apa Zo? Apa kau takut?" Tanyaku. Biasanya Zora memang tak bisa tidur ketika sedang ada petir. Zora menggeleng ia menatapku seakan ingin mengampaikan sesuatu. Zora melompat lompat
"Apa yang ingin kau sampaikan Zo?" tanyaku lagi. Lagi lagi Zora melompat lompat. Aku masih kebingungan. Zora menunjuk api unggun lalu berdiri dengan tegap. Aku tak tahu maksud Zora.
"Apa kau sudah bisa menyemburkan api?" tebakku. Zora menggeleng. Lalu dia menyuruhku melihat hujan petir di luar gua.
"Apa kau khawatir hujan akan mematikan apinya?" tebakku lagi. Zora menggeleng lagi. Karena tak bisa menebak lagi, aku menyuruh Zora istirahat. Aku memeluk Zora seperti aku memeluk Ray, segera Zora terlelap. Huh, sungguh lucu. Aku jadi berpikir, sebenarnya apakah Zora punya gangguan pertumbuhan. Zora sudah hampir 5 tahun tapi tubuhnya masih tetap kecil. Tinggi Zora hanya sampai pinggangku saja, dan panjang keseluruhan tubuh Zora tak sampai 2 meter. Naga yang lain yang seumur Zora bahkan mungkin sudah bisa ikut berperang. Aku jadi tak yakin kalau Zora adalah Stronglegs. Stronglegs punya badan yang besar dan tegap. Juga lebih tak mungkin lagi kalau Zora adalah Firebolt kan. Firebolt termasuk naga yang punya ukuran tubuh lebih besar daripada naga lain. Firebolt bisa menembakkan api beraliran listrik yang bisa meledakkan sebuah kastil. Yah, aku tidak tahu Zora ini apa. Zora kan hadiah ulang tahunku saat berumur 12 tahun. Aku bahkan tidak tahu Zora ini dibeli di peternakan mana.
Hujan di luar tak segera reda, jadi aku memutuskan untuk tidur. Mungkin besok pagi aku akan melanjutkan perjalanan ini.
~Bersambung
__ADS_1