Sebuah Transformasi

Sebuah Transformasi
Sepuluh


__ADS_3

Setelah kekacauan di ruang keluarga terjadi,membuat Flo semakin bertekad untuk merubah semuanya. Ia tidak mau melihat papanya emosi seperti tadi lagi. Flo bertekad untuk melakukan apa yang ia mau selama ini tetapi tidak pernah ia lakukan. Padahal kalau dipikir-pikir apapun yang ia inginkan bisa ia dapatkan dengan mudah. Papa yang kaya dan mempunyai beberapa yayasan,kakak laki-laki yang sangat menyayanginya. Tetapi semua itu tak membuat Flo tumbuh menjadi anak manja yang menyebalkan dan Flo juga tidak suka menindas siapa pun yang lebih lemah.


Mengapa bisa demikian? padahal kan dia dari bayi sudah kehilangan mama tercintanya?


Itu semua karena pak Dimas memang membesarkan semua anaknya dengan baik. Walaupun pak Dimas seorang pengusaha yang sibuk,ia selalu meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anaknya. Terbukti dengan kedua anak laki-lakinya yang bisa menjadi kebanggaan tersendiri buatnya. Semua itu tentu tidak bisa dilakukan seorang diri oleh Pak Dimas.


Pak Dimas mempunyai pembantu yang sudah seperti ibu buatnya. Namanya Mbok Yati, pembantu yang sudah ikut pak Dimas sejak pak Dimas bayi. Mbok yati sebenarnya pembantu kesayangan Eyang Bima,Orang tua pak Dimas. Semenjak pak dimas berkeluarga dan memilih pindah ke ibu kota,mbok Yati ikut pindah juga dan membantu keluarga pak Dimas.


Selain Mbok Yati ada beberapa pembantu yang dipekerjakan di rumah pak dimas. Ada mbak Ijah,Kang Yoyo dan Bang Sarip. Mereka sangat loyal kepada keluarga Pak Dimas. Karena pak Dimas sekeluarga menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Tidak ada yang dibeda-bedakan,pak Dimas selalu baik kepada mereka. Oleh sebab itu semua pembantu dirumah pak Dimas atau pun Eyang Bima tidak pernah berganti bahkan ada yang sampai menutup usia masih ikut Eyang Bima.


Flashback


Saat itu entah mengapa langit tiba-tiba mendung. Hari itu Farel yang masih berusia 2 tahun menempel terus sama sang mama. Semua tidak ada yang curiga karena mereka menganggap si kecil Farel sedang manja karena sebentar lagi akan mempunyai adik.


"Mama,, kenapa mama kelihatan pucat banget ?" tanya Fero seaampai dirumah


"Mama tidak apa-apa kok sayang,cuma kecapekan saja."


" Bener ya mama nggak papa? jangan boong lho sama abang!" Fero menempelkan punggung tangan ke dahi sang mama


"Mama benar-benar nggak papa kok pak dokter". jawab bu Sekar sambil.mencium kening anak pertamanya itu.


"Makanya mama jangan capek-capek dong ma,,adek juga jangan nakal ya!

__ADS_1


" Itu ngapain tuh,,adek glendotin mama terus? Ayok main sama abang." ajak Fero


"Ndak au,,mo ma mama..." jawab Fero tidak mau beranjak dari sisi mamanya.


" Ma...angan egi ana-ana ya (ma...jangan pergi kemana-mana ya)" sambil memeluk mamanya dengan sangat erat.


"nggak sayang,,mama selalu bang ada untuk kalian semua"


"bang alel atut inggal mama,, acian dede lo mama egi ( bang Farel takut ditinggal mama,,kasian dedek kalau mama pergi)" Sambil mengelus perut sang mama lembut Farel berkata dengan berkaca-kaca.


"Nggak sayang,,doain mama selalu sehat,dedek juga sehat,,dan kita akan berkumpul terus selamanya. Sini kalian berdua peluk mama" mereka bertiga pun berpelukan erat.


Tidak ada yang menyangka ternyata saat itu adalah pelukan terakhir dari bu Sekar untuk anak-anaknya. Karena sesaat setelah pak Dimas pulang kerja,bu Sekar mengeluh sakit kepala dan mereka pun ke rumah sakit. Ternyata sesampai dirumah sakit,kondisi bu Sekar semakin parah. Ia juga mengeluh sesak nafas. Tekanan darahnya ternyata terlalu tinggi. Sangat bahaya bagi ibu hamil. Dan dengan terpaksa bayi yang ada dikandungan bu sekar harus dilahirkan. Padahal usia kandungan saat itu baru 29 minggu.


Tetapi setelah berjuang selama 32 jam,bu Sekar akhirnya menyerah dan kembali kepada Sang Maha Kuasa, meninggalkan suami yang amat mencintainya dan jagoan-jagoannya, dan tentunya bayi kecil yang telah ia lahirkan dan sedang berjuang juga untuk tetap hidup.


Suasana pada saat itu sangat menyedihkan.Pak Dimas seperti kehilangan dunianya. Istri tercinta telah meninggalkannya untuk selamanya. Seakan tidak punya daya untuk berdiri kembali,,pak Dimas selalu murung sendiri di dalam kamarnya. Ia seakan lupa kalau masih mempunya belahan jiwa yang membutuhkan kasihnya. Ya,, anak-anaknya masih sangat membutuhkan sang papa apalagi setelah ditinggal mama tercintanya.


Selama hampir seminggu pak Dimas masih larut dalam kesedihan yang begitu dalam,,Eyang Bima dan Eyang Harya selalu mendampingi sang cucu,terutama si kecil yang masih berjuang di ruang NICU. kedua orang tua pak Dimas dan bu Sekar bergantian menengok cucu mereka di rumah sakit. Pada hari ke 8 setelah sikecil masuk rumah sakit ada telepon dari pihak rumah sakit meminta keluarga pak Dimas untuk segera ke rumah sakit karena keadaan bayi bu Sekar semakin kritis.


Seperti tersambar petir disiang hari pak Dimas baru menyadari bahwa ada makhluk kecil yang sedang menunggu kehadiran dirinya. Pak Dimas sangat menyesal karena kesedihannya kehilangan sang istri,ia telah melupakan putri peninggalan istrinya yang sangat berharga. Seketika ia tersadar dan teringat pesan istrinya sesaat sebelum melahirkan, bahwa pak Dimas harus merawat anak-anak dengan baik.


Ketika mereka sampai di rumah sakit,dokter Dito telah menunggu di depan ruang NICU. Dengan berat hati dokter menyampaikan bahwa bayi bu Sekar sudah tidak tertolong lagi.

__ADS_1


"Maaf pak,kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tapi Allah berkehendak lain, yang sabar ya pak" sambil menepuk pundak pak Dimas dokter itu berusah menguatka pak Dimas.


"TIDDAAKK....ANAKKUUU.."


Pak Dimas memburu masuk dan mengangkat bayi kecil yang sudah lemas dan pucat itu kedekapannya.


"Maafkan papa sayang...maafkan papa yang sudah melupakan mu.. Ayo bangun sayangnya papa...bangun sayang... inces papa harus kuat"


Pak Dimas menangis meraung-raung seperti anak kecil yang ditinggalkan ibunya. Hampir sua orang yang ada di ruangan itu tidak bisa membendung air matanya.


Ketika pak Dimas memeluk bayi mungil itu sambil menangis, tiba-tiba ada pergerakan kecil dari sang bayi.


"Lihat dok,, tangan si bayi bergerak" kata seorang suster yang dari tadi juga ikut menangis


Saat pak dimas melonggarkan pelukannya,,secara perlahan-lahan bayi kecil itu menangis dan berangsur-angsur badan yang semula pucat semakin memerah. Dan bayi itu pun menangis kencang dipelukan sang papa. Bayi itu hidup lagi


"Alhamdulillah ya Allah....mari pak letakkan di tempat tidur lagi akan saya periksa,,"


"Subhanallah...ini benar-benar kuasa Allah yang Maha Pengasih" Sang dokter lalu melakukan pemeriksaan secara detail dan bayi itu dinyatakan sehat tanpa kurang apapun. Semua organ tubuhnya baik,,dan nafasnya yang semula tersengal-sengal setelah dilahirkan pun semakin baik.


Pak Dimas hanya bisa menangis terharu sambil mencium buah hatinya itu dengan perasaan haru.


"Terimakasih sayang kau sudah berjuang untuk tetap bersama papa,,papa janji tidak akan pernah mengabaikan mu lagi sayang." bisik pak Dimas pada bayi mungilnya itu

__ADS_1


***flashback end ***


__ADS_2