Secret Face

Secret Face
Chapter 1


__ADS_3

Asia terdiam di bangkunya. Ia mengingat waktu bertemu dengan si pria asing tersebut. Berdiri membelakangi dirinya tanpa sepatah kata-pun. apa maksudnya? Dan juga sebelum ia pergi dari tempat itu, sebuah lipatan kertas dijatuhkannya ke jalan begitu saja. Asia masih memikirkan hal itu. Kemudian Asia membuka lipatan kertas yang dijatuhkan oleh Pria asing kemarin. Tertulis sebuah ajakan padanya untuk bertemu disebuah tempat. Ini sangat aneh menurut Asia.


"Kenapa dia langsung mengajakku ketemuan? Bahkan aku tak kenal padanya. Dan kurasa waktu itu adalah pertama kalinya kami berdua bertemu."


Gumam Asia.


Asia melipat kembali kertas tersebut dan menyimpannya ke dalam tas. Vika dan Sarah yang merupakan teman dekat Asia, datang menghampirinya. Mereka berdua menanyakan tentang dirinya yang dari tadi diam semenjak baru masuk ke kelas. Asia hanya merespon dengan senyuman dan menganggap dirinya baik-baik saja.


Lalu setelah itu bel berbunyi dan kelas pun dimulai.


Dalam masa jam pelajaran, Asia sesekali memikirkan Pria yang ditemuinya kemarin. Pikiran itu juga mengganggu fokusnya dalam belajar. Dan rasa penasaran perlahan mulai dirasakannya. Namun, dilain sisi Asia mencoba untuk menghilangkan pemikirannya akan Pria tersebut.


"Aku tidak ingin terlalu mengingatnya. Tapi kenapa pemikiran ini seperti membayangiku?"


Bisiknya.


Di waktu istirahat. Asia bersama Vika dan Sarah duduk santai di bawah pohon sambil menyantap bekal masing-masing. Diselingi obrolan membuat mereka sekaligus menikmati suasana kala itu. Dan disaat Vika dan Sarah masih asik mengobrol, Asia terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Pikiran itu, pikiran yang sama datang lagi mengelilingi kepalanya.


"Kenapa aku memikirkannya lagi ?"


Gumam Asia dalam hati.


Vika dan Sarah yang tadinya asik mengobrol langsung menoleh ke arah Asia yang tampak sedang menutupi matanya dengan sebelah tangan.


"Kamu kenapa Asia? Apa kamu merasa sakit?"


Tanya Vika.


"Tidak.. Aku tidak apa-apa kok."


Balas Asia


"Baiklah kalau begitu kita langsung ke kelas yuk."


Ajak Sarah pada dua temannya.


Dikelas tepatnya di jam pelajaran berikutnya.


Asia mulai mencoba fokus pada pelajarannya. Fokusnya bertahan hingga mendekati jam pelajaran terakhir.


Sayang sekali di pelajaran terakhir, Asia tak mampu mempertahankan fokusnya. Lagi-lagi pemikirannya tentang Pria asing itu muncul lagi di dalam benaknya. Karena ketidak fokusannya, Asia mendapat hukuman yang juga kebetulan guru yang mengajar di jam terakhir merupakan guru "Killer".


Asia menulis sebuah Kalimat permintaan maaf dibukunya sebanyak 20 lembar.


Vika dan Sarah merasa kasihan melihat temannya itu mendapat hukuman dari guru Killer tersebut. Mereka berdua ingin membantunya, tetapi Asia menolak niat baik mereka.


"Tidak apa-apa. ini memang salahku. sebaiknya kalian pulang dulu. Maaf ya aku gak bisa pulang bareng kalian kali ini."


Asia menunduk sejenak dan melanjutkan kegiatan menulisnya.


Vika dan Sarah pun pamit setelah Asia berkata seperti itu. Dan kelas pun terasa sepi dengan Asia seorang yang tinggal di sana.


Langit sore dengan warna khasnya sudah terlihat, begitu juga dengan cahaya mentari sorenya yang menembus jendela kaca kelas.


Tinggal beberapa lembar lagi, Asia mulai mempercepat gerakan tangannya. Ini melelahkan menurutnya, tetapi yang namanya hukuman harus wajib dilakukannya.


Akhirnya setelah beberapa lama, Asia selesai menjalani hukumannya. Lalu ia pergi mengumpulkan kalimat permintaan maaf itu ke meja guru yang memberinya hukuman tadi. Setelah itu Asia beranjak pulang. Sekolah sudah mulai semakin sepi. Hanya menyisakan beberapa murid yang sedang menunggu jemputan.


Asia pulang dengan berjalan kaki. Dijalan ia menyempatkan diri untuk membeli minuman, lalu lanjut berjalan. Asia yang sedari tadi berjalan tanpa pikiran apapun, langsung tersadar akan suatu hal. Kali ini ia sudah berada di dekat palang kereta. Bayangan akan Pria asing itu langsung muncul di dalam pikirannya. Asia termenung beberapa saat hingga Kereta melintas di hadapannya. Setelah itu palang kereta terbuka. Kakinya pun melangkah pelan melewati jalur kereta tersebut. Setelah sampai di seberang jalan. Asia langsung mengambil sebuah kertas yang ada didalam tasnya. Ia melihat isi dari kertas tersebut. Kemudian berjalan mengikuti petunjuk yang telah tertera.


"Aku tidak tau apa maksud tujuannya. Tetapi rasa penasaranku semakin menjadi. Dan juga pemikiran ini sudah melekat di dalam kepalaku."


Ucap Asia menyusuri jalan.


Setelah menyusuri jalan sesuai petunjuk, Asia menemukan sebuah bangunan yang tidak sepenuhnya berdiri utuh. Bangunan yang dirasa sudah tua dan lama ditinggal ini membuatnya merasakan ada hal-hal yang tidak baik.


"Aku merasa tidak enak. Apa ini sebuah jebakan? Apa jangan-jangan..."


Asia berbalik dan mulai melangkah menjauhi bangunan itu.


Seketika terdengar suara yang ada dibelakangnya. Seperti suara memanggil. Asia yang masih merasa gak enakkan itu menoleh perlahan ke belakang sambil melangkah menjauhi bangunan itu.


Tidak ada siapa-siapa. Suasana terasa seram. Dimana hari juga sudah semakin petang.


"Aku harus pergi dari sini."

__ADS_1


Ucapnya.


Tak berapa lama berselang suara memanggil itu datang lagi.


"Hei.. Disini! Kenapa kamu semakin menjauh?"


Suara asing itu terdengar.


Asia terdiam kaku. Rasa takut sudah memenuhi dirinya.


"Ampuni aku! Aku tidak tahu apa salahku padamu. Tapi tolong jangan menghantuiku!"


Ucap Asia dengan Keras.


Terdengar suara tawa setelah Asia meminta ampun. Sementara Asia terduduk sambil menutup kedua telinganya.


"Kemarilah...jangan takut. Kamu mungkin tidak melihatku karena aku lagi diatas sini."


Kata dari suara asing itu.


Mendengar itu, Asia langsung melihat ke atas bangunan. Benar saja ada seseorang diatas sana. Asia tidak tau harus menanggapinya bagaimana. Tapi yang jelas rasa takutnya itu mulai mereda.


Asia berjalan ke atas bangunan melalui tangga yang ada. Tangga itu sudah ada beberapa bagian yang roboh, jadi ia harus berhati-hati melaluinya. Sesampainya diatas, Asia akhirnya bertemu lagi dengan orang yang ditemuinya waktu itu. Dia adalah Pria asing tersebut.


"Maaf membuatmu takut. Aku tidak bermaksud seperti itu."


Asia tidak berkata apapun. Ia masih berdiri memandang Pria itu dengan tatapan tak senang. Kemudian Pria itu menyuruhnya duduk di posisi yang ditunjuknya.


Ya posisi itu memang dekat dengan si Pria tersebut. Akan tetapi tetap saja Asia tidak bisa melihat wajah dari orang yang sempat membuatnya ketakutan tadi.


Mereka duduk di atas bangunan tua itu. Suasana begitu tenang karena lokasi bangunan yang sedikit jauh dari pusat keramaian. Hanya terlihat lintasan rel kereta serta gedung-gedung kota yang berada dikejauhan. Asia masih menunggu apa yang ingin dibicarakan Pria asing itu. Sementara si Pria asing terlihat diam seperti memikirkan sesuatu. Karena Asia tidak ingin membuang waktu dengan duduk dan diam membisu, ia langsung menanyakan apa yang ingin disampaikan oleh pria itu.


"Hey... Kamu mau membicarakan apa? Aku tidak bisa hanya diam tanpa kejelasan seperti ini."


Kata Asia sembari melirik lawan bicaranya.


"Maaf.. Aku hanya tidak tau harus memulai pembicaraan ini dari mana."


Pria itu menggaruk kepala sangking bingungnya.


Lanjut Asia.


"Intinya? Baiklah.. Aku tidak tau kamu menerimanya atau tidak, tapi aku ingin..."


Belum selesai Pria itu bicara, Asia langsung menyuruhnya berhenti sejenak. Dia memang berhenti bicara, namun Asia sudah memikirkan perasaan yang muncul secara tiba-tiba.


"Apa jangan-jangan dia... Menginginkanku menjadi pacarnya?! Secara tiba-tiba begini?"


Pikirnya saat ini.


Pria itu merasa heran. Dan menanyakan apakah Asia baik-baik saja? Asia terdiam memandang ke arah lain.


"Bisa aku lanjutkan? Atau ada sesuatu yang ingin kamu bilang padaku?"


Tanya Pria asing itu.


"Ehm.. Aku tidak mengenalmu.. Dan ini juga tiba-tiba saja.. Lalu saat ini kamu..."


"Ya.. Sepertinya kita tidak pernah bertemu secara empat mata. Dan ini juga secara tiba-tiba.. Lalu aku menginginkan kamu.."


"Menginginkan aku?!"


Asia tiba-tiba menyela.


"Iya. Aku menginginkanmu untuk.."


"Aku tidak bisa. Ini terlalu cepat. Bahkan kita baru bertemu saat ini."


Ucap Asia sambil menunduk.


"Jadi kamu tidak mau ya?"


"Maafkan aku...Tapi aku tidak bisa secara tiba-tiba menjadi kekasihmu."


"Hah? Apa maksudmu?"

__ADS_1


Pria asing keheranan dengan perkataan Asia barusan.


Asia terdiam dan menegakkan pandangannya ke arah Pria asing itu. Ia merasa seperti ada kesalah pahaman pada pembicaraan ini.


"Bukannya kamu ingin aku menjadi pacarmu?"


Tanyanya dengan terbata-bata.


Pria itu menertawai kesalah pahaman yang dilakukan oleh Asia. Asia terdiam malu karena tawaan Pria itu. Setelah tertawa yang cukup memuaskan hati, Pria itu langsung membantah soal pemikiran Asia tadi.


Kemudian Pria itu melanjutkan pembicaraan sebelumnya.


"Aku memintamu datang kesini untuk melakukan sesuatu. Jadi bersediakah kamu untuk melakukannya? tapi bukan seperti yang kamu pikirkan tadi ya."


Ucap si Pria.


"Bisakah kamu memberitahu apa yang mesti dilakukan? Aku tidak bisa menerimanya begitu saja tanpa kejelasan bukan?."


Balas Asia.


"Baiklah. Jadi aku memintamu untuk mencari seseorang. Dia tinggal di kota ini. Dan juga ini fotonya. Apakah kamu bersedia?"


Sebuah foto diberikan pada Asia.


Asia memerhatikan foto yang diberikan. Ia tidak mengenal orang yang ada di foto. Kelihatannya masih SMA sama seperti Asia. Lalu Asia menanyakan identitasnya seperti nama, sekolah, hingga alamat rumah. Namun, Pria itu tidak tau identitas rincinya. Ia hanya tau wajah dari Pria itu saja.


"Bahkan kamu tidak mengenalnya?"


Tanya Asia.


Pria itu mengangguk. Lalu menanyakan kesediaan Asia untuk menerima permintaan itu atau tidaknya. Butuh beberapa menit sebelum Asia memutuskan.


"Tunggu ini tujuannya untuk apa? Dan jika aku menolongmu, apa yang akan aku dapat nanti ?"


Asia memastikannya.


"kamu akan mendapatkan sesuatu yang menarik."


Kata Pria itu sembari bangkit berdiri dari posisi duduknya.


Asia tampak masih ragu. Merasa adanya keraguan yang dialami Asia, si Pria mencoba meyakinkannya kembali. Setelah itu ia menyuruh Asia untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.


"Benar.. Hari sudah mulai gelap, kalau begitu aku pulang dulu."


Asia pamit.


"Apakah kamu menerimanya?"


tanya si Pria sekali lagi.


"Sepertinya begitu. Dan juga seharusnya ketika kamu berbicara pada seseorang, haruslah memperhatikan lawan bicaramu!"


Tegas Asia pada si Pria asing itu.


"Hahaha tidak mengapa."


"Apanya yang tidak mengapa?! Oh ya ngomong-ngomong namamu siapa?"


Asia penasaran.


"Nama? Apa itu penting?"


Katanya dengan tawa kecil.


"Ya. Nama itu penting bagi manusia. Jangan mengatakan hal aneh. Jadi siapa namamu?"


Asia kembali bertanya.


"Panggil saja aku Jim"


Diselipi senyuman lebar.


"Jim? Baiklah aku akan mengingatnya. sampai jumpa lagi Jim."


Asia melambaikan tangan, lalu berjalan pulang meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2