Secret Face

Secret Face
Chapter 4


__ADS_3

Hari sudah berganti. Deringan alarm yang telah di setel sebelumnya, membangunkan Asia dari tidurnya. Ia mengucek mata beberapa kali dan mengedipkannya sampai pandangannya sudah dirasa jelas. Asia bangkit berdiri, membuka gorden yang menutup kaca jendela kamarnya. Lalu pergi membersihkan diri agar bersiap untuk memulai rutinitas hariannya. Saat sarapan, ia coba mengecek ponselnya. Pembahasan sebelumnya dibahas oleh anak-anak sekelasnya sampai tengah malam. Asia hanya menghela nafas usai melihat pembahasan itu. Setelah menghabiskan sarapannya, Asia berangkat meninggalkan rumah. Suasana hatinya tidak begitu baik hari ini. Efek dari pembahasan itu membuat dirinya tidak bersemangat seperti biasa. Asia berjalan hingga menyeberangi lintasan kereta. Diseberang jalan ia berhenti melangkah. Niatnya menuju ke sekolah mulai menurun. Suasana hati yang tak begitu mengenakkan baginya, membuat dirinya ingin bolos untuk saat ini. Terdengar suara palang kereta yang ingin menutup, Asia dengan sigap memutar arah dan lari menyebrang. Kemudian ia memutuskan pergi ke suatu tempat.


Sudah lama Asia tidak mengunjungi tempat ini setelah beberapa hari lamanya. Dirinya memikirkan keadaan Jim sekarang ini. Asia segera naik ke atas bangunan melalui tangga yang ada. Setibanya diatas, dirinya tidak melihat adanya Jim. Duduk dan melihat pemandangan sekitar. Hanya itu yang dilakukan Asia diatas sana. Ia mengambil minum yang ada di tasnya, lalu meneguknya sejenak. Pemandangan sekitar terlihat begitu tenang, namun hati yang dimiliki Asia tidak merasa sama.


"Hatiku berlawanan dengan keadaan sekitar sini. Entah kenapa aku tidak menyukai diriku saat ini."


Ucap Asia menundukkan kepala.


Satu jam setelah Asia tiba diatas bangunan tua itu, tiba-tiba ia mendengar suara dari seseorang yang ada dibelakangnya. Dirinya menoleh ke arah suara tersebut. Kini seorang Jim hadir dengan posisi biasa yaitu membelakanginya.


"Sudah lama kamu disini ?"


Tanya Jim pada Asia.


"Ya kira-kira satu jam lalu."


Jawab Asia dengan nada rendah.


"Kamu tidak ke sekolah hari ini? Apa kamu bolos?"


Jim bertanya lagi setelah menyadari Asia tengah memakai seragam sekolah saat itu.


Asia hanya diam tak mau menjawab. Dirinya tertunduk dengan suasana hati yang tidak mengenakkan tersebut.


"Kenapa? Apakah kamu mengalami sesuatu?"


Asia masih diam membisu. Jim yang merasa ada sesuatu yang tak baik langsung memegang kedua pundaknya. Asia terkaget dalam keadaan yang masih tertunduk.


"Jangan menoleh kebelakang dan tenangkan dirimu."


ucap Jim sambil menepuk kedua pundak Asia.


"Ini seperti merusak suasana hatiku."


Ujar Asia.


"Seseorang pasti pernah mengalami hal seperti itu. Dan jangan jadikan hal itu sebuah hambatan bagimu untuk menjalani hari."


Kata Jim yang berusaha untuk menenangkan hati Asia.


Lalu Asia menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dirinya bercerita dengan rasa sedikit kesal. Jim mendengarkan setiap perkataannya. Usai Asia bercerita, Jim kembali menepuk kedua pundak Asia beberapa kali. Tepukan itu membuat Asia menegakkan kepala dan memandang ke arah depan.


"Jangan menghadap kebawah terus. Lihat didepanmu. Jalan masih panjang. Kenapa hal seperti itu saja bisa membuatmu berhenti? Nanti akan memudar dengan sendirinya. Hanya butuh waktu dan kejelasan saja. Jadi kuatkan hatimu. Itu baru gosipan belaka. Belum buly dan semacamnya. Ayo kuatkan dirimu. Jangan menjadi gadis yang lemah."


Mendengar perkataan Jim yang begitu mendorong. Seketika suasana hati Asia pun beranjak mulai membaik. Asia mengucapkan terima kasihnya pada Jim, karena telah mendengarkan dan memberi dorongan pada dirinya. Lalu setelah itu, Asia mengganti pembahasan perihal orang yang dicarinya selama ini atas permintaan Jim. Ia menceritakan perjalanannya hingga sempat menemukan sang target. Jim mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh Asia. Tak lupa ia memberi semangat tambahan pada gadis itu.


"Terima kasih jim. Kini suasana hatiku sudah mulai membaik."


Asia tunduk melayangkan terimakasihnya.

__ADS_1


"Berterima kasihlah juga pada hatimu yang mau menerima sebuah masukan. Aku hanya berusaha membantu sebisaku saja."


Ujarnya sambil mengelus-elus pundak Asia.


Hari yang cerah serta pemandangan sekitar yang mengenakkan mata, kini tak berlawanan lagi dengan suasana hati yang dimiliki oleh Asia. Akhirnya mereka berada di posisi yang sama yaitu ketenangan. Jim menjauhkan jari-jarinya dari pundak Asia, lalu duduk membelakanginya. Jim memulai sebuah pembicaraan baru agar suasana tidak terasa hampa. Ia menanyakan tentang keseharian Asia, sekolah, hingga teman-teman dekatnya. Gadis itu bercerita dengan penuh semangat dan gembira. Dan beberapa ceritanya juga sempat membuat Jim tertawa.


Momen berduaan itu memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Kini Jim mengetahui hal-hal mengenai seorang Asia dari cerita yang dibagikannya tadi.


"Kamu itu ternyata anak yang periang ya."


Ucap Jim


Asia terdiam dengan ekspresi tak menduga.


"Kenapa? Kamu tidak menyadarinya?"


Tanya Jim sambil berusaha berdiri.


"Hmm.. Aku tidak tau."


Jim tertawa kecil, lalu memandang kereta yang tengah melintas di dekat daerah tersebut. Asia juga ikut melihatnya diselingi senyuman tipis.


Kereta telah pergi jauh hingga tak nampak lagi dari atas bangunan tempat mereka berdua berada. Jim melirik kebelakang. Dilihatnya Asia sudah berbaring dengan tas sekolah menjadi bantal buat kepalanya. Gadis itu berbaring miring dan sudah tertidur dalam sekejap saja. Jim mengelus-ngelus rambut Asia sambil menatap wajahnya.


"Wanita... Terkenal akan hatinya. Sekali diserang bisa menyakitkan dirinya. Tapi aku percaya, kalau kamu itu bisa kuat menghadapi serangan-serangan dari luar sana."


"Jim sepertinya sudah pulang. Sebaiknya aku pulang juga."


Dijalan mendekati rumah, Asia tak sengaja bertemu dengan 2 teman dekatnya. Yaitu Sarah dan Vika. Mereka berpas-pasan, saling menatap satu sama lain. Ekspresi yang sama ditunjukkan oleh mereka bertiga yaitu kaget (terlihat di wajah mereka). Spontan Sarah dan Vika langsung menghampiri Asia yang masih berdiam diri ditempat.


"Asia! kamu kemana saja? Kenapa tidak datang ke sekolah tadi ?"


Tanya Sarah.


Begitu juga Vika menanyakan hal yang sama.


Asia merespon dengan senyuman terhadap dua teman dekatnya.


"Maaf, karena aku telah ikut gosip anak kelas."


Kata Vika pada Asia.


"Aku juga minta maaf."


Sarah melanjutkan.


"Sudah... Lupakan hal itu. Aku tidak apa-apa kok."


Ucap Asia.

__ADS_1


"Baiklah. Aku hanya tidak enakan saja pada teman dekatku ini."


Vika merasa bersalah.


"Lalu bagaimana dengan sekolah? Apa tadi ada tugas?"


Tanya Asia.


"Ada. Ini aku pinjamkan buku catatanku."


Sarah memberi buku catatannya.


"Oh ya buku catatanmu samaku ya Vika? Maaf seharusnya aku kembalikan kemarin."


"Tidak mengapa Asia. Jangan risaukan itu."


Kata Vika dengan santai.


Lalu mereka membahas beberapa tugas sekolah yang telah diberikan di sekolah tadi.


Setelah itu mereka pun pulang.


Hari sudah malam, Asia mengerjakan beberapa tugas sekolahnya. Setelah selesai mengerjakan semuanya, dirinya ingin pergi keluar sebentar untuk membeli beberapa makanan ringan di minimarket. Asia sudah membeli apa yang diinginkannya. setelah keluar dari minimarket, ia melihat seseorang tengah berdiri sambil meminum minuman kaleng di seberang jalan. Orang itu adalah Niko. Terhenti gerak kakinya usai melihat Niko sudah berada di hadapannya.


"Dia ada disini. Bagaimana ini ?"


Gumam Asia.


Niko menatap Asia. Lalu menyebrang untuk mendekati teman sekelasnya itu. Ia pun mulai angkat bicara setelahnya.


"Apa kabar ?"


"Baik kok. kamu?"


Asia menanya balik kabarnya.


"Ya cukup baik. Kamu sedang berbelanja ya."


Niko melihat belanjaan yang ditenteng Asia.


"Iya. Memangnya ada apa?"


"Tidak apa-apa. Mau kuantarkan pulang?"


"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Sampai jumpa."


Asia mempercepat langkahnya meninggalkan Niko didepan minimarket itu.


Dirinya merasa lega karena tidak ingin mengulang kejadian tersebut untuk kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2