
Di Koridor sekolah, Asia berjalan bersama dua teman dekatnya Sarah dan Vika. Gosip yang sebelumnya ramai telah hilang dimakan waktu. Kini Asia tidak perlu risih memikirkan hal itu lagi.
"Sudah beberapa hari berlalu. Akhirnya pembahasan mengenai hal itu telah hilang dengan sendirinya."
Gumam Asia dalam hati.
Sekolah berjalan seperti biasa. Hingga waktu istirahat tiba, Asia berkumpul dengan Sarah dan Vika. Saat tengah memakan bekal, seseorang datang menghampiri mereka bertiga. Asia, Sarah, dan Vika tertegun melihat orang yang menghampirinya. Seorang siswa laki-laki bernama Anoki yang merupakan anak kelas sebelah datang dihadapan para gadis-gadis itu.
"Ada Apa?"
Tanya Sarah pada Anoki.
"Boleh aku bergabung?"
Anoki bertanya balik.
"Apa maksudmu? Tidak kah kamu melihat kami sedang asyik berkumpul disini? "
Vika merasa tidak nyaman.
"Tapi aku membawa bekal. Aku tidak akan meminta bekal milikmu. Tenang saja."
Anoki tetap ingin bergabung dengan mereka bertiga.
Saat Vika ingin berdiri, Asia memegang lengan dari temannya itu dan memberi isyarat untuk tenang terlebih dahulu. Vika mengerti dan kembali duduk setelah itu. Asia tidak keberatan jika hanya makan bersama. Sarah juga tidak terlalu memikirkan hal itu dan mengikuti apa yang Asia rasa. Sementara Vika yang awalnya keberatan itu, mulai sedikit menerima kehadiran Anoki karena persetujuan teman dekatnya. Anoki pun duduk di dekat mereka bertiga.
"Kalian mau ?"
Anoki menawarkan pada tiga gadis itu.
"Tidak perlu !"
Balas Vika ketus.
"Apa ini buatanmu ?"
Tanya Sarah.
"Ya. Aku menbuatnya sendiri."
Anoki membuka kotak bekalnya.
Mereka bertiga melihat isi dari kotak bekal milik Anoki tersebut. Makanan sederhana, namun memiliki bau yang sedap. Sarah penasaran akan rasanya. Begitu pula dengan Asia yang menikmati aroma dari makanan milik Anoki itu.
Asia dan Sarah mencicipi bekal yang dibawa oleh Anoki tersebut. Rasanya cukup lezat menurut mereka berdua. Sementara Vika masih melirik dua temannya sehabis mencicipi bekal milik Anoki tadi.
"Kamu tidak mau mencobanya Vika?"
Anoki menawarkan bekal makannya.
__ADS_1
"Hmm.. Tidak. Aku sudah kenyang."
Vika memalingkan wajah.
Vika masih merasa tidak menyukai kehadiran Anoki saat itu. Seperti mengganggu momen bersama teman dekatnya. Ia berharap Anoki hanya sekali ini saja dapat mengganggu momen penting bagi dirinya tersebut.
Jam pelajaran sedang berlangsung. Asia giat mengerjakan tugas-tugas yang telah diberi. Saat dirinya hampir selesai, tiba-tiba pena yang di pegangnya tak sengaja terjatuh. Asia membungkukkan badan untuk mengambil pena miliknya yang ada dibawah meja. Ketika pena itu telah didapatnya, Asia melihat diatas mejanya sudah ada sebuah lipatan kertas. Ia penasaran, lalu membuka lipatan kertas tersebut.
"Sepulang sekolah mau makan diluar bersamaku? Aku akan menunggumu di seberang jalan."
Begitulah isi dari lipatan kertas tersebut. Asia tidak tahu siapa yang menulisnya. Ia melihat sekitar. Menebak-nebak siapa orang yang memberi ini padanya.
"Apa aku harus mengikutinya? hmm ini juga mengingatkanku pada Jim."
Bisiknya.
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Para murid langsung membereskan buku-bukunya. Asia berjalan pulang bersama Sarah dan Vika. Ia masih ingat dengan ajakan tadi untuk makan diluar, tetapi Asia rasa dirinya tidak perlu mengikuti kemauan sang pengirim tersebut.
"Tidak mungkin juga Jim yang menulisnya kan?."
Pikirnya sembari menyusuri jalan.
Mereka bertiga berjalan melewati jalan yang biasa dilalui. Sampai pada akhirnya mereka pun harus berpisah jalan. Saling melambaikan tangan dan lanjut berjalan pulang kerumah masing-masing. Kini Asia berjalan sendiri menuju rumah. Belum sampai dirinya di tempat tujuan, seketika orang asing yang merupakan target yang dicarinya selama ini tampak melewati sebuah jalan.
"Itu bukannya dia? Aku harus mengejarnya!"
Gumam Asia sembari mulai berlari.
"Dia berhasil lolos lagi. Apa dia benar-benar tinggal di sekitar rumahku? Tapi dia baru dua kali kulihat selama ini."
Asia masih ragu akan orang asing tersebut.
Aksi larinya tadi membuat Asia begitu haus. Ia pun mampir ke minimarket terdekat. Setelah membayar minuman yang dibelinya, Asia keluar dari tempat tersebut. Baru saja membuka pintu minimarket, ia melihat seseorang tengah berada di seberang jalan.
Dia adalah Niko. Asia mulai keheranan, kenapa ia selalu bertemu Niko setiap keluar dari minimarket? Ini sungguh aneh menurutnya.
Niko bergerak menyebrang jalan. Asia yang melihat hal itu, langsung masuk kembali ke dalam dan bersembunyi dibalik rak-rak yang ada.
"Disekolah kami tidak ada mengobrol belakangan ini. Tepatnya usai kejadian tersebut sih. Dan juga entah kenapa aku tidak ingin menemuinya lagi diluar sekolah hmm."
Gumamnya selagi melirik gerak-gerik teman sekelasnya itu.
Niko masuk ke dalam minimarket itu. Ia mengambil sebuah minuman kaleng yang ada di kulkas. Asia memanfaatkan momen tersebut untuk berjalan keluar selagi tak terlihat olehnya. Setelah keluar dari minimarket, Asia langsung berlari menjauh.
Sudah dirasa jauh, dirinya kembali jalan seperti biasa. Beberapa langkah dirinya berjalan, didepannya sudah terlihat orang asing yang lagi dicarinya. Dia bergerak cepat seperti terburu-buru. Asia tanpa pikir panjang langsung mengejarnya.
"Ini begitu sulit! Dia lari begitu kencang! "
Asia berlari sekuat tenaga sebelum targetnya memasuki jalan lain. Ada sebuah jalan lain didekatnya saat ini. Asia tak mau menyia-nyiakan hal itu. Ia melepaskan tas sekolahnya yang dirasa menghambat geraknya. Jarak antar keduanya perlahan semakin dekat. Benar saja sesuai dugaan Asia, targetnya itu langsung memasuki jalan lain. Asia ikut memasuki jalan yang dirasa tak pernah dilewatinya tersebut.
__ADS_1
"Dia masih didepan mataku! Aku harus mendapatkannya !"
Larinya yang cepat tersebut membuatnya mulai kehilangan keseimbangan, langkahnya kakinya juga sudah tak kuat lagi. Asia jatuh tersungkur hingga menyebabkan luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Lagi-lagi aku gagal mendapatkannya."
Asia pasrah akan keadaan.
Keesokan harinya...
Asia terbaring diranjangnya dan tak sanggup untuk berjalan karena beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit saat digerakkan.
"Aku harus absen sekolah hari ini. Izinkan aku karena sakit ya. Surat menyusul nanti."
Tulis chat Asia pada Sarah dan Vika.
Usai mengirim chat pada teman dekatnya, Asia mengambil sebuah foto dalam tasnya. Ia menatapi foto tersebut dan merenungi kondisi dirinya saat ini.
----------
Sore harinya Sarah dan Vika datang menjenguk Asia. Mereka berdua menanyakan keadaan Asia saat ini. Tak lupa juga keduanya membawakan buah tangan untuk Asia.
"Terimakasih teman-teman."
"Sama-sama Asia. Semoga cepat sembuh ya. Lukamu sudah diobati semua?"
Tanya Sarah.
"Sudah. Hanya beberapa bagian tubuhku seperti tangan dan kaki sakit saat digerakkan."
Balas Asia.
"Semoga cepat sembuh Asia. Sekolah sepi tanpamu."
"Haha kamu ini. Nanti aku akan kembali bersekolah secepatnya."
Asia tersenyum pada mereka berdua dan meminta agar tidak perlu khawatir akan kondisinya saat ini. Setelah itu Sarah dan Vika pamit pulang. Ruangan kamar kembali sepi seperti sedia kala. Asia menarik selimutnya dan lanjut beristirahat.
Beberapa hari kemudian...
Tangan dan Kakinya sudah merasa baikan. serta luka yang telah diobati sebelumnya sudah lebih membaik. Akhirnya hari ini ia dapat kembali bersekolah.
Sesampainya disekolah, ia bertemu dengan Sarah dan Vika. Ini menjadi sebuah kejutan bagi dua teman dekatnya.
"Kamu sudah sembuh? Syukurlah !"
Vika mengucapkan rasa syukurnya. Begitu juga dengan Sarah yang merasa senang karena Asia telah kembali bersekolah.
Disamping itu saat jam pelajaran.
__ADS_1
"Sebaiknya aku harus menemuinya hari ini."
Gumam Asia memandang buku yang ada didepan matanya.