
Deringan alarm ponsel terdengar oleh Asia yang sekaligus membuatnya terbangun dari tidurnya. Hari ini merupakan hari libur. Jadi tak mengapa bila ia bangun lambat dari biasanya. Asia membuka gorden jendela dan menatap keluar. Hari tampak cerah sekali dan sepertinya ia bisa memulai pencariannya saat ini. Bergegas mandi lalu mempersiapkan diri untuk berangkat. Asia memilih berangkat sendiri. Ia tidak mau teman-temannya tau akan hal ini. Dan sekarang langkahnya pun dimulai.
Asia coba mencari ke sebuah gang yang tak jauh dari rumahnya. Sebab sebelumnya ia menemui orang yang merupakan target pencariannya melewati jalur tersebut. Hanya terdapat deretan rumah dan beberapa pertokoan yang sedang tutup. Ia sempat berpikir dua kali sebelum mengetuk beberapa pintu rumah yang berada di gang tersebut. Ketukan pintu yang dilakukan Asia hanya disambut oleh beberapa orang saja. Sisanya tidak merespon sama sekali. Sayangnya Asia masih belum menemukan orang itu. Para orang yang ditanyainya tadi tidak mengetahui orang yang ada didalam foto yang juga sempat ditunjukkan oleh Asia tersebut.
"Orang yang tinggal di gang itu tidak mengetahuinya. Berarti bisa jadi dia bukan warga sini kan? Tapi jalannya cepat sekali kemarin. Sampai-sampai aku kehilangan jejaknya."
Pencariannya berlanjut. Ia memutuskan untuk mencari ke tempat-tempat seperti kafe. Karena biasanya anak lelaki suka ngumpul di tempat seperti itu menurutnya. Asia mendatangi beberapa kafe yang ada di kota. Pencarian itu berlangsung hingga tengah hari.
Belum ada hasil dari pencariannya saat ini. Asia merasa lelah usai berjalan tanpa henti selama itu. Akhirnya ia beristirahat sejenak di sebuah restoran yang terletak di persimpangan jalan besar. Daerah sekitar restoran itu terlihat ramai karena merupakan titik keramaian di kota tersebut.
Asia menikmati minuman yang telah dipesan sebelumnya. Sambil memandang keadaan sekitar yang dipenuhi banyak orang lalu lalang serta suara bising kendaraan menambah ramainya suasana saat ini.
"Ramai sekali libur begini. Enaknya jalan sama Sarah dan Vika sih. Tapi, aku tidak mau juga mereka berdua tau tentang hal ini. Huft."
Gumamnya dalam hati.
Saat tengah rehat dari pencariannya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Asia menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata yang memanggil dirinya tadi adalah Niko. teman sekelasnya. Niko yang mengenakan kemeja lengan panjang serta menampakkan baju kaosnya itu langsung duduk di dekat Asia yang lagi sendirian tersebut. Tak menyangka bahwa mereka bisa bertemu kala itu. Niko menanyakan kabar Asia. Asia merespon serta balik bertanya tentang kabar temannya itu. Lalu mereka pun berbincang.
"Kamu disini ngapain? Tumben sendiri? Biasanya sama Sarah dan Vika bukan."
tanya Niko.
"Ehm.. Aku hanya mencari sesuatu. Ini disuruh oleh ibuku. Makanya aku sendiri saja perginya."
Asia berusaha untuk mencari alasan.
"Jadi ingin berbelanja ya. Apakah yang kamu cari sudah ketemu?"
"Belum. Setelah ini aku akan mencarinya."
Jawab Asia.
"Bagaimana kalau aku temani kamu selagi berbelanja? Gapapa kan?"
Niko langsung menawarkan yang sekaligus membuat Asia bingung harus melakukan apa.
"Bagaimana ini?! Dia ingin menemaniku?! Apa aku harus menolaknya? Baiklah.. Dengan cara baik-baik saja."
Mendengar perkataan Niko sebelumnya, Asia merespon dengan menolak ajakannya. Ia ingin pergi sendirian. Tetapi, Niko tetap saja bersikeras untuk menemani Asia selagi berjalan-jalan. Bingung kembali dirasakannya. Apa yang harus dilakukan Asia untuk menolaknya lagi? Ia tidak bisa menolak dengan cara kasar pada teman sekelasnya yang juga pernah menolongnya saat disekolah kemarin.
"Kamu tidak ada kegiatan lain kah? Seperti dengan teman-temanmu? Kan gak enak kalau kamu tinggalkan mereka."
__ADS_1
Asia mencoba untuk menolak secara halus.
"Aku sendirian kok kesini."
Perkataan itu sekaligus membuat Asia terdiam dan tak tau harus berkata apa lagi untuk menolaknya. Akhirnya Asia dan Niko pun jalan bareng.
"Bagaimana aku bisa lanjutkan pencarian targetku, kalau Niko bersamaku saat ini."
Gumamnya seraya melirik ke Niko.
"Ada apa Asia?"
Seketika Niko menoleh ke arah Asia yang membuatnya merasa malu.
"Tidak...Ttidak ada apa-apa."
Asia memalingkan muka.
Mereka terus berjalan sampai Asia lupa barang apa yang bisa menjadi alasannya untuk datang ke daerah ini.
"Barang apa yang kamu cari sebenarnya?"
"Oh iya. aku mencari kue ini"
Asia menunjukkan gambar kue yang ada di ponselnya.
"Jadi kamu mencari itu ya. Padahal tokonya sudah kita lewati tadi. Apa kamu tak sadar?"
"Benarkah? Sebaiknya kita kesana cepat."
Asia merasa ingin cepat mengakhiri ini.
Niko menjadi penghalang untuk aksi pencarian hari ini. Asia harus mengakhiri moment jalan bersama Niko saat ini. Setelah kue itu terbeli, Asia pamit pulang dahulu pada Niko. Belum sempat berkata-kata, Asia langsung lari meninggalkan temannya itu sendiri didepan toko kue tersebut.
"Akhirnya! aku bebas. Sebaiknya aku lanjut mencari orang itu."
Asia berjalan ke beberapa tempat berikutnya. Perjalanan yang ditempuh sudah memakan waktu banyak hari ini. Jam 5 sore adalah waktunya Asia untuk menghentikan aksi pencarian targetnya itu. Penat telah dirasakannya dan ia memilih duduk sebentar disebuah bangku taman sebelum pulang.
Pencarian yang mulanya dirasa tidak berat kini sudah berbeda. Tidak seperti ekspektasinya. Memangku sebuah kotak berisi kue dan menatapnya membuat dirinya sekaligus merasa lapar. Diambilnya beberapa potong kue untuk mengganjal laparnya.
"Melelahkan. Ekspektasi tak sesuai dengan realita sekarang ini. Aku pikir ini bakal mudah. tapi kenyataannya... Huft."
__ADS_1
Asia menutup kotak kue itu, lalu meluruskan kedua kakinya.
Ditaman terlihat orang-orang pada berkumpul menikmati suasana yang begitu nyaman. Pohon-pohon rindang serta adanya angin sepoi-sepoi tentu membuat keadaan semakin enak di nikmati. Saat sedang menikmati suasana sore itu dengan memejamkan mata, terasa olehnya ada sesuatu telah mengenai kakinya yang lagi diluruskannya tadi. Asia melihat ke samping. seorang anak kecil sudah tersungkur didekatnya. Dengan sigap Asia membantu anak itu untuk berdiri kembali. Tangisan yang dikeluarkan oleh anak kecil itu membuat Asia merasa bersalah dan panik.
"Maaf ya dek. Kakak gak lihat kamu lewat sini. Maaf ya."
Asia berusaha membujuki anak kecil tersebut.
Tak lama datang seseorang menghampiri Asia dan anak kecil itu. Lalu anak itu digendong olehnya. Seorang lelaki dengan fisik tinggi serta memakai masker itu meminta maaf pada Asia.
"Maaf ya."
"Saya juga minta maaf karena tak melihat dia lari didepan saya tadi."
Asia menundukkan kepala sekejap.
"Ya dia juga nakal ini. Jadi saya juga minta maaf karena lengah mengawasinya hingga mengganggu kamu."
Kemudian lelaki itu permisi dari hadapan Asia dan berjalan jauh meninggalkannya. Asia hanya tertawa kecil melihat lelaki itu membawa anak kecil tadi dengan gaya gendongan yang tak biasa.
Hari sudah semakin petang, Asia pun segera pulang kerumah sebelum malam tiba.
Sampainya dirumah, ia langsung duduk di meja belajarnya. Lalu menghidupkan ponsel serta meletakkan kue yang dibelinya tadi diatas meja belajarnya. Terlihat ada chat dari teman-temannya. Notif tampak ramai dengan obrolan grup (chat group) yang membicarakan sesuatu. Asia membuka chat dari beberapa temannya.
"Asia! Coba lihat di grup kelas. Ada sesuatu yang menarik!"
Tulis Vika.
Asia penasaran apa yang dikatakan oleh Vika. Kemudian ia membuka obrolan grup di sebuah media sosialnya. Asia kaget dengan isi obrolan itu.
"Hah?! Ini...Ini...Tidak mungkin."
Obrolan grup berisi pembahasan tentang 2 orang anak sekolah yang sedang jalan bersama hari ini. Anak sekolah itu ternyata adalah Asia dan Niko. Asia terkejut melihat sebuah foto yang dikirim oleh salah seorang anak kelasnya dan hal itu juga menjadi dasar dari ramainya obrolan grup tersebut. Ia hanya tercengang bagaimana bisa dirinya tertangkap kamera saat jalan siang tadi.
Perasaannya tak bisa dijelaskan saat melihat obrolan grup itu. Yang jelas Asia sungguh tak menyangka dirinya ketahuan jalan berduaan dengan Niko.
Sebuah notif chat baru muncul. Asia langsung melihatnya. Chat itu dari Niko.
"Aaargh kenapa pada bicarain hal itu?! Aku hanya berjalan-jalan saja bisa menjadi gosip di kelas! Dan kini Niko malah mengechatku."
Asia mencoba untuk membantah pemikiran mereka tentang soal jadian dari foto yang dikirim tersebut. Namun, bantahannya tak membuat teman-teman sekelasnya mudah percaya begitu saja. Melihat ketidak- percayaan teman sekelasnya, Asia langsung mematikan ponselnya dan beranjak tidur dalam perasaan kesal.
__ADS_1