
Sepulang sekolah, Asia memutuskan untuk pulang sendiri kali ini. Sarah dan Vika awalnya tak setuju, namun Asia mencari alasan lain agar mereka berdua menerima permintaannya.
"Maafkan aku teman-teman. Aku harus pergi ke suatu tempat."
Asia berjalan menuju suatu tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya. Bangunan tua serta orang yang selalu ada di lokasi itu. Ya.. Dia akan menghampiri seorang Jim. Asia naik keatas bangunan tersebut, dan akhirnya bertemu dengan lelaki itu. Jim tampak melakukan hal seperti biasanya, yaitu duduk sambil memandang suasana sekitar. Lelaki itu mengayunkan kakinya dan sadar bahwa Asia sudah ada tepat dibelakangnya. Menyadari Asia berdiri di belakangnya, Jim tak lupa menegur gadis tersebut.
"Hai.. Sudah lama tidak bertemu. Asia."
"Ya. Kamu menyadari keberadaanku ternyata."
Ucap Asia.
"Ada apa? Apa kamu punya masalah lagi ? "
Tanya Jim padanya.
"Aku datang kesini ingin mengatakan sesuatu padamu."
Ujar Asia dengan menundukkan kepala.
"Apa yang ingin kamu katakan padaku?"
Tanya Jim yang ingin tau.
Angin berhembus sebelum Asia melanjutkan pembicaraan. Rambutnya tergerai sebab terbawa angin. Asia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi dirinya merasa begitu tertahan karena suatu hal. Tak enak hati dirasakan olehnya. Jim menunggu Asia yang ingin menyampaikan sesuatu.
Tertunduk dan menatap kebawah sambil mengepal kedua tangannya dengan sedikit gemetar.
"Kamu kenapa? Katakan apa yang ingin kamu sampaikan. Aku ingin tahu apa itu."
Jim bertanya sembari menunggu.
"Baiklah. Aku akan katakan sekarang. Maaf sebelumnya, aku ingin.. menyudahi pencarianku ini."
Kalimat yang dikatakan oleh Asia tadi, membuat Jim sedikit kurang mengerti. Lalu Asia kembali memperjelasnya.
"Aku ingin berhenti. Kamu mengerti kan? Maafkan aku. Tapi aku merasa tidak sanggup untuk menjalani tugas ini seorang diri. Terlebih Aku seorang perempuan dan targetku seorang lelaki. Aku sempat menemui hambatan saat mengincar orang yang kucari. Jadi maafkan aku."
Asia membungkukkan badan pertanda meminta maaf terhadap Jim.
Jim masih terdiam setelah Asia mengatakan hal tersebut. Asia menegakkan badan dan memperhatikan Jim yang ada dihadapannya.
Ia memikirkan bagaimana seorang Jim menanggapi perkataan yang disampaikannya tadi. Tidak ada respon yang diberikan oleh Jim, membuat Asia merasa tak enak hati. Dia memanggil Jim beberapa kali. Namun, masih tidak ada respon darinya. Apakah ini menyakiti hati Jim? Asia bingung dalam perasaannya yang menyebalkan ini.
"Maaf Jim. Bukan Maksudku untuk...."
Belum selesai Asia berbicara, Jim mengangkat sebelah tangan ibarat memberi tanda untuk berhenti. Asia memperhatikan itu. Jim mulai merespon.
"Sudah. Tidak apa-apa Asia. Seharusnya aku tidak menyuruhmu untuk melakukan hal ini. Maaf sudah membuatmu mengalami kesulitan dalam mengemban tugas ini."
Jim berucap sembari tersenyum.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja ?"
Tanya Asia tak begitu yakin.
Jim menganggukkan kepala. Lalu ia mengayunkan kembali kedua kakinya sembari menyuruh Asia untuk pulang. Asia menuruti perkataan lelaki itu. Tak lupa Asia berpamitan sebelum pulang.
"Hati-hati dijalan Asia dan Terimakasih ya."
Jim membalas pamitan Asia.
Melangkah menjauhi bangunan tua itu. Seperti kali terakhir dirinya berada di lokasi tersebut. Kini Asia tidak lagi terikat oleh tugas seperti itu. Bebannya sedikit hilang walau masih terpikir dibenaknya tentang seorang Jim. Dirinya berharap lelaki itu bisa menerima permintaan maafnya serta ungkapan yang telah ia sampaikan sebelumnya. Asia berjalan pulang dengan perasaan yang tidak begitu jelas arahnya.
----------
Di sekolah...
Asia, Sarah, dan Vika mengobrol didalam kelas saat jam kosong. Mereka memanfaatkan momen itu untuk berkumpul membicarakan suatu hal. Sarah tampak senang, karena kabarnya dia mendapatkan sebuah hadiah dari pacarnya tersebut. Ya Sarah sudah berpacaran belum lama ini. Sedangkan temannya yang satu lagi yaitu Vika sedang dekat-dekatnya dengan Fred. Lelaki idamannya selama ini. Mereka sudah saling bertukar nomor. Pertanda semakin dekat pula hubungan antar keduanya. Asia memberi ucapan selamat pada dua teman dekatnya itu. Lalu Vika sempat bertanya tentang lelaki yang disukai Asia. Sarah juga penasaran walau tidak se-antusias Vika.
"Maaf. Aku belum memiliki orang yang begitu spesial saat ini."
"Sekarang tinggal kamu. Masa temanku satu ini masih belum memiliki orang yang spesial sih?"
Ucap Vika.
"Aku sebenarnya penasaran. Tapi kuharap kamu bisa menemukannya suatu hari nanti. Tenang saja Asia."
Sarah menepuk pundak temannya itu.
"Aku punya ide! Bagaimana kalau aku carikan jodoh buatmu? Pasti ini menarik bukan."
"Ta..Tapi Aku.."
"Sudah. Aku akan menemukannya untukmu !"
Vika memegang kedua pundak Asia selagi meyakinkannya.
Saat pulang sekolah, Asia berjalan dengan Sarah dan Vika. Seperti biasa mereka pulang bersama hingga sampai dirumah masing-masing. Asia merasa lelah dan ingin langsung tidur saja.
Keesokan harinya. Pagi begitu ramai, tepatnya didepan sebuah kelas. Asia terhenti seketika melihat keramaian tersebut. Ia tidak mengerti kenapa pagi ini begitu ramai sekali orang didepan kelasnya. Saat bel masuk berbunyi, para siswa yang berkerumunan itu langsung membubarkan diri dan masuk ke kelas masing-masing. Asia lanjut berjalan setelah itu.
"Kenapa tadi ramai sekali didepan kelasku ini? Apa ada sesuatu ?"
Asia masuk kedalam kelas.
Para murid dikelasnya tampak seperti biasa. tidak ada hal aneh terlihat dari tampang mereka. Asia duduk lalu mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Setelah itu, dirinya berpikir untuk menanyakan tentang hal tadi kepada teman dekatnya Sarah dan Vika.
Jam istirahat, Asia menghampiri Sarah dan Vika yang lagi mempersiapkan bekal.
"Hei.. Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Nanti. Kita ke tempat biasa dulu."
__ADS_1
Balas Vika.
Mereka bertiga berjalan menuju tempat dimana mereka biasa memakan bekal. ketiganya duduk lalu Asia kembali bertanya.
"Jadi Aku ingin tanya. Soal tadi pagi itu ada apa ya? Kok ramai sekali murid-murid didepan kelas kita?"
"Oh itu. Kamu mau tau?"
Vika balik bertanya.
"Iya tentu. Jadi kenapa tadi pagi ?"
"Lihat didepanmu Asia."
Ucap Vika sambil menunjuk.
Asia menoleh ke arah depan. Terlihat beberapa murid laki-laki melangkah ke arah mereka bertiga. Asia tidak tahu apa maksudnya. Sesampainya mereka di hadapan dirinya serta temannya itu, membuat Asia merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Murid laki-laki itu berdiri tegap dan menatap ke arah Asia yang lagi duduk sembari memangku kotak bekal miliknya.
"Ini ada apa ya? Kok pada kesini? Ada perlu sesuatu ?"
Tanya Asia pada para murid laki-laki itu.
"Ya. Mereka datang kesini karena aku menyuruhnya."
Kata Vika sambil melirik Asia yang ada disebelahnya.
"Apa maksudmu ini Vika?"
"Vika membuat pemberitahuan tentang dirimu lebih tepatnya perjodohan. Jadi seleksi dilakukan pagi tadi sebelum bel masuk berbunyi. Bagi yang sudah dinyatakan lolos, diharapkan datang ke tempat ini Asia. Jadi salah satu diantara mereka ini akan menjadi jodohmu nanti."
Sarah menjelaskan pada Asia.
Asia terkejut dengan penjelasan Sarah. Kenapa Vika niat melakukan hal seperti ini? Demi temannya mendapatkan jodoh, ia bahkan melakukan hal semacam ini? Asia tidak habis pikir kenapa temannya itu mau melakukannya. Padahal dirinya masih merasa belum siap dan belum ada keinginan untuk memiliki pacar saat ini.
"Vika! Aku kan belum.."
"Tunggu sebentar. Aku ingin menyeleksi mereka dulu. Ini demi kebaikanmu."
Vika memotong perkataan Asia.
"Tapi..."
"Sudah. Ini demi kebaikanmu juga. Aku sebagai teman harus membantumu."
Asia tidak tau lagi bagaimana melawan perkataan temannya itu. Tak berapa lama Asia pergi meninggalkan Sarah dan Vika di lokasi tersebut.
"Vika, bagaimana ini ? Apa dia baik-baik saja ?"
Tanya Sarah.
"Ya. Dia akan baik-baik saja. Kamu tau kan tentang rencana ku ini ?"
__ADS_1
Balas Vika.
Sarah menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Vika untuk melanjutkannya.