Secret Face

Secret Face
Chapter 7


__ADS_3

Mempersiapkan bekal, lalu berangkat ke sekolah. Asia melintasi jalan yang selalu dilewatinya. Sekali dirinya coba menoleh ke arah sebuah tempat yang sudah tak asing baginya itu, ia mengingat kejadian kemarin. Mungkin ini baru sehari setelah momen tersebut terjadi. Jadi Asia menganggap ia butuh waktu untuk terbiasa dengan suasana kali ini.


Di sekolah...


Asia bertemu dengan Vika dan Sarah. Mereka mulai berbincang seputar tugas. Tak berapa lama berbincang-bincang, bel pertanda masuk pun berbunyi. Seluruh murid duduk dibangku masing-masing dan mulai menjalani kegiatan belajar.


Berjam-jam mereka lalui hingga jam istirahat tiba. Asia, Vika, dan Sarah berkumpul seperti biasanya untuk makan bersama. Di tempat biasa, mereka menikmati bekal sambil mengobrol. Saat itu juga, Vika menanyakan sesuatu pada Asia.


"Asia, aku mau tanya padamu."


Vika coba bertanya.


"Tanya apa ?"


"Misalnya, kalau kamu dipertemukan dengan seseorang yang menyukaimu. Bagaimana reaksimu? Apa kamu akan menerimanya?"


Tanya Vika.


"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin memikirkannya."


Jawab Asia seolah-olah tidak peduli.


"Eh.. Kenapa begitu?"


"Aku tahu maksudmu. Ini berkaitan dengan soal kemarin juga kan?"


Balas Asia dengan jengkel.


"Tidak Asia. Lagian mereka yang datang saat kita makan siang bersama itu juga tidak ada yang lolos penilaianku."


Kata Vika.


"Benarkah? Aneh sekali. Untuk apa juga kamu buat acara semacam itu. Huft.. Ya sudah anggap saja itu jawabanku. Kalian tahu kan? saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan hal seperti itu."


Ungkap Asia sekaligus mengakhiri obrolan mereka saat itu.


Mereka bertiga kembali masuk ke kelas setelah jam istirahat usai.


Asia mengerjakan soal yang ada di bukunya. Namun, sesekali ia terhenti sebab memikirkan sesuatu. Dirinya tampak menggelengkan kepala bila gerakan tangannya berhenti tiba-tiba. Matanya terpejam beberapa kali seakan ingin kembali fokus pada kegiatan belajarnya.


"Ayo fokus !"


Asia menekan pulpen yang berada di tangannya.

__ADS_1


Jarum jam terus berputar. Hingga penghujung waktu sekolah berakhir.


Asia pulang bersama kedua teman dekatnya yaitu Sarah dan Vika. Mereka berjalan sambil bersenda gurau.


Dan ketika baru menempuh setengah jalan, Sarah dan Vika berpamitan dahulu pada Asia.


"Maaf Asia. Aku dapat pesan dari ibuku untuk pergi ke rumah saudara sekarang juga. Aku pamit dulu ya."


Vika pergi meninggalkan Asia.


Dan begitu juga Sarah yang ikut berpamitan setelahnya dengan alasan ingin pergi ke sebuah toko mencari sesuatu.


"Aku pergi dulu ya Asia !"


"Tapi Sarah.. Aku kan bisa temani kamu."


Asia berupaya ingin menemaninya.


"Maaf Asia. Ini mendadak sekali. Aku harus cepat. Sampai jumpa besok."


Sarah pun pergi meninggalkan Asia seorang diri.


Melihat kepergian mereka yang secara tiba-tiba itu, tentu saja membuat Asia keheranan. Tetapi jika itu benar adanya, ia rasa tidak perlu terlalu memikirkannya. Kemudian Asia lanjut berjalan pulang.


Palang kereta membatasi pergerakannya sejenak. Sirene berbunyi dengan cukup keras. Dan Asia hanya diam memandang jalan setapak yang ada didepannya. Laluan kereta api tidak menganggu pandangannya. Asia melamun hingga tidak menyadari bahwa kereta sudah berlalu.


Jalanan sepi seperti biasanya. Suasana begitu tenang dalam kesunyian kala itu. Lalu, Asia masih terpaku tanpa reaksi.


"Aku...Tidak tahu lagi."


Gumam Asia sejenak.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang dari belakang. Suara memanggil. Ya.. memanggil namanya, "Asia". Mendengar panggilan itu, Asia menoleh dan memutar badannya perlahan ke arah belakang.


Terlihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Mengenakan seragam sekolah yang serupa dengan sekolahnya, Asia menatap hingga orang itu berada di dekatnya. Seorang laki-laki yang satu sekolah dengannya datang menghampiri secara tiba-tiba.


"Apa kabar ?"


Asia diam tanpa berkata apapun di saat lelaki itu menanyakan kabar.


"Hei. Kamu baik-baik saja kan ?"


Tanyanya kembali pada Asia.

__ADS_1


Respon dari seorang Asia hanya mengangguk saja tiada berucap.


"Baguslah kalau kamu baik-baik saja. Dan sekarang kamu mau pulang benar ?"


Asia kembali mengangguk.


"Hmm. Kenapa kamu tidak ngomong ? Apa ada yang salah ? Atau karena..."


"Tidak Niko. Tidak ada apa-apa. Aku pulang dulu. Sampai jumpa."


Asia memotong ucapannya, lalu pergi dari situ.


Lelaki yang barusan ditemuinya adalah Niko. Teman sekolahnya dan sekelas dengan dirinya. Asia masih kurang menyukai sosok lelaki itu. Terlebih kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.


Kini Asia berjalan menuju rumah. Jalanan yang dilaluinya tak asing. Dan yang lebih tak asingnya lagi adalah sebuah bangunan tua yang berada di dekat sana. Asia menoleh ke arah dimana bangunan tua itu berada sembari berjalan. Ilalang yang menjulang tinggi menutup sebagian bentuk bangunan tersebut dari kejauhan. Sudah menjauh dari kawasan itu. Asia masih terpikir akan seseorang. Beberapa waktu telah dihabiskannya bersama orang yang bernama Jim. Walau tak sepenuhnya, ia merasa Jim sudah berpengaruh dalam hidupnya. Hal itu terus terbayang di kepalanya hingga sampai di tempat kediamannya.


Di rumah, Asia berbaring dengan seragam sekolah yang masih dikenakannya. Memegang dahinya dan masih berpikir mengenai Jim serta momen-moment kebersamaan antar mereka berdua.


"Apakah ini sudah benar ? Apa yang ku lakukan ini adalah jalan terbaik ? Hmm.. Sepertinya sudah."


Memejamkan kedua mata, lalu mencoba hanyut dalam keheningan ruangan kamar.


Tetapi sesaat kemudian, Keheningan itu pecah di sebabkan oleh suara notifikasi ponsel milik Asia. Bangun dan mengecek ponsel. Sebuah pesan masuk dari temannya, Sarah dan Vika.


"Eh ?! Vika sudah jadian ? Mereka cepat sekali dalam Hal menggandeng pria."


Sebuah pesan pemberitahuan dari Vika yang menyatakan bahwa dirinya sudah resmi berpacaran dengan kekasih barunya yaitu Fred. Sarah menyambut dengan bahagia dan mengirim ucapan selamat padanya. Dan Asia pun turut ikut mengirim ucapan selamat pada temannya itu.


"Vika sudah jadian. Dan Sarah sudah dekat dengan orang yang di sukainya. Mereka benar-benar niat dalam hal ini."


Ucap Asia sambil menatap layar ponselnya.


Asia bergegas membersihkan diri. lalu sesudah itu, ia duduk di tepi ranjang.


Asia menghidupkan kembali ponselnya dan melihat sosial medianya. Ia melihat sebuah postingan yang menarik perhatiannya. Postingan dari Vika beberapa menit lalu. Terlihat temannya bersama sang kekasih begitu mesra. Hal ini sedikit membuat Asia luluh.


"Mereka mesra sekali. Padahal baru jadian. Uhm Manisnya."


Senyum Asia.


Setelah itu, Asia mematikan ponselnya dan berkaca. Memandang dirinya yang terpantul pada cermin tersebut. Ia berpikir tentang dirinya.


"Apa aku bisa seperti mereka ? Tapi aku tidak terlalu paham soal hubungan spesial. Duh ! sekarang aku yang malah penasaran sama orang yang kelak akan menjadi kekasihku. Huft !"

__ADS_1


Asia menghela nafas selagi memikirkan tentang dirinya itu. Keromantisan Vika ternyata membawa pengaruh padanya.


__ADS_2