Secret Face

Secret Face
Chapter 2


__ADS_3

Sebuah foto tengah ditatapi oleh Asia. Seseorang yang dirasa begitu sebaya dengannya, dan juga orang yang ada di foto tersebut akan dicarinya ke berbagai penjuru kota. Asia berbaring setelah menatapi foto itu. Ia berpikir harus dari mana ia memulai pencariannya.


"Dari mana ya aku harus memulainya? Apa sekolah? Atau tempat nongkrong seperti kafe?."


Memikirkan hal itu memakan waktu. Dan Asia akhirnya memutuskan untuk memulai pencariannya ke tempat seperti kafe atau tempat kumpul lainnya. Kini ia mesti tidur agar tidak telat ke sekolah besok.


Keesokan paginya...


Asia bergegas menuju sekolah setelah sarapan. Tak lupa ia membawa bekal untuk jam istirahat nanti. Dijalan ia bertemu dengan Sarah dan Vika. Kedua temannya itu tinggal berdekatan satu sama lain. Jadi wajar saja bila mereka pergi dan pulang selalu bersamaan (satu jalan). Mereka melintasi jalur yang biasa dilewati Asia, yaitu melewati rel kereta. Dijalan mereka asik mengobrol sembari menunggu kereta melintas. Seketika Asia terdiam usai tersadarkan akan tempat ia berada saat ini. Ia mengingat janjinya dengan Jim si pria asing kemarin. Setelah kereta melintas, palang pembatas pun dibuka. Vika menepuk pundak Asia yang membuatnya tersadar setelahnya. Mereka bertiga pun lanjut berjalan hingga tiba di sekolah.


"Bagaimana soal hukuman semalam? Apakah sudah selesai semua?"


Tanya Sarah.


"Tenang saja. Aku sudah menyelesaikannya sebelum pulang kemarin."


Jawab Asia dengan senyum.


Jam pelajaran berlangsung dengan lancar seperti biasa. Kini pikiran Asia sudah tidak dihantui lagi seperti kemarin.


Jam istirahat tiba. Asia bergabung bersama dua teman dekatnya Vika dan Sarah untuk makan bekal bersama. Mereka makan di tempat yang sama seperti sebelumnya (dibawah pohon yang ada dihalaman sekolah) yang merupakan tempat dimana mereka biasanya makan bersama. Disela menyantap bekal, mereka mengobrol berbagai hal. Asia tampak menikmati moment kumpul-kumpul tersebut. Begitu pula dengan dua temannya.


"Hey kemarin aku bertemu dengan pemain sepakbola idamanku si Fred! Permainannya kemarin keren! Dan dia juga tak kalah keren!"


Vika bercerita tentang seseorang yang di idamkannya.


"Kamu begitu mengidamkannya ya. Haha memang dia itu begitu keren! Apalagi dia pemain inti dari tim sekolahnya."


Sarah melanjutkan.


Asia hanya diam menikmati obrolan mereka seputar orang yang disukai. Vika begitu menyukai anak sekolah sebelah yang bernama Fred. Dan tentunya Sarah juga memiliki orang yang disukainya.


"Bagaimana denganmu Sarah? Apa kamu sudah mendekati anak itu?"


Vika tanya dengan penasaran.


"Aku sudah mendapatkan kontaknya hehe."


Sarah tersenyum malu.


"Benarkah?! Kamu cepat banget geraknya. beritahu aku caranya dong. Aku masih malu-malu nih dekatin dia."


Vika memegang sebelah tangan Sarah layaknya memohon.


Melihat ekspresi Vika memohon seperti itu, Sarah coba mengalihkannya ke Asia sejenak. Dan bertanya soal orang yang disukainya. Apakah Asia memiliki orang yang disukainya? Timbul rasa penasaran pada dua orang temannya itu.


"Bagaimana denganmu Asia? Apakah kamu memiliki orang yang kamu sukai ?"

__ADS_1


Sarah mulai bertanya.


"Oh ya! kami belum tau orang yang kamu sukai. Selama ini kami selalu menceritakan orang yang kami sukai. Bagaimana denganmu? Apa kamu ada menyukai seseorang? Yang mana dia? Beritahu kami dong."


Lanjut Vika ingin tau.


Asia terdiam, lantaran dia tidak memiliki orang yang begitu spesial saat ini. Respon yang diberikan oleh Asia hanya menggelengkan kepala pertanda ia belum memiliki orang yang disukainya saat ini.


Sarah menghela nafas melihat respon Asia. Sementara Vika tampak menepuk jidatnya.


"Bagaimana bisa kamu masih tidak memiliki orang yang kamu sukai? Masa tidak ada?"


Vika tidak yakin dengan respon Asia.


"Ya aku belum memiliki orang yang kusukai saat ini. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu."


jawab Asia.


"Sudah.. Sudah. Mungkin saat ini dia masih belum bisa menentukan pilihannya. Tapi aku rasa ada banyak orang yang menyukai Asia diluar sana. Atau di sekolah ini bisa jadi kan? Kita hanya tidak tau saja saat ini."


Kata Sarah pada Vika sekaligus menyudahi pertanyaan Vika tadi.


"Eh?! Tidak..Tidak!"


Asia coba membantah perkataan terakhir Sarah.


Tawa Sarah ketika melihat reaksi Asia tadi.


Setelah mengobrol yang begitu cukup lama, mereka bertiga pun kembali masuk ke kelas.


Ditengah jam pelajaran berikutnya, Asia merasa lelah mencatat pelajaran yang terpampang di papan tulis. Ia mengistirahatkan jari-jarinya sejenak setelah lama menulis. Menyandarkan kepala diatas meja sambil menatap keluar jendela. Langit begitu cerah serta angin sepoi-sepoi menambah suasana tenang kala itu. Asia begitu menyukai ketenangan. Ia merasa ingin hanyut dalam ketenangan yang dialaminya saat ini. Apa yang diinginkannya benar-benar terjadi. Ia hanyut dalam ketenangan dengan tertidur pulas yang juga membawanya hingga waktu sekolah selesai.


Percikan air terasa oleh Asia. Membuka mata dengan perlahan lalu terlihatlah dua orang didepannya, Tak lain adalah Sarah dan Vika.


Ia seperti orang kebingungan tak tau apa yang terjadi. Vika memercikkan air ke wajah Asia beberapa kali. Asia sadar sepenuhnya lalu bertanya apa yang telah terjadi.


"Kamu itu sudah tertidur lama sekali Asia. lihat sekarang sudah jam berapa?"


Ucap Sarah pada Asia.


"Hah?! Jadi aku tertidur selama itu? Lantas bagaimana dengan pelajaran sebelumnya? Apakah ada guru yang mengetahuiku tengah tertidur tadi?"


Asia mulai panik.


"Tadi kamu sempat dihalangi oleh murid didepanmu. Berterima kasihlah padanya. Jika ia tidak menutupi keberadaanmu yang ada dibelakangnya, bisa-bisa kamu dapat hukuman lagi."


Kata Vika sambil menunjuk tempat duduk orang yang menutupi keberadaan Asia tadi.

__ADS_1


"Baiklah.. Aku akan berterima kasih sekali padanya. Tapi tidak ada hal-hal penting lainnya kan tadi?"


Tanya Asia sekali lagi.


"Tidak.. Dari tadi hanya mendengar penjelasan guru saja dan mencatat sesekali. ini kupinjamkan catatanku. Besok kembalikan ya."


Vika memberikan buku catatannya pada Asia.


Asia berterima kasih pada Vika. Lalu ia memutuskan untuk mencari anak yang menolongnya tadi bersama dua temannya itu.


Sesampainya di gerbang sekolah, Asia bertemu dengan orang yang menolongnya. Dia adalah Niko. Asia menghampirinya lalu mengucapkan terima kasih padanya. Niko awalnya sempat bingung, lalu ia mengerti maksud ucapan terima kasih dari Asia setelah Sarah memberitahu alasan ia berterima kasih barusan.


"Ya sama-sama. Lain kali jangan tertidur lagi saat masih jam pelajaran ya."


Kata Niko diselipi senyuman.


Asia merasa tertolong karenanya. Kemudian mereka bertiga pun pamit pulang dahulu pada Niko.


"Hati-hati dijalan!"


Niko melambaikan tangan.


"Niko sepertinya suka samamu."


Kata Vika sambil menyenggol Asia.


"Hah?! Kami hanya teman. Tidak lebih."


Bantah Asia.


Sarah hanya tertawa melihat kedua temannya itu. Hingga tak terasa mereka sudah harus berpisah jalan. Sarah dan Vika masih satu jalan, sementara Asia melewati jalan yang berbeda. Sekarang Asia jalan sendiri. Ia memandang jalan yang ada didepannya. Hanya terlihat beberapa orang lalu lalang. Saat ia sudah mendekati rumah, tiba-tiba ia melihat seseorang yang dirasa seperti pernah nampak sebelumnya. Orang yang dilihatnya itu langsung berjalan memasuki sebuah gang kecil. Asia coba mengikuti, namun orang itu sudah tidak tampak lagi.


"Kayak pernah lihat."


Gumamnya dalam hati.


Sampainya dirumah, Asia langsung merebahkan badannya di ranjang. Masih terpikir olehnya tentang orang yang dilihatnya tadi. Asia coba membuka tas miliknya dan mengambil sesuatu didalamnya.


Sebuah foto yang pernah diberikan Jim. Foto itu sungguh membuatnya tak menyangka. Bahwa orang yang dilihatnya tadi sama persis dengan foto yang dipegangnya kini.


"Aku tidak menyangka bahwa dia sudah kutemukan tadi?! Apakah dia tinggal di sekitar sini?"


Asia merasa pencarian ini tidak begitu berat. Jadi ia memilih untuk mencari targetnya tersebut besok.


"Hari ini aku tidak menelusurinya lebih jauh. Jadi aku akan mencarinya lagi besok."


Katanya dengan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2