
Hari ini akan menjadi hari yang paling bahagia dalam hidup seorang perempuan bernama Naya Aldilla Ibra, dia adalah seorang gadis 25 tahun berparas cantik, dengan postur tubuh tinggi langsing dan kulit yang putih bersih.
Ayah dan Ibunya telah bercerai dan saat ini anak bungsu dari dua bersaudara itu tinggal bersama sang ayah.
Di sebuah kamar pengantin naya sedang dipersiapkan oleh Professional Makeup Artis sambil ditemani ibu dan kakaknya yang sedang duduk di sofa dekat samping tempat tidur.
“itu gak usah pake blush on lagi deh, udah merah banget tu pipi” goda Celly kakak nya.
"anak ibu cantik banget sihh" puji ibunya
“hahaha..aku seneng banget hari ini bu.. Kak” jawab naya kepada ibu dan kakaknya sembari menepuk-nepuk pahanya kegirangan.
“jangan gerak dong say lagi di tancap nih” tegur makeup artis nya.
“iya maaf om” jawab naya polos.
“om..om, kapan gue nikahin tante lu?. udah diem deh” balas makeup artis itu kesal.
karena kebetulan makeup artis naya seorang pria setengah jadi.
Melihat tingkah naya menggoda tukang riasnya Celly dan ibunya tertawa lepas, kemudian celly berdiri dan memegang bahu naya yang sedang duduk di meja riasnya.
“kamu cantik banget nay, Bima gak salah pilih” ucap Celly kagum kepada adiknya.
“makasih ya kak karena selalu dukung aku” jawab naya sambil tersenyum memegang tangan celly yang ada di bahunya.
“hehe.. Iya nay, kakak keluar dulu mau ambil camilan, laper” ujar celly
Naya hanya mengangguk menanggapi ucapan kakaknya.
Sebelum menutup pintu kamar, Celly kembali melihat adiknya yang terus tersenyum di depan cermin riasnya, celly pun ikut tersenyum, namun tanpa dia sadari air matanya keluar, dan celly segera menutup pintu.
* 3 Tahun sebelum hari pernikahan Naya dan Bima
Kisah percintaan Naya dan Bima tak lepas dari peran Cellyna Ibra, kakak perempuan naya yang sehari-hari dipanggil Celly, wanita berusia 28 tahun ini bekerja di Nugroho Maining Corp, sebuah perusahaan tambang Emas terbesar di kota Mawar dan Bima adalah CEO di perusahaan tersebut.
__ADS_1
Celly biasanya pergi ke kantor menggunakan sepeda motor matic miliknya, namun hari itu hujan sangat deras, dia menelpon adiknya dan meminta naya mengantarkannya ke kantor.
"nay.. Anterin kakak ke kantor pake mobil ayah ya? Hujannya deras banget nih" ucap celly saat menelpon adiknya
Tak lama kemudian sebuah mobil minivan hitam memasuki halaman rumah celly. Dia pun berlari menerobos hujan yang saat itu turun sangat deras.
"agak ngebut ya nay, kakak ada meeting pagi ini" ucap celly sambil memakai seat belt.
"oke boss. Gas kan" jawab naya santai.
Butuh waktu lebih kurang 30 menit untuk tiba di kantor celly. Namun Di tengah perjalanan ternyata naya menahan rasa ingin bunag air kecil yang sangat menyiksanya. Dia terus menggerak gerakkan kakinya.
"duhh.. Gak tahan banget nih" ucap naya tiba tiba
Celly yang sedang main HP di kursi sebelah naya melihat kegelisahan adiknya.
"kenapa kamu nay?" tanya celly, sambil memegang bahu adiknya
"sesak pipis nih kak" jawab naya
"ohh.. sabar bentar lagi sampe kok" ucap celly sambil tersenyum
Naya memarkirkan mobilnya di halaman parkir gedung kantor, kemudian dia menerobos hujan yang deras itu dan masuk ke dalam gedung kantor untuk mencari toilet.
karena terlalu tergesa gesa dan hujan sangat deras membuat jarak pandang saat itu tidak jauh,naya berlari tanpa memperhatikan kiri kanan.
Tiba tiba dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju sangat kencang.
Spontan gadis cantik itu kaget, dia berteriak dan terjatuh, kepalanya naya terkena batu pembatas jalan dan menetes darah dari keningnya.
Marah, syok dan sakit hati berbaur menjadi satu, kepalanya terasa sangat panas, seperti gunung berapi yang akan meletus.
Kemudian naya segera berdiri sambil menahan luka di keningnya dan menggedor gedor kaca sebelah kanan mobil tersebut, tak diperdulikan nya lagi hujan deras yang membasahi seluruh tubuhnya.
"heh.. Keluar lu, buta lu ya? Taro di mana mata lu? " teriak naya kepada pengemudi mobil tersebut.
__ADS_1
dia ingin melampiaskan marahnya kepada pengemudi mobil yang hampir menabraknya itu.
Ditengah hujan deras di depan halaman parkir sebuah gedung perkantoran keluarlah seorang lelaki memegang payung , fisiknya tinggi, putih, rambutnya tersisir rapi, berwajah sangat tampan dengan stelan celana kain berwarna hitam dan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai ke siku.
Lelaki itu memayungkan dirinya sambil mengulurkan tangan kanannya dan hanya mengeluarkan sepatah kata, “maaf” hanya itu yang dia ucapkan.
Dia adalah Bima Satya Nugroho, Pria berusia 28 tahu pemimpin Nugroho Maining Corp, seorang pengusaha muda yang kaya raya, tampan, single , pintar dan bertubuh atletis, segala kesempurnaan fisik ada pada dirinya.
Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses bernama Nugroho Sadewa, nama yang sangat disegani di kalangan elite.
“maaf? enak bener kamu cuma bilang maaf doang?, tanggung jawab dong” jawab naya kasar.
Dia menepis payung yang dipegang Bima saat itu dan menamparnya telak di pipi lelaki tampan itu, payung pun terjatuh dan naya terus melemparkan cacian kepada bima.
"lu nyetir liat liat dong. Kepala gue berdarah nih" ucap naya kasar
Naya merasa sangat kesal dan masih tidak terima karena Bima hampir menabraknya.
Namun dengan ekspresi yang sangat tenang Bima mengambil kembali payungnya dan kali ini dia memayungkan Naya. Namun masih dengan emosi yang membara Naya kembali menepis payung itu.
"apaan sih!!! Ojek payung lu ya?" ucap naya
Bima mendekat ke naya lalu tanpa disangka dengan kedua tangannya Bima tiba-tiba memegang bagian belakang kepala naya seperti orang yang akan berciuman, Naya kaget dan terdiam, bola matanya membesar, jantungnya berdetak cepat, tercium aroma parfum Bima yang sangat harum, tubuh bima yang tinggi besar memaksa naya harus sedikit mendongak ke atas untuk melihat wajahnya.
Belum pernah naya berada sedekat itu dengan seorang laki-laki. Naya tidak melakukan apa-apa dia hanya terdiam membiarkan tumbuhnya berada di dekat Bima yang pada saat itu pun telah basah kuyub terkena derasnya hujan.
Lalu Bima mendekatkan wajahnya ke telinga naya dan berkata “maaf”, hanya satu kata, dan dengan nada yang sangat datar.
Kemudian Bima melepaskan tangannya, dan naya masih terdiam membeku.
Bima kembali mengambil payungnya, lalu dia mendekati naya dan memberikan payung itu ke tangan gadis tersebut, tanpa mengucapkan kata apapun Bima masuk ke mobilnya.
Ketika hendak meninggalkan tempat itu bima melihat naya berada di depan mobilnya sambil merentangkan kedua tangannya, berusaha menghalangi bima agar tidak pergi.
Kemudian naya masuk ke mobil bima, dan dia duduk di kursi sebelah bima.
__ADS_1
"jalan.. Ke kantor polisi" ucap naya tegas
Bima dan naya melaju menuju kantor polisi.