SEGITIGA SAUDARI

SEGITIGA SAUDARI
BAB III


__ADS_3

Naya berencana untuk mengantarkan ayahnya chekup ke rumah sakit karena beberapa hari yang lalu ayahnya mengeluh kurang sehat. Ayahnya adalah Muhammad Ibra, seorang pria tua pensiunan guru SD.


Naya dan ayahnya sangat dekat, namun berbeda dengan celly walaupun rumah ayah naya dan rumah Celly bersebelahan hubungan Celly dan ayahnya tidak begitu baik.


Pak. Ibra kerap memarahi celly ketika sedang cekcok dengan Ibunya dulu sebelum mereka bercerai, celly menganggap dirinya selalu dijadikan pelampiasan oleh ayahnya.


Sesampainya di Rumah sakit dan setelah melakukan beberapa pengecekan oleh dokter, ayah naya di fonis mengalami komplikasi, karena umur yang sudah tua dan riwayat penyakit lainnya.


Dokter menyarankan besok untuk datang kembali ke rumah sakit dengan catatan ayah naya harus puasa di pagi hari sebelum ke rumah sakit untuk di cek gula darahnya.


Keesokan harinya pak.Ibra lupa kalau dia harus puasa, karena memang kebiasaan beliau setiap pagi adalah minum teh, akhirnya setelah sampai rumah sakit dokter tidak melakukan tes apapun dan kembali menyuruh naya dan ayahnya untuk datang keesokan harinya lagi.


kali ini dokter menegaskan kepada naya untuk mengingatkan ayahnya supaya tidak makan dan minum apapun kecuali air putih sebelum ke rumah sakit, mereka pun meninggalkan rumah sakit namun selama perjalanan pulang pak.Ibra terlihat lemas,pucat, dan sesekali tertidur di mobil.


Hari berikutnya ketika pak.Ibra akan mandi dan ingin mengambil handuk tiba-tiba dia terjatuh, naya saat itu sedang menjemur pakaian, melihat ayahnya terjatuh dia kaget dan berteriak memanggil ayahnya sambil menggoyang goyangkan tubuh ayahnya


”ayah.. ayah kenapa?? banguunn”teriak naya panik


kemudian pak.Ibra tersadar membuka matanya dan menguatkan diri untuk berdiri, naya menopang tubuh ayahnya yang lemas untuk dibawa ke kamarnya.


Saat ayahnya berbaring, naya membuatkan sarapan untuk ayahnya, saat dibawakan ke kamar ayahnya menolak untuk memakannya,


“ayahkan mau cehkup hari ini dek, harus puasa kata dokter”tolak ayahnya


Naya karena cemas melihat ayahnya terjatuh tadi dia tetap memaksa ayahnya untuk makan.


“tapikan ayah pingsan tadi, sarapan dulu habis ini langsung ke dokter ya yah?”ucap naya sambil menggenggam tangan ayahnya


Ayahnya tetap menolak sarapan yang dibuat anaknya lalu memilih untuk mandi dan bersiap pergi ke dokter.


Pada saat ingin mandi, perasaan Naya resah, Naya menunggu di depan kamar mandi, dia merasa apa yang di lakukan ayahnya tidak semestinya,


namun naya tak bisa memaksa ayahnya.


tak lama setelah pintu kamar mandi di tutup, terdengar suara tak biasa dari dalam kamar mandi, dan benar saja ayahnya terjatuh tepat di depan pintu kamar mandi, dan untuk membuka pintu harus dengan mendorong ke arah dalam, sementara di sisi dalam kamar mandi tubuh ayah naya menghalangi pintu itu, sehingga tak mungking bisa dibuka.


Pintu kamar mandi tersebut terbuat dari kayu dan di bagian tengah pintu merupakan kaca buram yang ditempel sticker, tanpa ragu naya langsung memecahkan kaca itu menggunakan kedua tangannya.


sontak ayah naya tersadar kembali, dan dia bingung sekaligus panik karena melihat ada banyak kaca berserakan di tubuhnya, dengan kekuatan dan tenaga yang entah dari mana datangnya naya mengangkat tubuh ayahnya yang beratnya mungkin hampir 3 kali lipat dari berat badannya.


dia membawa ayahnya ke kamar memberikannya pakaian kering dan membawa ayahnya langsung ke rumah sakit.


Di perjalanan naya tak dapat dengan fokus mengendarai mobilnya,ayahnya berbaring lemas di kursi penumpang, sesekali pak.Ibra sadar dari pingsannya, naya selalu melihat ke kursi penumpang dan selalu memanggil-manggil ayahnya

__ADS_1


“ayahh.. ayahh denger adek kan yah?, bentar lagi sampai” ucap naya lirih


air matanya bercucuran tanpa henti, detak jantungnya begitu cepat, pikirannya kacau, mobilnya dipacu sangat kencang,entah beberapa kali naya hampir menabrakkan mobil di depannya.


saat itu harapannya cuma satu, cepat


sampai ke rumah sakit agar ayahnya dapat penanganan yang tepat.


Pak.Ibra langsung dimasukkan ke IGD, saat itu naya tak berhenti berdoa, dia segera menelpon Celly agar segera datang ke rumah sakit, dia juga menelpon Ibunya.


Tak lama kemudian pihak rumah sakit keluar dan menemuinya, naya disuruh membayar sejumlah uang administrasi rawat inap untuk ayahnya, dokter memberitahukan bahwa ayahnya sudah sadar namun harus dirawat,tapi untuk saat ini naya belum bisa menemuinya.


Setelah selesai membayar administrasi naya duduk di lobby sambil menunggu kakaknya datang, sekitar 15 menit menunggu, tiba-tiba dokter mendatanginya dan dia dibawa keruangan tempat ayahnya.


Dia melihat ayahnya terbaring di meja oprasi, dengan banyak selang disambungkan ke tubuh ayahnya, dokter mengatakan sesuatu yang tak disangka-sangka,


“dibantu ayahnya ya dek”.Ucap dokter itu pelan


maksud dokter tersebut adalah ayah naya sudah berada diujung ajalnya, sepertinya pak Ibra tidak akan kuat.


Naya menahan air matanya, dia mendekati ayahnya dan beberapa kali berbisik di telinganya


“Laila ha illallah, Muhammad dar Rasullullah”.ucap naya dengan nada bergetar


Kemudian dokter kembali melakukan tindakan, naya disuruh keluar dari


“gimana ayah dek? mana ayah? kenapaa ayah?” tanya celly panik


Meskipun hubungan Celly dan ayahnya tidak begitu baik, tetap saja pak.Ibra adalah satu-satunya ayah yang dia miliki.


Setelah cukup lama menunggu, dan dengan hati yang sangat berharap, akhirnya dokter keluar dari ruangan IGD dan menyampaikan kabar duka, Ibra mustafa, ayah naya dan celly telah meninggalkan mereka, selamanya.


Sontak tangisan Celly pecah namun naya masih menahan air matanya, naya tak sanggup menangis saat itu,dia hanya terdiam dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Celly memeluk adiknya dengan erat, air matanya tak henti mengalir, sosok ayah yang mereka cintai tak lagi dapat mereka temui, tak lagi dapat mereka ajak bicara.


Bahkan kebencian Celly pada ayahnya justru menjadi pukulan paling menyakitkan saat itu, penyesalan yang datang saat ini sangat tak berarti baginya.


kebencian membuatnya buta bahwa pria tua itu adalah ayahnya, ayah yang


tak mungkin dia bisa gantikan, benar saja, bahwa keberadaan seeorang


itu sangat terasa justru disaat orang itu telah tiada.

__ADS_1


Celly memeluk ayahnya yang terbujur kaku sambil berbisik ke ayahnya


“Selamat jalan ayah, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu, menggantinya dengan pahala


yang berlipat ganda dan melapangkan kuburanmu. Amin.”


*****


Di rumah duka Bima datang untuk mengucapkan bela sungkawa, dengan mata yang bengkak Celly menyambut boss nya, dan mempersilahkan masuk dan melihat ada Naya di teras rumah mereka, tatapanya kosong, dia melamun dan masih tidak percaya kalau ayahnya telah tiada.


Barulah saat itu Celly mengatakan kepada Bima kalau Naya adalah adik kandungnya,


“namanya Naya pak., Dia adik saya, maaf karena pernah menampar anda dan telah melporkan anda ke polisi”.


Bima menepuk pundak Celly mengisyaratkan kalau dia harus tabah


“udah cell.. kamu gak usah mikirin itu, saya gak apa-apa kok”.ucap bima lembut


Kemudian bima berjalan kearah kursi naya di sudut teras rumah. naya menyendiri di situ, tatapan naya masih kosong,wajahnya pucat, sangat terlihat kalau perempuan itu sangat lelah, anehnya sejak kematian ayahnya dia sangat pendiam, dia tidak menangis seperti biasanya walaupun kerap kali air matanya keluar dengan sendirinya.


Bima berlutut di depan kursi yang naya duduki, dia memegang kedua tangan gadis itu yang ditaruh di pahanya.


Naya tak memperdulikan yang bima lakukan saat itu, dia hanya melihat Bima sesaat dan menghela nafas panjang lalu mengalihkan


pandanganya lagi, kemudain Bima menatap naya dan berkata


“Kamu boleh nangis sekarang, kamu boleh bersedih, ayahmu sudah meninggal”


kata-kata Bima saat itu seperti petir di siang bolong, ucapannya benar-benar menyadarkan naya, dia seperti ditampar dengan kata-kata itu.


disaat semua orang menyuruhnya tegar, memintanya untuk tabah, tapi Bima adalah satu-satunya orang yang menyuruhnya menangis, memaksanya menerima kenyataan pahit ini.


Sepertinya Bima adalah satu satunya orang yang sangat mengerti perasaannya, kemudian Naya menatap Bima, matanya berkaca-kaca, dia memeluk Bima, dan dia menangis sejadi-jadinya.


disela tangisnya naya selalu mengucapkan “ayah.. ayah”, apa yang selama ini ditahan akhirnya dikeluarkan ke pelukan Bima, laki-laki yang hampir menabraknya tempo


hari.


Ironi memang, mungkin Bima adalah satu-satunya orang yang ia benci, namun saat ini naya menangis dipelukan orang itu, memeluknya


erat dan melampiaskan semua kesedihan yang menumpuk di dadanya.


#

__ADS_1


Tegar atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari seberapa kuat dia menahan air matanya, tetapi seberapa iklas dia dapat menerima kenyataan dan takdir Tuhan.


Rasa bahagia maupun sedih merupakan bagaian dari reaksi manusia. Maka, tidak ada yang salah ketika meluapkan kebahagiaan, dan bukan suatu kekeliruan ketika menumpahkan kesedihan.


__ADS_2