
Pagi hari, mentari mulai menampakkan keindahan nya, menyembul dari balik pepohonan. Cahaya nya yang lembut jatuh di atas tanaman di samping rumah Tasya. Sinarnya mulai menerobos di balik sela-sela ventilasi membangunkan seorang gadis dari tidurnya. Sesekali gadis itu mengerjapkan mata berusaha menormalkan penglihatan nya. Tasya turun dari ranjang menuju ke arah jendela yang ada di kamar. Tasya menghela nafas nya dalam dalam. Ia menikmati keadaan di sekeliling dari balik jendela di kamar nya. Ia berharap ada kebahagian yang datang hari ini kepada nya.
"Tok... Tok...Tok..."
"Tasya Bangun nak, udah pagi nanti kamu kesiangan. Ini hari pertama kamu masuk sekolah loh."
Teriak seorang ibu paruh baya yang sedang berusaha membangunkan anak nya. Padahal sejak tadi Tasya sudah bangun.
"Iya bunda, Tasya udah bangun bentar lagi turun."
Tasya segera mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya. Selesai dengan ritual mandi, Tasya langsung mengenakan seragam sekolah dan berdandan ala kadarnya.
“Oke Syaa, Fighting! Kehidupan baru di mulai.” Ucap Tasya dengan penuh semangat.
Dirasa sudah siap Tasya segera turun dari kamar dan menemui kedua orang tuanya.
“Selamat pagi Ayah, Bunda!”
“Pagi Sayang, cepat Sarapan nanti telat.” Jawab ke dua orang tuanya.
“Emmm, Tasya Ayah sudah bicara sama kepala sekolah SMA Pandawa, bahwa kamu hari ini masuk sekolah. Nanti kamu temui dia!” Ucap Rio memecah keheningan.
“Oh...Siap ayah.” Jawab Tasya
Merinda dan Rio pasangan suami istri yang tidak memiliki seorang anak dan memutuskan untuk mengadopsi Tasya menjadi anaknya. Mereka sangat menyayangi Tasya meskipun bukan anak kandungnya.
*Flash Back On
Sekitar beberapa bulan yang lalu, Rio sedang menyetir mobil untuk pulang ke rumah mengambil berkas yang tertinggal. Rio Tidak sengaja menyerempet Seorang gadis di jalan. Untung saja tidak ada luka yang serius. Rio takut anak itu kenapa – kenapa. Akhirnya Rio membawa gadis itu ke rumahnya karena tidak ada pihak keluarga yang bisa di hubungi.
“Bun__bunda !! Teriak Rio Di depan pintu sambil menggendong gadis tadi.
__ADS_1
Merinda segera membuka pintu
“lohh, yah anak siapa ini? Kok ayah bawa ke rumah?"
"Ini Bun, Tadi ayah tidak sengaja menyerempet anak ini.”
“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit! Takut dia kenapa - kenapa.” Tanya Merinda dengan nada khawatir.
“Tenang Bun, tidak ada luka yang serius. Mungkin dia hanya terkejut.” Jawab Rio dengan penuh keyakinan.
“Ya sudah, bawa dia ke kamar tamu! biar bunda yang rawat dia.”
Setelah itu Rio membawa gadis itu ke kamar tamu, Merinda mengambil kompresan di dapur. Dengan lihai Merinda merawat Tasya penuh kasih sayang. Dalam batin Merinda selalu menginginkan seorang anak, namun apa yang dia bisa lakukan mungkin ini sudah menjadi takdirnya.
Akhirnya gadis itu telah sadar dari pingsannya.
“ Loh aku dimana?” ucap gadis itu sambil memegang pelipis nya sesekali dia mengaduh kesakitan.
“Kamu udah bangun? Kamu gak papa kan?” Tanya Merinda
“Nama kamu siapa?”
“Nama saya Tasya bu.”
“Rumah kamu dimana? Maaf tadi om tidak sengaja, karena kamu tiba-tiba ada di tengah jalan." Rio bertanya kepada Tasya.
Alih – alih menjawab Tasya malah diam membisu. Matanya mulai berkaca – kaca, sesekali tangannya mulai mengusap pipinya yang mulai basah Terkena air mata.
“Kamu kenapa?” Tanya Merinda dengan nada khawatir.
Tasya menceritakan semua kejadian pahit yang dialaminya. Rio dan Merinda sangat terkejut dengan cerita Tasya. Ternyata Tasya dijual kepada preman -preman jalanan oleh ibu tirinya, Tasya sempat melarikan diri sampai akhirnya terserempet oleh Rio.
Merinda dan Rio sudah hampir 12 tahun menikah, tapi mereka tidak di karuniai seorang anak, Karena ada masalah pada rahim Merinda. Setelah mendengar cerita Tasya Merinda merasa iba kepada nya. Akhirnya Merinda menyuruh Rio mengadopsi Tasya sebagai anak nya. Mereka memutuskan untuk pindah rumah mencoba memulai hidup baru.
Flash back off*
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Tasya berpamitan kepada ke dua orang tuanya.
“ Ayah, Bunda Tasya berangkat dulu ya?
“Ya sudah, hati – hati di jalan! Belajar yang benar! jangan nakal!" Ucap Merinda kepada Tasya
“Siap bunda!” Jawab Tasya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Tasya segera berangkat menggunakan taksi online yang sebelumnya sudah di pesan Rio.
Di sebuah Rumah Mewah
Nampak pria paruh baya yang sedang menikmati sarapan bersama ke dua putranya.
“Afkar bagaimana dengan kuliah kamu?” Tanya seorang ayah kepada salah satu anak nya.
“Ya, gitu pah, lagi persiapan buat sidang skripsi. Setelah sidang, Afkar wisuda.”
“Baguslah, cepat selesaikan kuliah kamu! Biar bisa bantu – bantu ayah di kantor!”
“okee, pah.”
Seketika suasana hening seketika, Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka.
“Pah, Naufal duluan, ada rapat OSIS di sekolah!” Ucap Naufal memecah keheningan.
“ Ya sudah, Belajar yang bener!”
Setelah itu Naufal menuju ke garasi, mengambil motor ninja kesayangan nya, dan bergegas pergi ke sekolah.
Bersambung
__ADS_1