Seindah Senja Di Ujung Cakrawala

Seindah Senja Di Ujung Cakrawala
6. Melukis


__ADS_3

Pagi hari di SMA Pandawa, Tasya dan Naya sedang berjalan di koridor sekolah menuju ke kelasnya.


“ Syaa, loe udah bawa barang yang di suruh sama bu Sri?” Tanya Naya memeca keheningan, karena sedari tadi Tasya hanya melamun tidak seperti biasa nya, yang selalu ceria. Ia tampak murung terlihat dari kedua bola matanya yang terlihat sedih.


“Udah dong! Sebagian gue simpan di dalam tas. Ini kan pelajaran favorit gue, masa gak bawa." Jawab Tasya sambil memperlihatkan barang bawaan nya.


“Emmm baguslah, gue sebenernya males banget sama pelajaran kek gituan, mana gue gak bisa ngelukis lagi." Oceh Naya sambil memoyongkan bibir nya.


“Ya namanya juga belajar, mana bisa dari orok, loe ini dasar." Sahut Tasya sambil mengacak rambut Naya.


Mereka berjalan sambil tertawa karena ocehan Naya yang bisa membuat Tasya melupakan sejenak masalah nya, memang Naya orang nya humoris Tasya merasa beruntung karena bisa berteman dengan Naya. Naya bisa menghibur Tasya dikala Tasya sedih.


Pelajaran pertama di kelas XI IPS 1 akan segera di mulai, Tasya dan teman – teman sekelas nya mengeluarkan peralatan yang sudah di suruh oleh guru seni, yaitu Bu Sri.


“Selamat Pagi anak - anak. Pelajaran akan di mulai, sekarang ibu minta persiapkan barang - barang yang sudah ibu tugaskan kemarin!"


"Baik bu." Jawab murid bersamaan.


"Dan bawa barang kalian ke taman di samping sekolah, dekat lapangan basket!"


Sontak semua murid membawa peralatan melukis menuju ke taman sekolah. Karena agenda hari ini adalah melukis objek yang menarik di taman.


Sementara di lapangan basket nampak anak - anak kelas XII sedang pemanasan. Pelajaran pak Dedi membuat semua murid kelas XII MIPA 2 panas - panasan.


Tasya dan semua teman sekelasnya sampai di taman samping sekolah, bu Sri menyuruh semua murid melukis objek yang di kira menarik di taman samping sekolah. Tasya sangat bersemangat karena bagi Tasya melukis adalah sebagian dari hidupnya. Berbeda dengan teman - teman Tasya yang mengeluh karena tidak suka melukis atau tidak tertarik dengan seni lukis.

__ADS_1


"Susah bu."


"yang lain aja bu jangan melukis."


"Saya gak bisa melukis Bu."


Itulah berbagai keluhan dari para siswa dan siswi yang tidak suka melukis, tetapi Bu Sri guru yang tidak bisa di tawar. Kedisiplinan selalu ia terapkan kepada murid didikannya.


"Tidak ada bantahan! Sekarang kerjakan tugas dari ibu. Nanti kalau sudah beres kumpulkan di meja ibu. Kalau tidak ada yang mengumpulkan kalian siap - siap terima hukuman dari ibu!" Ujar Bu Sri dengan suara tegas.


Semua murid terdiam tidak ada yang berani menjawab sekaligus membantah bu Sri. Mereka hanya bisa pasrah dan terpaksa melakukan tugas tersebut. Berbeda dengan Tasya yang sedari tadi sudah melukis, dengan lihainya ia memainkan kuas sambil tersenyum bahagia.


 


 Di lapangan basket


"Loe mah kalau liat yang bening dikit, tuh mata langsung jelalatan." Jawab Repan sambil menonyor kepala Vano.


Seketika Naufal menengok ke arah Tasya.


"Ehh, siniin tuh bola di pegang Mulu." Kata Repan


Namun Naufal malah bengong dan matanya malah melihat Tasya yang sedang asik melukis.


"Woyy! siniin tuh bola bengong aja dari tadi mikirin apa sih?" Tanya Repan.

__ADS_1


Naufal melempar bolanya, tetapi matanya masih tetap sama seperti tadi. Namun apa yang terjadi? bola itu tidak sampai ke Repan. Naufal tidak konsentrasi, tidak seperti biasanya.


Brukk...


Tempat cat air yang Tasya pegang jatuh ke lukisannya sendiri. karena, bola yang tadi di lempar Naufal malah menjatuhkan tempat cat air Tasya.


"aaaaa..."


"Siapa sih yang lempar bola ini, lukisan gue jadi rusak!" Ujar Tasya dengan emosi, Tasya tidak terima lukisan yang susah payah ia buat rusak begitu saja. Tasya melirik ke arah lapangan, nampak Naufal Cs celingak celinguk.


" loe kenapa sih gak konsen. Liat tuh si murid baru marah karena lukisannya rusak." Ujar Repan.


"Bodo amat, gue gak sengaja kok." Ucap Naufal dengan ketus.


"Gila ya loe! Ayo kita samperin!" Ajak Repan kepada ke dua temannya.


Di tempat Tasya


"Loe gak papa Sya? Tanya Naya.


"Gak papa gimana! ini lukisannya rusak. Gimana dong? masa gue gak ngumpulin." Jawab Tasya


Sementara Naufal Cs sedang berjalan ke arah Tasya, nampak Repan tengah mendorong Naufal, dan menyuruh Naufal meminta maaf. Namun si cowok es batu itu malah diam tak bersuara. Dengan terpaksa repan mengalah dan mewakili Naufal meminta maaf.


"Hai, gue minta maaf atas nama temen gue Naufal, Dia gak sengaja tadi ngelempar bola ke arah loe." Ucap Repan.

__ADS_1


"Kenapa loe yang minta maaf? Kenapa bukan dia aja yang minta maaf. Kalian gak liat! lukisan gue rusak. Terus gue harus ngumpulin apa hah?" Sahut Tasya yang sudah tersulut emosi sedari tadi, Tasya merasa heran kok ada ya? orang kaya Naufal, minta maaf aja susah harus melalui temannya.


Bersambung


__ADS_2