
Sore harinya Tasya sedang menikmati pemandangan kota di rooftop sendirian. Air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya yang lembut itu. ia sedang teringat segelintir kisah hidup di masa lalu nya.
Hiks...hiks... hiks
Tangis Tasya pecah, ketika bayangan masa lalu bergentayangan memenuhi pikirannya.
Sebuah sapu tangan muncul di hadapan nya, memang sedari tadi Merinda melihat Tasya sedang menangis, ia tidak tega dengan nasib yang di derita Tasya.
“Menangislah jika itu bisa membuat mu menjadi tenang.” Ucap merinda sambil menyerahkan sapu tangan.
“Bunda harap kamu bisa melewati semua ini, dan kamu bisa melanjutkan hidup kamu bersama bunda dan ayah.”
“Tapi bund, Tasya gak bisa ngelupain semua nya,” Tasya merasa putus asa, ia terus saja mengeluarkan air mata nya
“Bunda ngerti, maka dari itu kamu harus belajar, kamu tau? ayah sama bunda udah sayang banget sama kamu," ucap Merinda sambil memeluk Tasya.
“Tasya tau bund, Tasya akan berusaha. Makasih ya bund," sahut Tasya sambil menyeka air matanya.
Ia berusaha tidak sedih di hadapan Merinda, ia tidak mau bunda nya sedih, ia harus bisa bangkit dan melupakan masa lalu nya. Namun apalah daya Tasya juga manusia yang punya hati. Setiap kali Tasya menatap bingkai penuh warna yang terpampang jelas rona wajah anggota keluarga nya dahulu, tepat di dinding kamar Tasya. Terbuka kembali berkas – berkas warna yang penuh dengan cerita, cerita tentang keseharian, suka dan duka, cerita tentang manis dan pahirnya kehidupan Tasya. Seperti hujan yang turun dari langit dengan sangat deras seperti itulah air mata Tasya jatuh ketika teringat kembali semua memori masalalunya.
__ADS_1
Lagi - lagi hujan...
Perempuan itu menatap langit berselimut hitam. Cuaca terlihat kurang baik.
Tasya benci hujan.
Ia langsung berlari menerobos hujan yang masih rintik - rintik menuju halte yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Tangannya menunjuk salah satu taksi yang lewat. Lampu taksi sebelah kanan berkedip sementara perempuan itu bersiap - siap untuk masuk ke dalam taksi.
"Ke alamat ini, pak," kata Tasya
*Tolong, Tuhan… Jangan hujan* Batin tasya.
Kini Tasya sudah sampai sebuah caffe terkenal di kota A. Ia duduk melamun di dekat jendela sambil menunggu pesanan datang.
Derasnya air hujan yang turun melalui dinding kaca di sebuah caffe tak membuat gadis manis berambut sebahu itu untuk pergi dari sana. Padahal, hari kian larut namum sepertinya ia menikmati tiap tetes air hujan yang mengembun di dinding kaca Caffe.
Tasya mengetuk - ngetuk tangannya pada meja. ia memandang lurus ke luar caffe. Tiba - tiba, sepasang kekasih keluar dari mobil dan berlari kecil menghindari hujan memasuki caffe. Dua bola mata Tasya tak lepas dari pasangan tersebut.
__ADS_1
Cowok yang sedaritadi diperhatikan Tasya itu merapikan rambut gadis di sampingnya yang cukup basah. Seolah deja vu, ingatan tasya kembali pada masa lalu nya.
“Ku coba untuk melawan hati. Tapi hampa terasa, disini tanpamu. Bagiku semua sangat berarti lagi. Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu. Hingga akhir waktu.” Ucap Tasya saat menyanyikan sedikit syair lagu yang di kira sangat cocok dengan suasana hati nya saat ini.
Sepi sekali rasanya. tidak ada dia di sini. Tidak ada yang mengganggu Tasya lagi dengan kejailan yang dia buat. Padahal, sudah hampir Satu bulan tahun Tasya di sini tanpa dia. Harusnya Tasya sudah bisa move on dan melupakannya. Tetapi kenyataannya berbeda. Tasya masih saja terus menerus mengingatnya. Mengingat lelaki yang dulu pernah menyakiti hati nya.
*They say that time heals all wounds but all it's done so far is give me more time to think about how much I miss you* Ucap Tasya di dalam hati
Mungkin karena dia adalah orang pertama yang telah membuat Tasya jatuh hati. Jadi terasa sangat sulit untuk melepaskan nya ketika dia pergi. Tapi Tasya juga harus sadar diri, bahwa dia hanya bagian di masa lalunya dan bukan siapa - siapa lagi.
Harusnya kehilangan itu hanya terjadi pada seseorang yang telah memiliki. Namun beda dengan Tasya. Tasya belum memilikinya, tetapi rasa kehilangan itu sudah Tasya rasakan. Rasa sakit ketika ditinggalkan, itu juga sudah Tasya alami. Mengapa harus seperti ini?
*Tuhan, hilangankan lah semua ingatanku tentang dirinya. aku tak ingin terpenjara dalam kesedihan yang tak beralasan ini. Terkadang aku ingin seperti anak kecil lagi. Lutut yang terluka begitu mudah untuk disembuhkan dari pada perasaan hati yang tak terbalas. Aku tau, ini mungkin takdir Tuhan yang telah menggariskan hidupku untuk tidak bersama dia. Dan aku juga tau, Tuhan tidak akan membuang yang aku kira baik, tanpa mempersiapkan yang benar - benar baik* Batin Tasya
Tapi Tasya juga tidak mau membohongi perasaan nya. Saat ini tasya masih memikirkannya. Benar - benar sulit untuk melenyapkan dia dari pikiran Tasya. Sudah berulang kali Tasya mencoba. Tapi hasilnya NIHIL! justru hati nya terasa sangat sakit saat tasya berusaha keras melupakannya. Hatinya menolak dan bahkan memberontak. Apa tandanya ini? entahlah. Semoga waktu yang akan menjawab semuanya.
Sampai saat ini Tasya masih suka mengingat kenangan nya dengan seseorang yang pertama kali menyentuh hati nya. Namanya adalah Bintang. Ya, dia adalah orang pertama yang telah membuat hati Tasya tak karuan ketika di dekatnya. Namun dia juga orang yang pertama kali menyakiti hati Tasya.
Bersambung
__ADS_1