
Aku mulai berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada ditengah. Saat masuk, aku mulai mengeluarkan keringat dingin
Pandanganku mulai terasa sangat buram dan kepalaku pening. Tiba-tiba
BRUUUKKK
Aku terjatuh dan hilang kesadaran. Aku hanya mendengar suara panitia yang berkata
'Lho kamu kenapa, hei bangun' sambil menepuk-nepuk pipiku
30 menit berlalu, aku mulai sadar. Pelahan-lahan mulai membuka mataku walau masih terasa pusing. Samar-samar aku melihat cahaya lampu. Badanku masih lemas dan kepalaku masih terasa pusing. Tiba-tiba kakak panitia yang ada disebelahku mengajakku bicara
'Kamu sudah sadar?' tanyanya
Aku menggerakkan kepalaku kesamping. Aku sangat terkejut begitu tahu kalau mas Fahridzan yang ada disebelahku. Untuk beberapa saat aku terpaku dan diam. Namun tak berapa lama dia kembali bertanya
'Hei kenapa diam aja ditanyain, kamu gak papa kan? Atau ada yang sakit?' tanyanya kembali
Aku menjawab hanya dengan gelengan kepala karena mulutku masih susah sekali untuk berbicara. Mungkin karena aku masih kaget dengan kejadian tadi, jadi aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala. Ada seseorang yang mengetuk pintu dan masuk ke ruangan tempatku dirawat. Ternyata petugas dan salah satu dokter jaga yang masuk ke ruanganku. Saat mengetahui aku sudah sadar, dokter langsung memberiku minum dan kembali memeriksa keadaan tubuhku
__ADS_1
'Mbaknya ada penyakit bawaan? Atau mungkin sedang sakit? Karena tiba-tiba tadi langsung tidak fokus dan pingsan' tanya sang dokter kepadaku
'Saya fobia gelap dokter' jawabku dengan suara yang sangat pelan
'Oh pantesan aja, makan dulu ya terus lanjut istirahat' kata dokter memberiku perintah
Lalu beliau memberitahu keadaanku pada mas Fahridzan selaku panitia
'Mas, mbaknya tidak bisa lanjut untuk ikut jelajah malam. Dia fobia gelap atau bahasa medisnya disebut nyctophobia. Ini keadaanyang cukup serius, karena si penderita benar-benar tidak bisa berada di tempat atau ruangan gelap. Kalau dipaksakan untuk lanjut ikut jelajah malam saya khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jadi lebih baik mbaknya istirahat di sini sampai besok pagi'
'Baik dokter, nanti saya akan memberitahu panitia yang lain supaya dia diberi keringanan untuk tidak ikut jelajah malam. Nanti panitia akan menjaganya di sini sampai dia benar-benar pulih' jawab mas Fahridzan seraya memandangku yang masih lemas di atas kasur
Kemudian dokter perempuan yang memeriksaku tadi berjalan ke luar ruangan. Di dalam ruangan hanya ada aku dan mas Fahridzan saat ini. Aku benar-benar takut dan bingung. Aku takut tidak bisa lanjut ikut ekskul PMR karena kejadian ini. Aku melihat mas Fahridzan sedang berjalan keluar sepertinya dia akan menelpon panitia yang lain dan memberitahu keadaanku
Beberapa menit berlalu dia kembali masuk ke ruangan dan tersenyum padaku
'Makan dulu ya biar ada tenaga, terus kamu istirahat supaya nanti pagi badanmu fit dan bisa ikut kegiatan yang lain'
Aku hanya menganggukan kepalaku seraya mencoba untuk duduk dan menyadarkan badanku. Saat aku akan mengambil mangkuk bubur dari tangannya tiba-tiba mas Fahridzan melarangku
__ADS_1
'Jangan, kamu masih lemas. Aku suapin aja ya. Biar makannya cepat selesai terus langsung istirahat' katanya dengan nada sedikit memaksa
Aku tidak mampu menolak tawarannya dan akhirnya aku menjawab dengan anggukan kepala. Diapun mulai menyuapi aku dengan sangat hati-hati. Selama dia menyuapi aku, suasana sangat hening dan canggung karena kami tidak saling berbicara satu sama lain. Mungkin dia juga tau kalau aku belum benar-benar pulih.Tidak terasa, bubur yang ada dimangkok akan habis. Saat mas Fahridzan akan menyuapi sendok terakhir tiba-tiba ada yang menerobos masuk ke ruangan. Ternyata kakak senior perempuan yang sejak api unggun terlihat mesra dengan mas Fahridzan. Sejenak kami saling pandang sampai akhirnya dia bertanya
'Kamu ngapain sih lama-lama di sini? Kan ada panitia lain yang bisa gantian jaga dia' tanyanya dengan wajah yang sedikit masam. Aku tau sepertinya sangat tidak menyukai perhatian mas Fahridzan padaku
Aku ingin menjawab pertanyaannya, tapi mas Fahridzan menjawabnya lebih dulu
'Dia masih lemas. Lagi pula dia pingsan saat masuk ruangan yang kebetulan aku jaga. Jadi aku punya tanggung jawab untuk menjaganya'
'Iya, tapi kan bisa gantian. Ini bukan tanggung jawab kamu aja. Tapi tanggung jawab semua panitia. Udah ayok kamu balik, biar diganti sama yang lain' kakak senior itu langsung menarik tangan mas Fahridzan dan mengajaknya keluar. Aku terpaku dengan adegan yang aku lihat. Sambil membuang nafas aku menghabiskan sisa bubur yang ada dimangkokku. Rasanya aku ingin pulang saja. Keinginan untuk ikut kegiatan selanjutnya tiba-tiba sirna. Aku sudah tidak peduli dengan diklat ini. Aku hanya ingin pulang dan memeluk mamaku. Hatiku benar benar sakit melihat adegan tadi...
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya ^^