Selamanya

Selamanya
Pulang


__ADS_3

Pagi hari...


Aku terbangun dan membuka mataku secara perlahan. Aku melihat sekitar dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Setelah beberapa menit, aku teringat bahwa semalam aku pingsan dan akhirnya harus beristirahat di sini. Aku menikmati sinar matahari yang masuk melalui jendela. Namun tiba-tiba ada suara disampingku yang membuatku kaget


'Kamu sudah bangun? Udah enakan belum badannya?'


Aku menolehkan kepalaku. Ternyata mas Fahridzan yang berada disampingku. Jujur saja aku sangat terkejut dan bertanya-tanya. Apa dia semaleman menungguiku di sini? Atau baru pagi ini dia berada di sini? Berbagai macam pertanyaan muncul dikepalaku. Aku menjawab pertanyaannya hanya dengan anggukan kepala. Diapun mencoba untuk mengecek suhu badanku dengan telapak tangannya


'Hmm suhu badanmu udah normal kok. Udah gak panas kayak semalam. Kepalanya masih pusing gak?' tanyanya kembali


Lagi-lagi aku menjawab dengan gelengan kepala. Aku sangat ingin mengeluarkan suaraku untuk menjawab pertanyaannya. Namun rasa kecewa yang aku rasakan sebelumnya membuatku enggan melakukannya. Akhirnya dia membantuku untuk duduk. Aku merasa badanku sudah sehat tapi aku sudah tidak ingin melanjutkan diklat ini. Aku hanya ingin pulang


'Kak apa aku boleh tidak melanjutkan kegiatan diklatku?' tanyaku padanya


'Kenapa? Apa badanmu masih lemas?' jawabnya dengan khawatir

__ADS_1


'Iya kak, badanku masih sedikit lemas. Aku ingin pulang dan beristirahat'


Tanpa menjawab pertanyaanku diapun langsung mengambil telepon genggam yang ada disakunya. Dia menelepon beberapa panitia yang lain untuk ke sini. Mungkin dia ingin berembuk bagaimana nasibku kedepannya. Akhirnya beberapa panitia inti masuk ke ruangan. Mas Fahridzan dan lainnya berkumpul dan berdiskusi. Jarak mereka lumayan jauh denganku. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai dan dia kembali menghampiriku


'Hmm jadi gini, kami semua panitia tadi sudah berembuk . Kami memutuskan untuk memulangkan kamu. Tapi kamu gak usah khawatir, kamu akan tetap lulus diklat dan menjadi anggota PMR meski tidak menyelesaikan diklat'


Aku terkesiap, padahal aku sangat berharap gugur dan tidak lolos sebagai anggota. Tapi ternyata aku malah lolos bahkan diijinkan untuk pulang dan beristirahat


'Baik kak, kalau gitu apa saya boleh pinjam telepon sebentar? Saya mau menghubungi kakak saya agar segera menjemput saya kak'


Aku terkejut mendengar jawabannya. Dia akan mengantarku ke rumah, bagaimana kalau pacarnya cemburu? Atau bagaimana kalau pacarnya melabrakku karena menganggapku genit. Ah masa bodo lah, toh dia yang menawarkan diri. Lagipula bukannya aku tidak mau menolak tawarannya, aku hanya malas berdebat dan ingin segera sampai di rumah


'Sekarang kamu beresin barang-barang kamu. Kuat buat berdiri kan? Atau mau aku bantu?


'Tidak usah kak, aku kuat kok berdiri. Aku akan membereskan barang-barangku' jawabku dengan segera berjalan keluar ruangan dan menuju ruang kelas tempat barang-barang anggota diklat disimpan. Aku segera membereskan barang-barangku. Ternyata mas Fahridzan sudah menungguku di depan pintu

__ADS_1


'Sudah beres semua? Sini aku bantu bawain tasnya ke mobil' katanya dan langsung mengambil tas yang aku pegang.


Akupun pasrah dan berjalan mengikutinya dibelakang. Sesampainya dimobil, dia membantuku untuk naik dikursi penumpang. Sementara dia langsung duduk disampingku. Sopir sekolah yang mengantarku langsung menuju alamat rumahku. Suasana selama perjalanan sangat hening. Tidak ada pembicaraan diantara kami. Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, kami sampai didepan rumahku. Dia turun terlebih dahulu dan langsung membuka pintuku. Dia membantuku untuk turun dari mobil. Namun saat kakiku akan menginjak tanah, tubuhku tiba-tiba tidak seimbang. Karena panik aku langsung merangkul lehernya. Tanpa diduga diapun reflek dan langsung merangkul pinggangku kemudian tatapan kami bertemu


Jantungku berdegup sangat kencang...


.


.


.


.


Jangn lupa LIKE dan VOTE ya ^^

__ADS_1


__ADS_2