
Flashback sepuluh tahun yang lalu.
Disaat sedang asyik mengobrol dengan Senja, tiba-tiba ia menerima telepon dari ayahnya yang menyuruhnya untuk pulang secepatnya. Entah karena apa. Senja pun tidak tahu kenapa ayahnya menyuruh pulang dengan terburu-buru seperti itu.
"Fajar, ayahku udah nyuruh pulang nih. Maaf banget ya.."
"Yaah.. Baru juga ngobrol sebentar ka"
"Maaf banget ya.."
"Ya, ya udah deh. Bye.."
"Bye. Aku duluan ya jar.."
"Iya"
Entah karena apa aku merasa sangat sedih ketika dia mulai melangkah meninggalkanku.
Malamnya ku coba menghubunginya
Via Whatsapp. Tapi, dia tidak aktif. Ku telfon biasa pun tidak terhubung. Aku mulai cemas, apa yang sebenarnya terjadi pada Senja. Aku pun berinisiatif menelfon ayahnya. Tapi, sama saja. Malah nomer ayahnya sudah tidak terdaftar. Ibunya? Ia sudah tidak punya ibu, ibunya meninggal ketika melahirkan Senja.
Akhirnya aku berusaha untuk tidur dan berniat untuk ke rumah Senja esok pagi.
Pagi pun tiba, seperti biasa aku tidak pernah sarapan di pagi hari. Padahal hanya pada waktu sarapan aku bisa berkumpul dengan ayah dan ibuku. Tapi, sudah tau tidak pernah sarapan, masih saja mengajakku untuk sarapan. Seperti yang aku bilang tadi malam. Aku ingin ke rumah Senja, pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Sesampainya disana, tidak terlihat ada kehidupan sama sekali.
"Sepi banget"
"Senjaaa.."
"Permisiii.."
"Oom.. Senjaa.."
Aku terus memanggilnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya aku berinisiatif untuk menanyakan pada tetangganya.
"Permisi ibu, maaf mau nanya. Senja dan ayahnya kemana ya bu? Apa ibu tau?"
"Oh, saya kurang tau de. Tapi, kemaren saya liat dia pergi malem-malem, Senja sama ayahnya. Ga tau kemana. Dan kayanya mereka buru-buru banget"
"Oh gitu ya bu, makasih ya.."
"Iya de sama-sama"
__ADS_1
Aku sempat berfikir bahwa Senja sedang pergi berlibur dengan ayahnya, tapi kenapa mereka sangat terburu-buru? Entahlah, mungkin besok ia akan pulang.
Hari ini aku tidak bisa fokus belajar di kelas , karena biasanya aku selalu bertemu Senja setiap pagi dan bercanda dengannya. Seakan-akan Senja lah sumber semangat ku.
Hari ini terasa begitu melelahkan.
Sepulang sekolah, aku sengaja lewat jalan yang melewati depan rumahnya, berharap ia sudah pulang. Dan ternyata belum.
"Fajaar"
Tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku ketika aku baru mau melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah Senja. Dan ternyata tetangganya yang seumuran dengan Senja.
"Jar, ini ada titipan dari Senja"
Ia memberikan sebuah amplop yang sepertinya berisi surat.
"Kemaren sebelum dia pergi aku pas lewat depan rumahnya. Dia manggil'in terus nitipin ini"
"Oh iya, makasih ka. Tapi kaka tau ga dia kemana?"
"Iya sama-sama. Tapi kalo dia kemananya aku kurang tau jar. Dia pergi buru-buru banget kemaren, jadi ga sempet nanya"
"Oh ya udah kalo gitu, makasih lagi ya ka"
Baru aku mau melangkahkan kaki sambil ingin membuka surat itu, tapi ka Rayna memanggilku lagi.
"Loh kenapa? Ini buat aku kan?"
"Iya itu buat kamu. Tapi, kata Senja kamu baru boleh buka itu sepuluh tahun lagi dari sekarang"
"Loh kenapa gitu?"
"Ya aku ngga tau, tapi kata dia gitu. Aku cuma nyampein aja"
"Ya udah deh"
Sesampainya dirumah aku terus memandangi amplop yang baru saja kuterima. Aku terus berfikir untuk membuka dan membacanya. Tapi, aku tidak mau menjadi orang yang tidak amanah. Dan di sisi lain aku penasaran. Aku bingung..
Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya saja. Mungkin Senja punya maksud lain, memintaku untuk membacanya sepuluh tahun lagi. Semoga saja aku tidak lupa.
Hari-hariku tanpa Senja membuatku terbuka pada teman-teman. Aku jadi sering bermain keluar dengan teman sekolah. Tadinya aku jarang sekali bermain dengan mereka, sekarang hampir setiap hari. Dulu aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Senja, entah itu bermain atau saling berbagi cerita.
Ada salah satu teman akrabku bernama Rusda yang selalu bercerita tentang kehidupannya atau bahasa kerennya 'Curhat'.
"Gimana sih jar rasanya jadi anak orang kaya?"
__ADS_1
Pertanyaan polos itu langsung saja keluar dari mulut Rusda ketika sedang istirahat sekolah.
"Eum... Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?"
"Aku cuma pengen tau aja"
Ia berbicara dengan sangat lesu sekali, seperti tidak punya semangat.
"Kamu ada masalah? Cerita dong.."
"Dari aku masih kecil aku udah hidup susah sama orangtua ku, tapi aku merasa senang. Mereka selalu kerja setiap hari cuma buat biaya sekolah aku"
Rusda mulai meneteskan air matanya
"Tapi sekarang mereka berdua udah ga ada. Dua tahun yang lalu mereka meninggal"
Aku hanya bisa mendengarkan dan mengusap-usap punggungnya memberikan kekuatan untuknya.
"Setelah mereka meninggal aku tinggal sama pamanku. Awalnya mereka ngasih perhatian ke aku. Tapi lama-lama mereka udah ga peduli lagi sama aku. Aku sering denger mereka ngeluh karena biaya sekolahku yang mahal. Padahal mereka baru mempunyai satu anak, itu juga belum sekolah. Bahkan mereka pernah bilang ke aku buat berhenti sekolah aja. Disitu aku ngerasa ga berguna buat keluarga mereka, aku cuma bisa nyusahin doang. Terus aku harus gimana jar?"
Rusda bercerita dengan terus meneteskan air matanya. Aku pun ikut terharu dengan ceritanya. Ternyata masih banyak hidup orang lain yang lebih menderita daripada aku. Selama ini aku tidak pernah berfikir soal itu. Aku hanya berfikir bahwa hanya aku yang menderita karena dipisahkan oleh orang yang sangat berarti bagiku, kenyataannya tidak.
Disaat Rusda selesai bercerita ia tidak berhenti menangis, ia menangis sambil menekuk tangannya diatas meja dan kepalanya ditaruh diatas tangan. Banyak teman-teman yang menanyakan dia kenapa. Mungkin bagi mereka aneh, bila anak laki-laki yang sudah kelas 6 SD masih bisa menangis seperti anak kecil.
"Rusda.. Kalo kamu mau dan paman kamu ngijinin, kamu boleh tinggal dirumah aku selamanya. Nanti aku bilang sama orangtua aku dan ceritain semuanya ke mereka. Pasti boleh kok. Aku juga selalu kesepian dirumah karena ga punya sodara yang deket rumahnya sama aku"
"Aku ga mau ngerepotin siapa-siapa jar"
"Iya da, tapi kamu mau kan tetep jadi temen aku? Kalo mau, kamu juga harus mau tinggal sama aku titik"
"Kalo orangtua kamu ga ngizinin gimana?"
"Tenang aja, aku jamin pasti boleh kok. Lagi juga mereka jarang dirumah"
"Makasih banyak ya Fajar"
"Sama-sama bestiiihh"
"Ih, alay"
"Hehehe"
Sejak Rusda tinggal bersamaku, aku tidak pernah kesepian lagi. Sekarang aku selalu punya teman main dirumah. Orangtuaku juga senang kedatangan anggota baru di keluarga ini.
Sejenak aku melupakan tentang Senja. Aku juga sedang berusaha melupakan dan mengikhlaskannya pergi.
__ADS_1
To be continued....