Semburat Rindu

Semburat Rindu
Mama


__ADS_3

>>Cerita dari pandangan Rusda<<


Aku terus bersama Fajar hingga malam hari. Tapi, aku tidak melihat keberadaan mama sama sekali dari tadi sore. Biasanya mama yang selalu ada disamping tempat tidur Fajar.


Tiba-tiba saja bi Ika masuk ke dalam ruangan.


"Nak Rusda, mamamu sakit nak.. Tadi bibi pulang sebentar dan ternyata ibumu ada dirumah. Sepertinya beliau sedang demam. Kamu pulang saja ya nak, temani mamamu"


"Mama demam bi? Terus tadi bibi tinggal gitu aja?"


"Engga nak, tadi bibi sempet nyiapin makan sama ngompres mamamu dulu sebelum kesini"


"Terus sekarang mama sendiri dirumah?"


"Iya nak. Makanya sekarang kamu cepet pulang, biar bibi yang jagain Fajar"


"Ya udah bi. Rusda pamit dulu" ucapku sambil berlari keluar


Sesampainya diluar rumah sakit, aku bingung mau pulang naik apa. Tadi siang aku berangkat dengan bi Ika menggunakan grab mobil. Apa aku harus pesan ojol? Tidak, tidak.. Akan terlalu lama menunggu kalau seperti itu.


Aku menyebrang jalan dan berharap ada ojek pangkalan yang masih nongkrong dipinggir jalan.


Dan aku menemukan seseorang yang sedang diam dipinggir jalan sambil duduk diatas motor.


"Mas.. Mas.. Maaf mas, mas tukang ojek?"


"Iya, ngojek de?"


"Iya. Ke Perum Pelangi Jaya yaa mas"


Saat aku sampai rumah, mama sedang melamun di teras rumah. Mama terlihat sangat lelah dan tidak mempunyai tenaga.


"Maa.. Mama kenapa diluar? Dingin loh mah" ucapku sambil memegang tangan mama yang sangat terasa hangat


"Tangan mama anget banget. Dikamar aja yu ma" aja ku sambil sedikit menarik tangannya


Mama hanya diam saja dengan tatapan mata yang kosong. Ia terus melihat kearah depan tanpa adanya kontak mata denganku.


Akhirnya mama mau masuk kedalam dengan sedikit terpaksa.


Sesampainya dikamar, aku langsung menyuruh mama ****beristirahat****. Mama pun langsung berbaring dikasur tanpa mengatakan apa pun.


Aku merasa ada yang aneh dengan mama. Kenapa dia tidak merespon ucapan ku dari tadi? Apa mama sedang sakit gigi? Atau sariawan?


Malam itu aku tidur bersama mama. Aku khawatir dengan keadaan mama saat ini.

__ADS_1


Saat tengah malam, aku terbangun karena ingin ke toilet. Aku melihat mama tidak ada disampingku. Aku langsung mencari mama dan melupakan niat awalku untuk ke toilet.


Aku melihat pintu balkon kamar terbuka. Dan saat ku lihat, ternyata mama ada disana. Dan lagi-lagi mama sedang melamun.


Kurasa hari ini aku harus begadang, takut mama akan melakukan sesuatu yang diluar dugaan.


Aku hanya memantau mama dari dalam. Mungkin, memang mama sedang mau sendiri.


Aku sekilas mendengar ocehan mama yang sangat pelan.


"Paa.. Nanti pagi kita temani Fajar berangkat sekolah ya.."


Disaat aku mendengar perkataan mama barusan, aku merasa kasihan sekali dengan mama. Mungkin mama belum bisa menerima kenyataan yang telah terjadi.


Tapi anehnya, saat mama berbalik dan berjalan untuk masuk ke dalam. Aku tidak melihat bekas air mata sedikit pun di wajah mama. Dan mama melalui ku begitu saja, padahal aku ada didepannya.


Mama pun langsung kembali ke tempat tidurnya dan langsung memejamkan mata.


Malam ini aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkan mama. Aku pun berinisiatif untuk menghubungi psikiater. Aku berfikir bahwa yang mama alami bukan suatu hal yang wajar.


Kebetulan kakaknya temanku ada yang menjadi psikiater. Aku pun mencoba menghubunginya dengan telepon. Dan diangkat.


"Hallo. Dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara lelaki dewasa yang mengangkat teleponku


"Hallo dok.. Saya Rusda temannya Dika. Saya ingin konsultasikan keadaan mama saya dok."


"Eum.. Gini dok.. Dari tadi sore mama saya terlihat seperti orang yang banyak pikiran, ga semangat deh pokoknya. Tadi pas saya baru pulang, mama saya lagi ngelamun didepan rumah. Padahal sebelum saya pulang, saya dapet laporan dari bibi saya kalo mama lagi demam. Saat saya ajak berbicara pun dia ga ngerespon sama sekali, tatapan matanya juga kosong. Nah, pas malam harinya saya sama mama saya kan udah tidur. Saya kebangun tengah malam, mama saya ga ada disamping saya. Ternyata mama saya ada dibalkon, dan lagi-lagi sedang melamun. Terus saya ngedenger kalau mama bilang gini "Pa.. Nanti pagi kita temani Fajar berangkat sekolah ya". Kata-kata itu yang ngebuat saya heran dok. Padahal papa sudah meninggal dan sekarang anak yang bernama Fajar itu lagi dirawat dirumah sakit. Ini sebenarnya apa yang terjadi sama mama saya dok?"


"Heum... Kemungkinan besar mama kamu sedang mengalami gangguan mental"


"Tapi bisa disembuhin kan dok?"


"Bisa. Tapi harus melalui proses yang panjang. Besok kamu kesini saja sama mama kamu. Biar saya bisa melihat keadaan mama kamu secara langsung"


"Baik dok. Terimakasih atas waktunya.."


"Sama-sama"


Telepon pun terputus..


Malam itu aku memutuskan untuk tidak tidur. Aku melanjutkan beberapa tugasku sebagai seorang komikus, karena peristiwa waktu itu semua komik ku jadi terlantar.


Pagi pun tiba. Aku tiba-tiba terbangun didepan meja komputer. Ternyata aku ketiduran. Dan aku melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 07.02 AM.


Lagi-lagi yang pertama ku cari adalah mama. Aku menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Dan saat ku ingin melangkahkan kaki di anak tangga terakhir, aku mendengar mama mengucapkan

__ADS_1


"Hati-hati sayang nanti jatuh"


"Mama? Mama udah bangun?"


"Iya. Sarapan dulu yu.."


"Mama udah sehat?"


"Loh, emang kapan mama sakit?"


"Engga kok ma... Ga usah dipikirin"


Saat aku ke ruang makan, aku melihat ada empat piring bersih yang diletakan terbalik diatas meja makan.


"Kok piringnya banyak banget ma?"


Mama membalikkan semua piring yang berada diatas meja.


"Ini buat Kamu, ini buat Mama.. Ini buaaat...."


Mama berfikir sebentar dan menggantungkan ucapannya. Lalu tiba-tiba ia kembali diam dan menatap ku dengan tatapan kosongnya. Lalu, ia langsung duduk begitu saja. Ia tidak jadi menyendok makanan yang ada dimeja.


Melihat mama seperti itu, aku hanya bisa menahan tangis. Aku tidak sanggup kalau harus melihat mama seperti itu terus.


Disaat tangisku pecah pun, mama tidak mengatakan apapun. Aku merasa sangat, sangat, sangat sakit melihat semua yang terjadi di keluarga ini. Aku berharap ini semua hanyalah mimpi buruk panjang. Yang disaat aku terbangun aku melihat mereka semua dalam keadaan yang baik-baik saja.


Sambil terus meneteskan air mata, aku menyendokkan makanan untuk mama dan memberikan kepadanya. Mama pun menerima dan memakannya.


"Maa.."


Dengan suara yang masih bergetar aku mencoba berkomunikasi dengan mama.


Mama hanya menatap mataku tanpa merespon ucapanku.


"Nanti Rusda mau ajakin mama ke suatu tempat.."


Mama langsung melihat kearah luar jendela. Dan kemudian melihat ke dapur, tepatnya mama melihat kearah pisau yang terletak diatas talenan.


Saat itu aku langsung berfikir bahwa mama akan melakukan hal yang akan menyakiti dirinya sendiri. Dan ternyata benar. Tanpa aba-aba, mama langsung berlari kearah dapur. Dengan sigap, aku menahan tubuh mama sambil memeluknya.


"Ma.. Mama mau ngapain??"


"Jangan ma.. Jangan.. Jangan.."


Aku terus menahan tubuh mama sambil meneteskan air mata yang kian lama menderas.

__ADS_1


Mama terus memberontak, sambil menangis..


To be continued...


__ADS_2