
>>Cerita dari pandangan Fadhil<<
Hari itu aku baru tahu kalau kembaranku adalah seorang pengusaha sukses di kotanya. Berbeda sekali denganku yang hidup dengan sangat sederhana disebuah kampung yang sangat terpencil didaerah Kalimantan.
Setelah ia meninggalkan ku dengan tidak hormat, aku masih duduk ditempat duduk yang sama tanpa beranjak sedikit pun. Aku pun tidak sempat untuk mengucapkan apa-apa setelah aku menceritakan semuanya, dia meninggalkan ku begitu saja. Benar-benar, orang kalau sudah sukses itu tidak mau waktunya digunakan sedikit pun untuk hal lain. Aku sempat berfikir, bagaimana dengan anaknya? Apakah dia hanya mementingkan pekerjaan daripada anaknya? Atau dia belum menikah karena terlalu mementingkan pekerjaan? Entahlah.. Aku sudah tidak peduli dengan orang sombong itu.
Hari sudah mulai sore, aku pun meninggalkan cafe tersebut setelah sekian lama merenung disana.
Aku pulang dengan perasaan yang sangat kecewa. Karena orang yang selama ini kucari ternyata tidak menyambut baik kedatanganku. Aku bingung sekarang harus apa. Tujuan ku kesini hanyalah untuk menemuinya.
Tak lama setelah aku tiba dirumah, ada seseorang yang datang. Tapi, ia tak mengatakan apapun. Ia hanya memberikan sebuah paket yang entah siapa pengirimnya.
Aku membuka paket tersebut dan ternyata berisi makanan berat yang kutebak pasti ini makanan mahal. Tapi, siapa pengirimnya? Aku disini tidak punya siapa-siapa. Atau ini kiriman Fadhli dan menaruh racun di makanan ini agar aku keracunan?
Aku hanya memandangi makanan itu, tanpa berani menyentuhnya. Aku berfikir ratusan kali untuk memakannya atau tidak.
"Jika makanan ini beracun, maka aku akan mati keracunan. Dan jika makanan ini tidak beracun, maka aku akan mati kelaparan karena aku tidak mempunyai persediaan uang untuk kedepannya" batinku
Aku pun memutuskan untuk memakannya. Entah apa yang akan terjadi, itu urusan belakangan. Lagi pula, aku memang sudah merasa lapar sejak tadi.
Aku berusaha untuk mencari pekerjaan dikota ini. Entahlah, mencoba lebih baik daripada hanya duduk berpangku tangan. Jika ditolak itu sudah biasa, meski memang terasa sakit. Yang tidak biasa adalah terus mencoba walaupun beribu-ribu kali gagal, karena kegagalan bukan akhir dari segalanya tapi awal dari sebuah pertandingan kehidupan yang sesungguhnya.
Aku sudah mencoba melamar kerja diberbagai tempat, tapi semuanya sia-sia. Hari sudah semakin siang, mungkin uang yang kumiliki sekarang hanya cukup untuk makan siang saja. Aku melihat ke dompetku ternyata hanya ada uang 20 ribu saja. Aku menghabiskan banyak uang hanya untuk kesini, ke kota tempat tinggal saudara kembarku. Aku memutuskan untuk membeli air mineral dan sebungkus roti untuk mengganjal perut.
"Mungkin sore nanti aku bisa makan enak" batinku
Hari sudah menjelang sore. Aku bertanya kepada seseorang yang sedang menunggu dihalte bus.
"Maaf pa.. Saya boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku
"Iya. Ada apa?"
"Apa bapa mempunyai kenalan yang membutuhkan pekerja? Saat ini, saya sangat membutuhkan pekerjaan"
"Eum.. Sebentar ya. Minggu kemarin sih ada, ada yang mencari karyawan untuk bekerja ditoko"
__ADS_1
"Apa sekarang masih bisa pa?"
"Ini kartu nama saya. Saya sedang buru-buru. Nanti anda hubungi saya saja" ucapnya sambil memasuki bus yang sudah ada didepannya
"Baik pa. Terimakasih banyak"
Aku masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup dikota ini. Semoga saja keberuntungan berpihak padaku.
(Beberapa bulan kemudian)
Aku sangat bersyukur. Sekarang ini aku sudah diberikan kepercayaan untuk mengelola sebuah toko yang lumayan besar. Aku menjadi Store Manager ditoko kue yang cukup terkenal. Sungguh Dewi Portuna sangat memihak kepadaku.
Setelah beberapa hari aku mendapatkan pekerjaan, aku memberanikan diri untuk menemui Fadhli lagi. Mungkin kali ini dia akan menghargaiku karena aku sudah mempunyai jabatan. Semoga saja.
Aku sengaja menunggu didepan kantornya, menunggu waktu istirahat makan siang. Dan tibalah waktunya.
Aku berjalan menghampirinya sambil memperbaiki kerah baju.
"Permisi, apa saya boleh minta waktu anda sebentar pa?" tanyaku
"Wah.. Sekarang anda sudah sukses ya? Anda sudah berhasil menipu siapa?" tanyanya dengan nada meledek setelah memperhatikan penampilanku dari bawah keatas
Sungguh pernyataan sekaligus pertanyaan yang sangat menyakitkan. Tapi, aku berusaha untuk tidak tersulut emosi. Karena semuanya akan sia-sia jika diselesaikan dengan emosi.
"Maaf, tapi saya ingin berbicara baik-baik dengan anda. Saya juga tidak ingin mencari masalah dengan anda" ucapku
"Mau bicara apalagi? Apa sekarang anda ingin mengaku-ngaku sebagai ayah kandung saya yang sebenarnya? Atau utusan Tuhan? Atau bahkan anda ingin mengaku sebagai peri yang bisa mengabulkan apa saja dengan imbalan uang? Hmm?" ucapnya dengan nada merendahkan sekaligus meledek
Aku semakin mengepalkan tanganku, lama-lama aku tidak bisa menahan emosi dengan orang ini. Orang yang sangat tidak tahu bagaimana caranya menghargai orang lain.
"Baiklah, baiklah.. Saya akan meluangkan waktu saya sebentar untuk anda 'Tuan'" ucapnya dengan menekankan kata 'Tuan' dan dengan ekspresi muka yang sangat menjengkelkan
Dia berjalan ke sebuah Taman yang tak jauh dari kantornya, lalu aku pun mengikutinya.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan Tuan?" tanyanya
__ADS_1
"Saya ingin memperjelas permasalahan kita waktu itu. Saya ingin membuktikan bahwa saya bukan penipu seperti yang anda kira. Anda bisa lihat ini?" ucapku sambil menunjukkan kartu nama
"Ouw.. Manager ya?" ucapnya agak meremehkan
"Sekali lagi saya tekankan, saya bukanlah penipu. Saya disini hanya ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi pada kita berdua. Meskipun saya tidak mempunyai bukti yang kuat, tapi saya mempunyai alamat rumah anda yang lama"
"Hubungannya?" tanyanya
Aku pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, mulai dari mencari alamatnya dan dapat menemuinya disini.
"Kenapa anda begitu yakin dengan saya?" tanyanya dengan suara yang sudah direndahkan
"Coba lihat ini" aku menunjukkan alamat rumah yang ku cari sejak lama
"Benar bukan, ini alamat rumah anda yang lama?" tanyaku
Dia terdiam sejenak kemudian secara tiba-tiba ia memelukku. Dengan reflek aku mendorongnya, karena aku merasa jijik jika harus berpelukan dengan laki-laki didepan umum.
"Maafkan semua perlakuan saya.. Saya percaya pada anda, maafkan saya.. Sekali lagi maafkan saya" ucapnya dengan nada suara bergetar seperti orang ingin menangis sambil terus memegang tanganku. Jujur aku merasa sangat risih dengan itu, tapi apa boleh buat
"Sudah-sudah.. Sekarang ibu ada dimana? Apa dia masih hidup?" tanyaku sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya
"I-ibu.. Ibu.. Ibu mungkin sudah bertemu dengan ayah di alam yang berbeda dengan kita" ucapnya
"Innalilahi wa innaliahi rojiun" ucapku
"Bisa kau antarkan saya ke makam beliau?"
"Bi-bisa.. Mungkin beliau akan senang jika kedatangan anak yang sudah lama tidak ia temui" ucapnya
"Sekarang? Pekerjaanmu bagaimana?" tanyaku
"Entahlah.. Saya ingin melakukan ini semua sebagai permintaan maaf saya kepada anda"
To be continued....
__ADS_1