Semburat Rindu

Semburat Rindu
Papa?


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu dari luar ruangan memecahkan keheningan pagi hari itu.


"Biar Rusda aja ma.." ucapku saat mama ingin berdiri membukakan pintu


Saat aku membuka pintu, aku terkejut melihat sosok yang sangat mirip dengan papa berdiri didepan pintu. Ia menyapaku.


"Hai.. Boleh saya masuk nak?" ucapnya kepadaku


"Maaf, bapa siapa?" tanyaku bingung


Sebelum dia menjawab pertanyaan ku, tiba-tiba mama keluar dan menanyakan siapa yang datang.


"Siapa yang dat-" ucapan mama terputus saat melihat siapa yang datang


"Si-siapa kamu?"


"Saya-" ucapannya terputus


Mama langsung memegang kepalanya sambil meringis dan kemudian ia pun jatuh pingsan. Dengan sigap, orang asing tersebut menggendong mama kedalam ruangan. Ia menidurkan mama di sofa yang ada didalam ruangan Fajar.


Kebetulan ada suster yang sedang lewat didepan ruangan. Aku pun langsung memanggilnya.


"Sus... Suster.."


"Ada apa?" jawab suster tersebut


"Mama saya tiba-tiba pingsan sus.."


"Sebentar, saya panggilkan dokter dulu"


Sambil menunggu dokternya datang, bi Ika mengoleskan minyak kayu putih didekat hidung mama. Mama pun sedikit merespon bau tersebut.


Dilain keadaan dan diwaktu yang sama. Aku berbincang dengan orang asing yang mirip dengan papaku atau lebih tepatnya, papanya Fajar.

__ADS_1


"Bapa ini siapa? Dan untuk apa bapa kesini?"


"Saya kesini un-" lagi-lagi ucapan orang asing tersebut


Mama tiba-tiba bangun dan berbicara hal-hal yang aneh sambil memegang pundak orang asing tersebut.


"Pa.. Papa gapapa kan? Papa sehat kan? Barusan mama mimpi buruk. Mama sama papa kecelakaan dan papa ninggalin mama gitu aja. Dan saat kecelakaan ada dua anak kecil yang ikut kecelakaan juga pa.. Mama takut pa, mama takut." ucap mama dengan suara seperti orang yang sedang ketakutan


"Tapi sa-saya bukan.." ucap orang asing itu


Aku pun langsung menyuruh Fajar untuk mendengarkan musik menggunakan earphone yang kubawa. Aku tidak mau, dia tahu apa yang dibicarakan oleh mama.


"Ada apa sih da? Kamu kenapa tiba-tiba nyuruh aku ngedengerin musik?" tanya Fajar


"Terus itu mama ngomong apa sih? Kayanya mama nangis" tanya Fajar lagi


"Engga kok.. Itu mama abis nonton Drakor tadi. Dari tadi ga ada suaranya kan? Hening." ucapku


"Oh.. Kirain dari tadi diem-dieman lagi ngelamun aja" ucap Fajar


Saat kulihat, ternyata dokter dan suster yang tadi sudah datang. Dan ku lihat mama sedang mengamuk sambil mengacak-ngacak rambutnya. Entah apa yang terjadi pada mama, aku melewatkannya.


"Kami tidak bisa bertindak apa-apa. Ini bukan bidang kami. Kami akan menghubungi dokter ahli kesehatan jiwa terlebih dahulu" ucap dokter tersebut


"Baik dok.." ucap orang asing yang masih berusaha menenangkan mama


"Saya permisi dulu. Secepatnya saya akan memanggil dokter yang bisa menangani" ucap dokter itu sambil berlari keluar ruangan


Mama terus saja berbicara hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal, sambil terus memaksa orang lain untuk percaya dengan apa yang ia bicarakan. Aku sendiri merasa sangat bingung. Karena semua yang ia bicarakan itu sangat aneh, tidak sesuai dengan fakta. Mulai dari dia tidak pernah bisa punya anak, sampai kecelakaan yang ia anggap sebagai mimpi buruk.


Tidak lama kemudian, dokter lain pun datang bersama dengan seorang suster yang membawa obat bius. Tanpa aba-aba, dokter itu langsung berusaha untuk menyuntikkan obat biusnya. Sempat ada perlawanan dari mama. Tapi, karena banyak yang memegangi mama, akhirnya obat bius itu berhasil disuntikkan ke mama.


>>Cerita dari pandangan orang misterius yang mirip dengan papa<<


(Beberapa jam sebelum kedatangan ku ke rumah sakit)

__ADS_1


Aku memandangi foto saudara kembar ku yang kini telah beda alam denganku. Tak akan bisa bertemu walau hanya lima detik saja. Kami berdua adalah saudara kembar yang sudah lama dipisahkan. Aku pun baru mengetahui bahwa aku punya saudara kembar, setelah ayahku memberi tahu semuanya sebelum beliau meninggalkan dunia ini. Ayahku menceritakan bahwa ia sudah cerai dengan mamaku sejak aku masih sangat kecil. Aku dirawat oleh ayahku, dan saudaraku dirawat oleh ibuku. Selama ini aku tinggal di pulau Kalimantan dengan ayah. Sedangkan, mama dan saudaraku tinggal di pulau Jawa. Karena itu aku dan mama tidak pernah bertemu sama sekali. Sampai pada waktunya, ayah memberitahu semua kebohongan-kebohongannya mengenai keluargaku ini. Ayah menyuruhku untuk pergi menemui mama, supaya aku tidak sendiri disini. Dia memberi tahu alamat rumah mama. Tapi, sesampainya aku di pulau Jawa dan menemui alamat rumah yang dimaksud oleh ayah, disana bukanlah alamat rumah Fadhli saudara kembarku. Ternyata ia sudah pindah.


(Beberapa bulan sebelum kedatanganku kerumah sakit)


Aku terus berusaha mencari. Aku hanya mempunyai petunjuk dari nama saja. Jujur, aku sangat bingung dan frustasi. Aku hampir ingin menyerah. Rasanya semua ini percuma. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan orang yang sangat mirip denganku. Ia sedang berjalan diparkiran mobil, menggunakan jas kantoran. Tanpa ragu-ragu aku langsung mendekatinya dan mengajaknya berbincang sebentar.


"Permisi pa.. Apa boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku


"Boleh. Tapi anda siapa ya?"


"Saya Fadhil pa. Dan apa nama bapa Fadhli?" aku langsung saja to the point


"Anda tahu nama saya dari mana?" ekspresi mukanya semakin menunjukan kebingungan


"Sebelum saya menjawab pertanyaan bapa, apa boleh kita ketempat yang lebih nyaman untuk berbincang?"


"Baik.. Bagaimana kalau di cafe sebrang saja. Tempatnya tidak jauh dari sini"


Aku hanya mengangguk, tanda mengiyakan ucapannya.


Sesampainya di cafe, Fadhli langsung menanyakan pertanyaan yang belum sempat ku jawab tadi.


"Bagaimana jawaban pertanyaan anda yang tadi? Dan sebenarnya siapa anda ini?" selidik Fadhli


Aku pun menceritakan semua yang sebenarnya sudah terjadi. Setelah ia mendengar penjelasan ku, ia malah meminta bukti bahwa semua yang ku ucapkan adalah kebenaran.


"Apa maksud semua ini? Modus penipuan macam apalgi ini? Apa hanya dengan kemiripan pada wajah, anda bisa mengaku-ngaku bahwa anda saudara saya? Sudah banyak orang diluar sana yang berusaha menipu saya. Karena saya adalah pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Jika anda tidak bisa menunjukan bukti lain, saya akan pergi dari sini dan jika anda masih nekad menemui saya, saya akan meloporkan anda ke pihak yang berwajib atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Karena saat saya keluar tadi, saya ingin pergi untuk bertemu dengan clien saya. Bagi saya, waktu adalah uang. Dan sekarang anda membuat saya membuang-buang uang. Faham!?!?" ucapnya dengan nada emosi sampai urat-urat dilehernya terlihat


Ia langsung meninggalkan ku begitu saja. Aku tidak menyangka bahwa responnya akan seperti itu.


To be continued....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Semua ada waktunya. Jika memang ditakdirkan untuk bertemu, ya pasti akan bertemu. Meskipun dipikiran saya ada beribu-ribu ketidak mungkinan. Saya yang sudah lama berpisah dengan saudara saya, ternyata saya bisa menemuinya. Meskipun susah sekali mendapatkan kepercayaan orang yang baru ditemui. Lagi-lagi ini semua karena 'Takdir', dan tentunya karena usaha saya juga. Pesan untuk kalian 'Jangan mudah menyerah ya.. Tidak ada yang tidak mungkin kok. Kuncinya adalah DUIT(Do'a, Usaha, Istiqomah dan Tawakal)"

__ADS_1


~Fadhil Putra Nandawijaya


__ADS_2