Semburat Rindu

Semburat Rindu
Orang Misterius


__ADS_3

>>Cerita dari pandangan Rusda<<


Akhirnya, aku dapat menahan mama. Mama terduduk lemas dilantai sambil terus menangis. Aku hanya bisa terus memeluknya untuk memberikan kekuatan.


Sampai ada telepon yang berbunyi dari handphone ku yang berada diatas meja, aku pun beranjak dan mengambilnya. Sambil terus melihat kearah mama.


"Halo bi. Kenapa?"


Aku mengangkat telepon dengan suara yang terdengar seperti habis nangis


"Loh, kamu kenapa nak? Kok nangis?"


"Gapapa bi.. Bibi kenapa nelpon?"


"Fajar udah sadar. Dia nyariin kamu"


"Oh.. Ba-baik bi.. Aku kesana"


"Ma.. Fajar udah inget Rusda ma.." Ucapku sambil mendekati mama


"Dia nyariin kamu kan? Bukan mama"


"Tapi, mama juga harus ketemu sama dia"


Mama hanya diam saja dan langsung berdiri mengambil handphone.


"Ayo"


Aku pun langsung tersenyum sambil berjalan mengikuti mama


Sesampainya dirumah sakit, aku dan mama langsung memasuki ruangan tempat Fajar dirawat. Kami melihat Fajar sedang duduk diatas ranjang rumah sakit dengan posisi bersandar. Ia sedang makan disuapi bi Ika.


"Fajaaar" ucap mama sambil berlari dan langsung memeluk Fajar


"Mama kangen sama kamu sayang" ucap mama lagi sambil menciumi kening dan pipi anak kandung satu-satunya itu


"Mamaa.. Fajar juga kangen sama mama.." ucap Fajar sambil meneteskan air matanya


"Fajar takut maa.. Fajar takut.. Fajar ga mau sendiri.. Fajar takut gelap" ucap Fajar sambil terus memegang tangan mama tanpa mau melepaskannya


"Sabar ya sayang.. Mama disini, mama bakal nemenin kamu terus.. Jangan takut ya.."


"Pa-papa dimana ma? Kok papa ga dateng?" tanya Fajar


Mama malah melihatku, aku pun bingung bagaimana menyampaikannya.


("Mungkin untuk saat ini, Fajar jangan tau dulu. Dia baru saja mengingat semuanya. Takutnya dia syok" bisikku ke telinga mama)


"Papamu sedang diluar negeri nak. I-ia ada pekerjaan mendadak dan tidak bisa izin atau diundur"


"Hmm.. Selalu begitu.. Pasti hanya karena pekerjaan Fajar selalu dikalahkan"


"Eh tadi kamu nyariin Rusda kan? Dari tadi Rusda disini loh"

__ADS_1


Aku langsung mendekat kearah Fajar dan memegang tangannya.


"Rusdaa.. Kamu baik-baik aja kan? Ga ada yang luka kan? Aku minta maaf ya.."


"Iya aku baik-baik aja dan ga ada yang luka kok. Tapi, kamu jangan minta maaf.. Aku yang harusnya minta maaf. Gara-gara aku kamu jadi kaya gini. Coba aja waktu itu kita diem-diem di rumah, pasti ga bakal kaya gini"


"Disini ga ada yang salah nak. Semua memang sudah takdir"


"Iya bener kata mama da" Fajar membenarkan ucapan mama


Aku hanya bisa tertunduk diam, karena rasa bersalah terus saja menyelimuti diriku.


"Oh iya, komik kamu gimana? Masih lanjut kan?" tanya Fajar


"Sebenernya setelah kecelakaan waktu itu, aku ga ngelanjutin lagi.. Ngelanjutin sih, tapi kadang-kadang"


"Loh kenapa?"


"Engga apa-apa"


"Kemaren ada yang ngejenguk Fajar bi? Ini dari siapa?" tanyaku sambil menunjuk sebuah parsel yang berisi buah-buahan


"Iya, kemarin ada yang menjenguk nak Fajar"


"Siapa bi?" ucapku berbarengan dengan Fajar


"Loh, kamu ga tau jar?" tanyaku bingung


"Emangnya siapa sih bi?" tanya Fajar


"Ndak tau. Tapi dia bilang kalau dia itu perwakilan dari teman-teman sekelasnya nak Fajar" jelas bi Ika


"Temen-temen?" ucap Fajar lirih


"Sendiri bi?" tanyaku


"Iya, dia sendiri nak"


"Perempuan atau laki-laki bi" tanya mama


"Perempuan" jawab bi Ika


"Sejak kapan kamu akrab sama perempuan Fajar?" tanya mama


"Fajar ga pernah akrab sama perempuan ma.. Satu-satunya perempuan yang akrab sama Fajar ya cuma Senja"


Semua orang terlihat sedang berfikir untuk menemukan jawabannya.


"Bibi seperti ga asing sama wajahnya. Tapi siapa ya?" bi Ika berbicara lirih


Saat suasana sedang hening-heningnya tiba-tiba...


Suara dering teleponku yang sangat nyaring, memecahkan suasana. Dan semua orang langsung melihat kearahku kecuali Fajar, ia hanya menengok kearah sumber suara.

__ADS_1


"Ma-maaf" ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal


Ku lihat ternyata dari om Nawi, psikiater yang tadi malam ku hubungi. Aku pun izin keluar untuk mengangkat telepon.


"Ma.. Jar.. Bi.. Pamit kedepan sebentar ya, mau ngangkat telepon" ucapku


Semua orang diruangan itu hanya mengangguk dan kembali ke pikirannya masing-masing.


"Halo dok"


"Iya halo. Kapan kamu mau bawa mama kamu kesini?"


"Nanti-nanti saja ya dok.. Fajar baru aja sadar. Dan mama kayanya ga mau dipisahin sama Fajar.. Lagi juga mama udah ga kenapa-kenapa kok dok.. Udah normal lagi" ucapku dengan polosnya


"Ya sudah, kalau ada apa-apa hubungi saya saja ya"


"Iya dok, siap"


"Baik. Terimakasih"


Tut.. Tut.. Tut..


Telepon pun dimatikan oleh pihak om Nawi.


Aku kembali masuk ke dalam ruangan. Dan suasana masih sama saat aku meninggalkan ruangan ini, hening.


"Ehm.." aku berdehem untuk membuat orang-orang diruangan ini sadar akan kehadiranku kembali


Mereka semua tetap diam saja. Tapi, matanya melihat kearahku. Aku hanya menggaruk leher ku dan berjalan menuju ke samping ranjang Fajar. Aku mendekati parsel yang entah diberikan oleh siapa. Karena aku terus diliatin oleh mama dan bi Ika, aku jadi salting(salah tingkah). Tanganku pun jadi tidak bisa diam dan akhirnya aku membuka parsel tersebut.


Aku mengeluarkan semua buahnya dan menemukan sepucuk kertas yang berisi tulisan "Keep Strong, litle MR". Aku langsung menunjukkannnya kepada mama dan bi Ika. Mereka langsung menujukan ekspresi muka yang lebih bingung dari sebelumnya.


"Fajar.. Didalem parsel ada suratnya nih. Bacaannya 'Keep strong, litle MR'"


"Hah, serius da?"


"Iya. Ngapain sih aku bohong"


Semua orang kembali berfikir dan suasana pun kembali hening.


Dipikiran ku sempat terlintas nama Senja. Tapi, itu semua tidak mungkin kan? Senja sudah lama pergi, tidak mungkin dia bisa tau keadaan Fajar sekarang. Aku berfikir bahwa, orang tersebut adalah penggemar Fajar. Dia ngefans sama Fajar secara diam-diam. Mungkin kan?


Entahlah.. Sepertinya hari ini semua orang hanya sibuk memikirkan hal itu. Sampai tidak ingat waktu. Mereka semua memang tidak punya pekerjaan atau apa?


Aku tidak mau mengatakan apapun lagi. Nanti kalau mereka melihat kearahku lagi, aku jadi salting lagi. Dan kalau aku salting nanti bisa-bisa semua barang yang ada disini ku peretelin.


To be continued......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Semua yang sudah terjadi memang takdir atau kehendak yang maha kuasa. Tapi bukan berarti kita hanya diam saja memunggu takdir-Nya. Kita juga butuh tindakan untuk mendapatkannya. Mungkin, jika musibah tidak butuh usaha apapun untuk mendapatkannya. Tapi, untuk sebuah keselamatan diri, datangnya rezeki dan hal lain yang bisa menguntungkan bagi kita, itu semua butuh yang namanya "Usaha". Bukan hanya sekedar menunggu takdir Tuhan. "Takdir Tuhan tidak pernah keliru. Kalau kita tidak ditakdirkan terkena penyakit itu pun, kita tidak akan kena" mungkin itu ucapan-ucapan orang yang sombong, orang yang tidak mau berusaha untuk keselamatan dirinya sendiri, orang yang hanya ingin menerima semua tanpa usaha apapun. Intinya 'Tetap berusaha yang terbaik untuk dirimu sendiri, karena takdir datang beriringan dengan usaha'"


~Fajar Ulil Abshor

__ADS_1


__ADS_2