Semburat Rindu

Semburat Rindu
Depresi


__ADS_3

>>Cerita dari pandangan Rusda<<


Beberapa minggu setelah kejadian waktu itu, Fajar masih terbaring diranjang rumah sakit. Walaupun ia sudah siuman, namun dia masih suka mengamuk dan selalu memberontak ketika didekati. Hal itulah yang membuat Fajar belum diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Yang membuat pemulihan susah dilakukan adalah kondisi Fajar yang sangat memprihatinkan. Mulai dari ingatannya yang menghilang, sampai kebutaan yang dialaminya.


Hampir setiap hari ia menangis sambil menyebut-nyebut nama Senja. Aku sendiri tidak kenal dengan yang namanya Senja.


Dokter menyarankan untuk mencari orang yang bernama Senja tersebut. Dokter bilang, satu-satunya orang yang bisa berkomunikasi dengan Fajar untuk saat ini hanyalah Senja. Orang yang namanya selalu disebut oleh Fajar.


Aku ingin menanyakan tentang Senja kepada mama. Tapi, sepertinya mama sangat stres dan depresi melihat kondisi anak kandung satu-satunya itu.


Aku pun berinisiatif untuk pulang ke rumah. Aku ingin bertanya kepada tetangganya Fajar soal Senja. Mungkin mereka tau.


Sesampainya dirumah aku yang tadinya berniat untuk langsung menanyakan tentang Senja kepada tetangga rumah, malah berfikir untuk mencari petunjuk dikamar Fajar. Siapa tau Fajar menyimpan sesuatu dikamarnya. Walaupun terdengar tidak sopan, masuk kamar orang tanpa izin. Tapi, sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caranya aku bisa mengetahui identitas Senja, supaya aku dapat dengan mudah mencarinya.


Aku mulai mencari sesuatu yang mungkin akan berguna untuk mencari informasi.


Pertama, aku mencarinya dilaci-laci kecil yang ada didekat meja belajar Fajar. Kubuka satu persatu laci-laci tersebut. Laci pertama hanya berisi pensil, pulpen dan alat tulis lainnya. Dilaci kedua ada beberapa buku bacaan. Kubuka satu persatu lembaran buku-buku itu. Dan tidak ada hasil apa pun. Dilaci-laci yang berikutnya pun sama, aku tidak bisa menemukan petunjuk apa pun.


Aku beralih ke bagian atas meja. Ada banyak buku yang disusun bersandar. Ku ambil satu persatu. Dan disaat aku mengambil buku-buku itu, ada selembar foto yang jatuh dari dalam lembaran buku. Ku lihat difoto tersebut ada seorang anak laki-laki sekitar umur lima tahunan bersama seorang perempuan yang sepertinya lebih tua dari si anak laki-laki.


Aku berfikir bahwa anak laki-laki itu adalah Fajar dan siapa perempuan ini? Apa mungkin kakanya? Tapi, setauku Fajar tidak punya kaka.


"Astagaa..." ucapku sambil menepuk jidat


"Kenapa ga tanya bi Ika aja coba.. Dia kan udah lama jadi pembantu disini.."


"Aduuh... Rusdaaa bodoh banget si.." ucapku sambil memukul-mukul kepalaku sendiri


Aku pun menuruni anak tangga sambil berlari. Tidak lupa aku membawa foto yang baru saja aku temukan.


"Bii... Bi Ikaa.." aku berteriak sambil mencari keberadaan bi Ika


"Ada apa nak? Bibi di dapur" teriak bi Ika


Aku langsung berlari ke dapur.


"Ada apa toh nak? Kok buru-buru gitu"


"Loh kok bibi ga kerumah sakit nemenin mama?"


"Bibi lagi nyiapin makanan buat mamamu nak. Kasian dia, makan makanan instan mulu. Ga baik loh kebanyakan makan makanan instan"


"Ooh.."


"Terus kenapa tadi panggil-panggil bibi?"

__ADS_1


"Ee.. Ee.. Kenapa ya?"


"Haduh, ya sudah.. Bibi mau kerumah sakit lagi ya"


"Iya bi"


Beberapa detik kemudian aku baru ingat, setelah melihat foto yang ku bawa.


"Eh.. Eh.. Eh.. Eh bi.. Jangan pergi dulu"


"Ada apalagi nak Rusda?"


"Ini bi, baru inget. Tadi mau nanyain soal foto ini" ucapku sambil memberikan foto yang ku temukan di kamar Fajar


Dia memerhatikan foto itu sambil mengerutkan keningnya.


"Oh ini sepertinya foto nak Fajar"


"Sama siapa bi?"


"Kalau tidak salah, namanya itu..."


"Siapa bi? Bibi kenal?"


"Iya bibi kenal. Namanya.... Se.. Se.." ucapnya sambil berusaha terus mengingat


"Senjaa?"


Deg.. Aku langsung merasa senang, karena mendapatkan sedikit petunjuk dari bi Ika.


"Kalo boleh tau, Senja itu siapanya Fajar bi?"


"Aduh, nanya-nanyanya nanti aja ya.. Bibi kan mau kerumah sakit lagi, kasian mamamu sendirian disana"


"Rusda ikut bi.."


"Ya sudah ayo.. Sekalian kalau mau tanya-tanya dijalan aja"


(Diperjalanan ke rumah sakit)


"Jadi gimana bi, jawaban yang tadi?"


"Yang mana?"


"Itu loh bi, soal si Senja"


"Oh.. Senja itu satu-satunya teman Fajar sewaktu kecil.."

__ADS_1


"Terus bi?"


"Ya ga ada terusannnya"


"Ih si bibi mah.. Rusda mau tau banyak soal Senja bi"


"Senja itu anak perempuan yang baiiik sekali.. Hampir setiap hari dia main ke rumah.. Fajar dan Senja itu udah kaya sendal jepit. Ga bisa dipisahin. Kalau ga ketemu Senja sehari aja, Fajar bakal mogok makan. Saking akrabnya dia dengan Senja. Tapii, udah lima tahun Senja pergi ninggalin Fajar tiba-tiba.."


"Innalillahi"


"Dia ga meninggal nak. Cuma pergi aja.. Ga tau kemana dan kenapa."


"Oohh.. Terus sampe sekarang ga ada yang tau dia pergi kemana bi?"


"Engga nak.."


("Terus aku harus cari dia kemana?" batinku")


"Sudah sampai nak.. Turun yu.."


Bi Ika menyuruhku turun dari grab mobil yang dipesannya.


Sesampainya di rumah sakit, aku melihat mama sedang melamun di koridor rumah sakit dengan mata sembabnya


Aku tidak tega sekali melihatnya seperti itu..


Aku masuk ke ruangan tempat Fajar dirawat. Dan aku duduk didekat ranjangnya. Aku melihatnya sedang tertidur pulas. Aku pun berbicara lirih didekat telinganya.


"Fajaar.. Ini aku, Rusda. Teman kamu yang sekarang udah jadi seperti sodara kamu. Kamu inget aku kan?"


"Kamu mau lihat Senja?"


Aku membuka gorden kamar rumah sakit. Menunjukan awan sore yang berwarna jingga.


"Maaf, aku hanya bisa memperlihatkan cahayanya saja. Kapan-kapan kita lihat Senja sama-sama ya"


Mungkin saat ini aku seperti orang gila, berbicara sendiri. Tapi, tidak apa karena ruangan ini adalah ruangan VIP, jadi tidak ada yang lihat.


Aku terus mengajaknya berbicara. Mungkin dengan ini, Fajar bisa dengan cepat mengingat semuanya. Walaupun sekarang ini Fajar sedang dalam keadaan tertidur.


("Fajar aku punya hutang budi yang sangat banyak sama kamu, sama keluarga kamu. Aku janji, aku ga bakal pernah ninggalin kamu, ninggalin keluarga ini. Aku juga mau minta maaf, mungkin karena kehadiran ku. Keluarga kamu jadi hancur seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf Fajar" batinku)


Sore itu, perasaanku sangat tidak enak. Entah karena apa, aku merasa bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Semoga saja, bukan hal yang lebih buruk daripada ini.


To be continued....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Sebagian orang pasti memiliki orang yang spesial dalam hidupnya. Kalau tidak? Simpel saja, berarti kamu tidak punya hidup. Bercanda ya. Semua orang pasti akan ada waktunya bertemu dengan orang yang spesial diwaktu yang spesial. Orang yang selalu mengerti keadaan kamu, orang yang selalu menolong kamu, orang yang selalu membela kamu disaat kamu benar tapi tidak ada yang membela. Intinya, kamu harus sabar. Jika sekarang ini kamu merasa sendiri atau merasa 'Nolep', ingat! Allah always with you. Allah yang akan menolong kamu. Itu pun kalau kamu menghadapi semuanya dengan sabar."


~Rusda Ainul Ghurri


__ADS_2