
Sudah dua tahun Rusda tinggal bersamaku. Dan selama itu juga dia terus menggali bakatnya dengan modal yang diberikan orangtuaku. Dia terus mencoba untuk membuat cerita dan gambar-gambar rancangannya sendiri. Memang, ia mempunyai cita-cita menjadi komikus. Bagiku dia sangat hebat. Diumurnya yang masih 14 tahun sudah bisa berkarya. Dan komik buatannya sedang dalam proses penerbitan.
Hari ini aku, Rusda, papa dan mama ingin merayakan keberhasilannya menjadi seorang komikus dengan jalan-jalan. Jujur, aku sangat iri dengannya. Ayah dan ibu jarang sekali mau ku ajak jalan-jalan.
Aku sama sekali tidak menyangka apa yang akan terjadi hari ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan.
"Mamaa.. Rusda katanya mau bawa miki tuh maa.." teriakku dari lantai dua
(Miki adalah nama kucing peliharaan Rusda)
"Eh, kok dibawa? Nanti kalo dia kabur gimana?" tanya mamaku sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku dan Rusda
"Engga ma, bohong.. Jangan dipercaya"
"Ya sudah, ayo turun.. Biar Miki nanti suruh bi Ika aja yang urus"
"Oke maa.."
Aku dan Rusda langsung berlarian turun seperti anak bebek yang dilepas dari kandangnya.
"Pelan-pelan nak"
"Papa mana ma?" tanyaku karena tidak melihat ada papa dimana-mana
"Itu papa" ucap mama sambil menunjuk ke arah luar jendela
"Wiiihh... Papa semangat banget nih ya.." ucapku setelah masuk ke dalam mobil
"Siaap?" tanya papa
"Siaaap..." ucapku dengan Rusda bersamaan dengan penuh semangat
Selama perjalanan Rusda tidak berhenti bercerita tentang pengalamannya membuat komik. Akupun dengan senang menanggapi ceritanya.
"Kamu bisanya apa Fajar? Masa anak papa kalah sih sama Rusda?"
"Bisanya? Ngabisin duit papa. Hahahaha..." aku tertawa sendiri sedangkan yang lain hanya menatapku penuh kebingungan
"Eee.." aku hanya bisa menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal
__ADS_1
Sesampainya ditempat tujuan, Dufan.
"Mamaa... Naik itu yu.." aku menunjuk wahana rollercoaster yang sedang berjalan
"Kamu sama Rusda aja ya.. Mama sama papa tunggu sini"
Hari itu aku merasa sangaat bahagia.. Bisa bermain dan berkumpul sama mama dan papa.
Singkat cerita, aku dan Rusda selesai bermain. Dan tidak terasa ternyata sudah jam 2 siang. Mama dan papa pun mengajak kami berdua untuk pulang.
(Pada saat diperjalanan pulang)
"Maa.." ucapku pada mama
"Apa sayang?" jawab mamaku lembut
"Mama kenapa kerja terus sih? Kan papa udah kerja, jadi mama ga usah kerja ya?"
"Memangnya kenapa sayang kalo mama kerja?"
"Fajar pengen kaya orang-orang mah. Bisa cerita-cerita sama mama.. Cerita tentang temen-temen, cerita tentang sekolah. Kalo mama sama papa kerja, Fajar mau cerita ke siapa? Dulu waktu ka Senja masih sering nemuin Fajar, ka Senja yang Fajar ajakin buat dengerin cerita Fajar. Sekarang?"
"Sekarang Rusda sibuk sama hobi ngegambar dia mah. Kan mama tau dia pengen banget nerbitin banyak komik"
"Ya udah. Nanti mama bakal pikir-pikir lagi"
"Jangan dipikir-pikir lagi dong mah.. Janji yaa mama bakal selalu punya waktu buat Fajar"
Mama hanya tersenyum. Dan aku mengisyaratkan jari kelingking ku untuk berjanji. Mama pun menyatukan jari kelingking ku dengan jari kelingkingnya. Detik itu juga aku merasa duniaku kembali, duniaku mulai berwarna lagi, sama seperti waktu Senja masih ada disini.
Mobilku mengalami goncangan yang sangat keras. Saking kerasnya Rusda sampai terbangun dari tidurnya. Sepertinya papa menabrak sesuatu. Tapi ketika papa ingin memberhentikan mobilnya, rem mobil tidak bisa berfungsi.
"Bagaimana ini, remnya tidak bisa berfungsi"
Kami semua mulai panik. Entah apa yang akan terjadi. Tapi, aku merasa sangat takut. Aku dan Rusda memeluk mama sangat erat karena jalanan yang sempit dan didepan sudah terlihat ada sebuah truk yang berlawanan arah sedang melalui jalan yang sama.
Saat itu aku hanya berharap ini semua hanya mimpi. Aku terus berfikir seperti itu sampai suara yang sangat keras dan benturan yang membuat mobilku hancur separuhnya. Dan sebelum aku pingsan, aku sempat melihat wajah papaku yang hancur karena benturan yang sangat keras.
Saat aku terbangun aku memegang bagian kepala ku yang terasa sangat berat dan sakiit sekali.. Tapi, aku tidak bisa melihat apa-apa. Hanya kegelapan yang bisa ku lihat.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku sambil menyebut-nyebut nama Fajar..
Aku tidak mengenali suaranya. Aku tidak ingat siapa-siapa. Yang ku ingat hanya nama Senja beserta kenangan-kenangannya. Saat itu yang aku inginkan hanya bertemu dengan Senja..
"Ka Senjaa.. Disini gelap ka.. Fajar takut"
Aku terus berbicara seperti itu sambil terus menangis dan berusaha menggerak-gerakan badanku walau terasa sangat sakit.. Dan sepertinya banyak orang yang berdatangan untuk memegangi tubuhku agar tidak banyak gerak. Dan tiba-tiba terasa ada cairan yang dimasukkan ke dalam tubuhku melalui suntikkan dan aku pun menjadi lebih tenang.
>>Cerita dari pandangan Rusda<<
Aku sangat tidak menyangka bahwa dalam waktu sesingkat itu bisa menghancurkan kebahagian yang baru saja aku rasakan dengan Fajar.
Sekarang dia sudah hampir seminggu koma. Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu lama mengalami koma. Padahal aku pun terluka pada saat kejadian itu. Yang selamat dalam kejadian itu hanya aku, Fajar dan mama. Ayah? Ia dinyatakan meninggal sebelum sempat dibawa kerumah sakit. Jujur, aku sangat sedih sampai aku tidak ingin melakukan apa pun itu.
Aku terus menunggu Fajar sampai siuman. Aku tidak ingin kehilangan dia. Dia sudah seperti saudaraku sendiri.
Mama pun melakukan hal yang sama denganku. Ia terus disamping tempat tidur Fajar, mengharapkan Fajar agar bangun secepatnya.
Tiba-tiba Fajar menggerakkan jari-jarinya. Dan tidak lama setelah itu, ia membuka matanya.
Saat itu juga aku dan mama langsung memegang tangannya sambil menyebut namanya. Tapi dia malah menanyakan oranglain. Dia terus menyebut-nyebut nama Senja sambil terus menangis dan memberontak. Aku pun berlari keluar untuk memanggil dokter dan suster. Akhirnya dokter dan suster pun datang menyuntikkan obat penenang kepada Fajar.
"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?" mama bertanya dengan penuh kekhawatiran
Dokter pun memeriksa Fajar sebentar.
"Maaf bu, anak ibu mengalami kebutaan sementara. Mungkin karena faktor stres berat yang ia alami."
Mama langsung menutup mulutnya sambil meneteskan air mata yang kian lama kian menderas.
"Maaf dok, tadi pasien sempat sadar tapi kenapa nama yang ia sebut nama orang lain? Sepertinya dia tidak mengenali suara saya dan mama saya"
"Mungkin, ia kehilangan beberapa ingatannya juga. Karena terjadi benturan yang sangat keras pada kepalanya"
"Tapi dok, semua itu bisa sembuh kan? Bisa seperti semula kan dok?"
"Iya, tapi semua itu butuh proses yang lama de"
Aku hanya bisa terus berharap dan berharap keajaiban datang menghampiri keluarga ini. Dan aku sangat menyesal karena sudah mengajak mereka untuk jalan-jalan. Kalau aku tidak mengajak mereka jalan-jalan mungkin semua kejadian ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
To Be Continued....