SEMESTA TAK TERBATAS

SEMESTA TAK TERBATAS
1. MENYINGKAP TIRAI PEMBATAS


__ADS_3

siang hari,16 November Tahun 2013, di salah satu kota besar di provinsi sulawesi selatan.


Andi Baco, seorang fotografer profesional, tengah serius di depan komputer. dia sedang sibuk mengedit foto klien yang beberapa saat lalu di potretnya. saat sedang memilih foto di folder penyimpanan, tiba-tiba smartphonenya berbunyi. sebuah nama muncul di display smartphone tersebut, " My Mother ".


" Halo Mak ", Andi Baco dengan dialek bugis yang kental mengangkat panggilan dari ibunya.


" Nak, bisa pulang kampung sekarang ? kakekmu sepertinya sudah tidak bisa bertahan lama",


suara seorang ibu terdengar sedih di seberang sana.


Andi Baco menjawab, " Baik mak, saya pulang sekarang "


Dia lantas mematikan komputernya, kemudian beranjak ke lemari pakaian yang ada di kamarnya untuk mengemasi beberapa pakaian yang akan dia bawa pulang kampung. setelah persiapannya selesai, dia kemudian mengambil kunci mobil yang ada di meja, kemudian keluar dan tak lupa mengunci semua pintu rumah. dia menyalakan mesin mobil, kemudian keluar dari komplek perumahan menuju jalan raya. jarak dari kota tempat Andi Baco ke kampung halamannya sekitar 200 Km.


sekitar kurang lebih 3 jam, mobil yang di kemudikan andi baco telah sampai di jalanan desa yang belum di aspal. dia mengendarai mobilnya dengan pelan. sekitar 10 menit kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah panggung yang lumayan besar. rumah panggung dengan gaya arsitektur khas bangsawan bugis tersebut adalah rumah kakeknya.


dia kemudian turun dari mobil, dan di depan tangga telah berdiri ayahnya dan dua orang pamannya. dia lantas menyalami ayahnya, "Andi Patabai". dan tak lupa juga menyalami kedua pamannya Andi Palesseri dan Andi Patatuai.


Andi Patabai lantas berkata, " naiklah nak, kakekmu sedang menunggumu sebelum beliau berangkat ".


Andi Baco keheranan, " bukannya kakek sedang sakit ? beliau mau berangkat kemana ? "


Andi patabai menjawab, " naik lah ke rumah, agar kamu bisa mendapat jawaban dari beliau "


" baik pak ", kata andi baco.


Andi Baco lantas menaiki tangga dengan anak tangga berjumlah 17 buah. ia masuk ke dalam rumah dengan mengucap salam. di ruang tamu telah berkumpul sepupu-sepupu dari ibunya. wajah mereka semua tampak bersedih. andi baco kemudian menuju ke ruang dalam dimana terdapat kamar kakeknya.


di dalam kamar kakeknya terbaring seorang laki-laki tua dengan umur 125 tahun, badan kurus dan rambut memutih. ya, laki-laki itu adalah Petta Kadi. Petta Kadi adalah ayah dari Petta Besse, ibu dari Andi Baco.


( Andi dalam suku bugis adalah gelar bangsawan. gelar itu menurun ke seorang anak dari jalur ayahnya. jadi apabila ayahnya seorang Andi, maka sang anak akan mendapat gelar andi juga, walaupun ibunya bukan. kemudian apabila ibunya yang Andi, sedang kan sang ayah bukan Andi, maka sang anak tidak boleh memakai gelar Andi ).


lanjut...

__ADS_1


Melihat anaknya datang, Petta besse yang sedang memangku kepala petta kadi melambaikan tangan agar andi baco mendekat.


kemudian Petta besse berucap pelan,


" pak, cucumu sudah datang ".


petta kadi membuka matanya dengan perlahan, kemudian senyum tipis menghias bibirnya. petta kadi kemudian berkata,


" Baco, kemarilah nak. gantikan ibumu. aku ingin berbaring di pangkuanmu".


Andi Baco kemudian beranjak naik ke tempat tidur kakeknya, dan menggantikan ibunya untuk memangku kepala kakeknya.


petta kadi kemudian berkata,


" besse, kamu keluar dulu. saya ingin berdua saja dengan cucuku ini, dan jangan lupa tutup pintunya ".


" baik ayah ", kata petta besse.


setelah petta besse keluar kamar dan menutup pintu, suasana menjadi hening. Andi Baco mengelus rambut putih kakeknya, dan sang kakek seperti menikmati elusan tersebut. dengan mata tertutup, Petta kadi kemudian berkata,


mendengar kalimat kakeknya, bulu kuduk andi baco merinding.


" DIA siapa yang kakek maksud ? dan warisan ilmu apa yang akan kakek berikan ? " tanya Andi baco dengan suara gemetar.


" dekatkan telingamu ke mulut kakek "


dengan takut-takut, andi baco mendekatkan telinganya.


" ini adalah rahasia turun temurun keluarga kita. pengetahuan yang mungkin hanya segelintir orang tau, jadi kakek harap kamu mendengarnya baik-baik", bisik Petta Kadi.


mendengar hal itu, jantung Andi Baco berdetak keras, aliran darahnya terasa berdesir kencang. dia tidak mampu berkata, dan hanya menganggukkan kepala.


" DIA adalah sang utusan. DIA yang akan menjemput kakek untuk berangkat menghadap sang pencipta. DIA pula yang membimbing kakek untuk mendapat pengetahuan RAHASIA ini, sehingga keluarga kita di hormati selama ini. setelah kepergian kakek, DIA akan membimbing kamu juga, sebab diantara sekian banyak keturunanku, DIA memilih kamu. apakah kamu ingin melihat dan berkenalan dengannya ? "

__ADS_1


mendengar hal itu, bulu kuduk andi baco semakin merinding. dia tidak pernah menyangka bahwa kakeknya mempunyai kisah misteri seperti ini. dengan perasaan yang masih diliputi ketakutan, dia berkata,


" apakah DIA ini mahluk mistik yang menakutkan kek ? saya benar-benar takut sekarang".


Petta Kadi menjawab, " kamu akan mengetahuinya. cukup jawab iya, saya bersedia. "


walaupun hati andi baco takut setengah mati, dia juga di liputi rasa penasaran yang tinggi.


" iya, saya bersedia ". jawab andi baco.


tiba-tiba bertiup angin yang lembut di sertai harum wangi cendana di dalam kamar tersebut. perasaan takut yang melingkupi hati andi baco langsung sirna, digantikan perasaan nyaman dan tenang. Mata Petta kadi yang tadinya setengah tertutup langsung terbuka dan tampak bercahaya. dengan senyum yang lebar, dia kembali berbisik,


" saya akan mengucapkan kalimat ini satu kali saja, jadi dengar baik-baik dan hafalkan "


" SIDDI TETTONG TUNGKE', DUA TEMMASSARANG, TELLU TEMMALLESANG "


( kalimat bugis dengan arti sebagai berikut : satu berdiri tunggal, dua yang tak terpisahkan, tiga yang takkan sirna ).


" bagaimana nak ? apa kamu sudah menghafalnya ? " kata petta kadi.


" iya, sudah ". jawab Andi baco.


" ucapkan sekarang ". kata petta kadi.


" SIDDI TETTONG TUNGKE', DUA TEMMASSARANG, TELLU TEMMALLESANG ", ucap Andi baco.


begitu selesai mengucapkan kalimat tersebut, pandangan andi baco tiba-tiba menjadi gelap sekitar dua detik. begitu matanya kembali melihat terang, betapa terkejutnya dia ketika melihat ada orang lain di kamar tersebut selain dia dan kakeknya. orang ini adalah pria paruh baya , memakai jubah warna putih dan juga penutup kepala seperti Sorban juga berwarna putih. ada selilit kain seperti selendang warna hijau dengan sulaman, melingkar di lehernya. wajahnya putih bersih, atau lebih tepatnya bercahaya dan sangat nyaman di Pandang. pria tersebut tersenyum kepada andi baco.


" salam nak. waktunya telah tiba. bersiaplah ". kemudian pria tersebut menghilang pelan-pelan seperti udara yang menguap.


andi baco masih terkejut kemudian menyadari bahwa nafas kakeknya telah tiada. Petta kadi telah pergi meninggalkan dunia dengan senyum menghiasi wajahnya. semilir angin kembali bertiup membawa harum wangi cendana. terdengar suara lembut di telinga andi baco.


" ucapkan kalimat itu ketika engkau ingin mengobati rasa penasaranmu. kakek pergi dulu. jangan bersedih, kelak kita akan bertemu kembali ". itu suara kakeknya, Petta Kadi.

__ADS_1


dengan mata berkaca-kaca, Andi baco keluar kamar untuk mengabari ayah dan ibunya juga keluarganya yang lain, bahwa kakeknya telah pergi.


__ADS_2